Posts

Jalan (Tak) Berbatu

Image
Aku membeli buku puisi Babad Batu pertama-tama karena sampulnya yang mencuatkan keceriaan masa remaja, lelaku manja, dan hasrat yang menampik persoalan berat. Komposisi warna kuning dan biru toska menghiasi bidang kosong dan gambar sepatu feminin yang dipenuhi kerikil warna-warni serupa permen. Gambaran tentang sebuah dunia fase awal yang dipenuhi manusia purba yang hidup dengan dan di antara batu-batu yang disarankan judul buku itu, seketika hancur dalam kepalaku. Kedua, tentu saja nama penyairnya yang melegenda. Aku ingat mengenal nama itu sejak aku tsanawiyah, ketika aku mulai tertarik menulis puisi gara-gara temanku. Temanku mengirim puisi ke stasiun radio yang menyiarkan acara sastra. Aku mendengar si penyiar radio kerap menyebut-nyebut nama penyair itu, membacakan puisinya, membacakan biografi singkat si penyair. Masih mengiang dalam ruang kepalaku biografi singkat sang penyair yang dibacakan sang penyiar. Aku berasal dari keluarga keraton dengan masa kecil yang biasa-biasa saja.…

Bersama Kecoa Mengarungi Rahasia Semesta

Image
“Ah, ada surga, kan? Kalau tidak ada surga, rasanya mengecewakan sekali, sudah hidup lama-lama dan melelahkan seperti ini dan tidak mendapatkan pembalasan apa-apa.”
“Siapa yang tahu? Rasanya capek sekali juga, kan, kalau habis mati, kau masih harus hidup lagi? Mau di mana juga;  surga kek neraka kek; hidup ya hidup saja. Terus kalau kau bosan hidup di sana, kau bisa apa?  Tidak bisa mati, kau kan sudah mati. Nah, terus, orang-orang yang di neraka itu; bagaimana mereka? Di neraka terus saja, selamanya? Mampuslah sudah. Hmmm, sepertinya lebih asyik kalau bisa mati dan sudah, mati saja. Tapi, jangan bilang-bilang orang lain. Kalau kedengaran aku bilang begini, aku akan digantung di menara jam dan dituduh tidak bertuhan….” (hal 119).
Percakapan antara kakek penjaga toko sepatu dengan seorang anak muda bermantel tebal  yang menyoal isu kehidupan setelah kematian yang saya kutip di atas, itulah percakapan yang menegaskan simpul novel “Semua Ikan di Langit”: kemaharahasiaan yang menyelimuti se…

Banyak Anak Banyak Rejeki Zonder Pendidikan

Image
Dalam film Lion (2016) ada percakapan yang menggetarkan saya, antara Sue (Nicole Kidman) dan Saroo (Dev Patel). Saroo menyangka Sue dan suaminya mengadopsi dirinya lantaran pasangan Australia tersebut tidak bisa melahirkan keturunan. "Ibu bisa saja punya anak. Tapi kami memilih tidak punya anak," tampik Sue. 

Malah salah satu alasan Sue menikahi John, pasangannya, karena mereka merasa sudah terlalu banyak manusia di muka bumi. Bagi Sue dan John, mengadopsi anak yang menderita karena kemiskinan orangtua mereka (yang begitu banyak jumlahnya di muka bumi ini), dan memberi mereka kesempatan hidup lebih baik, itu tindakan yang lebih bijak.

Berapa gelintir pasangan seperti Sue dan John di muka bumi ini? Rasanya langka sekali. Bagi saya sendiri, sekalipun bersepakat seratus persen dan luar biasa takzim dengan pilihan sikap Sue dan John, belum sanggup berpikir seperti pasangan ini. Saya, seperti kebanyakan orang Indonesia, menganggap tidak memiliki keturunan adalah aib. 

Orang-orang (s…

Obrolan CEO

Image
Kami berada di lantai tertinggi sebuah gedung di salah satu kawasan paling prestisius di Ibu Kota. Dari sini kami  dapat melihat kesibukan Ibu Kota di bawah sana. Jalan raya yang serupa ular dan kendaraan merayap pelan seperti mobil-mobilan di atasnya. Presiden direktur salah satu perusahaan properti terbesar di Tanah Air yang akan kami wawancarai berkantor di sini. Kami telah membuat janji untuk wawancara dia guna keperluan penulisan buku kumpulan profil direktur utama perusahaan. Sembari menunggu kami mengamati ruangan yang luasnya cukup untuk dibikin beberapa lapangan futsal. Yang paling menarik perhatian kami adalah maket proyek kota terpadu yang sedang dan telah dikerjakan perusahaan properti tersebut. Apartemen, kondominium, mal, hotel, resort, lengkap dengan kolam renang dan lapangan golf, perkantoran, dan kompleks sarana hiburan. Beberapa lama kemudian orang yang kami tunggu muncul.

Kehidupanku di Desa

Image
Aku menyukai kegiatan bercocok tanam. Melihat proses tumbuh perlahan dan bagaimana bertahan mengalahkan setiap ancaman bagiku menyenangkan sekali. Aku membeli pot-pot untuk menanam bebungaan, sayuran, dan buah. Mereka kuletakkan di pekarangan samping rumah yang tak seberapa luas. Aku juga senang memelihara hewan. Aku punya beberapa ekor unggas. Aku memelihara kucing  (aku berencana memlihara anjing). Aku menanam pohon mangga. Aku menanam sirsak. Aku juga menanam jeruk, alpukat,  dan belimbing. Mereka kutanam di tanah. Akarnya menancap kuat ke kedalaman bumi. Sekarang batangnya mulai tinggi, daunnya lebat, dahan dan rantingnya banyak. Menaungi pekarangan rumah dan memberi hawa segar.  Tapi sayuran dan bebungaan yang kutanam tak pernah berumur panjang. Unggas-unggasku mematuki daun-daunnya, membuat mereka ranggas dan mati. Namun aku tak pernah bosan menanam dan menanam lagi. Kemudian rusak dan rusak lagi.

Dari Istana Kekhalifahan

Image
Selamat malam.Berapa pekan sudah kita tak jumpa. Lama juga rupanya. Selama itu pula rasa bersalah menguntitku. Tak ada cara lain untuk mengurangi rasa salahku selain ngeblog lagi. Sebulan terakhir dan mungkin sampai dua bulan ke depan aku memang rada disibukkan oleh pekerjaan yang menyita waktu dan perhatian sehingga nggak sempat ngeblog (kalau ini boleh dijadikan alasan). Kabar baiknya, disela kesibukan itu aku selalu menyempatkan membaca novel. Dua novel terakhir yang kubaca adalah Kitab Salahuddin dan Bayang Bayang Pohon Delima. Ini dua dari tetralogi Tariq Ali yang mengungkap jejak peradaban Islam. Sebelumnya tepatnya Februari 2015, aku sudah membaca Perempuan Batu dan sudah pula kutuliskan catatan tentang novel tersebut di blog ini. Jadi satu lagi yang belum kubaca, Seorang Sultan di Palermo.

Menyingkap Borok Politik Identitas

Image
Novel Tanah Surga Merah (TSM) menyodorkan konflik politik di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai latar cerita. Konflik yang muncul mendenyutkan kisah, dan memantik motif tokoh-tokohnya berpikir dan bertindak. Konflik politik dengan demikian tidak sekadar sebagai latar cerita, melainkan menukik menjadi inti cerita—seperti diungkapkan Dewan Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (2016) sebagai alasan mereka memilih novel ini menjadi salah satu pemenang. Konflik muncul dan diletupkan oleh segelintir elite dengan mengembangkan politik identitas demi mencapai ambisi kekuasaan. Apa yang coba disodorkan TSM barangkali dapat menjadi cermin yang jernih untuk merenungkan dan melihat kembali secara kritis betapa politik identitas berbasis primordialisme agama—yang belakangan gejalanya cenderung menguat dalam realitas kita berbangsa—merupakan ancaman serius bagi kehidupan demokrasi. Politik identitas pada akhirnya hanya memecah belah, alih-alih bekerja memakmurkan kehidupan rakyat. Ia tak s…