Kisah Banci Minus Empati

Resensi ini pernah disiarkan Sinar Harapan, Sabtu 24 September 2011)


Gagasan besar acapkali lebih menggoda pengarang untuk diketengahkan dalam novel ketimbang peristiwa-peristiwa keseharian yang terkesan kecil, remeh. Padahal gagasan besar mempunyai banyak resiko kegagalan jika tidak didukung perangkat yang cukup untuk mewujudkannya. Inilah yang terjadi dengan novel “Taman Api” besutan Yonathan Rahardjo.

Novel ini mengangkat kisah kaum minoritas seksual, khususnya banci. Novel yang mengusung tema tentang kaum minoritas seksual (LGBT: lesbian gay biseksual dan transgender) memang sudah banyak ditulis. Terutama tentang percintaan sesama jenis, seperti “Lelaki Terindah” (lelaki dengan lelaki) karya Andrei Aksana dan “Garis Tepi Seorang Lesbian” (perempuan dengan perempuan) garapan Herlinatiens—untuk menyebut dua judul yang paling populer.

Namun, tentang banci, waria, dan kompleksitas persoalan yang menelikung kaum tersebut, rasanya masih langka. Banci, dalam novel “Taman Api” merupakan sumbu yang meletupkan kisah yang lebih luas, menyeret wilayah agama, bisnis busuk sekelompok dokter bedah kelamin, kebengisan polisi sipil pamongpraja terhadap komunitas banci, sampai penjaja obat kecantikan.

Diceritakan, di sebuah negeri bernama Tanah Air, sindikat dokter pimpinan Dokter Shahrul, seorang dokter ahli bedah kelamin, dengan memanfaatkan kesatuan polisi pamongpraja dan kelompok agama garis keras, melakukan pemberantasan waria yang mangkal di taman-taman kota.

Mereka menangkapi waria, menginterogasi, dan mengedukasi mereka tentang sisik melik virus HIV—penyebab penyakit AIDS, dan penyebarannya. Tidak hanya itu, sindikasi dokter ini kemudian membius mereka dan mengangkat kelamin waria secara massal, lalu mengubahnya menjadi wanita sempurna. Untuk menyempurnakan tujuannya mereka menciptakan chip multifungsi yang dieksperimentasikan di dalam tubuh para banci melalui operasi kelamin tersebut. Chip ini mampu mempercepat pengubahan sifat maskulin ke feminin, memonitor pergerakan tubuh, dan merekam pembicaraan. Seluruh data lantas dikirim melalui satelit dengan sistem komputerisasi. Melalui chip itu pula, mereka akan mendapatkan data perkembangan penyebaran virus HIV. Berdasarkan data ini mereka punya alasan kuat memberantas banci layaknya penyakit yang merusak tatanan sosial.

Di sisi lain, ada Dokter Ranto, seorang ahli bedah kelamin juga. Ia menjalankan bisnis penjualan banci elit nan molek ke luar negeri. Untuk menjalankan bisnisnya ia memperalat Tari, dengan menjadikan waria kelas menengah itu istrinya. Dibantu Tari, Dokter Ranto memburu banci tercantik yang belum melakukan operasi kelamin melalui kontes-kontesan banci tercantik. Tari, yang tanpa sadar diperalat Ranto, berjuang membela hak-hak kaum waria yang sering diperlakukan tidak adil lewat pembentukan asosiasi banci. Ada pula tokoh Reta, seorang pengusaha salon yang melakukan praktek penyuntikan silikon cair ilegal yang merupakan kekasih Dokter Ranto.

Namun, dalam sebuah kejadian tidak disengaja, Priyatna, penjaja obat (medical representatif)yang diam-diam seorang tranvestite, membongkar semua persekongkolan jahat tersebut. Operasi kelamin massal terhadap waria jalanan dilaporkan ke polisi oleh asosiasi para banci yang didampingi Dokter Ranto. Reta kemudian kabur lantaran praktik suntik silikon cair yang dilakukannya menewaskan seorang banci. Kasus ini tak ayal menyeret Dokter Sahrul, karena dialah pemasok silikon cair ilegal.

Begitulah ringkasan novel “Taman Api”. Begitu komplek dan penuh gagasan besar. Namun, sayangnya novel kedua Yonathan Rahardjo, novelis yang juga dokter hewan yang pernah memenangi sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta lewat novel “Lanang’ (2006) ini, kurang berhasil—untuk tidak mengatakan gagal—mengeksekusi gagasan besar tersebut menjadi novel yang padu dan enak dinikmati.

Penyajian secara filmis yang digunakan sebagai strategi bertutur novel berketebalan 200 halaman ini alih-alih mengantarkan pembaca mendapatkan “visualisasi” rentetan adegan dramatis serta gambaran karakter tokoh-tokohnya secara detil dan bernyawa, yang terjadi justru mengganggu kenikmatan pembaca mengikuti kisah. Penuturan terasa melelahkan, terutama karena terjadi pengulangan saat menjelaskan identitas tokoh-tokohnya. Kadang insan-insan banci, kadang laki-laki berpenampilan perempuan, kadang laki-laki berdandan seperti perempuan.

Pengulangan yang sangat mengganggu juga terjadi dalam adegan saat kelompok dokter mengedukasi para waria perihal penyebaran virus HIV dan gejala-gejalanya, (hal 81-83). Pemaparan berpanjang-panjang yang disampaikan seperti menghadapkan pembaca pada uraian dokter dalam rubrik konsultasi kesehatan di majalah wanita.

Minus empatiAtmosfer dunia kaum banci yang antara lain ditandai melalui cara mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang sangat khas milik mereka, di novel ini nyaris tidak berbekas. Dialog yang terjadi antar mereka terdengar kaku dengan menggunakan kalimat dalam bahasa Indonesia yang sempurna. Dengarlah dialog yang di antaranya terdapat di halaman 131:

//“Aku menyuntik payudaraku dengan silikon. Dan, setiap hari mengonsumsi pil KB dan pil kolagen. Apa yang kau pakai untuk membesarkan punyamu?”// “Sama dengan kamu,”//“Bagaimana pengaruhnya?”// “Tentu saja seperti yang kau lihat ini,” dst.


Sehingga gagasan besar akhirnya berhenti menjadi sekadar gagasan, dan sekadar permukaan. Bahkan kemudian menelan kepedihan nasib kaum waria yang semula hendak diusungnya. Pengarang kurang berhasil menarik khalayak pembaca berempati pada nasib kaum waria yang terdiskriminasi. Di titik ini terlihat minimnya eksplorasi pengarang tentang dunia waria. Deskripsi yang cukup rinci dalam adegan operasi kelamin dan seputar dunia kedokteran pun akhirnya tidak berdaya menegakkan novel menjadi ruang untuk mengekpresikan empati bagi kaum minoritas seksual.

Akan lebih menarik kiranya jika Yonathan lebih fokus mengeksplorasi pergulatan batin kaum waria melalui peristiwa-peristiwa sederhana keseharian mereka. Ketimbang mengusung gagasan besar, tapi berakhir remuk redam.

Data buku
Judul : Taman Api
Pengarang : Yonathan Rahardjo
Penerbit : Pustaka Alvabet
Genre : Novel
Cetakan : I, Mei 2011
Tebal : 216 hlm
ISBN : 978-602-9193-01-5
Harga : Rp42.500,-

Comments