Sunday, 18 September 2016

Perempuan Menulis Lelaki

model oleh Astrid dan Nenny.
Meski aktivitas menulis dan bersastra lebih dulu dilakukan Aishah Basar, tetapi saya mengenal perempuan ini pertama kali sebagai seorang aktor. Waktu itu, 2005, saya dan teman-teman Dewan Kesenian Tangerang mengundangnya untuk mementaskan lakon monolog, beberapa malam setelah ia mementaskan lakon yang sama di ajang “Para Aktor Bicara” yang digelar Komite Teater, Dewan Kesenian Jakarta.
Aishah tidak sekadar mementaskan, melainkan juga menulis dan menyutradarai sendiri lakon monolog yang berkisah tentang seorang ibu yang kehilangan anak gadisnya yang memberontak lantaran si gadis terlalu banyak membaca buku. Saya masih ingat salah satu adegan paling dramatis: ia mengobrak-abrik buku-buku yang tersusun rapi di rak.  

Tuesday, 13 September 2016

Cerita dari Lereng Ciremai

Ilustrasi dari dinomarket.com
Pada malam yang telah direncanakan, Kodir datang lebih awal ke tepi telaga. Ia berdiri di atas bebatuan sambil memandang permukaan air telaga yang bergeriap permai itu dengan perasaan gelisah. Ia menajamkan mata dan telinganya untuk menangkap sosok atawa suara yang mencurigakan. Ia tengah menunggu Lilis. Mereka berjanji bertemu di tempat ini untuk melaksanakan rencana pelarian; keluar dari desa ini demi pernikahan yang ditabukan adat. Kodir membawa buntalan berisi beberapa potong baju dan secuil harta kekayaannya. Ia telah menjual dua ekor kambing untuk rencananya ini.

Thursday, 1 September 2016

Mengarak Jember Fashion Carnaval

Jember Fashion Carnaval 2016, Minggu (28/8)
Matahari memanggang Jember pada Sabtu terakhir bulan Agustus 2016. Sengatan panasnya sangat terasa menekan kulit begitu aku bersama rombongan turun dari elf. Sopir yang membawa kami dari hotel Royal di tengah kota Jember itu, menghentikan elf persis di depan pintu masuk studio Dynand Fariz yang merangkap kantor Jember Fashion Carnaval Center. Di dalam Dynand sudah menunggu kedatangan kami. Presiden Jember Fashion Carnaval (JFC) itu menyambut kami dengan ramah sekali.

Kami memang sudah membuat janji untuk wawancara atawa ngobrol-ngobrol. Dia mengenakan oblong putih bergambar karnaval, dipadu jaket hitam bertuliskan JFC di bagian kanan dan  bendera merah putih kecil di sebelah kiri. Rambutnya dilapisi jeli, disisir menumpuk ke tengah. Paduan celana jeans biru tua dan sepatu model tinggi yang menutup hingga di atas mata kaki menyempurnakan  penampilan Dynand laksana anak muda. Sebelum ngobrol-ngobrol kami diberi waktu untuk melihat-lihat studionya selama 10 menit. Studionya cukup luas, dibagi-bagi dalam beberapa ruangan: ruangan untuk mesin jahit listrik, ruangan untuk make up dan pemotretan, ruangan mendesain dan meletakkan contoh-contoh kostum. Di sejumlah sudut terlihat manekin mengenakan aneka kostum dalam beragam posisi.  Kami merubung Dynand di meja kerjanya yang letaknya pojok depan studio.      

Tuesday, 30 August 2016

Pelukan Laut


Ilustrasi dari http://paulclarke.com/
Langit bergelimang warna merah, Maura, lihatlah. Hempas gelombang, deru angin, kepak camar menggaris cakrawala. Bukankah ini waktu yang paling kamu suka? Kamu sering berhari-hari meninggalkan aku hanya untuk menikmati saat-saat seperti ini; manakala matahari telah melewati tigaperempat perjalanannya, perlahan terbenam ke balik laut. Menyepuh seluruh permukaan bumi dengan warna yang lebih merah dari pewarna bibir yang kamu pakai.  

Ayolah Maura, genggam tanganku. Kita berkejaran di pantai sepuasnya, mencari ketam dan kulit kerang, atau duduk menikmati langit yang berkobar bagai tembaga yang dipanaskan.  Maura, ayolah kamu tidak boleh begini terus. Toh aku selalu merelakan diri mendengar ceritamu tentang ketam dan kulit kerang, tentang perahu-perahu nelayan yang timbul tenggelam dimainkan gelombang di kejauhan, tentang pantai yang menyala merah bagai tercampur darah.

Thursday, 18 August 2016

Simfoni Negeriku

Konser Simfoni Negeriku di Aulia Simfonia, Jakarta, Sabtu (13/8)
Sabtu pekan kemarin aku nonton konser Simfoni Negeriku Twilite Orchestra di Aula Simfonia, Kemayoran, Jakarta. Asyik. Menghibur. Permainan musik mereka terus menggaung dan meninggalkan kesan menyenangkan dalam benakku berhari-hari setelahnya. Biasalah, kalau aku nonton konser musik klasik atawa pertunjukan apa pun yang harga karcisnya ratusan ribu ke atas, artinya aku nonton secara gratis.
Aku selalu senang menonton pertunjukan musik, apalagi disertai tarian. Hentakan musik dan gerakan para penari seperti memompakan energi yang membuatku bergairah. Paduan musik dan dan gerak tari mampu melarikan pikiranku dari segala keruwetan. Bahkan konser musik klasik pun mampu memberikan sensasi yang sama dalam benakku. Alunan musik klasik terasa begitu megah dalam semesta pendengaranku. Ketika Twilite Orchestra memainkan lagu perjuangan ‘Syukur’, aku merasa tersentuh, hatiku tergetar, lalu basahlah kelopak mataku.

Petunjuk