Ramalan Nenek


(Cerpen ini pertamakali disiarkan di Majalah Good Housekeeping edisi September 2011)

Nenek melengoskan wajah ketika aku masuk. Aku tertegun bingung, bagaimana memulai mengutarakan maksud kedatanganku. Kalimat-kalimat yang telah kusiapkan dari Jakarta mendadak bagai menggumpal di kerongkongan, sukar dikeluarkan. Sorot mata Nenek yang biasanya meneduhkan kini terlihat dingin. Sanggupkah aku berseteru dengannya demi Toni?

“Nenek cuma tak mau kamu mengalami nasib seperti Nenek,” ucap Nenek, melegakan hatiku. Tadinya aku mengira Nenek akan marah tanpa mau mengungkapkan alasan. Walaupun alasan Nenek berlatar dendam masa silam, tapi setidaknya nada suaranya yang rendah saat mengucapkan kalimat tersebut sedikit mencairkan resah sekaligus ketegangan di hatiku. Kuletakkan oleh-oleh di sudut meja.

“Kamu jangan bilang Nenek pendendam. Sama sekali tidak, Marsa. Nenek sudah lama memaafkan lelaki itu. Tapi pengkhianatan yang dilakukannya tak mungkin terhapus dari ingatan Nenek.” sambung Nenek, kali ini seraya menatapku lembut. Kecemasan yang menumpuk di dadaku perlahan mencair. Aku meraih pundak Nenek, lalu membawanya ke kursi. Aku memang belum mengucapkan sepatah kata pun, tapi kini aku telah jauh lebih siap. Hanya tinggal menunggu saat yang tepat.

Aku tahu dari Ibu kisah asmara Nenek dengan lelaki itu di masa lalu. Ibu berulangkali menceritakan kisah itu sejak aku duduk di bangku SMP. Nenek menikah dengan lelaki itu pada usia belasan tahun seperti kebanyakan perempuan desa masa itu. Meskipun melalui perjodohan Nenek sangat mencintai lelaki itu. Karena diam-diam Nenek mengidamkan lelaki itu sejak lama. Selain perawakannya yang tinggi ramping, wajahnya pun tampan—ketampanan yang diwariskan kepada Toni. Karena itu Nenek sangat bahagia. Sayangnya umur pernikahan mereka hanya sampai empat pekan. Karena pada pekan kelima lelaki itu meninggalkannya, menikah dengan gadis desa tetangga. Jika setelah itu Nenek menikah dengan lelaki yang kemudian menjadi kakekku, itu lantaran terpaksa sebagai pelarian. Nenek tetap memendam cinta sejatinya pada lelaki itu.

“Untunglah Kakekmu sabar. Dia tetap setia menjaga Nenek sambil terus berharap suatu ketika berhasil mendapatkan cinta Nenek. Ibu tidak tahu, apakah ketika Kakek meninggal sempat mendapatkan cinta Nenek. Mungkin dapat meski tidak sepenuhnya“ Cerita Ibu mengiang lagi di telingaku. Kubayangkan sosok Nenek dan lelaki itu di kala sama-sama muda. Mereka tentu pasangan yang sangat ideal: yang lelaki tampan yang perempuan rupawan. Adakah perempuan yang membuat lelaki itu berpaling dari Nenek lebih cantik?

“Jangan kamu katakan Toni beda dari Kakeknya.” kata Nenek lagi, membuyarkan lamunanku.

“Toni memiliki ciri-ciri yang sangat mirip dengan Kakeknya. Percayalah, Marsa,”
lanjut Nenek, mengatupkan kembali bibirku yang sudah terbuka mau bicara. Nenek benar-benar tahu semua yang akan kukatakan. Nenek memang memiliki kepintaran melihat sesuatu yang akan terjadi di depan. Tapi apakah aku harus juga percaya pada firasatnya yang mengerikan jika aku tetap menikah dengan Toni? Kepada Ibu, Nenek bilang hidupku bukan saja tidak bahagia, tapi juga akan terus menerus diterpa masalah jika menikah dengan Toni. Tapi Nenek tidak menjelaskan apa penyebab kelak kami tidak bahagia dan diterpa masalah? Kata ibu firasat dan perkiraan-perkiraan Nenek tentang kejadian yang belum terjadi acapkali terbukti. Itu sebabnya banyak orang datang ke rumah Nenek minta dilihat kejadian yang akan mereka alami di depan. Karirku yang melesat cepat di kantor telah diperkirakan Nenek jauh-jauh hari. Ayah luput dari kecelakaan pesawat setelah mengikuti saran Nenek membatalkan keberangkatan menggunakan pesawat.

Di atas semua itu sebenarnya ada satu bukti lagi yang membuat keberatan Nenek atas hubunganku dengan Toni sepertinya makin beralasan. Yaitu kegagalan yang menimpa perkawinan Tante Fifi, adik Ibuku, dengan seorang pelukis. Om Fandri, suami Tante Fifi, meninggalkannya ke Paris mengejar cinta perempuan Perancis yang juga kolektor lukisan-lukisannya. Meski begitu, bagiku setiap orang memiliiki kisah hidupnya sendiri-sendiri.

“Ini bukan sekadar ramalan, Marsa. Tapi bahkan lebih dari firasat.” suara Nenek terdengar lagi, lebih pelan namun tegas, seakan tidak bisa dibantah lagi, “batalkan niatmu menikah dengan Toni. Masih banyak kesempatan memilih laki-laki yang lebih pantas untuk kamu. Tidak perlu resah dengan usiamu yang baru 30.” Kalimat Nenek kali ini bagai peluru menghunjam jantungku. Aku memilih keluar meninggalkannya, karena khawatir tak mampu menahan ledakan emosi. Aku duduk di beranda, menenangkan diri. Mencoba mengingat-ingat kembali secara rinci pertemuanku dengan Toni.

Tiga tahun lalu aku bertemu dengannya pada sebuah acara pembukaan pameran lukisan di sebuah galeri di Kemang. Aku hadir mendampingi Bu Melina, pemilik perusahaanku yang mensponsori acara tersebut. Aku yang tidak menyukai dunia seni apalagi lukisan, sama sekali tak membuatku merasa nyaman berada di acara semacam ini sebelum bertemu Toni, salah seorang pelukis yang karyanya dipamerkan di sana. Dia menghampiriku ketika aku bertanya kepada panitia tentang lukisan yang sangat entah mengapa tiba-tiba begitu menarik perhatianku. Sebuah lukisan sepasang kekasih yang tengah berjalan di sebuah taman seraya berdekapan di bawah gerimis ketika senja hampir habis.

“Ini lukisanmu?” aku bertanya. Toni mengangguk seraya tersenyum manis sekali, yang membuat aku gugup setengah mati.

“Yang ini bagus. Saya suka sekali,” kataku, seraya mencuri-curi pandang wajahnya. Aku tahu Toni pun agak tersipu mendapat pujian dariku. Esoknya Toni mengirimiku lukisan tersebut ke kantor, disertai tulisan: lukisan indah untuk perempuan terindah. Sejak itu rangkaian demi rangkaian pertemuan kami lakukan, di galeri lukisan, studio tempat Toni melukis, toko buku, pertunjukan teater, di kafe, mengobrolkan tentang apa saja, bukan hanya tentang lukisan dan seni lainnya. Obrolan apa saja rasanya selalu klik dengan Toni. Kehadiran Toni seakan menghidupkan diriku yang selama ini terasa mekanis oleh timbunan pekerjaan yang tak pernah habis. Aku yang selama ini kaku berkomunikasi di luar persoalan bisnis, menjadi lebih lentur dan rileks. Toni telah mengubah hidupku menjadi lebih indah dan penuh warna-warna mengesankan. Dengan bersemangat aku mengupayakan perusahaanku mensponsori gelaran pameran tunggal lukisan-lukisan Toni. Kami merasa saling cocok sehingga akhirnya memutuskan untuk meneruskan hubungan ke jenjang pernikahan.

Ibu dan saudara-saudara yang lain tidak ada masalah dengan Toni, meski pernah juga terdengar secara bercanda lontaran-lontaran miring tentang Toni. Menurut Rendi, adikku, pelukis, seperti seniman umumnya, jago membuat rayuan gombal, dan sering menganggap enteng cinta dan kesetiaan. Aku tak merasa perlu menanggapinya. Karena toh mereka menyerahkan padaku kebebasan untuk memilih lelaki yang akan jadi pasangan hidupku. “Ibu percaya, kamu sudah dewasa dan cerdas. Pasti selalu mempertimbangkan dengan matang setiap keputusanmu,” begitu Ibu pernah mengatakan padaku. Tapi Nenek berkata lain.

Aku pernah menceritakan perihal ini pada Toni. Dia tertawa, lantas dengan nada bangga yang tidak bisa disembunyikan dia bercerita tentang Kakeknya. Dia bilang, Kakeknya dulu memang playboy. Ada sekian perempuan yang menjadi korban ke-playboy-annya.

“Dia memang jago merayu, seperti penyair. Aku tidak menyangka ternyata Nenekmu korban pertama Kakekku,” ujarnya.

“Tapi harus kamu catat, Marsa. Keplayboyan Kakekku tidak ada hubungannya dengan kegemarannya melukis. Lagi pula tidak semua pelukis playboy sama seperti tidak semua guru setia,” ujarnya. Aku turut tertawa, menyepakati ujaran Toni.
**

“Marsa, Nenek sangat mengagumi bakat kepemimpinanmu. Sejak SD kamu selalu juara kelas. Perhitunganmu selalu mantap. Tapi kenapa jadi salah pertimbangan ketika harus memilih lelaki? Toni bukan lelaki yang bisa dipercaya.” Kata Nenek tiba-tiba muncul di sampingku. Dia meraih pundakku, tapi aku menundukkan kepala menyembunyikan ekspresi wajahku. Sepertinya sudah tidak ada harapan untuk berdiskusi dengan Nenek.

“Dulu dia juga senang melukis, Marsa. Kamu tahu seperti apa kehidupan pelukis? Mereka suka pacaran dengan perempuan yang jadi model lukisannya.” Aku sudah tak berselera mendengar wejangan Nenek. Dengan menunjukkan sikap tidak setuju aku bangkit, melangkah ke dalam, lantas berkemas pulang malam itu juga tanpa mengucapkan sepatah kata.

Dalam perjalanan pulang aku dilanda keresahan yang makin keras. Namun ketika kereta memasuki Stasiun Gambir aku sudah punya keputusan: tetap melanjutkan rencanaku menikah dengan Toni. Beberapa tahun kemudian aku akhrinya menikah dengan Toni. Nenek tidak hadir memberikan restu. Namun, ketika aku dan Toni datang menjenguknya ke Bandung beberapa minggu setelah pernikahan kami, Nenek akhirnya mau menerima kami.
**
Namun dua tahun setelah itu, pernikahan kami kandas di tengah jalan. Semua berawal dari kunjungan Fred, kawan Toni, seorang pelukis juga. Aku kepincut oleh senyum Fred dan cara lelaki itu menatapku. Tanpa perceraian aku meninggalkan Toni dan pergi menyusul Fred ke Bali, menggenapkan perselingkuhan kami.

Lihatlah, malam ini sambil menghirup teh hijau kegemaranku, aku menemani Fred yang sibuk melukis. Aku ingin bertanya pada lelaki itu di mana sekarang Toni berada? Tapi niat itu kuurungkan.

“Kalau kamu ngantuk, kamu tidur di kamar, Sayang” ucap Fred tanpa menatapku. Aku mengabaikan permintaannya. Aku tak beranjak dari kursi panjang, terus menatap sebuah lukisan yang hampir dirampungkan Fred dengan ingatan melayang pada Toni dan wajah Nenek yang telah meninggal sehari setelah pernikahanku dengan Fred. Sungguh aku tak mengira betapa ramalan benar-benar Nenek terbukti.

Cirebon, Juni 2011

Comments

Anonymous said…
Mba kalo mau kirim cerpen ke Goodhousekeeping, alamat emailnya apa ya mba? terimakasih
Catatan biasa said…
sya kirim ke email anda ya. Apa email anda?

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka