Skip to main content

Posts

Menyingkap Borok Politik Identitas

Recent posts

Voice of an Angel

As a singer, Asnah’s stage performance is definitely something else. No one has ever been able to outdo her. Accompanied by an organ, her performance has always been the sort that leaves many trembling with excitement, as if she is a superstar. And that is exactly what Asnah is good at: imitating real superstars with her star-like quality and malleable voice. For example, when she performs a number by Elvy Sukaesih, the Queen of Dangdut, Asnah channels the superstar by twirling her eyes, letting out a characteristic moan and shaking her shoulders just so. And when she performs a number by Rita Sugiarto, Nur Halimah or Ikke Nurjanah, she channels them, too. The stage is her acting chamber and everyone is enthralled by her performance. It’s only natural, then, for Asnah to receive the sort of attention reserved for some of the country’s most loved crooners. She travels from one village to another, belting out one cover song after another, while members of her audience gleefully slip money…

Dongeng Cinta Sepasang Monyet

Kalau kamu pernah mendengar cerita tentang monyet-monyet penghuni Taman Wisata Plangon yang dulunya adalah manusia yang dikutuk, kemarin aku bertemu dengan sumber pertama cerita ini. Ia seorang nenek yang telah berusia lebih dari 200 tahun, yang menyaksikan langsung bagaimana kawanan prajurit itu berubah menjadi monyet. Aku tak sengaja bertemu dengan nenek itu. Ia tengah celingukan hendak menyeberang jalan yang penuh iring-iringan aneka kendaraan yang melaju perlahan, tak putus-putus. Ia datang dari arah pantai berhutan bakau dan hendak pulang ke arah perkampungan yang bersebelahan dengan kompleks perkuburan tua di seberang jalan Pantura. Ia terlihat kebingungan melihat iring-iringan kendaraan yang tak habis-habis. Aku tengah beristirahat sambil menyeruput kopi di kedai pinggir jalan dalam perjalanan mudik lebaran. Melihat nenek itu celingukan, aku tergerak untuk menolong menyeberangkannya. Nenek itu menatapku. Sepasang bola matanya kelabu serupa mata burung hantu yang menderita katara…

Feminisme Jawa di Mata Perempuan Papua

Irewa menyaksikan pertengkaran pasangan suami istri di pasar. Si Istri tidak hanya berani melawan dan membentak suami tetapi juga menampar dan mengusirnya. Pertengkaran pasangan yang tampaknya dari Jawa itu mengesankan Irewa. Ia tak dapat membayangkan ia dan perempuan sekaumnya berani berlaku semacam itu kepada suami. Di Papua, suami tak ubahnya raja yang harus disembah dan dituruti segala titahnya. Jangankan membantah, sedikit saja berulah yang membuat suami kesal, gamparan dan pukulan bakal mendarat di tubuh istri. Laki-laki di Papua hanya bertugas sebagai pejantan yang menghamili istrinya. Urusan mencari nafkah, melahirkan, dan mengurus anak-anak sepenuhnya tanggung jawab perempuan. Terlahir sebagai perempuan serupa kutukan yang menyengsarakan.

HOOQ, Penyelamat Penggemar Film

Kegemaran saya banyak sekali. Salah satunya dan yang paling penting adalah menonton film. Bila dideretkan, kegemaran menonton film menempati ranking pertama. Kegemaran ini tumbuh sejak masa kanak. Gara-garanya mungkin karena saya sering diajak ayah dan bibi saya  menonton film di bioskop yang kala itu ada berdiri di kota kecamatan saya di kota kecil saya, pesisir Cirebon. Film yang acap kami tonton adalah film India dan film laga nasional. Biasanya kami berangkat ke bioskop usai salat maghrib berjamaah, menunggang sepeda ontel. Sepanjang jalan kami mendengar sayup-sayup suara orang mengaji dari mesjid atau musala yang kami lewati. Itu seperti melarikan diri dari hukuman demi menikmati kesenangan yang membius. Duduk dalam keremangan studio menghadap layar bioskop bagi saya menikmati sensasi tersendiri yang membuat ketagihan. Bagi saya itulah momen paling menyenangkan dalam hidup saya. Menyaksikan film adalah menyimak kisah manusia dan mimpi-mimpinya. Maka sebisa-bisanya saya akan senant…

Mengingkari Asal Usul

Meskipun novel ini berkisah tentang makna sebuah nama, sejatinya The Namesake karya Jhumpa Lahiri, pengarang India yang lahir-tumbuh di Inggris dan berkewarganegaraan Amerika, membeber perihal perbenturan nilai-nilai budaya Timur dengan Barat. Gogol merasa aneh dan menganggap betapa tidak praktisnya budaya asal negeri kedua orangtuanya, Ashok dan Ashima. Mereka adalah migran asal Bengali, India, di Pemberton Road, Massachusetts, Amerika, yang setia menjunjung budaya leluhur negerinya. Mereka menerapkan nilai-nilai Bengali dalam mendidik, bersikap, dan bertindak kepada anak-anaknya, Gogol dan Sonia. Mulai dari hal-hal sederhana seperti ketika hendak bepergian, apalagi bepergian ke tempat-tempat yang jauh untuk tujuan belajar, orang Bengali akan mengundang seluruh saudara-saudara dan para kerabat mereka untuk mengantar, paling tidak melepasnya di pintu rumah. Dan memberikan sambutan kepada saat kepulangan. Keberangkatan dan kepulangan bagi orang Bengali bukan sesuatu yang sederhana. Buda…

Semua Sejarah Adalah Fiksi

Menonton Istirahatlah Kata Kata mengenangkan saya pada masa-masa bekerja menjadi buruh pabrik di Tangerang. Kawan saya langsung nyeletuk, kok bisa? Pada bagian mana. Bukankah di film ini tak ada adegan buruh sedang bekerja atau aksi demonstrasi? Jadi begini, buruh juga manusia. Ia tidak melulu bekerja dan aksi demonstrasi. Ia juga bisa sendirian dan merasa ketakutan dikejar-kejar aparat setelah menggerakkan aksi. Tetapi tentu saya tidak seheroik Wiji Thukul. Saya hanya buruh yang ikut-ikutan aksi demontrasi menuntut perbaikan upah. Seusai aksi itu malam-malam ada orang yang mencari para buruh yang ikut dan menggerakkan aksi, termasuk saya. Saya ingat, kami berjumlah 40-an orang melakukan aksi demonstrasi hingga berminggu-minggu. Sampai membuat tenda di depan pagar pabrik karena kami tak diperkenankan masuk. Pabrik milik orang Korea itu mengupah kami tidak sesuai aturan pemerintah. Itulah yang memicu aksi. Serikat pekerja yang ada di pabrik kami, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI…