Kafe Terakhir



Cerpen ini pertama kali diumumkan di Femina, 24 Oktober 2010


Menunggu di kafe. Mungkin ini terlalu klise. Apa boleh buat. Tak ada tempat lain yang lebih baik untuk bertemu dan mendengar laki-laki itu menuturkan kisah hidupnya yang mirip drama—atau memang benar-benar drama—selain di kafe. Tapi percayalah ini tidak akan berlanjut menjadi cerita perselingkuhan. Pernikahanku dengan Ted sangat bahagia, dan tentu saja terlalu berharga buat dikorbankan demi apa pun, apalagi sekadar memenuhi hasrat petualangan cinta. Ted terlalu indah untuk diduakan. Di hadapan Ted aku kehilangan bakat jadi pengkhianat.

Roni, laki-laki yang meminta bertemu di kafe ini memang lebih tampan dari Ted. Berperawakan atletis: dada bidang, perut six pack, sepasang lengan yang terlihat kuat. Seperti kata pengakuannya, dia bukan hanya rutin mengunjungi gym, tapi juga ikut kelas yoga.

Dalam dandanan yang selalu menjaga harmoni, dengan wajah bersih terawat, dan telapak tangan halus lembut ditambah harum parfum yang menguar dari tubuhnya, sosok Roni barangkali mampu membuat kebanyakan wanita jatuh hati. Tidak untuk diriku. Karena aku tahu dia bukan tipeku. Aku datang kemari hanya ingin mendengar drama hidupnya.

“Aku mengoleksi semua novel-novel Anda.” Kuingat waktu kali pertama bertemu dengannya, di kafe ini juga, usai peluncuran novel terbaruku, dua minggu lalu. Waktu itu aku segera dapat mengendus laki-laki jenis apa dia.

“Kisah hidupku pasti sangat bagus untuk ditulis jadi novel,” cetusnya setelah memuji novel-novelku dan bicara kesana kemari tentang novel-novel kegemarannya. Sudah terlalu sering aku mendengar kalimat semacam ini dari pembaca novel-novelku. Jadi seharusnya aku tak perlu menanggapinya dengan serius. Tapi sialnya dia terus menghubungiku lewat segala saluran komunikasi.

“Percayalah, Wineke. Jika Anda mau menuliskannya ini akan menjadi novel bestseller.” Aku masih belum tertarik dan menganggapnya hanya sebagai trik dia mendekatiku.—harap diketahui, dengan tubuh padat ramping dan wajah rupawan, tidak sedikit lelaki yang berupaya mengejarku. Namun ketika dia mau nekat datang ke rumahku, aku tidak bisa lagi menganggapnya main-main. Bukan lantaran takut kedatangannya bakal bikin Ted marah dilanda cemburu. Sudah kukatakan tadi, pernikahan kami bahagia meski kami tak bisa memiliki anak—kami memutuskan tak memiliki anak. Kami selalu menceritakan apa pun tentang kegiatan masing-masing. Dan Ted bukan bocah remaja. Kami tahu untuk selalu saling menjaga kepercayaan. Tapi menerima penggemar di rumah, bukan kebiasaanku. Maka aku menyebutkan kafe ini.

Ketika aku tiba, dia berdiri menyambutku dengan mata berbinar dan kedua tangan terentang. Sambutan yang berlebihan. Apa boleh buat. Tak lama setelah minuman datang dan berbasa basi sebentar, mulailah dia berkisah.

Dia datang dari keluarga santri di desanya. Itulah kalimat pembuka ceritanya. Terus terang tak sedikit pun tampang santri terlihat pada sosoknya—paling tidak santri dalam bayanganku selama ini. Tapi di sini memang tidak ada yang mempersoalkanku untuk percaya atau tidak. Ayahnya memiliki sebuah pondok pesantren. Sebagai bungsu dan pria satu-satunya dalam keluarga, dia disiapkan menjadi penerus ayahnya memimpin pesantren. Sesungguhnya dia tak berminat, tapi tak bisa menolak. Untuk keperluan itu dia dikirim ayahnya ke pondok pesentren terkenal di Jawa Timur. Di pondok pesantren itu dia bertemu dengan Bahri, seniornya. Lelaki ini yang memberinya pengalaman erotik ganjil yang pertama. Kemudian dari hubungan sebagai santri senior dan santri junior, berkembang menjadi hubungan sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Keduanya saling ketergantungan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Untungnya hubungan ganjil ini tak terendus masyarakat pondok—oh, mungkin sebenaranya ada yang tahu, tapi tak digubris lantaran praktik semacam itu pondok pesantren konon sudah biasa. Tepatnya mereka tahu sama tahu asal dilakukan tidak terlalu mencolok.

“Kami bertekad untuk terus hidup bersama. Apa pun yang terjadi. Kami betul-betul gila,” kata Roni, mengomentari kisahnya sendiri.

Tetapi keadaan kemudian mengalahkan tekadnya. Bahri dipanggil pulang orang tuanya sebelum masa pendidikannya habis. Ayahnya merasa usianya tak lama lagi. Dimintanya Bahri menikah dan meneruskan usaha pengolahan ikan yang dirintisnya. Roni begitu kecewa dengan sikap Bahri yang menurutnya pengecut, mengikuti saja kemauan orang tua. Roni menyebutnya munafik, tak mampu bersikap tegas.

Beberapa waktu kemudian Roni pun pulang dan bersiap menggantikan posisi sang ayah memimpin yayasan pondok pesantren. Namun hanya dua tahun dia bertahan. Roni tak dapat membunuh hasrat cintanya pada Bahri, apalagi tatkala orang tuanya menyodori dia perempuan untuk mendampingi hidupnya. Di desanya, umur tiga puluh memang sudah tak pantas lagi untuk melajang, apalagi Roni anak kyai. Roni merasa hampa.

“Aku minggat meninggalkan rumah ke Jakarta.” Roni menatap mataku dan mencoba mencari kepastian di sana bahwa aku tengah menyimaknya dengan antusias. Dia mengangkat gelas wine, mendekatkan bibir gelas ke bibirnya dengan mata terus menatap mataku. Tampaknya dia mulai terbawa emosi oleh ceritanya sendiri. Diraihnya sebungkus rokok putih di meja, melolosnya sebatang, menyelipkanya di antara bibirnya yang pipih kemerahan.

“Boleh saya sambil merokok?”

Aku memberi isyarat tidak keberatan. Kulihat api biru menjurus dari pemantik. Untuk beberapa lama dia menghisap dan menghembuskan asap rokok. Lantas bicara yang lain, tentang kegemarannya pada kegiatan numismatik, mengoleksi uang-uang kuno. Benda-benda antik. Kalimatnya panjang-panjang, tumpang tindih, dan beberapa kata ditempatkan secara kurang tepat. Tentulah ini harus kumaklumi sepanjang alur logikanya bisa kutangkap. Dia bilang hobi numismatik bukan sekadar kegemaran, melainkan investasi. Aku memperlihatkan sikap tak antusias mendengar hobinya. Tampaknya dia mengerti, lantas meneruskan ceritanya.

Di Jakarta dia luntang luntang selama lebih dari setahun. Sebelum akhirnya menjadi pemain figuran untuk sejumlah sinetron. Dia tak menceritakan bagaimana dia mempertahankan hidup selama luntang lantung. Tahu-tahu menjadi pemain figuran. Biar saja, kupikir nanti saja kutanyakan atau tak perlu kutanyakan sama sekali.

“Sampai di sini, kamu masih tertarik?” ujarnya, dengan semangat yang perlahan menyurut. Tampaknya dia ragu-ragu pada keinginan semula menggebu.

“Teruskan saja.”

“Baiklah. “

Namun, ketampanannya tampaknya tak cukup buat menggaet perhatian produser. Sehingga selama bertahun-tahun dia harus puas hanya menjadi pemain figuran. Akhirnya dia banting stir jadi pekerja kantoran. Pada bagian ini ceritanya sungguh panjang dan berlarut membuatku hampir putus asa. Ungkapan-ungkapan melankolis yang klise dan bikin aku geli.

“Kamu pacaran dengan Ferdi?” aku memotong ketika dia menyebut nama itu di sela-sela kalimat-kalimat panjang. Sorot matanya mendadak sendu.

