Orang yang Berpuasa di Hari Raya

Lebaran 2011 kemarin mungkin paling berkesan buatku sepanjang sepuluh tahun terakhir. Dimulai dari full-nya aku menjalankan ibadah puasa, ikut mudik bareng yang diselenggarakan sebuah bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara), bertemu (baca: reuni) dengan kawan-kawan MTs (Madrasah Tsanawiyah), sampai gagalnya aku menjumpai karib masa di pondok pesantren. Tentu saja, gagal memberikan kesan juga, bukan? Walaupun itu mengecewakan.

Perjalanan mudikku bertolak dari halaman Parkir Timur Senayan, Jakarta, pada Sabtu, (27/80) sekitar pukul 10 pagi. Sebelum naik bis, aku terlebih dulu mengambil beberapa gambar dan melakukan wawancara dengan sejumlah pemudik, penyelenggara, termasuk dirut bank yang melepas rombongan pemudik bersama menhub dan gubernur DKI.

Jarak Jakarta-Cirebon sekitar 300 kilometer, normalnya memakan waktu tempuh antara 4-5 jam. Namun pada momen puncak mudik tersebut, memanjang menjadi hampir 16 jam. Kemacetan terparah terjadi sepanjang Cikampek-Pamanukan, Subang. Problemnya bukan lantaran puncak mudik, melainkan karena tidak seriusnya pemerintah ngurusi hal penting ini. Antaranya sarana jalan yang rusak. Perbaikan tak kunjung selesai selama rus mudik. Akibatnya, di banyak ruas jalan kendaraan dari dua arah harus melalui satu jalur yang sama, sehingga harus bergantian. Bisa dibayangkan panjangnya antrian kendaraan. Belum lagi pemudik yang menggunakan sepeda motor. Masih sederet lagi penyebab kemacetan dan kecelakaan lalulintas.

Tentu saja, semuanya sebenarnya bisa diatasi jika saja pemerintah terkait bekerja lebih serius. Ah, membicarakan kinerja pemerintah hanya bikin frustarasi. Tengoklah, kecelakaan yang banyak merenggut nyawa di tol Cipularang yang menghubungan Jakarta-Bandung, pemerintah alih-alih meminta maaf pada masyarakat, malah mengaitkan kecelakaan dengan hal-hal mistis. Parahnya lagi, Menteri Perhubungan Freddy Numberi, mengeluarkan statemen yang bikin kita mengelus dada, “Kalau nyopirnya ngantuk, kita mau bilang apa?” Duh. Tinggal di negeri ini memang seperti kutukan. Tertib dan lancar hanya ilusi. Kau harus mempunyai persediaan ekstra sabar sebanyak-banyaknya sambil pintar-pintar menghibur diri. Ini satu-satunya cara aman berkelit dari keinginan bunuh diri.

Ah sudahlah. Perjalanan selama 16 jam itu buatku untungnya tidak terlalu melelahkan. Pasalnya bis tidak terlalu penuh, dilengkapi AC, toilet, dan video. Delapan orang peserta yang tak jadi mudik menyisakan bangku-bangku kosong yang bisa aku gunakan buat selonjoran, bahkan tiduran dengan posisi lumayan nyaman. Selain itu adikku ikut dalam rombongan. Dia bisa jadi kawan ngobrol sekaligus melepas kangen. Maklum selama tiga tahun dia bekerja di negeri seberang kami tak pernah bertemu. Kalau tidak ada lagi bahan obrolan aku membaca koran dan novel. Tak terbayangkan jika aku naik bis tanpa AC dengan penumpang yang membludak sampai ada yang berdiri seperti yang kulihat sepanjang jalan. Secara berlebihan adikku bilang, di neraka pun rasanya tak semenderita itu.

Bis sempat berhenti untuk istirahat sejenak sekalian sahur di rumah makan di daerah Indramayu. Di sana, selain melahap sepiring nasi dengan lauk semur ikan mas, aku menghabiskan dua butir telur asin dan sebotol minuman kaleng. Sambil menunggu pemudik lainnya makan, istirahat, dan ke kamar kecil, aku duduk melihat jalanan yang mulai lancar. Seperti biasa, aku sering tak sabar segera melanjutkan perjalanan supaya bisa lekas memeluk anak-anak dan istriku yang pasti sudah menunggu. Seharian tadi mereka memantau perjalananku melalui SMS (short message service).

Sampai terminal Cirebon sekitar pukul 01.30. Disambung elf sekitar 30 menit sampai ke rumah. Paginya aku langsung memeriksa pohon mangga, jeruk, belimbing, yang kutanam samping rumah. Menyiram mereka dengan penuh cinta. Membasuh daun-daunnya yang berdebu secara hati-hati. Istriku bilang, sepanjang Ramadan hujan tak pernah turun. Pagi berikutnya, sekitar pukul sebelas bersama Si Tengah aku meluncur ke desa tempat karib masa SMA-ku tinggal. Seperti yang kutulis di awal, dia gagal kujumpai. Di kotak pesan Facebook dia, aku menulis begini:

Senin (29/8) sekitar pukul 11 aku melawat ke rumahmu. Ketemu putramu, Fida dan pengasuhnya di beranda samping. Pengasuh Fida tak punya inisiatif mengabarkan kedatanganku kepada tuannya, bahkan setelah aku minta. Padanya aku bertanya, pada kemana kok sepi? "Bapak ke masjid, ibu meriang di dalam," sahutnya ogah-ogahan. Aku mencoba bersabar menunggu beberapa lama sambil mengawasi pohon jeruk bali yang makin rindang, rumahmu yang makin lapang. Aku tak menghubungi ponselmu, lantaran nomormu amblas bersama lenyapnya ponselku beberapa waktu lalu.

15 menit bosan menunggu. Aku beranjak, melongok-longokkan kepala ke masjid di ujung jalan. Tak ada apa-apa. Kuputuskan pulang. Di pintu pagar berjumpa dengan adikmu bungsumu. Berbincang sebentar, lantas menghidupkan mesin sepeda motor, dan melaju pulang membawa semacam rongga, serupa kecewa.

Kapan kamu bisa menemaniku makan siang di kedai sate? Tahun depankah? Atau kelak di akhirat? O...ini nomor baruku: 0878-xxx-xxxx


Sepanjang delapan hari di desa, aku hampir tak pernah lepas dari anak-anakku, terutama Si Tengah. Aku membawanya ke mana pun pergi. Ke pantai Gebang, menghadiri acara reuni, menonton bola di lapangan desa, sampai acara bakar ikan bareng teman-teman sanggar di Babakan (Si Tengah bahkan aktif berperan nyerok ikan di kolam), dan ngumpul-ngumpul dengan teman-teman pengajian. Juga saat menyaksikan pentas Grup Band ST 12 yang ditanggap Menteri Percepatan Daerah Tertinggal Helmy Faisal Zaini. Ya, dua pesohor level nasional tersebut memang berasal dari desa sebelah menyebelah dengan desaku. Peristiwa pentas musik grup band kenamaan tersebut membuat gegap gempita warga desa terpelosok ini. Barangkali menjadi peristiwa terakbar sepanjang sejarah desaku. Tidak heran jika menjadi tayangan berita di televisi.

Sebenarnya aku tidak berhasil menyaksikan pentas grup band dengan vokalis bernama Charlie ini. Bagiku yang telah bertahun-tahun hidup di metropolitan Jakarta (yeaaaah), tentu saja terlalu malas turut berdesak-desakan dengan warga desa yang mungki n hanya sekali sepanjang hidup mereka menyaksikan langsung artis ibukota. Bersama Si Tengah aku menyelinap ke bilik kedai internet tak jauh dari sana.

Oya satu lagi, lebaran kemarin aku merayakannya pada Selasa (30/8), tapi mengikuti salat Idul Fitri pada hari berikutnya bersama mayoritas waga di desa. Jadi pada saat aku merayakan lebaran, sebagian teman dan saudaraku masih menjalani puasa. Imbasnya, Si Tengah sampai bingung dan meminta pertimbanganku untuk puasa atau tidak pada hari Selasa. Aku tidak menganjurkan dia puasa atau merayakan Idul Fitri pada hari Selasa. Aku hanya memberika pandangan. Mungkin karena malamnya tidak ada acara sahur, meski teman-temannya masih berpuasa, akhirnya dia berbuka dan berhari raya di hari Selasa. Sementara Si Sulung meneruskan puasa. Ah, hal terakhir ini membuatku tergelitik untuk menulis cerpen berjudul ‘Orang yang Berpuasa di Hari Raya’.

Si Tengah, gamang merayakan lebaran

Comments