Kalau Bayi Itu Merangkak

pernah tayang di Radar Tasikmalaya, 29 November 2009
gambar diambil dari Deviant.art


Langit tak banyak bintang. Bulan cuma sepotong. Gerbang gang. Taksi berhenti. Perempuan muda itu merenggut dompet dari tas merah. Beberapa lembar uang ditariknya. Tak menghitungnya. Menyerahkannya ke sopir taksi. Pintu taksi dibuka. Sopir taksi masih menghitung uang. Kaki perempuan itu menyentuh tanah. “Mbak, tunggu.” Kakinya melangkah hampir berlari. “Mbak, ini uang kembaliannya.”

Perempuan berambut sebahu itu harus bergegas. Harus lekas. Tak boleh terlambat sampai di rumah. Kalau bisa, dia ingin melesat terbang di atas perkampungan yang padat itu.
Gang terang. Rumah-rumah kecil berhimpit di kedua tepi jalan MHT. Gelap di dalam rumah. Hak sepatu memecah kesunyian. Ruang depan satu dua rumah tiba-tiba terang. Gorden kusen di satu dua rumah disibak. Satu dua pasang mata mengintip. Hanya beberapa detik. Gorden kembali ditutup. Ruang kembali gelap.

“Mbak, tunggu. Ini uang kembaliannya.” Teriakan itu tak menghentikan kakinya. Keinginan berhenti sebentar sempat melintas. Menatap sopir taksi sebelum memutuskan mengambil uang kembalian atau merelakannya. Tapi, untuk menoleh pun tak mungkin. Selangkah saja kakinya surut, dia bisa menyesal seumur hidup. Tak ada artinya dia berkubang peluh beratus-ratus malam.

Rumah itu. Bayi laki-laki itu. Perempuan renta itu. Semua berkelebat menyedot langkahnya. Perempuan muda itu ingin mencopot sepatunya, lalu merobek roknya supaya lebih lebar melangkah. Tapi, dia tak yakin apakah semua itu akan mempercepat langkahnya. Apalagi, langkah sopir taksi yang menguntit beberapa meter di belakangnya mulai menggangu pikirannya. “Mbak, tunggu!”

Tak ada yang bisa menghentikan kakinya. Setengah jam lalu saja, ketika baru melepas baju untuk tamu pertamanya, lalu teringat sesuatu yang terlupakannya di rumah, dia kembali memakai bajunya. Lelaki tirus yang tampak gugup itu menatap heran. “Maaf, aku harus pulang.” Tas di atas meja disambarnya. Gagang kunci pintu kamar diputarnya.
Ketika dia hendak melangkah ke luar, pergelangan tangannya disergap tangan lelaki itu. Perempuan bertubuh sintal itu menoleh. “Maaf, aku harus pulang. Lain kali kamu nggak usah bayar.” Genggaman tangan lelaki itu lepas. Dia hanya bisa berdiri mematung. Bengong. Baru kali itu, perempuan tersebut memperlakukan tamunya seperti itu.

Gerobok rokok di pertigaan sudah tutup. Perempuan itu berbelok ke kiri. Rumah bercat putih. Bayi laki-laki yang baru bisa merangkak. Perempuan renta yang sore tadi dibawanya ke dokter. Entah untuk yang ke berapa kali. Semua membuatnya kalut. Polisi tidur hanya beberapa meter dari pertigaan. Kakinya nyaris tersandung. “Sialan!”

Sopir taksi tak lagi memanggil-manggilnya. Dia cuma mengimbangi kecepatan langkah perempuan muda berambut sebahu itu. Lelaki berbadan kerempeng itu tadi sempat ingin menyejajari langkahnya. Tapi, melihat kekesalannya, lelaki itu tak ingin tindakannya makin bikin dia kesal. Lelaki itu merasa dirinya harus menunggu saat yang tepat.

Kalau kesempatan itu tiba, sopir taksi itu akan mengasurkan uang kembalian. Lelaki berkepala agak pelontos itu berharap, perempuan berparas ayu itu akan menatapnya dengan haru, lalu mengucapkan terima kasih. Dia tak mengharapkan tips atau upah. Tapi, seandainya perempuan itu menawarinya masuk dan duduk sejenak, menyodorkan teh hangat, lalu mengajaknya bercakap-cakap, dia tak akan menampiknya. Meski perempuan itu penumpang pertamanya malam ini, sebagai sopir kalong, dia masih punya banyak waktu untuk mengejar setoran hingga pagi nanti.

Rumah di ujung gang. Lapangan bulutangkis di depannya. Gedung bertingkat belasan di samping kanannya. Terasnya sempit. Di samping kanan pintu rumah, dua kursi rotan mengapit meja kecil. Pot-pot tanah di depannya. Sebagian pecah-pecah. Sebagian daunnya kering. Cahaya agak temaram dari lampu bolham. Pagar setinggi perut. Segaris lurus dengan pintu rumah. Ujung-ujung pagar bermata panah.

Langkah perempuan itu terhenti. Gembok menggantung. Tas merah dirogoh. Tak ada yang diambilnya. Sepatu dicopot, lalu melemparnya ke teras. Dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Kepalanya menoleh sekilas. Sopir taksi berdiri di dekat tiang net lapangan bulutangkis. Tiga empat meter di belakangnya.

Pelbagai kecurigaan mulai menyerbu kepalanya. Di sisi lain kepalanya muncul kamar tidur. Kasur yang digelar di lantai. Seterika di salah satu sudut kamar. Juga, di lantai. Bayinya bangun. Menangis. Neneknya berbaring lurus di sampingnya. Bayinya merangkak ke sana-kemari. Seterika panas disentuh tangannya. Oh….

Detak jantungnya makin cepat. Pagar segera dipanjatnya.  Ketika hendak turun, roknya tersangkut ujung pagar. Sopir taksi hendak bergegas mendekat untuk membantu, tapi urung. Dia takut perempuan itu tak berkenan, lalu mendampratnya. Atau, bahkan, salah paham, lalu meneriakinya. Satu kerikil di depan ditendangnya hingga masuk got di depan pagar rumah perempuan itu.

Perempuan itu berjuang keras melepaskan roknya yang tersangkut. Tak mungkin memaksa turun. Kalau memaksa, dia bisa jatuh tersungkur. Kepalanya bisa lebih dulu menyentuh ubin. Atau, roknya akan sobek hingga batas selangkangan. Sopir taksi bisa terangsang. Itu berbahaya. Dia tak takut diperkosa. Dia pernah mengalaminya. Oleh pacarnya. Bayi itu hasilnya. Dia cuma takut tak sempat menyelamatkan bayinya.

Sopir taksi menarik napas lega manakala melihat perempuan itu berhasil melepaskan roknya, lalu turun dengan selamat. Perempuan itu berlari menuju pintu rumah. Tangannya merogoh tas. Kunci sudah digenggamnya. Memasukkannya ke lubang kunci. Memutarnya. Pintu didorong. Terdengar suara berderit. Tubuhnya lenyap di balik pintu.

Sopir taksi melihat ruang tamu rumah itu terang. Tak lama kemudian, ruang tamu itu kembali gelap. Di bersandar di tiang net sambil matanya terus menatap rumah bercat putih. Sambil merokok, dia meyakinkan diri bahwa perempuan itu tak memberinya kesempatan mengembalikan uang sisa argometer itu. Dua batang rokok kretek hampir dihabiskannya. “Perempuan itu kelihatannya tak butuh uang kembalian ini,” katanya membatin seraya memasukkan uang itu ke saku bajunya. Kakinya hendak kembali ke taksi yang lumayan lama ditinggalkannya di gerbang gang.

Baru beberapa langkah, sopir taksi mendengar suara perempuan menangis. Dia berbalik mendekati pagar rumah bercat putih. Tapi, ruang tamunya tetap gelap. Tak ada warga sekitar yang terlihat keluar rumah, termasuk tetangga di samping kirinya. Mungkin, mereka tak mendengarnya atau memang tak mau memedulikannya. Tangisannya memang tak begitu keras. Tapi, terasa begitu perih.

Setelah yakin tak ada warga yang keluar rumah untuk membantu mencari tahu apa yang terjadi di dalam rumah perempuan itu, sopir taksi melompati pagar. Dia tetap memikirkan kemungkinan risiko paling buruk menimpanya: perempuan itu tak senang dia memaksa masuk tanpa izin, lalu meneriakinya sebagai maling. Toh, dia punya alasan: perempuan itu menangis seperti butuh pertolongan dan sekaligus dia ingin mengembalikan uang sisa ongkos taksi. Uang di saku baju kembali dirogohnya.

Pintu rumah itu diketuk, tapi tak ada yang membukanya. Sopir taksi mengetuknya sekali lagi. Suara tangis berhenti. Ruang tamu tiba-tiba terang. Derit pintu dibuka terdengar. Perempuan itu menyembul dari balik pintu. Sebagian tubuhnya muncul. Aroma wangi tercium hidung sopir taksi.

“Maaf, apa yang terjadi, Mbak?”
“Ibuku meninggal dunia.” Suaranya masih terisak.
“ Kenapa nggak cepat-cepat minta tolong tetangga?”
“Saya tak kenal tetangga di sini.”

Pintu terbuka lebar. Cahaya lampu menerawangkan daster tanpa lengan. Lekuk tubuhnya tertangkap mata sopir taksi. Ditambah belahan dada daster yang agak lebar yang menyembulkan sebagian payudara yang ranum, aroma wangi jadi terasa sensual.
“Saya mau menyerahkan uang kembalian ini.” Dengan sedikit gugup, uang sisa ongkos taksi itu disorongkan.

“Oya, terima kasih.” Perempuan itu menjulurkan tangan. Aroma wangi terasa makin sensual. Dada dan ketiaknya makin membangkitkan syahwat sopir taksi. Gemetar. Ada sesuatu yang dirasakannya ingin meloncat dari tubuhnya.

Ketika tangan mereka bersentuhan, sopir taksi tak mampu menahan hasrat syahwatnya. Tangan perempuan itu dicekalnya. Tubuhnya menerobos masuk. Perempuan itu ditubruknya. Didorongnya ke atas sofa. Telentang. Ditindihnya. Meronta. Mulut dibekap. Tak berkutik. Peristiwa hampir dua tahun lalu terulang kembali. Sopir taksi tak peduli ada tubuh kaku di kamar itu. Dia lupa bahwa pintu taksinya tak dikunci.*

Jakarta, 2009

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka