Kecrek

(disiarkan Pikiran Rakyat, Februari 2011)

Sunarti pulang dengan air merembes dari sudut matanya. Dilemparnya kecrek ke pojok kamar kontrakannya yang sempit. Kemudian mengempaskan tubuhnya ke dipan berkasur lepek tanpa lebih dulu melepas stocking, bulu mata palsu, dan pakaian serba mini yang membungkus tubuh kekarnya. Telungkup. Make up tebal di wajahnya telah susut oleh keringat bercampur debu. Rasa pegal-pegal mengeram di sekujur badan. Tapi itu tak seberapa dibanding kepedihan yang kini mencabik perasaannya.

Di luar keriuhan bocah-bocah menendang bola bersaing dengan suara cekakak orang-orang dari warung nasi. Bola melejit, memantul ke dinding triplek kamar Sunarti. Tetapi perempuan berdada rata itu bergeming. Pikirannya sedang tidak ada di sana, melainkan di kamar kontrakan Martini. Keputusan Martini ikut ke Batam untuk bekerja di salon membuat semangat Sunarti luruh seperti debu jalanan tersiram hujan. Sedih sekali dia.

“Capek ngider terus, Ti. Aku mau ikut Tante Sri saja ke Batam. Siapa tahu ketemu nasib bagus di sana,” cetus Martini, ketika Sunarti datang nyamper untuk berangkat ngider. Meski Sunarti pernah mendengar Martini mengatakan niat tersebut, tetap saja Sunarti terkejut. Sebab selama ini Martini hanya ngomong doang.

“Kalau mau kerja salon, ngapain jauh-jauh ke Batam, Tin? Di sini juga banyak,” tukas Sunarti, getir.

“Memang banyak, tapi gak ada yang mau menerima aku karena belum terlalu pandai. Kalau Tante Sri kan masih mau ngajari juga. Jangan sedih, kalau kamu mau, kamu bisa ikut. Kamu bisa ngider juga di sana, nanti kamu kuajari motong rambut,” Martini menyulut rokok. Sunarti tahu hanya untuk mengurangi perasaan tidak enak melihatnya kecewa. Dari dulu mereka selalu bersama. Semenjak kanak-kanak sampai remaja di pesantren. Martini pula yang mengajaknya ngamen dengan dandanan banci setelah ke sana kemari tidak dapat kerja.

Keduanya memiliki nasib yang nyaris serupa: ditinggal ibu yang mati disiksa sang majikan di Saudi Arabia, sementara bapak mereka minggat entah ke mana. Nenek masing-masing kemudian menitipkan mereka di pesantren. Tentu saja di pesantren mereka belajar mengaji sambil membantu pekerjaan kiai supaya dapat makan. Mulai dari masak, mencuci, ngepel, sampai mijitin badan kiai.

“Kamu mau ikut kan, Ti?” Martini menyodorkan rokok. Sunarti mengambil sebatang, lantas ikut merokok. Tapi rokok terasa pahit di bibir, bikin batuk-batuk, dan makin menyesakan dada Sunarti.

“Aku tidak mungkin ikut, Tin. Emak sama siapa? Kalo Emak sudah mati seperti Emak kamu,” suara Sunarti, putus asa.

“Bilang saja kamu merantau, kerja di sana, cari duit supaya bisa ngongkosin Emak naek haji.”

Sunarti bergeming. Matanya menatap Martini, sendu. Memohon Martini membatalkan niatnya. Emak sudah tua, sakit-sakitan. Hanya dia milikinya di dunia ini. Sunarti tak mungkin meninggalkannya sendiri. Bagaimana kalau dia mati? Beberapa bulan ini Sunarti pulang saban minggu ke Purwakarta, mengantarkan beras dan uang ala kadarnya. Emak sudah tahu bagaimana Sunarti mendapatkan uang itu, tapi sekarang ia sudah tak marah atau sedih lagi. Bahkan Emak ikut-ikutan pula memanggilnya Sunarti, bukan Sunarta.

“Kamu mau ikut kan, Ti?”

Sunarti tak menyahut. Pikirannya makin kemerusut. Wajah jelek Emak terus menari-nari. Emak memang pernah bilang ingin naik haji. “Kapan ya, Ti, dapet lotre buat naik haji,” kata Emak. Sunarti hanya bersungut-sungut kecut mendengar igauan Emak yang menggelikan setengah mati. Coba bayangkan, bagaimana mungkin hasil ngamen jadi banci bisa buat biaya naik haji. Ah, Emak, terlalu percaya drama di televisi. Ah, Emak, kenapa tak juga mati.

