Suami

cerpen ini pertama kali disiarkan di Pikiran Rakyat, Minggu 7 Agustus 2011

Anakku, pernahkah kamu bayangkan, jika istri yang kamu tunggu bertahun-tahun, tiba-tiba pulang membawa perut yang membuncit dan seorang pria yang menggandeng tangannya sepenuh mesra? Lantas ia meminta kamu keluar dari rumah beserta barang-barangmu? Mungkin kamu akan berbalik ke dapur, mengambil parang atau cangkul, lantas menerkam istrimu dan pria itu.

Itulah yang mestinya dilakukan Paman Mahdi. Tapi, pamanmu itu sama sekali tak melakukan itu. Jangankan marah dan balik mengusir istrinya, bertanya kenapa semua terjadi pun tidak ia lakukan. Yang terjadi justru sebaliknya. Yaitu menuruti perintah istrinya. Ia bergegas ke kamar, mengemasi pakaian dan barang-barangnya.

“Tak perlu buru-buru, Kangmas. Pergilah besok atau lusa atau minggu depan setelah Kangmas menemukan tempat lain untuk tinggal,” kata istrinya. Paman Mahdi mengangguk, tapi dia terus mengemasi barang-barangnya ke dalam tas dan beberapa kardus bekas mi instan.

“Bahkan kalau Kangmas bersedia, aku tak keberatan Kangmas tetap tinggal di rumah ini tapi menempati kamar belakang dekat dapur,” lanjut istrinya.

“Terima kasih, Mirah. Aku akan pergi saja. Aku tak mau keberadaanku mengganggu kebahagiaan kalian,” kata Paman Mahdi.

Paman Mahdi kini tinggal di rumahku. Rumah yang sebelumnya kubiarkan kosong lantaran aku punya rumah lain yang lebih besar di kota. Kini rumah itu jadi bersih dan terawat. Atapnya yang sebagian bocor, ditambal. Tembok dan kusennya yang retak-retak dan mengelupas catnya, dilapisi semen dan cat sehingga terlihat baru. Semak-semak yang meninggi dibabat, pagar yang rusak, dibenahi. Lantainya ia gosok hingga licin mengkilap. Dipasangnya beberapa lampu. Paman Mahdi bahkan membuat kursi-kursi dari barang-barang bekas yang ia letakkan di halaman depan yang teduh dan rindang oleh pohon mangga dan belimbing serta tanaman menjalar. Tanahnya yang semula bergunduk-gunduk, ia ratakan.

Kegiatan Paman Mahdi sehari-hari adalah menggarap kebun di samping rumah yang tidak seberapa luas. Di sana ia menanam singkong, ubi jalar, bayam, sawi, cabai, dan tanaman pangan lainnya. Selebihnya berkeliling kampung mencari barang rongsokan untuk dijual kepada pengepul. Ia juga beternak ayam dan beberapa ekor kelinci. Jika sudah waktunya ternak itu akan dibawanya ke pasar untuk dijual. Mungkin kamu sudah lupa, anakku, dulu kamu kerap diberinya ayam dan kelinci.

Kejadian pengusiran itu seakan ia lupakan begitu saja. Paman Mahdi tampaknya juga tak pernah punya niat menikah lagi. Tak jarang ia melewati rumah istrinya, tepatnya mantan istrinya, saat berkeliling mencari barang rongsokan. Bahkan membungkuk-bungkuk mengambil barang rongsokan yang diletakkan mantan istrinya di tong sampah depan rumah. Tak jarang pula mantan istrinya memanggilnya masuk ke dalam untuk mengambil barang yang tidak terpakai lagi di rumahnya. Pada saat-saat seperti itu mau tak mau terjadi pula percakapan.

“Berkeliling sampai ke mana saja, Kangmas?”

“Sekitaran desa desa sini saja.”

“Pasti capek sekali. Duduklah sebentar, minum tehnya,” pinta mantan istrinya. Perempuan itu menyuruh pembantunya mengeluarkan pula juadah sebagai teman teh, kue gemblong kesukaan mantan suaminya.

“Kenapa Kangmas tidak menikah lagi? Kalau Kangmas mau nanti saya carikan,” kata mantan istrinya sambil menimang-nimang anak balitanya.

Paman Mahdi menggeleng. Raut wajahnya seperti menahan-nahan sesuatu. Gerak geriknya terlihat canggung dan gelisah. Setelah menggigit beberapa potong kue serta meminum habis tehnya, ia beranjak keluar. Karena barang rongsok yang perolehnya sudah cukup banyak ia tidak perlu berkeliling lagi, tapi langsung pulang.

“Terima kasih,” ucapnya, tanpa melihat mata mantan istrinya sekejap pun.

“Sama-sama, Kangmas. Nanti kalau ada barang rongsok lagi aku panggil.” kata mantan istrinya sambil berjalan mengantarnya sampai depan pintu, memperhatikan punggungnya sampai lenyap ditelan pagar halaman.
**
Anakku, bagaimana jika kamu jadi Paman Mahdi? Kata orang hidup adalah pilihan. Dan Paman Mahdi telah memilih untuk bersikap seperti itu. Tapi yang mungkin perlu kamu catat, anakku, setiap pilihan bukan hanya punya sebab dan latar belakang, tapi juga memiliki resikonya masing-masing. Kejadian yang dialami Paman Mahdi pada mulanya tentu saja menjadi bahan pembicaraan yang tak habis-habisnya buat orang-orang kampung yang miskin ini. Itu hanya salah satu resiko.

“Keterlaluan Si Mirah itu. Tak tahu diri.”

“Perempuan sundal. Tak tahu balas budi,”

“Tapi kenapa Mahdi menerima begitu saja?”

“Iya, heran.”

“Kenapa sabar sekali dia. Terbuat dari apa hatinya.”

“Bukan sabar. Tapi bodoh!”

“Mungkin Mahdi memang sudah tak mampu lagi anunya...ha ha ha ha..”

“Ha ha ha ha ha...”

Begitulah orang-orang kampung yang bodoh lagi miskin itu menggunjingkan Paman Mahdi. Tak ada lain yang bisa mereka lakukan selain menggunjing. Barangkali menggunjing menjadi satu-satunya hiburan supaya mereka dapat tertawa di tengah kehidupan yang serba susah.

Beberapa lama kemudian mereka pun melupakan atau menerima atau tak peduli lagi kejadian yang dialami Paman Mahdi. Sementara laki-laki itu melakukan kegiatannya seperti biasa. Berkeliling kampung mencari barang rongsok. Tekun menggarap kebun, beternak ayam dan kelinci. Dari kegiatan itu Paman Mahdi mestinya dapat menabung.

Sampai suatu siang, sembilan tahun kemudian, sepulang dari sekolah, tanpa mengganti baju seragamnya lebih dulu, kamu, anakku, tiba-tiba bertanya pada ibumu.

“Ibu, benarkah Paman Mahdi pernah menjadi suami ibu?”

Ibumu terdiam beberapa lama, melirikku sejenak meminta isyarat. Namun setelah melihat aku tak memberi isyarat apapun, dia menjawab pertanyaanmu secara diplomatis.

“Kata siapa Aina?”

“Jawablah, bu, benar atau tidak ibu juga dulu pernah mengusirnya dari rumah?”

“Aina, kamu jangan mudah percaya omongan orang.” kata istriku seraya membelai kepala Aina. Tampak sekali kamu tidak puas dengan jawaban ibumu. Lantas kamu berbalik ke arahku, menatapku. Kamu ngeloyor pergi setelah aku memberi isyarat bahwa yang dikatakan ibumu benar.

Malamnya, sambil berbaring di tempat tidur ibumu bertanya padaku.

“Menurutmu apakah harus kita ceritakan yang sebenarnya?”

“Kita ceritakan saja yang sebenarnya. Tapi sekarang bukan waktunya. Nanti ada saat yang tepat”

Kami tahu, sejak itu kamu jadi murung dan kerap marah sebagai bentuk protes atas sikap kami yang menunda jawaban yang sesungguhnya. Kamu terus tumbuh bersama gunjingan orang-orang tentang ibu dan ayahmu. Ketika kamu harus keluar dari rumah ini lantaran harus kos sendiri supaya lebih dekat dengan sekolahmu di luar kota, kami tahu, kamu membawa serta pertanyaan itu. Kamu jarang pulang ke rumah. Mungkin kamu mencari jawaban di luar sana.

Sekarang kamu pulang, dan menagih janji kami untuk memberi jawaban yang sebenarnya. Baiklah, mungkin kini sudah saatnya kuceritakan yang sebenarnya.
**
Kampung ini, meskipun miskin, memiliki gadis-gadis yang cantik. Namun dari banyak sekali yang rupawan, Mirah merupakan yang paling cantik. Dialah kembang dari kembang desa. Aku, ayahmu, dan Paman Mahdi adalah kawan dekat yang saling bersaing memperebutkan cinta dan perhatian Mirah. Tentu kami hanya dua dari sekian pemuda kampung yang memperebutkan gadis yang sama. Tapi, Paman Mahdilah yang keluar sebagai pemenang.

Mereka pun kemudian menikah. Sayangnya, kemiskinan yang begitu menekan, menyebabkan Mirah harus ikut-ikutan jadi TKW ke Timur Tengah. Usianya 17 tahun waktu bersama kawan-kawan sebayanya dikirim jadi pekerja rumah tangga luar negeri. Sementara aku, dikirim kakekmu yang sedikit berada, kuliah ke kota. Meskipun di kota banyak bertemu gadis-gadis yang lebih cantik, aku tetap menyimpan cintaku hanya untuk Mirah.

Saat aku pulang ke kampung ini. Aku mendapat kabar tentang Mirah yang tak pulang dan berkirim kabar sejak keberangkatannya tujuh tahun lalu. Karena malam sudah larut, aku menunda datang ke rumah Paman Mahdi untuk menanyakan kebenaran kabar tersebut.

Esoknya, sebelum melaksanakan niat itu, Paman Mahdi datang dan membenarkan kabar menyedihkan itu.

Usiaku dengan Paman Mahdi hanya selisih dua tahun. Tapi dia terlihat begitu tua. Kamu tahu, anakku, lagi-lagi kemiskinanlah biang keroknya.

“Carilah Mirah, Man, bawalah dia kembali. Setelah itu kamu nikahi dia pun aku rela. Asal dia kembali dengan selamat,” kata Paman Mahdi, memohon. Begitulah, anakku, malam itu kami membuat kesepakatan. Lantas, berbekal pendidikan dan sedikit jaringan aku berangkat ke Timur Tengah mencari ibumu.

Anakku, kamu sudah dalam bentuk janin di rahim ibumu saat aku menemukannya di kamp-kamp penampungan Arab Saudi. Sekarang kamu tahu anakku, kenapa kamu tak mewarisi wajahku maupun wajah Paman Mahdi. Tapi kami berharap kamu mewarisi kesungguhan kami mencintai ibumu.

Relung Malam Pondok Pinang, 10 Juli 2011.

Comments