Posts

Showing posts from September, 2011

Ramalan Nenek

Image
(Cerpen ini pertamakali disiarkan di Majalah Good Housekeeping edisi September 2011)

Nenek melengoskan wajah ketika aku masuk. Aku tertegun bingung, bagaimana memulai mengutarakan maksud kedatanganku. Kalimat-kalimat yang telah kusiapkan dari Jakarta mendadak bagai menggumpal di kerongkongan, sukar dikeluarkan. Sorot mata Nenek yang biasanya meneduhkan kini terlihat dingin. Sanggupkah aku berseteru dengannya demi Toni?

“Nenek cuma tak mau kamu mengalami nasib seperti Nenek,” ucap Nenek, melegakan hatiku. Tadinya aku mengira Nenek akan marah tanpa mau mengungkapkan alasan. Walaupun alasan Nenek berlatar dendam masa silam, tapi setidaknya nada suaranya yang rendah saat mengucapkan kalimat tersebut sedikit mencairkan resah sekaligus ketegangan di hatiku. Kuletakkan oleh-oleh di sudut meja.

“Kamu jangan bilang Nenek pendendam. Sama sekali tidak, Marsa. Nenek sudah lama memaafkan lelaki itu. Tapi pengkhianatan yang dilakukannya tak mungkin terhapus dari ingatan Nenek.” sambung Nenek, kali…

Bugil

Image
pernah disiarkan Tribun Jabar, Minggu 25 September 2011

Kisah Banci Minus Empati

Image
Resensi ini pernah disiarkan Sinar Harapan, Sabtu 24 September 2011)


Gagasan besar acapkali lebih menggoda pengarang untuk diketengahkan dalam novel ketimbang peristiwa-peristiwa keseharian yang terkesan kecil, remeh. Padahal gagasan besar mempunyai banyak resiko kegagalan jika tidak didukung perangkat yang cukup untuk mewujudkannya. Inilah yang terjadi dengan novel “Taman Api” besutan Yonathan Rahardjo.

Novel ini mengangkat kisah kaum minoritas seksual, khususnya banci. Novel yang mengusung tema tentang kaum minoritas seksual (LGBT: lesbian gay biseksual dan transgender) memang sudah banyak ditulis. Terutama tentang percintaan sesama jenis, seperti “Lelaki Terindah” (lelaki dengan lelaki) karya Andrei Aksana dan “Garis Tepi Seorang Lesbian” (perempuan dengan perempuan) garapan Herlinatiens—untuk menyebut dua judul yang paling populer.

Namun, tentang banci, waria, dan kompleksitas persoalan yang menelikung kaum tersebut, rasanya masih langka. Banci, dalam novel “Taman Api” merupakan …

Empat Amanat Hujan: Dari Sufi sampai Q Film Festival

Image
Buku yang menemaniku sepanjang perjalanan berangkat dan pulang kerja kali ini adalah bunga rampai puisi Empat Amanat Hujan, terbitan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), 2010. Ukurannya yang tipis dan kecil—mirip ukuran novel Mira W— memudahkanku membuka lembar-lembar halamannya. Tapi tentu bukan karena ukurannya yang membuatku tertarik membawanya, melainkan tak ada lagi buku yang dapat kurenggut di meja. Maksudnya, aku yang kerap bangun kesiangan tak sempat memilih buku saat hendak bertolak ke tempat kerja. Maklum saja, jarak yang tidak dekat serta lalulintas yang semrawut membuat siapa pun tidak merasa tenang untuk lebih dulu membuang waktu memilih buku.

Kembali ke Empat Amanat Hujan, buku ini menandai kegiatan Panggung Sastra Komunitas yang digelar pada Desember tahun yang sama. Aku mendapatkan buku ini (dan bunga rampai cerpen) langsung dari petugas DKJ dalam kegiatan tersebut. Aku ingat itulah even sastra paling riuh yang pernah kukunjungi.

Membaca buku puisi di dalam bis terny…

Orang yang Berpuasa di Hari Raya

Image
Lebaran 2011 kemarin mungkin paling berkesan buatku sepanjang sepuluh tahun terakhir. Dimulai dari full-nya aku menjalankan ibadah puasa, ikut mudik bareng yang diselenggarakan sebuah bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara), bertemu (baca: reuni) dengan kawan-kawan MTs (Madrasah Tsanawiyah), sampai gagalnya aku menjumpai karib masa di pondok pesantren. Tentu saja, gagal memberikan kesan juga, bukan? Walaupun itu mengecewakan.

Perjalanan mudikku bertolak dari halaman Parkir Timur Senayan, Jakarta, pada Sabtu, (27/80) sekitar pukul 10 pagi. Sebelum naik bis, aku terlebih dulu mengambil beberapa gambar dan melakukan wawancara dengan sejumlah pemudik, penyelenggara, termasuk dirut bank yang melepas rombongan pemudik bersama menhub dan gubernur DKI.

Jarak Jakarta-Cirebon sekitar 300 kilometer, normalnya memakan waktu tempuh antara 4-5 jam. Namun pada momen puncak mudik tersebut, memanjang menjadi hampir 16 jam. Kemacetan terparah terjadi sepanjang Cikampek-Pamanukan, Subang. Problemnya buka…