Cinta Lama


pernah disiarkan Majalah Sekar, Juni 2009
gambar dari deviantart.com
 
Irene akhirnya memilih akan mengundurkan diri dari pekerjaanya. Ia tak mau mempertahankan karirnya yang tengah berada di puncak jika harus mempertaruhkan keutuhan rumah tangganya. Irene telah mengutarakan alasan sejujur-jujurnya pada  beberapa rekan terdekatnya. Sekalipun menyayangkan keputusan Irene, mereka dapat mengerti alasan yang melatari keputusan Irene.

“Apa tidak ada opsi lain, Ir? Bete loh di rumah.” tanya Tiana, rekan terdekatnya.

“Opsi apa maksudmu, Ti?”

“Kamu minta mutasi ke kantor cabang, Semarang atau Bandung,” saran Tiana.

“Tidak mungkin, malah makin repot harus pindah rumah,” sanggah Irene. Selain kantor pusat, perusahaanya tidak memiliki kantor cabang di Jakarta.

“Kalau itu yang terbaik buatmu, aku tak bisa ngomong apa-apa lagi,” kata Tiana, menyerah, “Tapi bagaimana dengan suamimu?” tanya Tiana.

Inilah yang sekarang yang jadi persoalan bagi Irene. Apakah ia harus mengungkapkan alasan sebenarnya atas keputusannya itu kepada  Indra, suaminya? Perlukan Irene jujur jika itu berakibat buruk pada keharmonisan rumah tangga mereka yang telah berjalan mulus selama hampir empat tahun terakhir ini? Siapa pun orangnya jika dalam posisi Irene sekarang ini pasti akan merasa berada di situasi yang sangat dilematis, serba salah.

Irene tahu, meski Indra tidak pernah mengekang istrinya bekerja, laki-laki itu pasti akan senang mendengar  Irene keluar dari pekerjaannya. Karena itu artinya Andra dan Andri, buah cinta mereka, akan mendapat  perhatian penuh dari  ibunya. Bukankah sebaik-baik pengasuh anak-anak adalah ibunya sendiri? Seorang suster sekalipun punya keterampilan mengasuh anak, tidak bisa dipercaya sepenuhnya, terutama untuk urusan mendidik anak. Apalagi di bawah umur lima tahun merupakan fase meniru. Salah sedikit bisa berdampak buruk pada sifat anak di kemudian hari.

Sejak kehadiran si kembar Andra Andri dua tahun lalu yang makin melengkapi kebahagiaan mereka, Indra memang beberapa kali pernah mengatakan bahwa dirinya akan merasa lebih senang jika Irene mengundurkan diri dari pekerjaanya supaya bisa total mengurusi si kembar. Tetapi Irene tetap ingin bekerja dengan alasan ingin menerapkan ilmu yang diperolehnya.

“Sayang punya ilmu dibiarkan tersimpan di laci,” begitu kata Irene ketika itu.  Jika sekarang Irene tiba-tiba mengundurkan diri tentu kan mengundang pertanyaan di benak Indra. Laki-laki itu pastilah ingin tahu alasan Irene.    

Bagaimana pun Indra pasti terluka perasaannya jika tahu alasan sebenarnya Irene mengundurkan diri. Hal ini membuat Irene benar-benar tidak bisa memutuskan, dan tak tahu mesti kepada siapa meminta saran. Irene tidak mungkin mengarang-ngarang alasan. Indra adalah tipe laki-laki cerdas yang tidak bisa begitu saja menerima alasan yang tidak masuk akal. Lagi pula Irene tidak biasa mengarang-ngarang alasan untuk menutupi kebohongannya. Kalau ia paksakan juga dengan mudah Indra mengetahui kebohongannya. Jika itu terjadi akan sama buruknya dengan jika ia mengungkap alasan sebenarnya. Ah, semua ini gara-gara kehadiran Bayu, kekasih Irene di masa lalu, yang bergabung di kantornya  sejak empat bulan lalu.
**
Tak percaya, dan benar-benar seperti sebuah drama dalam sinetron picisan. Itulah reaksi pertama Irene ketika pertama kali mengetahui Bayu menjadi pegawai baru di kantornya. Selebihnya adalah perasaan berbunga-bunga, senang seperti anak kecil menemukan mainan kesayangan yang sekian lama hilang. Tingkahnya tiba-tiba berubah laksana gadis remaja, suka tanpa sadar melantunkan lagu-lagu lama. Kenangan indah masa pacaran dulu seakan bakal terulang kembali. Kata orang cinta pertama memang indah dan tak pernah tergantikan selamanya. Ternyata ini benar. Irene seolah lupa bahwa dirinya kini adalah istri dari seorang suami dan ibu dari dua bocah laki-laki yang membutuhkan perhatiannya.

Dulu, sewaktu SMA Irene memang menyimpan kisah cinta tak terlupakan dengan Bayu. Di sekolah Bayu merupakan seorang idola yang dipuja-puja gadis-gadis lantaran tampangnya yang memang tampan ditambah jago main basket. Gadis-gadis tak peduli dengan nilai bahasa Inggris dan matematika Bayu kedodoran. Merasa diidolakan gadis-gadis satu sekolah Bayu jadi terkesan angkuh. Entah berapa gadis yang patah hati lantaran hasratnya di-cuekin Bayu. Maka mendapatkan Bayu merupakan kebanggaan luar biasa bagi Irene. Karena ia pun jadi ikut populer di sekolah sebagai pacar sang idola. Ia merasa menjadi gadis paling beruntung. Irene tidak bisa jauh-jauh dari Bayu. Teman-temannya satu sekolah tahu itu. Mereka ibarat sejoli yang inginnya selalu berdekatan ke mana pun pergi. Sampai akhirnya keduanya lulus dan masing-masing harus pergi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di kota lain. Bayu tak pernah menghubungi Irene. Dia seperti hilang begitu saja meninggalkan setumpuk kenangan indah yang kemudian berubah menjadi kesedihan bagi Irene yang patah hati. Butuh waktu lama bagi Irene untuk memulihkan kepercayaan pada laki-laki.

“Bayu?”

“Irene?”

Beberapa lama keduanya tertegun, kaget bukan kepalang saat pertama Pak Nugraha, kepala kantornya, memperkenalkan Bayu sebagai pegawai baru yang akan bergabung memperkuat divisi marketing. Irene tanpa sadar telapak tangannya berkeringat dan  sedikit gemetar manakala bersalaman untuk pertama kalinya dengan Bayu setelah sekian tahun tak bertemu. Pesona Bayu rasanya tidak pernah berkurang. Bagai tak tergerus waktu. Termasuk sikap angkuhnya.

Begitulah, menyusul setelah itu ia sering pergi makan siang bersama Bayu, mengulur-ulur waktu istirahat makan siang untuk sekadar ngobrol dengan Bayu di kafe. Tidak cukup makan siang, mereka melakukan perjalanan ke luar kota bersama.

“Dulu ambil marketing manajemen juga?” kata Bayu.

“Ya, aku ambil di perguruan tinggi di kota kecil. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke Jogja kaya kamu,” ujar, sengaja ingin mengungkit kisah lama. Ada nada sinis dalam kalimat itu.

“Sop kambing paling enak di mana ya?” kelit Bayu.

“Sop kambing? Seleramu sudah berubah? Bukannya favoritmu gado-gado!”

Mula-mula Irene menganggap ini hal biasa saja, semacam hubungan antar teman lama yang sekian tahun tak bertemu. Toh Irene sudah menceritakan mengenai statusnya sekarang. Bahkan ia juga mengatakan bahwa ia memiliki keluarga bahagia; suami yang bertanggung jawab, anak-anak yang pinta dan lucu. Tapi perlahan-lahan tak ada yang bisa menghalangi bunga-bunga cinta di dadanya diam-diam mekar kembali. Irene merasa sangat tak lengkap bila sehari saja tak melihat Bayu. Ia kerap gelisah menunggu saat istirahat makan siang tiba. Menantikan saat-saat duduk berhadapan, mencuri-curi pandang wajah tampan lelaki itu di sela makan. Kerinduan pada rumah, melihat si kembar yang tengah lucu-lucunya, pelukan hangat dan tatapan mesra suaminya, sedikit demi sedikit tidak menimbulkan rasa kangen. Digantikan sosok Bayu, yang dari hari ke hari terus mendesak, mengambil tempat mereka dalam benak Irene. Ia seperti terbius kenangan masa remaja.

Kegiatan makan siang bersama, dan kadang nonton film, terus berjalan selama tiga bulan terakhir. Perasaan senang, nyaman, dan perasaan-perasaan aneh lainnya yang tumbuh di dadanya Irene anggap hanya romantisme masa lalu yang bisa diatasi dan tidak perlu dikhawatirkan. Ia merasa tahu batas-batas.

Setelah memasuki minggu ke empat pada bulan ketiga, Irene baru menyadari bahwa anggapannya keliru; bahwa ia tengah terperosok dalam hubungan yang sangat berisiko bagi keutuhan rumah tangganya dengan Indra. Sekalipun pernikahannya dengan Indra tidak berdasarkan cinta melainkan karena semacam keharusan untuk menikah mengingat usianya yang memasuki kepala tiga, namun Irene tidak rela kalau harus kandas hanya gara-gara Bayu, laki-laki yang pernah meninggalkannya begitu saja. Ia tak mau terjerat masa lalu.

Irene ingat, saat awal-awal menikah dengan Indra, ia memang tidak memiliki perasaan cinta pada Indra. Irene menerima Indra setelah sekian bulan laki-laki itu berjuang keras mendapatkan perhatiannya. Irene salut dan kagum pada kegigihan usaha Indra. Barangkali, selain pertimbangan usia, perasaan simpati pada sikap teguh laki-laki itu saja yang membuat Irene akhirnya menikah dengan Indra. Baru pada tahun kedua pernikahannya, berkat upaya yang terus menerus Irene mulai memiliki perasaan cinta pada Indra. Tidak lagi menganggapnya sekadar pelarian, apalagi sejak Irene melahirkan anak-anak dari benih laki-laki itu, dan menjadi sumber kebahagiaannya. Mereka adalah harta yang paling berharga. Irene merasa harus menyelamatkannya.       

“Kita harus mengakhiri hubungan semu ini, Bayu!” cetusnya.  “Kalau perlu aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan supaya kita tak pernah lagi bertemu.”

“Hubungan apa, Irene? Bukankah kita hanya berteman biasa saja?” ujar Bayu, nada angkuh jelas terdengar dalam kalimat tersebut.  Membuat Irene gemas ingin menampar mulut yang melontarkannya.

“Bagimu mungkin ini hanya hubungan teman biasa, seperti kau juga menganggap hubungan kita di masa lalu. Tapi tidak buatku. Sebab itu sebaiknya aku pergi sejauh-jauhnya darimu,” ujar Irene, menahan kesal.

“Seserius itu, Irene?”

“Tentu saja. Baru kusadari kamu memang bukan laki-laki yang pantas kucintai!” Irene bergegas bangkit dari kursi, dan keluar dari kafe lebih dulu.  

“Irene,” Bayu hanya bangkit memandang punggung Irene menjauh, masuk lift. Tampaknya tak ada minat buat Bayu mengejar Irene.
**
Akhirnya semuanya selesai. Irene benar-benar mengundurkan diri. Indra ternyata cukup dengan alasan bahwa Irene keluar dari pekerjaannya karena ingin memberi perhatian penuh pada si kembar. Rupanya perasaan senang membuat laki-laki itu tidak memerlukan alasan sebenarnya yang disimpan Irene. Kehidupan berjalan dengan mulus. Irene tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk menyesuaikan diri dengan ritme kegiatannya setelah keluar dari pekerjaannya.   

Permasalahan muncul justru beberapa minggu berselang, pada suatu hari ketika Irene menerima pesan singkat mesra dari Bayu. Ketika ponselnya berdering Irene tak mengira pesan singkat itu datang dari Bayu, karena ia menganggap semuanya telah selesai. Lagi pula dari mana Bayu tahu nomor barunya. Apa boleh buat, semuanya seperti sudah semestinya terjadi. Irene meminta tolong Indra membuka pesan singkat tersebut.

Irene melihat Indra tertegun lama setelah membaca pesan singkat itu. Wajah Indra terlihat begitu kecewa. Belum pernah ia melihat Indra begitu marah dan sekecewa itu. Menyusul kejadian itu, Indra tak pulang selama tiga hari. Pada hari keempat Irene menerima kabar Bayu luka parah dipukuli orang, masuk rumah sakit.

Pondok Pinang, April 2009

Comments