Sekadar Tanggapan

Seorang kawan protes terhadap caraku mendidik anak. Tidak tegas, dia bilang. Protesnya berawal dari catatanku di blog ini yang berjudul “Orang yang Berpuasa di Hari Raya”. Pada paragraf pengujung aku menulis begini:

“Oya satu lagi, lebaran kemarin aku merayakannya pada Selasa (30/8), tapi mengikuti salat Idul Fitri pada hari berikutnya bersama mayoritas warga di desa. Jadi pada saat aku merayakan lebaran, sebagian teman dan saudaraku masih menjalani puasa. Imbasnya, Si Tengah sampai bingung dan meminta pertimbanganku untuk puasa atau tidak pada hari Selasa. Aku tidak menganjurkan dia puasa atau merayakan Idul Fitri pada hari Selasa. Aku hanya memberikan pandangan. Mungkin karena malamnya tidak ada acara sahur, meski teman-temannya masih berpuasa, akhirnya dia berbuka dan berhari raya di hari Selasa”

Mestinya kamu secara tegas memilihkan salah satu, kata dia. Karena menurutnya, anakku belum bisa menentukan pilihan mana yang benar. Usianya baru 11.

Masalahnya bukan apakah usia 11 sudah bisa menentukan pilihan atau belum. Melainkan aku sendiri meyakini kedua pilihan itu sekaligus meragukannya. Kalau kemudian aku memilih merayakan hari raya pada hari Selasa, semata lantaran malamnya tidak ada acara sahur. Lemas, haus, padahal aku sudah pengin melesat kian kemari.

Kedua kubu yang memutuskan hari raya berbeda memiliki argumennya masing-masing, dan keduanya tidak ada yang merasa salah dengan pendapatnya. Jadi, dalam logikaku, aku tidak harus memilihkan mana yang lebih benar dari kedua kubu tersebut pada anakku. Aku yakin anak seusia itu sudah dapat menggunakan logika dan intuisinya untuk memilih. Lagi pula ini bukan persoalan prinsip.

Tapi begitulah, di negeri ini kau akan menjumpai kenyataan betapa banyak orang memprotes hal-hal yang tidak prinsip, namun pada saat bersamaan mengabaikan hal-hal yang prinsip. Aku pernah menjawab pertanyaan anakku ketika dia meminta contoh hal-hal yang prinsip: bagikan kurma yang ada di kantongmu pada kawan-kawanmu, tanamlah pohon, dan, tentu saja masih banyak lagi.




Si Bungsu dan si Tengah

Comments