Posts

Showing posts from October, 2011

Pagar

Image
-->
Cerpen ini awalnya disiarkan di Majalah Femina, Oktober 2011.

Ia sampai di depan pintu pagar rumah kekasihnya. Sekuntum bunga kering melayang jatuh tepat di ujung sepatunya. Sunyi mengisi jalanan. Cahaya lampu memendar redup, tak mampu menyentuh keirikil di permukaan jalan.  Gerumbul dedaun pohon mangga dari rumah sebelah menelan bayangan tubuhnya yang canggung mencoba menepis ragu.  Dia meraba ponsel yang mendekam damai di kantung celana jins ketatnya. Merogohnya pelahan. Menyusuri nama-nama di daftar teman yang tersimpan dalam ponselnya. Ada lebih dari lima ratus nama. Nama kekasihnya yang berhuruf depan M ada di urutan ke seratus.
Ketika nama itu muncul, ia hanya memandangi rangkaian huruf-huruf yang membentuk nama kekasihnya seraya menyunggingkan senyum, tapi ragu untuk menekannya. Mendesah pelan, ia mengambil sebatang rokok dari kantung jaketnya. Sambil menghembuskan asap rokok dari rongga mulutnya ia mendesah lirih, inikah saatnya...
Sudah lama sekali ia memendam gelora ha…

Ngelamun tentang Dayang Sumbi

Image
Saya mengenal nama tokoh ini dari film layar lebar berjudul ‘Sangkuriang’ yang saya tonton di bioskop di kota kecamatan, awal dasawarsa 1980-an. Saya ingat, bibi saya yang mengajak saya nonton film ini. Dia “menculik” saya dari musala desa, lantas mengendap-ngendap dalam keremangan ke jalan aspal untuk menyetop angkutan yang mengantar kami ke bisokop. Anak seusia saya waktu itu belum dikenai karcis.

Saya tahu cerita film Sangkuriang bukan dari film yang saya tonton, melainkan beberapa tahun kemudian setelah saya membacanya dari sebuah buku cerita entah di perpustakaan mana. Dari film yang saya tonton secara lamat-lamat saya cuma dapat mengingat adegan Dayang Sumbi yang marah dan menghantamkan centong nasi ke kepala Sangkuriang, lantaran si bocah nakal membunuh Si Tumang dan mengambil hatinya. Lantas Sangkuriang kabur menembus hutan dengan air mata bercucuran.

Dayang Sumbi diperani Suzanna, sedangkan Sangkuriang oleh Clift Sangra. Kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi kau tahu, merupakan …

Sekadar Tanggapan

Image
Seorang kawan protes terhadap caraku mendidik anak. Tidak tegas, dia bilang. Protesnya berawal dari catatanku di blog ini yang berjudul “Orang yang Berpuasa di Hari Raya”. Pada paragraf pengujung aku menulis begini:

“Oya satu lagi, lebaran kemarin aku merayakannya pada Selasa (30/8), tapi mengikuti salat Idul Fitri pada hari berikutnya bersama mayoritas warga di desa. Jadi pada saat aku merayakan lebaran, sebagian teman dan saudaraku masih menjalani puasa. Imbasnya, Si Tengah sampai bingung dan meminta pertimbanganku untuk puasa atau tidak pada hari Selasa. Aku tidak menganjurkan dia puasa atau merayakan Idul Fitri pada hari Selasa. Aku hanya memberikan pandangan. Mungkin karena malamnya tidak ada acara sahur, meski teman-temannya masih berpuasa, akhirnya dia berbuka dan berhari raya di hari Selasa”

Mestinya kamu secara tegas memilihkan salah satu, kata dia. Karena menurutnya, anakku belum bisa menentukan pilihan mana yang benar. Usianya baru 11.

Masalahnya bukan apakah usia 11 suda…