Kedai Sunyi

Cerpen ini sebelumnya disiarkan Majalah Femina, 11-17 Desember 2008
gambar diambil dari Koran Jakarta

Besok aku terbang ke Korea. Dapat beasiswa untuk belajar dan menulis selama enam bulan di Hankuk University. Doakan tak ada halangan, dan semoga mabrur.*
 
Pesan singkat itu menyelinap di ponselku saat aku sibuk dikejar deadline. Seketika semangatku menyelesaikan kerjaan lungsur laksana istana pasir dijilat ombak di pantai. Muncul perasaan percuma, hambar. Setelah merampungkan dua tulisan untuk halaman berita utama, aku minta izin pulang. Tentu ini membuat Fahmi, redpelku, melotot marah.

“Aku butuh istirahat, maagku kambuh,” kataku menemukan alasan. Kusambar tasku, mencangklongkannya di pundak, lalu tanpa menunggu isyarat diizinkan aku segera berkelebat pergi dari hadapannya. Sudah sepuluh tahun aku bekerja di sini, jadi aku merasa sudah punya hak untuk membangkang. Aku berlari cepat menuruni anak tangga. Seperti ingin melarikan diri dari perasaan yang aku sendiri tak mengerti. Barangkali sesuatu yang menyerupai kehampaan. Tetapi yang tak bisa hilang oleh segalon air mineral.

Begitu saja aku naik angkot tanpa melihat jurusan mana. Aku duduk di dalam angkot dengan pikiran yang ajaib kosongnya. Belum juga kusadari ini angkot jurusan mana. Agaknya ini tak penting. Toh aku tidak punya tujuan hendak ke mana, yang penting pergi. Kulihat lampu-lampu jalan berwarna muram. Toko-toko berjejer tanpa selera. Beberapa kali tubuhku terguncang oleh permukaan jalan yang buruk.

Saat angkot berhenti di depan perempatan lampu merah aku baru sadar angkot ini jurusan Pasar Baru. Kuputuskan turun di depan Mal Metropolis. Di pojok jalan menuju mal itu ada kedai sup kambing yang sangat lezat dan tempatnya cukup bagus. Sebuah majalah ternama pernah mengangkatnya di rubrik kuliner. Aku pikir malam begini tidak ada tempat lebih baik dari kedai itu meski kehadiran pengamen sering mengganggu kenyamanan. Apalagi pengamen yang bukan menjual lagu melainkan membacakan sajak-sajak kampungan yang bikin mual. Entah sejak kapan kedai-kedai kaki lima jadi sasaran para pengamen. Mungkin sejak banyak pabrik pada bangkrut sehingga banyak pengangguran. Entahlah, yang jelas secara mendadak aku putuskan ke sana.

Kuhenyakkan bokongku di meja pojok yang kebetulan kosong. Meja pojok ini menjadi favorit banyak pengunjung, termasuk aku dan dia dulu. Sambil menunggu pesanan datang aku melamun. Sama sekali tak tertarik memperhatikan pengunjung kedai yang kebanyakan berpasangan. Selain pasangan hetero kurasa ada pula pasangan homo. Mereka yang kadang jadi sasaran obyek pembicaraan atau sekadar komentar dia.

Malam ini aku merasa begitu kosong, sendirian, dan begitu merana. Jujur, aku sendiri heran mendapati diriku begini sentimentil. Kenapa kabar keberangkatannya ke Korea membuatku sedih dan merasa bagai ditinggalkan?

Aku mengenal dia hampir sepuluh tahun lalu pada sebuah pertemuan pengarang di Surakarta. Tampilannya dengan kepala hampir plontos membuat tampangnya demikian lugu dan kampungan. Tapi bagaimanapun dia lebih memiliki kepercayaan diri. Dia mengenalkan diri, “Hadi,” ucapnya. Aku menyambut perkenalannya. Kusebutkan namaku.

“Namamu sudah sering aku dengar,” ujarnya membuatku kikuk. Agaknya aku geer. Aku makin geer tak keruan saat dia mengatakan sudah sering membaca karya-karyaku. “Memangnya berapa tahun kamu mondok di Madura?” tanya dia berikutnya. Wah, dia rupanya membaca biodataku.

“Tiga tahun,” kataku tersipu, tapi mulai berani menatap matanya. Menit-menit selanjutnya percakapan kami berlangsung sangat cair meski tetap saja aku menyimpan debar. Pertemuan kami begitu singkat. Malamnya dia sudah tidak tampak di antara kawan-kawannya. Dia lebih dulu pulang ke Yogyakarta. Kabar ini membuatku sedikit menyesal. Waktu itu dia pengarang daerah karena karya-karyanya hanya muncul di media daerah.

Dia hadir lagi dalam hidupku tiga tahun sesudahnya. Dia reporter baru di koran daerah tempatku bekerja. Kehadiranya membuat hatiku seolah penuh. Sayangnya ini tak berlangsung lama. Hanya tiga bulan. Dia keluar dari kerjaan dan memutuskan pulang ke kampung halamanannya di Lampung. Tiga bulan itu dia meninggalkan kenangan yang banyak. Kami sering jalan dan makan bersama di kedai ini. Selama tiga bulan pula aku mendengar dia mencelotehkan mimpi-mimpinya jadi pengarang besar. Aku menyukai semangatnya. Lebih dari itu kurasa aku juga mencintainya. Tapi tak pernah kuungkapkan hingga kini.

Pelayan datang mengantarkan pesanan. Nasi putih mengepul dan semangkuk sup kambing dengan aroma yang menggoda selera. Dia sangat menggandrungi sup ini. Tak pernah cukup satu porsi. Rasanya, dia bilang, senikmat ciuman pertama. Analogi yang agak berlebihan. Minumannya dia selalu memesan jeruk hangat. Setelah makanan tandas kami tidak cepat-cepat meninggalkan kedai. Paling cepat dua sampai tiga jam setelah minuman habis. Kadang dia sampai habis tiga gelas jeruk hangat. Usai makan itu dia mengobrolkan apa saja yang sekonyong melintas di kepalanya. Sedang aku lebih banyak diam mendengarkan. Sesekali saja aku bertanya atau mengulang kalimat dia yang kurang jelas. Seperti aku dia juga sangat terganggu dengan kehadiran para pengamen.

“Kamu tahu kenapa anak-anak jebolan pesantren justru banyak yang bermain-main dengan ayat? Karena ayat-ayat merupakan santapan mereka saban hari. Mereka bosan. Ingin memperlakukannya secara beda supaya tidak bosan, ” tuturnya. Matanya menatapku lurus, dengan sunggingan senyum yang khas miliknya.

“Mereka cari sensasi aja,”
“Mungkin ada yang berniat seperti itu. Tapi itu sangat sedikit. Lebih banyak yang karena bosan!”
“Hmm,” gumamku.

Dia meneruskan ocehannya dengan tema berbeda. Kebenciannya pada rekan-rekan yang suka meminta uang pada narasumber. Mahalnya harga makanan di kantin kantor Walikota.
“Bukankah ini memalukan? Sungguh aku nggak bisa melakukannya. Itu sama dengan menjual kehormatan. Lebih baik aku makan sama tempe saja ketimbang makan rendang dari uang hasil begituan!” kata dia berapi-api.

Kutahu ucapannya bukan basa-basi. Dia ingin selalu berusaha tulisannya sempurna. Bukan sekadar memenuhi standar 4 W 5H, tapi bagaimana berita yang ditulisnya betul-betul jujur apa adanya mengungkap kebenaran. Terdengar asing memang. “Kita memang hidup di zaman yang mengharuskan kita masa bodoh supaya dianggap moderat,” Ini kalimat yang paling aku suka darinya. Kadang kalimat ini kuubah sesuai kebutuhan, misalnya ‘kita hidup di zaman di mana kita harus kelihatan pura-pura peduli pada kebenaran supaya dianggap cerdas,’. Dia sering kehabisan uang untuk ongkos mengejar narasumber.

Aku tidak pernah bosan mendengar dia bicara. Kalau makan di sini kami sering bergantian mentraktir. Umpamanya malam ini aku yang membayari dia makan. Maka besoknya aku dia bayari. Tapi lebih sering bayar sendiri-sendiri. Kami akan keluar dari kedai apabila sudah merasa bosan atau mulai mengantuk. Kami berpisah di perempatan karena menempuh arah yang berlawanan, dia menyetop angkot ke arah Serpong, aku arah ke Kalideres.

Beberapa lama sepiring nasi putih dan semangkuk sup hanya kupandangi. Udara yang dingin membuat kehangatan sup lebih cepat menguap, membuat seleraku menyantapnya pun turut menguap. Hanya beberapa sendok nasi sup kusorongkan ke mulutku. Mengunyahnya dengan malas.

Di Lampung kudengar kabar dia meneruskan usaha warung kelontong bapaknya. Sampai di situ rupanya mimpi-mimpimu, Had, pikirku waktu itu, perih. Aku ingat dia juga pernah bilang dia keturunan pedagang, bukan petani. Dengan tekanan pada kata ‘pedagang’ yang punya makna lebih pintar dibanding petani. Akhirnya toh dia memang tidak pernah jadi pedagang. Setelah sekian lama putus kontak. Beberapa tahun berikutnya tulisannya muncul di koran nasional. Kutemukan lagi kontak dia. Lalu kami bertemu lagi. Jalan bersama lagi. Tetapi tentu sangat jarang. Dia kelihatan begitu sibuk dan membatasi waktunya keluyuran. Dia tampak berubah. Ah, diam-diam hatiku kecewa.

Apalagi kudengar kemudian dia menikah dan memiliki seorang anak yang lucu. Nama anaknya sering dia cantumkan di bawah karyanya. Maksudnya karya tersebut dia tulis untuk anaknya. Hatiku makin remuk manakala kuketahui dia juga berlaku selingkuh dengan perempuan lain, mengkhianati istrinya. Aku selalu menyembunyikan semua bila bertemu dengannya di sebuah acara. Tatapannya tidak sehangat dulu. Tapi dia selalu bertanya, apakah aku masih menulis?

Jeruk hangat yang sudah menjadi dingin kuteguk pelan-pelan. Di luar waktu tak pernah berhenti merambat. Hampir jam 11 malam. Pengunjung kedai sudah berganti-berganti keluar masuk. Kekosongan masih merambati benakku. Makin pekat. Beberapa waktu lalu dia memang membantu menawarkan naskahku pada sebuah penerbit. Berkat dia beberpa bulan kemudian bukuku terbit. Dan dia sempat menuliskan resensinya di sebuah majalah. Kuucapkan beribu-ribu terima kasih padanya, melalui kata-kata langsung, sms, dan email. Makin sering namanya kubaca di koran.

Tak lama kemudian kudengar dia jadi orang kepercayaan ketua sebuah partai. Menyusul berikutnya kudengar dia membeli rumah seharga satu milyar. Dan sekarang dia memperoleh beasiswa belajar ke Perancis.

“Maaf mba, kami mau tutup,” kata pelayan yang rupanya dari tadi menungguku.

Malam memang sudah larut, aku tahu harus pulang. Merebahkan tubuh yang lelah di karpet yang sudah sepuluh tahun kugelar di kamar sewaan tanpa pernah diganti. Mudah-mudahan bisa bermimpi ketemu dia di Seoul. Akan aku ucapkan padanya., “Aku tetap mencintaimu….”

Pondok Pinang, Juli 2008

Comments