Cuaca menggelap tiba-tiba. Angin bertiup kencang, lalu hujan pun turun menimbulkan suara ribut di genting. Tapi bocah-bocah terus saja gembira main bola di lorong sempit di antara rumah-rumah petak ini. Enaknya jadi mereka. Hanya dengan main bola bisa gembira. Tidak perlu kerja, tidak perlu makan di Mc D, tidak perlu korupsi dan jalan-jalan ke Bali. Tanpa bicara apa-apa Sunarti bangkit, lantas beranjak keluar tak menoleh lagi. Bahkan sumpalan buah dadanya yang terjatuh tak dia pungut kembali.

“Narti, mau ke mana, Ti?” Martini berusaha menahannya,”kamu jadi ikut kan?”

“Gak tahulah,” suara Narti lirih sekali. Seakan tak tersisa tenaga untuk mendorong kalimat tersebut.

“Kali ini aku serius, Ti. Pikir-pikir dululah, Ti.”

Sunarti masih telungkup di kamar. Dia merasa sangat sunyi dan sungguh-sungguh sendiri. Ia hanya bisa memaki-maki hidup yang terasa begitu sialan sekali. Tak mempedulikan perutnya yang keroncongan minta diisi. Martini, Martini, kenapa kamu tega sekali? Sungguh mati Sunarti tidak bisa membayangkan hidup di Jakarta tanpa Martini. Dialah satu-satunya teman tempat berbagi. Mengubah kepedihan menjadi cekikik tawa. Dialah satu-satunya orang yang mengingatkannya shalat dan mengaji.

“Walau kita banci, tidak ada yang melarang kita shalat dan ngaji, Narti.” ujar Martini seperti seorang kiai yang sedikit sok tahu.

Kalau sedang tidak malas, seusai ngider ngamen atau melayani klien, Sunarto pun shalat. Mengenakan sarung dan peci seperti dulu jadi santri. Ah, seandainya aku bisa motong rambut, tentulah aku mungkin ikut. Tapi aku tak punya keahlian apa-apa selain mengaji. Huh, Sunarti jadi benci Tante Sri. Menyesal dulu pernah mengenalkan Martini pada Tante Sri. Dia memang perantauan dari Batam. Dia membuka warung kopi sekaligus nyambi jadi germo para banci, di lahan liar di daerah bilangan Grogol. Sekarang warung kopinya kena gusur aparat pemda untuk dijadikan ruang terbuka hijau. Meskipun cerewet, Tante Sri banyak menolong Sunarti dan kawan-kawannya. Tante Sri suka mengajari para banci asuhannya memotong rambut dan rias pengantin. Bahkan berkat jasanya beberapa kawan Sunarti sudah ada yang buka usaha salon. Hanya Sunarti yang merasa tidak berbakat jadi tukang potong rambut maupun rias pengantin. Berkali-kali diajari salah melulu. Sampai Tante Sri kesal sendiri.

“Tanganmu itu lho, Ti, kaku dan kasar sekali. Padahal kamu kan banci.” Begitulah mulut Tante Sri cerewetnya acapkali bikin sakit hati.

Mendadak pintu digedor dari luar, lantas terdengar suara nyaring sekali, “Narti sudah balik lu? Kebetulan.” Itu suara Warjo, tetangganya, penjual buah dingin keliling. Lelaki itu mblusuk begitu saja ke kamar Sunarti. “Lo nangis ya, kenapa, Ti?” Tangan kasar nan legam Warjo meraba-raba bokong Sunarti.

“Jangan kurang ajar kamu, Warjo,” bentak Sunarti.

“Ayolah, Narti, aku kepengen banget nih. Abis nonton film seru,” mulut Warjo memang menjijikkan sekali.

Sejujurnya ini kelakukan Warjo yang sudah biasa. Dia salah satu klien setia Sunarti. Sekurangnya seminggu dua kali Warjo datang minta dilayani. Maklum, istrinya jadi TKW jauh di luar negeri. Sejauh ini Sunarti baik-baik saja melayani laki-laki itu. Toh dia juga tetap membayar meski di bawah tarif. Malah tak jarang Sunarti diberinya pula bonus buah dingin. Tapi kali ini Sunarti betul-betul sedang pilu dan sama sekali tak ingin diganggu. Maka sigap dia tangkap tangan Warjo, lantas dipelintir, dan dorongnya lelaki kerempeng itu keluar. Tenaga Sunarti memang dua lipat lebih kuat.

“Minggat kamu, setan,” sentak Sunarti, sengit. Tapi Warjo kembali merangsek, nekat menubruk Sunarti.

“Ayolah, Ti. Kubayar kamu lebih tinggi,” napas Warjo terdengar memburu. Sunarti berkelit, lantas meraih gagang sapu, disabetkannya ke tangan Warjo yang terus berusaha merenggut pakaian Sunarti.

“Pergi kamu, Warjo. Kulaporkan ke istrimu nanti.”

“Brengsek kamu, Narti. Awas ya kamu. Dasar banci,” seru Warjo, sewot, sebelum akhirnya berlalu sambil mengerang kesakitan lantaran lengannya kena sabetan gagang sapu.

Sunarti kembali sendiri. ditariknya napas dalam-dalam seraya menyeka air matanya perlahan-lahan. Satu persatu ia melepas pakaiannya, menggantinya dengan kaus dan celana pendek. Direnggutnya handuk dan peralatan mandi, lantas dengan langkah lesu berjalan ke kamar mandi.

Sambil mengguyur tubuh, pikirannya mengingatkan jangan terlalu larut dalam kesedihan. Ia justru harus sesegera mungkin mengambil keputusan. Menentukan pilihan. Tapi pilihan yang mana? Rasanya hidup tak pernah memberi ia pilihan. Kalaupun ada semuanya sama sekali menyebalkan. Sunarti tiba-tiba jadi menyesal kenapa dulu kabur dari pesantren. Padahal kalau dia tetap tekun dan bertahan di sana, mungkin sekarang ia jadi guru ngaji. Kenapa dulu ia mau saja diajak Martini kabur. Waktu itu sebenarnya Martini bukan kabur, melainkan diusir kiai lantaran dilaporkan seorang santri baru yang semalam digerayanginya. Hal ini Sunarti ketahui belakangan dari pengakuan Martini sendiri. Waktu di pesantren sebenarnya Martini santri yang cerdas. Namun tingkah lakunya yang kemayu membuat kurang disukai kiai dan para santri. Hanya Sunarti yang mau berteman dengan Martini lantaran Sunarti memiliki kesamaan: kemayu, hanya saja dia tidak terlalu menyolok.

Ketika kembali ke kamarnya, dilihatnya Martini dengan dandanan lengkap. Tas besar tersandar di dekat kursi.

“Gimana, Ti, jadi ikut ke Batam?”

“Gak, Mar. Biar aku di sini saja,”

“Ayolah ikut, Ti. Kamu gak mungkin ngamen terus sampe tua,” Martini merajuk dengan nada tinggi.

“Gak apa-apa ngamen sampe tua juga. Bahkan sampe mati,” sahut Sunarti tak kalah tinggi.

“Kamu gak setia kawan, Ti,”

“Kamu yang gak setia. Aku selalu mau menemani kamu. Sekarang kamu mau meninggalkan aku. Pergilah sana sama Tante Sri. Kamu memang tidak punya perasaan...” Sunarti tidak mampu lagi menahan buncahan perasannya. Dia menangis sesenggukan. Tangis Sunarti membuat Martini merasa sedih sekali sehingga ia pun tak kuasa menahan rembesan air mata di pipi. Hembusan angin kencang yang disusul hujan menelan suara tangis mereka.

Ketika hujan selesai, tangis mereka tak terdengar lagi. Perlahan-lahan Martini menghampiri Sunarti, menggapai kecrek yang tergeletak di pojok, lalu berbisik, “Iya, Ti. Aku mau ngamen terus di Jakarta sama kamu sampe mati,” desis Martini.

Di luar anak-anak makin riuh menendang bola. Mereka menjerit melihat bola melejit tinggi, memantul ke dinding tripleks kamar Sunarti.

Pondok Pinang, 30 November 2010


Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, esai untuk sejumlah penerbitan. Bukunya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (Kumpulan cerpen, Logung Pustaka, 2005,) Lari dari Persembunyian (Kumpulan Puisi, Komunitas Kampung Djiwa, 2007). Ayah tiga anak ini sehari-hari bekerja sebagai wartawan freelance untuk sejumlah media Jakarta.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka