Bidadari di Atas Jembatan


pernah disiarkan Seputar Indonesia, Minggu 15 Januari 2006
dari deviantart.com
 
Karin berdiri di atas jembatan, menatap arus sungai yang mengalir lemah di bawahnya. Riak air kecoklatan yang membawa beban limbah sepanjang perjalanannya yang melelahkan melintasi lembah, jurang, hutan-hutan, pedesaan, membelah pemukiman kumuh perkotaan,—dan berakhir di muara—permukaannya gemerlap kemerahan disepuh matahari senja. Jika Karin terjun ke sana, tentu dia akan mati tenggelam kehabisan napas. Paru-parunya akan pecah dipenuhi air yang membuncah. Dan jasadnya akan hanyut dibawa arus dan menjadi santapan ikan-ikan di muara. Nasibnya lebih tragis dari bidadari yang akan diperankannya dalam pentas nanti malam.

Karin berdiri dengan kaki sedikit mengangkang seakan menantang para pendayung sampan di kejauhan. Rambutnya yang ikal mayang berkibaran dimainkan gerak angin yang berhembus kencang sebagaimana gaun tipis komprang corak kembang-kembang yang dikenakannya seperti tarik-tarik sekawanan anak nakal sehingga bentuk tubuhnya yang ramping menggairahkan tampak jelas. Tubuh yang telah membius Bung Tom.

Cukup lama Karin berdiri serupa itu, dengan kedua kakinya yang panjang tepat di tengah jembatan. Kedua tangannya kadang direntangkan. Seakan membayangkan berdiri di atas pucuk anjungan kapal pesiar yang tengah membelah lautan seperti sebuah adegan dalam film Titanic yang paling disukainya. Karin tak bergeser sedikit pun. Karin sengaja memilih posisi tepat di tengah itu. Tampaknya Karin menghitung betul panjang jembatan. Deru kendaraan yang berseliweran mengamburkan bergulung debu mengotori rambut dan gaunnya tak dihiraukan. Semula Karin duduk di lereng sungai yang landai. Wajahnya tampak gelisah. Permukaan sungai dengan beberapa pendayung sampan, maupun sekawanan orang yang berenang riang di tepiannya tak mampu menyelamatkannya dari perasaannya yang berkecamuk antara marah, sedih, kecewa dan entah apalagi campur aduk.  Jemari lentiknya mengepal memukul bangku bambu yang didudukinya. Berkali-kali Karin bangkit dan duduk kembali. Naskah drama yang dibawanya dia robek dan dilempar satu persatu ke arus sungai. Robekan naskah itu hanyut dan sebagian terbang diseret angin entah ke mana.

Ketika dia meninggalkan rumah, langkahnya berjingkrak ringan, dadanya bagai membusung oleh perasaan percaya diri yang berlebihan. Dia telah berhasil menghapal seluruh naskah drama yang akan dipentaskan dua minggu kemudian. Padahal naskah itu cukup panjang, hampir lima puluh halaman. Dan dia kebagian dialog paling banyak karena memang pemeran utama. Naskah itu berjudul Bidadari yang Diperkosa. Dia memerankan bidadari yang menyelamatkan negeri dari cengkeraman para koruptor namun kemudian dikhianati para pengikutnya. Bidadari itu dijebak di sebuah gudang tua. Di sanalah para pengikut yang setia tiba-tiba berubah menjadi iblis buas yang menjadikan tubuhnya sebagai santapan lezat. Semula Karin hampir menyerah melihat tebalnya naskah. Kini semuanya telah selesai. Dia tak perlu hapal seluruh dialog dalam teks, apalagi sampai titik koma. Yang penting tahu garis besar, selebihnya adalah improvisasi, kata Bung Tom, kalau kau sudah paham betul cerita dan karakter tokoh yang kamu bawakan, dengan sendirinya dialog kamu akan lancar, sambung Bung Tom menyemangati. Kata-kata akan mengalir seiring gerak tubuh. Karin melakukan apa yang disarankan Bung Tom. Dan memang benarlah, dari latihan ke latihan, sosok bidadari seakan telah lebur dalam tubuh Karin.  

Dia merasa tengah mencecap nasib baik telah berhasil terpilih memerankan bidadari bernasib tragis itu. Dia menyukai karakter tokoh bidadari yang lembut namun tegas, rela menghancurkan dirinya untuk keutuhan orang lain. Karin merasa karakter bidadari ada kemiripan dengan dirinya. Maka dia berlatih dengan serius. Bung Tom, sang sutradara, puas melihat bakat aktingnya. Karakter vokalmu kuat, pujinya.  Tentu saja dia berbunga dipuji demikian. Tak peduli pujian itu tulus atau sekadar sebuah perangkap yang sengaja ditebar Bung Tom. Tidak mudah mendapat peran tersebut, apalagi pujian dari Bung Tom yang barusan di dengarnya. Dia harus bersaing dengan puluhan gadis cantik yang mengikuti casting untuk peran tersebut.

“Kamu menyukai peran itu, Karin?” tanya Bung Tom waktu usai reading pertama.
“Tentu saja. Saya beruntung dapat peran bidadari.”
“Kalau begitu kamu dengan mudah menghayati peran ini.”
 
“Karin, kamu harus optimis. Tapi kamu juga harus siap tersisih.” pesan Mama, malam ketika esoknya dia akan mengikuti kasting. Dia tersenyum waktu itu. Lantas menatap mata Mama, “Tentu, Mama. Aku siap tersisih. Jangan khawatir, aku tidak akan terlalu kecewa.”  ucapnya membuat Mama lega. “Semoga kamu terpilih, Sayang. Mama akan berdoa malam ini.” kata Mama, lalu mengecup kening Karin sebelum keluar meninggalkan Karin sendirian di kamar. Karin menatap wajahnya di cermin. Ada hidung mancung yang diwariskan Papa. Bibir yang tak setipis bibir Mama karena ada hasrat Papa yang sangat kuat mencampuri kompsisi wajahnya. Bibir yang seksi. Karin berdiri memperlihatkan tubuhnya yang tinggi semampai dengan payudara yang proposional. Karin tersenyum, dia yakin keindahan tubuhnya bisa menjadi senjata untuk membius Bung Tom.  

Karin tahu Mama sangat berharap dirinya terpilih, namun Mama takut kecewa jika dia gagal terpilih. Dan Mama khawatir kekecewaannya akan membuat dia melakukan perbuatan yang mengerikan. Mama tahu sifat Karin yang sering tak kuasa menanggung kecewa. Mama tentu belum lupa Karin hampir mati kehabisan darah gara-gara menyilet urat nadinya demi mendengar kabar pernikahan Papa.

Syukurlah kemudian Karin terpilih. Mama memberinya ciuman banyak-banyak, lantas berita gembira ini ia kabarkan pada semua kerabat dan kenalan dekat. “Selamat, ya Sayang.” ucap Mama berkali-kali. Malam itu juga mereka mengundang beberapa kawan dekat untuk minum-minum di kafe.

Kali pertama bertemu Bung Tom, Karin grogi setengah mati. Jantungnya kencang berdebar, telapak tangannya terasa lengket oleh keringat dingin yang merembes lekas saat ditatap Bung Tom. Karin tak sanggup menatap balik mata Bung Tom. Nyawanya serasa putus berkali-kali saat Bung Tom memintanya berteriak untuk mengetes vokalnya. Karin membayangkan mukanya merah serupa rajungan rebus saat Bung Tom terpingkal mendengar vokalnya yang melengking dan terputus sebelum mencapai puncak. Peristiwa berikutnya hanya asyik buat dikenang.

Kala pertama bertemu itu sesungguhnya Karin sudah merasakan getar lain dari pancar mata Bung Tom. Laki-laki seumuran Papa itu terus memenuhi khayalannya pada malam-malam sesudahnya. Rahang yang kukuh, tatapan mata yang teduh, dan bulu-bulu yang melebat di dadanya selalu mengingatkan Karin pada Papa. Tapi kulit Papa tak seterang Bung Tom. Tanpa perlu dijelaskan Karin tahu bahwa Bung Tom sudah beristri. Tapi justru itu. Bukankah Papa, sosok yang dia kagumi, sanggup meninggalkan Mama karena jebakan seorang perempuan muda. Karin menyukai bulu mata Bung Tom melengkung lentik.

Karin sadar Bung Tom telah memperlakukannya berbeda dari pemain lain. Sekarang justru Bung Tom tampak grogi menatap matanya. Jangankan untuk marah gara-gara Karin salah saat latihan, vokalnya sering tak sesuai dengan yang diinginkan Bung Tom. Karin yakin Bung Tom sudah hatinya terpikat. Kau sudah berhasil kuperdaya, batin Karin. Tetapi hal ini tentu tak perlu ia ceritakan pada Mama. Termasuk saat dia diajak makan malam di sebuah hotel.

Kadang Karin merasa salah telah merahasiakan hal ini pada Mama. Apa boleh buat. Kalau Mama tahu pasti ia tak akan mengijinkan Karin meneruskan latihan. Tetapi bukankah pepatah inggris pun mengatakan, tak ada makan siang gratis? Harus ada yang lenyap untuk ditukar dengan yang kita inginkan Apa pun harus kutempuh untuk meraihnya. Karin tak ingin ada rasa sesal di hatinya. Bukankah dia sedang berkorban buat Mama? Jadi ini harus dilakukan tanpa rasa penyesalan atau salah.
“Mama mendukung pentas ini, Karin?” ucap Bung Tom seraya meletakkan jaket di sofa.
“Ya, dan saya akan mempersembahkan pementasan saya untuk Mama.”
“Bagus, Karin”
“Papa kamu, Karin?”
“Mamaku janda. Jangan tanya Papaku ke mana,”
“O maaf, Karin”
Percakapan berakhir dengan gemuruh nafas keduanya yang berbaur di antara selimut dan busa.    

Karin betul-betul telah siap beraksi di pentas malam itu. Dalam tubuhnya  sosok bidadari itu telah bersemayam. Tetapi satu malam menjelang pementasan Karin pulang ke rumah setelah dua minggu dikarantina. Dia kangen Mama. Karin sudah mengirim sms sejak siang. Tapi tak ada ada balasan. Bahkan laporan yang masuk di ponselnya masih menunggu. Dua kali telepon tak diangkat membuat Karin malas mencoba mengulang. Ini di luar kebiasaan. Prasangka buruk kemudian berlesatan dalam kepala Karin. Tapi buru-buru dia tepis. Karin percaya tidak terjadi apa-apa dengan Mama.

Dalam taksi Karin mencoba tenang. Pikirannya memang tidak boleh terganggu sebab bisa-bisa penghayatan menjadi bidadari yang sudah dibangun selama latihan berminggu-minggu jadi berantakan. Karin tak sabar membuka pintu taksi begitu sampai di depan rumahnya. Tapi kemudian menahan hatinya untuk tidak berlari membuka pintu gerbang. Ternyata pintu gerbang tidak dikunci. Dengan sedikit mendorongnya, tubuhnya bisa masuk. Lantas berjalan pelan, hampir berjingkat mendekat pintu ruang tamu. Sepatu kets yang membungkus kakinya meredam suara langkah di ubin keramik teras yang keras. Karin batal mengetuk saat matanya tertumbuk sebuah jaket yang amat dikenalnya tersampir di sofa. Dadanya berdebar kencang dipenuhi kecurigaan yang tiba-tiba bergelimang membuncahi perasaannya.

Karin tak sanggup untuk terus bertahan berdiri di balik jendela kamar Mama, mendengar gemuruh napas Mama di antara deru napas laki-laki itu. Karin tak mampu menjelaskan perasan macam apa yang berkecamuk dalam dadanya, antara marah, sedih dan kecewa campur aduk. Karin berlari keluar, menyetop taksi, dan menangis di dalam taksi yang membawanya berputar-putar sebelum berhenti di depan bar.

Karin berdiri di atas jembatan, menatap arus sungai yang mengalir lemah di bawahnya. Riak air kecoklatan yang membawa beban limbah sepanjang perjalanannya yang melelahkan melintasi lembah, jurang, hutan-hutan, pedesaan, membelah pemukiman kumuh perkotaan,—dan berakhir di muara—permukaannya gemerlap kemerahan disepuh matahari senja. Jika Karin terjun ke sana, tentu dia akan mati tenggelam kehabisan napas. Paru-parunya akan pecah dipenuhi air yang membuncah. Dan jasadnya akan hanyut dibawa arus dan menjadi santapan ikan-ikan di muara. Nasibnya lebih tragis dari bidadari yang akan diperankannya dalam pentas nanti malam.

Balai Budaya 2005

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka