Ngelamun tentang Dayang Sumbi


Saya mengenal nama tokoh ini dari film layar lebar berjudul ‘Sangkuriang’ yang saya tonton di bioskop di kota kecamatan, awal dasawarsa 1980-an. Saya ingat, bibi saya yang mengajak saya nonton film ini. Dia “menculik” saya dari musala desa, lantas mengendap-ngendap dalam keremangan ke jalan aspal untuk menyetop angkutan yang mengantar kami ke bisokop. Anak seusia saya waktu itu belum dikenai karcis.

Saya tahu cerita film Sangkuriang bukan dari film yang saya tonton, melainkan beberapa tahun kemudian setelah saya membacanya dari sebuah buku cerita entah di perpustakaan mana. Dari film yang saya tonton secara lamat-lamat saya cuma dapat mengingat adegan Dayang Sumbi yang marah dan menghantamkan centong nasi ke kepala Sangkuriang, lantaran si bocah nakal membunuh Si Tumang dan mengambil hatinya. Lantas Sangkuriang kabur menembus hutan dengan air mata bercucuran.

Dayang Sumbi diperani Suzanna, sedangkan Sangkuriang oleh Clift Sangra. Kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi kau tahu, merupakan mitologi masyarakat Jawa Barat, yang dikaitkan dengan fakta geografi Gunung Tangkuban Perahu yang berada sekitar 20 km sebelah utara Bandung. Kisahnya berpusat pada Dayang Sumbi yang menghadapi serangan cinta dan bara birahi dari Sangkuriang, anak kandungnya sendiri yang pada masa lalu pernah diusirnya.

Ingatan di atas berseliweran di kepala saya manakala belum lama ini saya menghadapi buku “Empat Dayang Sumbi” besutan Soni Farid Maulana. Saya membelinya secara online setelah pengarangnya mempromosikan buku tersebut di dinding facebook saya. Saya diberinya diskon 50%.

Entah apa yang mendorong saya membeli buku tersebut. Dari tampilan sampul dan cara promosi buku ini tidak menarik. Setelah saya baca ternyata isinya pun tidak begitu menarik seperti yang telah saya duga.

Penuturan dan cerita yang disajikan buku ini sangat sederhana. Bahkan mungkin terlalu sangat sederhana sehingga abai dalam perhitungan penggunaan kata. Pertama yang paling mengganggu saya adalah inefsiensi kata yang diamalkan pengarang dalam mengungkai kisahnya. Sebelum saya tunjukkan tuduhan saya, ada baiknya saya jelaskan lebih dulu buku ini. Ini adalah kumpulan cerpen, yang terdiri dari empat cerpen dan sepuluh cermin, atawa cerita mini, atawa menurut pengarangnya sebagai cerpen-puisi mini.

Dengarlah kalimat ini: hujan turun dengan begitu derasnya. Padahal kalau hujan turun begitu deras saja cukup. Lihat juga kalimat ini: Saya buka pintunya dengan tergesa-gesa. Ketika terbuka saya kaget dibuatnya (Hal 23). Kalimat ini tidak efektif, bahkan ada kata yang digunakan secara kurang tepat. Saya rasa Anda tahu bagaimana meringkas kalimat di atas menjadi lebih efektif, ya, ya, jadi begini: Secara tergesa saya membuka pintu. Ketika terbuka saya kaget. Adapun kata yang kurang tepat dalam kalimat di atas adalah ‘dengan’, yang benar mestinya ‘secara’. Buktikan, tukarlah kata ‘dengan’ dengan ‘secara’ pada kalimat di atas.

Cara mengukur inefisiensi kata mudah saja, apabila kata tersebut dihilangkan, tidak akan mengurangi muatan makna yang diemban kalimat.

Tampaknya pengarang ini gemar sekali menggunakan kata ‘dengan’. Cukup banyak kalimat yang mengandung kata ‘dengan’. Kalau cara ini ingin dijadikan sebagai ciri khas, saya kira kurang tepat. Karena ini berlawanan dengan prinsip efektifitas berbahasa. Apalagi diamalkan dalam penulisan cerpen. Menurut seorang ahli cerpen dari Eropa, penempatan setiap kata dalam cerpen harus efektif dan mendukung cerita.

Nah, sekarang marilah mulai membicarakan materi cerita buku ini. Empat Dayang Sumbi yang dijadikan judul ini adalah tokoh yang ditemui aku si narator cerpen bernama Soni. Dayang Sumbi pertama ditemui Soni di sebuah Kafe Cicak Terbang dengan seting waktu modern, namanya pun menjadi Tias. Dayang Sumbi atawa Tias ini hadir dengan dandanan masa kini. Hanya saja dia mengaku Dayang Sumbi sang ibunda Sangkuriang yang ada hidup dalam mitologi. Hal ini kemudian dibuktikan secara mendadak dia menampakkan diri dalam dandanan tradisional Sunda.

Dayang Sumbi kedua, masih Tias, mendadak hadir di kamar Soni ketika lelaki romantis dengan pikiran sederhana itu tiba di rumahnya dalam keadaan basah kuyup lantaran terguyur hujan. Pada pertemuan kedua ini Dayang Sumbi atawa Tias ini berkeluh kesah tentang ulah putra semata wayangnya, Sangkuriang.

Dayang Sumbi ketigaa adalah Aura, nama lain dari Tias. Pada pertemuan ini mereka, Soni dan Dayang Sumbi saling mengikat janji atawa ‘jadian’.

Terakhir adalah Ning, yang tak lain sepupu Aura. Pada cerpen keempat ini terungkap Soni telah menghamili Aura. Perempuan itu kemudian diasingkan keluarganya di Belanda sampai meninggal di sana. Soni untuk menebus rasa dosanya memacari Ning dan berjanji setia.

Begitulah kira-kira. Sederhana sekali. Dituturkan dengan lembut dan mengalir lancar. Sayangnya setelah itu pembaca seperti tidak memperoleh apa-apa. Awal cerpen ini sesungguhnya menjanjikan sesuatu yang menarik. Mempertemukan secara surealis dunia mitologi dengan era modern. Tapi rupanya Soni tidak mengarahkan cerpen ke arah lebih serius untuk katakanlah menggugat atau memberi tafsir baru terhadap mitologi Dayang Sumbi dan Sangkuriang itu.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka