Posts

Dari Merari hingga Tahi Kerbau

Image
Selang sehari lebaran 2007 laki-laki itu menculik perempuan idamannya.  Itulah satu-satunya cara untuk memiliki sang kekasih hati untuk selama-lamanya. Sebab jika dia tidak melakukan itu, para saingan bakal melakukan cara yang sama. Laki-laki itu tak mau keduluan. Dia bersedia mengorbankan hal paling berharga dalam hidupnya: nyawa. Meskipun namanya penculikan, tapi tidak ada pemaksaan seperti Cakrabirawa menculik para jenderal dalam film propaganda Orba  ‘Pengkhianatan G30 S PKI’. Penculikan itu lebih sebagai formalitas. Mereka janjian di sebuah tempat di tepi desa. Lalu laki-laki itu membawa kabur perempuan pujaan hatinya itu. Esoknya seluruh kampung tahu laki-laki itu telah memenangi persaingan. Dia mendapatkan perempuan bunga tidurya untuk dipersunting beberapa pekan setelahnya. Dia adalah Memet, sopir yang mengantar kami menyusuri  sudut-sudut Lombok, akhir September lalu. Sekurangnya ada dua orang saingan Memet dalam memperebutkan perempuan yang sekarang menjadi ibu dari dua orang…

Sihir Sinden Tarling Danisah

Image
Orang-orang di kampungku menggemari cerita-cerita yang tak dapat dibuktikan kebenarannya. Cerita-cerita isapan jempol yang kadang membuat mereka rela bertikai dengan orang yang tak mau percaya mendengar cerita-cerita yang mereka tuturkan. Cerita isapan jempol barangkali lebih memberi hiburan ketimbang cerita-cerita yang dapat dicerna akal sehat. Cerita yang memberi hiburan salah satunya adalah tentang sinden tarling Danisah.  Danisah sinden tarling yang paling terkenal di kampung kami di antara begitu banyak sinden tarling yang lain. Namanya dielu-elukan melebihi Majo, seorang pencetak gol dalam tim kesebelasan yang dimiliki kampung kami; atau Haji Warlam yang tambaknya berhektar-hektar dan sangat royal memberi sumbangan setiap ada kegiatan anak-anak muda di kampung kami. Semua orang memimpikan dapat mendatangkan sinden tarling Danisah pada malam hajatan mengawinkan atau sunatan anak-anak mereka. Bukan suaranya yang membuat sinden tarling Danisah dikenal oleh semua orang, bukan pula wa…

Mengarungi Rahasia Semesta Ziggy

Image
Dari sebuah percakapan antara kakek penjaga toko sepatu dengan seorang anak muda bermantel tebal menyoal isu kehidupan setelah kematian, dapat disimpulkan bahwa simpul novel ini kemaharahasiaan yang menyelimuti semesta. 
Simaklah percakapannya: “Ah, ada surga, kan? Kalau tidak ada surga, rasanya mengecewakan sekali, sudah hidup lama-lama dan melelahkan seperti ini dan tidak mendapatkan pembalasan apa-apa.”
“Siapa yang tahu? Rasanya capek sekali juga, kan, kalau habis mati, kau masih harus hidup lagi? Mau di mana juga;  surga kek neraka kek; hidup ya hidup saja. Terus kalau kau bosan hidup di sana, kau bisa apa?  Tidak bisa mati, kau kan sudah mati. Nah, terus, orang-orang yang di neraka itu; bagaimana mereka? Di neraka terus saja, selamanya? Mampuslah sudah. Hmmm, sepertinya lebih asyik kalau bisa mati dan sudah, mati saja. Tapi, jangan bilang-bilang orang lain. Kalau kedengaran aku bilang begini, aku akan digantung di menara jam dan dituduh tidak bertuhan….” (hal 119).
Percakapan itu tid…

Terkunci di Tanjung Selor

Image
Sopir kami menghentikan mobilnya saat badan jalan menurun curam. Dia menepikan mobil karena kami melihat dari arah berlawanan seorang pengendara sepeda motor jatuh tergelimpang di tengah jalan. Ban motornya tak mampu mendorong lantaran permukaan jalan yang menanjak berkerikil dan penuh debu.  Keseimbangannya hilang, sepeda motornya nyaris menindih si pengendara. Kami segera turun dari mobil dan membantu pengendara yang rupanya sudah berusia lanjut itu bangun dan memapah sepeda motornya ke badan jalan yang beraspal dan agak landai. Saat kami beramai-ramai mendorong motornya ke atas debu tebal langsung menyergap sepatu kami. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Sopir kami bilang, perjalanan masih jauh. Kami baru menempuh kurang dari separuhnya. Aku menengok penunjuk waktu di telepon selular. Pukul 14.15. Kami berangkat dari bandara Kalimarau, Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur, sekitar sejam yang lalu. Perjalanan ke Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara, menurut sopir, hampir ti…

Mengarungi Malam Lebaran Haji dengan Pick Up

Image
Malam lebaran haji kemarin aku melakukan perjalanan dari Jakarta ke Cirebon nebeng mobil pick up teman. Bagiku ini perjalanan paling menegangkan yang akan kukenang sepanjang hidupku (ehem). Bagaimana tidak? Temanku menyetir sambil setengah tidur. Hampir kena serempet. Aku hampir saja turun di tengah tol ketimbang menanggung risiko celaka. Aku tak mau mati di jalan raya.
Seharusnya aku memang tidak naik pick up sehingga dihimpit was-was sepanjang perjalanan. Sebelum ini aku sering menolak ajakan teman pulang bareng nebeng mobil mereka, apalagi perjalanan malam melalui tol Cipali. Menyetir malam hari rawan ngantuk yang dapat berakibat tak termaafkan. Sudah banyak korbannya. Aku sama sekali tak berminat memperpanjang deretan korban kecelakaan di tol Cipali.
Tapi malam lebaran haji itu aku tak bisa menolak. Gara-garanya aku kehabisan tiket kereta. Sementara kepulanganku tidak bisa ditunda lantaran harus menghadiri pernikahan seorang keponakan. Lalu aku teringat temanku yang pernah nawarin

Jalan (Tak) Berbatu

Image
Aku membeli buku puisi Babad Batu pertama-tama karena sampulnya yang mencuatkan keceriaan masa remaja, lelaku manja, dan hasrat yang menampik persoalan berat. Komposisi warna kuning dan biru toska menghiasi bidang kosong dan gambar sepatu feminin yang dipenuhi kerikil warna-warni serupa permen. Gambaran tentang sebuah dunia fase awal yang dipenuhi manusia purba yang hidup dengan dan di antara batu-batu yang disarankan judul buku itu, seketika hancur dalam kepalaku. Kedua, tentu saja nama penyairnya yang melegenda. Aku ingat mengenal nama itu sejak aku tsanawiyah, ketika aku mulai tertarik menulis puisi gara-gara temanku. Temanku mengirim puisi ke stasiun radio yang menyiarkan acara sastra. Aku mendengar si penyiar radio kerap menyebut-nyebut nama penyair itu, membacakan puisinya, membacakan biografi singkat si penyair. Masih mengiang dalam ruang kepalaku biografi singkat sang penyair yang dibacakan sang penyiar. Aku berasal dari keluarga keraton dengan masa kecil yang biasa-biasa saja.…

Banyak Anak Banyak Rejeki Zonder Pendidikan

Image
Dalam film Lion (2016) ada percakapan yang menggetarkan saya, antara Sue (Nicole Kidman) dan Saroo (Dev Patel). Saroo menyangka Sue dan suaminya mengadopsi dirinya lantaran pasangan Australia tersebut tidak bisa melahirkan keturunan. "Ibu bisa saja punya anak. Tapi kami memilih tidak punya anak," tampik Sue. 

Malah salah satu alasan Sue menikahi John, pasangannya, karena mereka merasa sudah terlalu banyak manusia di muka bumi. Bagi Sue dan John, mengadopsi anak yang menderita karena kemiskinan orangtua mereka (yang begitu banyak jumlahnya di muka bumi ini), dan memberi mereka kesempatan hidup lebih baik, itu tindakan yang lebih bijak.

Berapa gelintir pasangan seperti Sue dan John di muka bumi ini? Rasanya langka sekali. Bagi saya sendiri, sekalipun bersepakat seratus persen dan luar biasa takzim dengan pilihan sikap Sue dan John, belum sanggup berpikir seperti pasangan ini. Saya, seperti kebanyakan orang Indonesia, menganggap tidak memiliki keturunan adalah aib. 

Orang-orang (s…