“Tidak. Aku hanya membutuhkan uangnya. Cintaku hanya untuk Bahri,” ucapnya.

“Lantas kenapa kamu tak mengejarnya?” kejarku, hati-hati. Sejujurnya aku bosan dan ingin segera sampai pada ending.

“Sabar dong. Masih panjang, sebelum sampai ke sana, ini bagian yang cukup seru,” ujarnya berlaga membuatku penasaran. Sialnya aku mulai penasaran meski aku sudah bisa meraba-raba dan berimajinasi sendiri. Sebab kalau pun aku memang tertarik menuliskannya menjadi novel, kukira aku tak akan menulis sesuai cerita dia. Aku percaya imajinasiku selalu lebih menarik dibanding ‘fakta’ yang dia ceritakan. Tak sudi aku menulis cerita sesuai permintaan orang. Aku bukan copy writer.

Sampai malam mulai larut, ceritanya masih berputar pada hubungannya dengan Ferdi. Dia bilang, Ferdi telah menyelamatkan hidupnya. Lelaki itu menyuplai semua kebutuhan hidupnya, memenuhi segala gaya hidup mewahnya. Dia tak bisa tidur kalau bukan di hotel. Tak mau makan bila tidak di restoran mahal.

Pada pertemuan berikutnya dan berikutnya lagi ceritanya masih seputar hubungannya dengan Ferdi. Tentang perjalanannya ke kota-kota terkenal di dunia. Tapi aku tak lagi merasa jemu, karena rasanya kisah beserta tokoh-tokohnya pernah akrab denganku. Melibatkan orang-orang yang pernah dekat dengan kehidupanku.

“Kami punya langganan hotel di Singapura,” desisnya. Sekarang aku tahu, ia tak menceritakan betapa Ferdi diusir orang tuanya lantaran ulahnya dia nekat membobol kas perusahaan keluarga; ibunya meninggal karena stroke setelah papanya tewas bunuh diri tak tahan menanggung beban utang segunung. Aku terus mendengar dia bercerita tentang pesta pesta nudis yang diikutinya dengan dada mau meledak.

Malam itu ia mengenakan kemeja krem lengan pendek dilapisi rompi dari bahan wol berwarna biru, dipadu celana pantalon berwarna sama dengan kemejanya. Rambutnya masih basah dan terlihat segar usai mandi. Harum sabun bercampur parfum beraroma teh menggoda penciumanku.

Pukul sepuluh malam ketika ceritanya sampai pada terbunuhnya Ferdi. Suaranya terdengar lirih dan begitu sandu saat menjelaskan peristiwa pembunuhan itu sama sekali bukan kesengajaan. Ferdi mengajaknya bercinta ketika dia sedang begitu malas pada suatu malam.

“Malam itu aku baru saja mendengar Bahri bercerai dari istrinya. Dia sedang ada di Jakarta untuk melakukan kunjungan ke seorang kyai di sebuah pesantren,” katanya mendesis.

Dia menolak permintaan Ferdi. Didorongnya tubuh Ferdi sampai terjungkal ke lantai. Lantas bangkit dan bergegas keluar mencari taksi menuju sebuah hotel untuk bertemu Bahri. Malam itu cerita berakhir sampai di sini. Padahal baru pukul sembilan malam. Tapi tentu saja aku tak bisa menahan laki-laki ini beranjak pergi. Kulihat sebuah taksi menunggunya di pintu lobi. Di belakang tampak duduk seseorang laki-laki. Aku menduga itu Bahri.

“Kita ketemu lagi lusa.” cetusnya, meninggalkanku.
**
Ini malam yang dijanjikan yang mungkin akan menjadi malam terakhir bagi hidupnya. Dia telah menyepakati pertemuan kali ini bukan di kafe yang sama. Melainkan di sebuah vila di wilayah puncak yang sepi. Ted telah siap dengan pistolnya. Dia akan membalas segala perbuatan Roni pada Ferdi dan keluarganya. Maaf, Roni. Bagamana pun kami tak rela kamu mencampakkan paman kami setelah kamu menghancurkan segala miliknya.

Pondok Pinang, Agustus 2010

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka