Empat Amanat Hujan: Dari Sufi sampai Q Film Festival


Buku yang menemaniku sepanjang perjalanan berangkat dan pulang kerja kali ini adalah bunga rampai puisi Empat Amanat Hujan, terbitan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), 2010. Ukurannya yang tipis dan kecil—mirip ukuran novel Mira W— memudahkanku membuka lembar-lembar halamannya. Tapi tentu bukan karena ukurannya yang membuatku tertarik membawanya, melainkan tak ada lagi buku yang dapat kurenggut di meja. Maksudnya, aku yang kerap bangun kesiangan tak sempat memilih buku saat hendak bertolak ke tempat kerja. Maklum saja, jarak yang tidak dekat serta lalulintas yang semrawut membuat siapa pun tidak merasa tenang untuk lebih dulu membuang waktu memilih buku.

Kembali ke Empat Amanat Hujan, buku ini menandai kegiatan Panggung Sastra Komunitas yang digelar pada Desember tahun yang sama. Aku mendapatkan buku ini (dan bunga rampai cerpen) langsung dari petugas DKJ dalam kegiatan tersebut. Aku ingat itulah even sastra paling riuh yang pernah kukunjungi.

Membaca buku puisi di dalam bis ternyata tidak ‘serepot’ membaca novel. Di samping kebanyakan pendek-pendek, puisi-puisi di buku suntingan Jeffry Alkatiri tersebut tidak menuntut konsentrasi sekeras novel untuk merangkai pengertian dari kalimat-kalimat yang disodorkan. Kau bisa masuk lewat mana saja dan kapan saja, tanpa perlu merasa kehilangan rangkaian makna. Apalagi hampir semuanya lugas, dapat langsung dipahami maksud penulisnya. Sedangkan untuk puisi-puisi yang tidak lugas yang antaranya ditandai dengan terdapatnya banyak metafor yang aneh dan sekenanya. Sebagai contoh puisi “Untuk Menjadi Api Tak Perlu Membakar Kayu” Arung Wardhana, “Di Tebing Kesangsian” Dony Anggoro, “Menenggak Sajak” Restu Anshari Putra, dan beberapa lagi.

Untuk puisi jenis kedua ini, tak ada dorongan buatku berpikir keras menggali ‘makna’ yang mungkin terpendam di balik kata-katanya. Atau bisa juga puisi-puisi tidak lugas ini pada dirinya sendiri memang tidak menuntut digali maknanya. Cukup dinikmati. Tapi sungguh celaka, aku tidak bisa menikmatinya.

Sebab itulah aku lebih menyukai puisi jenis pertama. Ia bisa dinikmati sambil mendengar musik melalui kabel earphone atau sambil membaui bermacam aroma penumpang bis, mendengar rintihan para pengamen yang turun naik sepanjang jalur Lebak Bulus-Menteng, bahkan sembari mencuri-curi pandang penumpang yang ‘enak dipandang’.

Begitulah, aku menikmati beragam tema puisi. Mulai dari yang bersufi-sufi ria seperti besutan Hilmi Akmal “Aku Tidak Bisa seperti Rumi” , ada puisi yang sepertinya romantis karangan Tria Achiria berjudul “Rindu Tak Berpaut”, Tri Yunianto Nugroho “Lelaki Biasa”, atau Todi Kurniawan “Pujangga Cinta”. Aku membacanya seperti menikmati kacang rebus yang dijajakan pengasong.

Ya, puisi sejelek apa pun memang tetap dibutuhkan, paling tidak bagi penulisnya sendiri untuk mengekspresikan segala macam perasaan. Tak terkecuali perasaan kesal menghadapi sikap sekelompok orang yang acap memakai nama agama dalam melancarkan aksi kekerasan. Puisi tersebut berjudul FPI pada Q Film Festival. Bunyinya begini. Moralitas tak kutemukan di kerumunan amukan/cahaya langit pun tak meminta persembahan darah dan api/ dalam anganku, penghuni nirwana bersuara syahdu, membuai layaknya ibu/jubah yang kukira bisa membungkus amarah, penuh terisi pencari nasi/ Dengan mengutip bahasa langit: berteriak lantang, menista yang berbeda atas nama agama/ dst.

Puisi ini sangat menggelitik, karena memberi info terang benderang perihal aksi FPI (Front Pembela Islam) yang melakukan aksi protes penyelenggaraan festival film yang memutar film-film bertema LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Lewat puisinya itu penyair juga dengan terang menunjukkan sikap dan posisinya.

Membaca buku puisi dalam bis tentu saja bukan sesuatu yang istimewa. Tapi juga bukan kebiasaan yang lazim kau temui. Mendengar musik untuk kemudian pulas, pasti lebih jelas.

Comments