Posts

Terkunci di Tanjung Selor

Image
Sopir kami menghentikan mobilnya saat badan jalan menurun curam. Dia menepikan mobil karena kami melihat dari arah berlawanan seorang pengendara sepeda motor jatuh tergelimpang di tengah jalan. Ban motornya tak mampu mendorong lantaran permukaan jalan yang menanjak berkerikil dan penuh debu.  Keseimbangannya hilang, sepeda motornya nyaris menindih si pengendara. Kami segera turun dari mobil dan membantu pengendara yang rupanya sudah berusia lanjut itu bangun dan memapah sepeda motornya ke badan jalan yang beraspal dan agak landai. Saat kami beramai-ramai mendorong motornya ke atas debu tebal langsung menyergap sepatu kami. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Sopir kami bilang, perjalanan masih jauh. Kami baru menempuh kurang dari separuhnya. Aku menengok penunjuk waktu di telepon selular. Pukul 14.15. Kami berangkat dari bandara Kalimarau, Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur, sekitar sejam yang lalu. Perjalanan ke Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara, menurut sopir, hampir ti…

Mengarungi Malam Lebaran Haji dengan Pick Up

Image
Malam lebaran haji kemarin aku melakukan perjalanan dari Jakarta ke Cirebon nebeng mobil pick up teman. Bagiku ini perjalanan paling menegangkan yang akan kukenang sepanjang hidupku (ehem). Bagaimana tidak? Temanku menyetir sambil setengah tidur. Hampir kena serempet. Aku hampir saja turun di tengah tol ketimbang menanggung risiko celaka. Aku tak mau mati di jalan raya.
Seharusnya aku memang tidak naik pick up sehingga dihimpit was-was sepanjang perjalanan. Sebelum ini aku sering menolak ajakan teman pulang bareng nebeng mobil mereka, apalagi perjalanan malam melalui tol Cipali. Menyetir malam hari rawan ngantuk yang dapat berakibat tak termaafkan. Sudah banyak korbannya. Aku sama sekali tak berminat memperpanjang deretan korban kecelakaan di tol Cipali.
Tapi malam lebaran haji itu aku tak bisa menolak. Gara-garanya aku kehabisan tiket kereta. Sementara kepulanganku tidak bisa ditunda lantaran harus menghadiri pernikahan seorang keponakan. Lalu aku teringat temanku yang pernah nawarin

Jalan (Tak) Berbatu

Image
Aku membeli buku puisi Babad Batu pertama-tama karena sampulnya yang mencuatkan keceriaan masa remaja, lelaku manja, dan hasrat yang menampik persoalan berat. Komposisi warna kuning dan biru toska menghiasi bidang kosong dan gambar sepatu feminin yang dipenuhi kerikil warna-warni serupa permen. Gambaran tentang sebuah dunia fase awal yang dipenuhi manusia purba yang hidup dengan dan di antara batu-batu yang disarankan judul buku itu, seketika hancur dalam kepalaku. Kedua, tentu saja nama penyairnya yang melegenda. Aku ingat mengenal nama itu sejak aku tsanawiyah, ketika aku mulai tertarik menulis puisi gara-gara temanku. Temanku mengirim puisi ke stasiun radio yang menyiarkan acara sastra. Aku mendengar si penyiar radio kerap menyebut-nyebut nama penyair itu, membacakan puisinya, membacakan biografi singkat si penyair. Masih mengiang dalam ruang kepalaku biografi singkat sang penyair yang dibacakan sang penyiar. Aku berasal dari keluarga keraton dengan masa kecil yang biasa-biasa saja.…

Banyak Anak Banyak Rejeki Zonder Pendidikan

Image
Dalam film Lion (2016) ada percakapan yang menggetarkan saya, antara Sue (Nicole Kidman) dan Saroo (Dev Patel). Saroo menyangka Sue dan suaminya mengadopsi dirinya lantaran pasangan Australia tersebut tidak bisa melahirkan keturunan. "Ibu bisa saja punya anak. Tapi kami memilih tidak punya anak," tampik Sue. 

Malah salah satu alasan Sue menikahi John, pasangannya, karena mereka merasa sudah terlalu banyak manusia di muka bumi. Bagi Sue dan John, mengadopsi anak yang menderita karena kemiskinan orangtua mereka (yang begitu banyak jumlahnya di muka bumi ini), dan memberi mereka kesempatan hidup lebih baik, itu tindakan yang lebih bijak.

Berapa gelintir pasangan seperti Sue dan John di muka bumi ini? Rasanya langka sekali. Bagi saya sendiri, sekalipun bersepakat seratus persen dan luar biasa takzim dengan pilihan sikap Sue dan John, belum sanggup berpikir seperti pasangan ini. Saya, seperti kebanyakan orang Indonesia, menganggap tidak memiliki keturunan adalah aib. 

Orang-orang (s…

Obrolan CEO

Image
Kami berada di lantai tertinggi sebuah gedung di salah satu kawasan paling prestisius di Ibu Kota. Dari sini kami  dapat melihat kesibukan Ibu Kota di bawah sana. Jalan raya yang serupa ular dan kendaraan merayap pelan seperti mobil-mobilan di atasnya. Presiden direktur salah satu perusahaan properti terbesar di Tanah Air yang akan kami wawancarai berkantor di sini. Kami telah membuat janji untuk wawancara dia guna keperluan penulisan buku kumpulan profil direktur utama perusahaan. Sembari menunggu kami mengamati ruangan yang luasnya cukup untuk dibikin beberapa lapangan futsal. Yang paling menarik perhatian kami adalah maket proyek kota terpadu yang sedang dan telah dikerjakan perusahaan properti tersebut. Apartemen, kondominium, mal, hotel, resort, lengkap dengan kolam renang dan lapangan golf, perkantoran, dan kompleks sarana hiburan. Beberapa lama kemudian orang yang kami tunggu muncul.

Kehidupanku di Desa

Image
Aku menyukai kegiatan bercocok tanam. Melihat proses tumbuh perlahan dan bagaimana bertahan mengalahkan setiap ancaman bagiku menyenangkan sekali. Aku membeli pot-pot untuk menanam bebungaan, sayuran, dan buah. Mereka kuletakkan di pekarangan samping rumah yang tak seberapa luas. Aku juga senang memelihara hewan. Aku punya beberapa ekor unggas. Aku memelihara kucing  (aku berencana memlihara anjing). Aku menanam pohon mangga. Aku menanam sirsak. Aku juga menanam jeruk, alpukat,  dan belimbing. Mereka kutanam di tanah. Akarnya menancap kuat ke kedalaman bumi. Sekarang batangnya mulai tinggi, daunnya lebat, dahan dan rantingnya banyak. Menaungi pekarangan rumah dan memberi hawa segar.  Tapi sayuran dan bebungaan yang kutanam tak pernah berumur panjang. Unggas-unggasku mematuki daun-daunnya, membuat mereka ranggas dan mati. Namun aku tak pernah bosan menanam dan menanam lagi. Kemudian rusak dan rusak lagi.

Dari Istana Kekhalifahan

Image
Selamat malam.Berapa pekan sudah kita tak jumpa. Lama juga rupanya. Selama itu pula rasa bersalah menguntitku. Tak ada cara lain untuk mengurangi rasa salahku selain ngeblog lagi. Sebulan terakhir dan mungkin sampai dua bulan ke depan aku memang rada disibukkan oleh pekerjaan yang menyita waktu dan perhatian sehingga nggak sempat ngeblog (kalau ini boleh dijadikan alasan). Kabar baiknya, disela kesibukan itu aku selalu menyempatkan membaca novel. Dua novel terakhir yang kubaca adalah Kitab Salahuddin dan Bayang Bayang Pohon Delima. Ini dua dari tetralogi Tariq Ali yang mengungkap jejak peradaban Islam. Sebelumnya tepatnya Februari 2015, aku sudah membaca Perempuan Batu dan sudah pula kutuliskan catatan tentang novel tersebut di blog ini. Jadi satu lagi yang belum kubaca, Seorang Sultan di Palermo.