Dua Orang Ayah

pernah ditayangkan Suara Pembaruan, Minggu 12 Oktober 2008

ilustrasi dari deviantart.com

Kita duduk di sana, di warung kopi tepi kanal yang sepi. Wajahmu keruh kelabu seperti warna baju yang kaukenakan. Meneguk jeruk hangat yang disuguhkan pelayan dengan mata lurus ke depan. Rambutmu yang agak keriting dan sehitam arang bergerak-gerak lembut disentuh udara yang dihembuskan baling-baling kipas yang berputar terseok-seok  di atas ruangan.  

Udara sore bulan Juni yang hangat. Permukaan kanal yang bening berkilauan memantulkan matahari. Anak-anak berterjunan dari jembatan bambu. Aku mengurungkan niat bergabung dengan mereka. Debur air dan suara gelak riang anak-anak sampai juga ke telingamu. Tapi itu tak mampu menghiburmu. Matamu makin tampak gelisah. Sesekali ibu jari dan telunjukmu menyeka pangkal hidungmu. 

“Ada apa denganmu, Ayah?” Kau hanya sekejap menatapku. Lalu kembali dihanyutkan pikiran yang membuatmu murung. Apa gerangan  yang membuatmu begini rusuh? Aku tak pernah melihatmu semurung ini. Adakah ulahku yang menjadi lantaran? Lihatlah, aku tak minta kereta mainan yang berjalan melingkar di atas rel plastik yang dijual orang di pasar malam. Aku juga tak lagi merengek menututmu membelikan benang dan layang-layang. Sudah cukup layang-layang kau bikin sendiri untukku.  Tak perlu pula kau belikan aku sepatu baru seperti teman-teman. Aku jadi anak penurut sekarang. Sekuat tenaga kutahan hasratku berlari ke jembatan bambu, melepas baju, terjun ke kanal.

Jeruk hangat yang telah tandas di gelas hendak kembali kau teguk. “Tolong buatkan segelas lagi,” pintamu pada pelayan.  Tidak biasanya kau minum jeruk hangat sebanyak itu. Tapi aku yakin kau tidak sedang marah pada ibu di rumah. Bukankah kalian baik-baik saja? Aku tak pernah mendengar kalian saling berbantahan ataupun berkata-kata dengan nada tinggi dan kasar. Kalian justru sering bercanda dan tertawa bersama-sama. Kau yang pendiam ternyata tidak cuma mahir merayu tapi juga pandai melucu di depan ibu. Membuat rumah kita yang tidak terlalu lebar dan berdinding anyaman bambu itu semarak.

Jadi apa yang membuatmu resah? Kau meneguk lagi jeruk hangat sampai separuh gelas. Tapi jeruk hangat yang mengalir di kerongkongan tak mampu melarutkan gundahmu. “Ada apa denganmu, Ayah?” ulangku. Matamu mengerjap, seakan baru sadar bahwa kau tidak seorang diri. Menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya jauh-jauh. “Kau mau berenang seperti mereka, Nak? Pergilah, Ayah mengawasimu dari sini.” ujarmu mengalihkan perhatian. Tapi kalimat itu tak berhasil memupus kisruh di matamu. Aku enggan beranjak. Aku kembali meraih satu kembang gula yang direnceng di depan warung. Merobek bungkusnya, lalu mengulumnya dengan nikmat. “Jangan banyak makan kembang gula, Nak, nanti gigimu rusak,” ujarmu.

Aku bergelayut di pundakmu. Kau membelaiku. Menggeser letak duduk, memberi tempat pada seorang pengunjung yang datang memesan gado-gado ke warung. Kau bercakap sebentar sebelum kembali larut dalam pikiranmu. Menolak halus saat dia menawari rokok. Langit biru terang, gumpalan awan putih menyisih. Angin seperti menepi pada batang-batang pohon trembesi. Cuaca yang sangat bagus. Bertolak belakang dengan suasana hatimu.

“Ayah tidak bersedih, Nak. Buat apa bersedih,” kilahmu seraya mengaduk jeruk hangat yang tinggal separuh. Bunyi ujung sendok membentur dinding gelas menimbulkan suara khas yang mengingatkanku pada sesuatu. Kau mencomot pisang goreng, lalu menggigitnya dengan malas. Mengunyahnya perlahan-lahan. Kudengar decap bibirmu yang beradu.  

“Apakah kakek yang membuatmu bersedih?” ujarku sekonyong-konyong. Aku ingat,  kemarin ketika baru tiba dari sekolah, aku melihat kakek keluar dari rumah dengan wajah memerah.  Lamat-lamat sempat kudengar kata-kata ‘anak durhaka’. Ia tak menghiraukan aku yang hendak meraih tangannya untuk kucium. Di ruang tengah kudapati kau dan ibu tertegun kaku laksana sebatang kayu. Seperti ada kalimat yang nyangkut di kerongkongan, gagal terlontar keluar. Aku berlari menghambur ke arahmu.  Kurasakan telapak tanganmu yang basah oleh keringat mengusap kepalaku.

“Tidak ada yang perlu dirisaukan dengan kakek. Semua baik-baik saja,” tuturmu, berusaha menenangkanku. Tapi aku telanjur tidak percaya. “Tapi kenapa Ayah bersedih,” ujarku bersungut-sungut.
“Pergilah berenang, Nak,” katamu lagi. Aku bergeming. Kau mengusap kedua pipiku. Kurasakan telapak tanganmu yang kasar, pertanda kerja keras yang kau jalani sejak kanak. Kau pernah cerita, sejak kanak bekerja sebagai pembersih di rumah orang. Kakek tinggal di rumah istrinya yang baru tak lama setelah nenek meninggal lantaran bekerja terlalu keras di pasar. Dia terserang mag berat yang merusak lambung dan membuat livernya bengkak.  Kakek tak pernah membantu pekerjaan nenek.  Di rumah selesai salat dan zikir kerjanya hanya ongkang-ongkang kaki sambil mendengarkan siaran radio, lalu pergi nonton bioskop pada malam hari.

Kakek tak pernah menjenguk apalagi menghidupi dan membiayaimu sekolahmu.  Susah payah kau menghidupi diri sendiri dengan berjualan kantung plastik di pasar. Menjual jasa membawakan barang belanjaan orang. Tapi kau tak putus melanjutkan sekolah sampai SMA meski harus terkantuk-kantuk di kelas lantaran malamnya kau masih harus menjadi pelayan di kedai sate.

Sore mulai redup. Angin bergerak perlahan. Di kanal yang tadi ramai anak-anak berenang kini telah sepi. Mereka beriringan menyeberangi jembatan bambu, meninggalkan kanal, pulang ke rumah masing-masing. Sebentar lagi tentulah kumandang azan bakal terdengar. Di rumah ibu pasti sudah menunggu. Sudah berapa lama kita duduk di warung ini, Ayah?  Pelayan warung beberapa kali mencuri tatap. Mungkin dia juga bertanya-tanya, kapan kita pulang. “Ayah, ayo kita pulang. Bukankah kita harus mengandangkan ternak?” Kau beranjak memanggil pelayan, meminta dia menghitung jumlah yang harus dibayar. Aku menggeleng saat kau menawariku lagi jajan.

“Besok kita ke rumah kakek,” ujarmu.
***
Benar, ibu sudah menunggu di depan pintu. Begitu turun dari sepeda tanganku diraihnya, dia membawaku ke kamar mandi. “Ke mana saja kamu, Nak, hampir maghrib begini baru pulang,” kata Ibu seraya mengangsurkan handuk dan ember kecil berisi  peralatan mandi. Sementara kau bergegas ke belakang memasukkan ternak ke dalam kandang.

Esoknya kau tidak pernah jadi membawaku ke rumah kakek. “Maaf, Nak, kita tidak bisa ke rumah kakek sekarang. Mungkin besok atau waktu yang lain,” ujarmu, seraya bergegas ke kandang memunguti telur untuk dijual ibu ke pasar. Kau menghindari bertatapan denganku, berusaha menyembunyikan kekisruhan di matamu. “Kamu pergi ngaji saja. Kemaren bolos, kan?” serumu dari dalam kandang. Aku kecewa sekaligus sedih melihat mendung itu belum sepenuhnya berlalu dari wajahmu. Semangatku pergi ngaji pun surut bagai kanal di musim kemarau.

Aku memang bergegas membawa iqro, merenggut sarung dan menyelempangkannya di bahuku. Tapi tanpa sepengetahuanmu di ujung jalan itu aku berbelok ke kanan, ke arah jalan beraspal, menuju rumah bibi Jemah. 

Ia duduk di ruang tengah ditemani segelas teh. Rumah sepi sekali. Tak terdengar suara Lana dan Saripah, anak-anak bibi Jemah yang biasanya ramai sekali. Wajah kakek tidak semerah kemarin. Tapi jelas masih ada sisa kemarahan di matanya yang agak cekung. Kakek tak bersuara seakan tidak melihat kemunculanku. Aku urung menghampiri dan meraih tangannya. Entahlah, ekspresi wajahnya tiba-tiba membuatku ciut. Aku terus bergerak ke dalam mencari bibi Jemah, Lana dan Saripah yang mungkin sedang tidur di kamar.

Tetapi saat kubuka kamar mereka kosong melompong. Hanya tampak sobekan buku tulis berserakan di lantai, di atas dipan kayu sprei terlihat kusut masai. Ketika aku kembali ke ruang tengah aku melihat seorang perempuan yang tak kukenal duduk di samping kakek. Dia mengenakan kebaya yang masih tampak baru. Rambutnya disanggul rapi. Bibirnya sedikit merah. Sekilas dia melihatku. Umurnya kurasa lebih tua beberapa tahun dari ibu.

Aku menghambur keluar, disambut bibi Jemah dan dua sepupuku. Dia menggamit tanganku, membawaku menjauh dari muka rumah. “Yasa, bilang ayahmu, kakek mau menikah. Dia minta sumbangan,” ujar bibi Jemah.

Pondok Pinang, Mei 2008.

Comments