Sore di Beranda

disiarkan Radar Tasikmalaya, November 2009

Di beranda suatu sore yang redup, sepasang suami istri itu duduk agak berjauhan. Si istri mengelap daun-daun aglonema satu persatu dengan sangat hati-hati. Hujan membuat daun-daun bunga kesayangannya yang dibeli seharga sepuluh juta itu menjadi kotor. Sedang suaminya sibuk menggosok-gosok sebuah senapan yang sekian lama hanya menggantung di tembok ruang tengah sebagai hiasan. Sambil sibuk dengan pekerjaan masing-masing mereka bercakap-cakap tentang banyak hal. Tema percakapan mereka melompat-lompat. Mulai dari pekerjaan di kantor masing-masing, perubahan yang terjadi pada anak-anak, sampai kisah masa lalu yang membuat mereka bertemu. Sesekali keduanya tertawa bersama-sama. Tapi dalam percakapan tema apa pun perempuan itu tampak mendominasi.

“Kamu tahu, Fred, Tante Mer dulu sangat menentang pernikahan kita,”

“Aku tahu,”

“Tahu dari siapa?”

“Lo, bukankah kamu pernah cerita!”

“Oya? Tapi pasti aku belum cerita apa yang sebenarnya membuat dia menentang hubungan kita?”

“Apa?”  kata si suami, datar.

“Dia bilang kamu mirip suaminya dulu yang pernah mengkhianatinya,”

“Oya? Kenapa baru sekarang kamu cerita?” tanya laki-laki itu. Mata dan jari-jarinya masih tetap berkonsentrasi penuh pada senapan yang tengah digosoknya.

“Aku juga heran, kenapa tidak menceritakannya dari dulu.” kata perempuan itu setengah mengeluh.

“Kamu memang aneh.”

“Dia takut kamu juga akan mengkhianatiku. Dia bilang lelaki dengan postur tubuh dan paras wajah seperti kamu punya potensi besar menyakiti perempuan,”

“Lalu apa reaksimu waktu itu, Han?” tanya si suami kepada istrinya yang bernama Hannah.

“Semula aku hampir terpengaruh. Bukankah kamu memang pandai merayuku? Jadi kurasa kamu juga pandai merayu perempuan lain,” kata perempuan itu. Tangannya sejenak berhenti mengelap daun aglonema, menatap muka suaminya yang terlihat menyungging senyum. Sejenis senyum mengagumi diri sendiri. Kalau sedang tersenyum begitu laki-laki itu memang makin tampak manis. Tapi bukan itu yang membuat ia dulu tergila-gila. Melainkan sikap Fred yang kerap mengalah; dan terang-terangan mengatakan bahwa dia mengagumi kepintaran dan jiwa kepemimpinannya. Tidak seperti teman laki-laki lainnya yang selalu terbebani untuk selalu tampak lebih pintar di depan perempuan, Fred bisa dengan santai mengakui kelemahannya. Di kampus dulu, laki-laki itu bukan tipe anak gaul, tapi hanya sedikit kutu buku. Sekalipun begitu laki-laki itu tidak memiliki prestasi akademik yang menonjol.

“Kamu tak tahu, Fred,” ucapnya, tangannya mulai aktif lagi meneruskan pekerjaannya mengelap daun-daun aglonema. Kini pindah ke pot berikutnya.

“Menuruti saran Tante Mer, aku diam-diam melakukan investigasi.  Terbukti kamu tidak seperti yang dikhawatirkan Tante Mer. Kalau ya tentu saja kita tidak akan berada di beranda ini sekarang,”    

Dari ruang tengah terdengar Jane Birkin mendesah-desah, mengalunkan  jetaime moi non plus.

Jetaime
             Jetaime
Jetaime
…..

Si suami tertawa kecil. Senapan itu sudah mengkilap dia gosok. Tapi tampaknya dia belum puas, sehingga terus menggosoknya. Kali ini membersihkan bagian yang sulit dijangkau dengan kain sehingga dia harus menggunakan kuas. Sambil bekerja dia juga terkenang, dulu ayahnya kurang sepakat dengan gadis pilihannya yang kini jadi istrinya. Ayahnya bilang, perempuan jenis itu suka menindas laki-laki! Kau akan dijajah, kata ayahnya.

Sejujurnya, sebelum ayahnya berkata seperti itu Fred sudah sadar belaka. Hal itu dia rasakan sepekan menyusul hubungan resmi mereka sebagai pacar. Hannah selalu mendominasi hampir dalam perkara apa pun. Mulai dari memilih tempat piknik, judul film yang mau mereka tonton, restoran dan pilihan menu yang mereka makan, buku dan kaset yang dikoleksi sampai pada dengan siapa Fred sebaiknya berteman, perempuan itu yang memberi saran! Pernah mereka putus gara-gara Fred tidak cocok dengan tempat kos yang dipilihkan Hannah. Tempat kos itu terlalu dekat dengan kampusnya. Buat Fred sangat membosankan tinggal terlalu dekat dengan kampus. Tapi tak lama, karena Fred ternyata tak tahan berpisah dari Hannah.  Fred menyerah dan kembali ke tempat kos yang dipilihkan Hannah, yang tak jauh dari kampus.

Hannah makin mendominasi. Argumentasi yang Fred utarakan ketika memilih sesuatu selalu dengan mudah dipatahkan perempuan itu. Hal ini kadang membuatnya kesal dan menjadi sumber percekcokan. Putus sambung pun beberapa kali terjadi. Tapi entahlah, lama-lama Fred justru menikmati. Dia menggantungkan semua pilihan dan keputusan pada Hannah! Fred justru merasa aman, karena tidak perlu berpikir, dan terhindar disalah-salahkan jika pilihan yang mereka pilih ternyata keliru. Untungnya ini sesekali saja terjadi. Hannah jarang salah. Fred lupa alasan apa yang dulu dia kemukakan pada ayahnya sampai laki-laki itu akhirnya menerima Hannah sebagai menantunya.

Fred tahu, dulu—mungkin sampai sekarang, di rumah ayah selalu ‘kalah’ oleh ibu. Untuk urusan apa saja ayah biasanya menyerahkan pada ibu. Fred tahu sepertinya ayah tertekan oleh sikap ibu. Mungkin itu sebabnya ayah kemudian diam-diam punya selingkuhan. Fred jadi percaya dengan ungkapan yang entah dari siapa ia pernah mendengarnya, bahwa “seorang laki-laki yang tidak menjadi raja di rumah maka akan jadi setan di luar rumah”.

“Han, kamu tahu kenapa Tante Mer mencap semua laki-laki dengan paras dan postur tubuh sepertiku berpotensi berkhianat?”

“Konon Tante Mer pernah membaca buku tentang sifat-sifat lelaki berdasarkan postur tubuh dan paras wajahnya. Di buku itu disebutkan, laki-laki dengan lekuk rahang yang tidak terlalu tegas, tulang pipi sedikit tinggi, tonjolan melengkung pada alis, tulang hidung lurus mungil, sorot mata sayu, dan tubuh jangkung dengan punggung sedikit melengkung, memiliki tabiat suka menyakiti hati wanita. Tante Mer tidak percaya dan ingin membuktikan kebohongan buku tersebut dengan berpacaran dan menikah dengan Om Robin,”

“Terus?”

“Seperti yang kita lihat, kelakuan Om Robin membenarkan buku yang dibaca Tante Mer,”

“Han, bagaimana dengan ibu dan ayahmu dulu? Kenapa mereka mau menerima aku jadi menantu mereka?”

“Ah, bukankah aku pernah cerita?”

“Aku lupa, dan pengin mendengarnya lagi,” kata laki-laki itu setengah merajuk.

Perempuan itu diam beberapa lama. Kini dia sudah pindah ke pot ketiga. Punggungnya terasa agak pegal. Dia berdiri sebentar meluruskan punggung. Dia tak berminat mengulang cerita itu lagi. Tapi ia tak tahan melihat tatapan mata sayu suaminya. Mama dan Papanya dulu memberi kebebasan pada dia dalam urusan memilih suami. Prestasi akademik putrinya di sekolah membuat mereka yakin dia dapat memilih dengan baik. Meskipun begitu Mama tak lupa memberi pesan, “Tak perlu mencari suami yang lebih pintar dari kamu. Nanti kalian sering bertengkar.”  Dia ingat, di rumah dulu Mamalah yang dominan mengendalikan keluarga. Hampir semua keputusan penting Mama yang mengambil. Termasuk memilihkan sekolah untuk anak-anaknya.   

Sore makin meredup. Mereka telah selesai dengan pekerjaan masing-masing. Kini mereka duduk lebih dekat. Menikmati teh hangat dan kue-kue ringan yang disuguhkan bik Jarimah. Di rumah itu memang hanya mereka berdua, ditemani seorang pembantu yang ikut keluarga Hannah sejak Hannah masih balita. Dua orang putra mereka tinggal di rumah kost dekat kampus mereka masing-masing di luar kota.  

“Fred,” kata Hannah seraya menggigit kue.

“Hmm,” Fred menghirup teh hangatnya dengan nikmat.
“Kamu tetap setia padaku kan? Kamu bahagia, Fred?”

“Hmm,”

“Kenapa cuma hmm?”

“Ya, aku bahagia. Tak akan berselingkuh seperti ayahku dulu,” ujar Fred.

Hannah tersenyum dan meletakan kepalanya ke dada Fred sambil memandang laki-laki itu dengan mesra. Jauh di lubuk hatinya Fred makin meragukan kebenaran kalimatnya sendiri.*

Pondok Pinang Musim Hujan, Februari 2009.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka