Posts

Showing posts from November, 2011

Mahameru

Image
Saya membeli novel besutan Qaris Tajudin ini di Gramedia Grand Indonesia bersamaan dengan buku resep jajanan pasar pesanan ibunya anak-anak. Saya berencana menulis resensinya begitu tamat membaca. Tapi hampir tiga bulan berlalu sudah, belum sempat juga. Memang selalu tersedia aral untuk segera mengerjakannya. Kesibukan kantor, membaca novel dari perpustakaan, menghubungi anak-anak, menjadi alasan paling ampuh untuk meminta pemakluman pada diri sendiri. Padahal kenyataannya kelayapan tanpa juntrungan, ngelamun dan membiarkan diri kosong melompong di depan layar laptop yang memutar film hasil ngunduh dari internet.

Tapi baiklah, perkenankan saya mengomentarinya secara garis besar. Secara keseluruhan ini novel yang enak dinikmati. Penulisnya piawai mendeskripsikan seting, karakter para tokoh dengan bahasa yang renyah tanpa mengurangi kedalaman. Detil, lincah, dan menyiratkan keluasan wawasan yang mengesankan. Alurnya mengalir dalam tempo cepat dan menyajikan ketegangan yang menghanyutan. …

Sastra yang Bertahan dalam Pelarian

Image
resensi ini pertamakali disiarkan di Lampung Post, Minggu 13 November 2011

Hidup di negara dunia ketiga di mana praktik korupsi demikian banal di hampir seluruh sendi berbangsa dan bernegara memang bikin frustrasi. Orang lalu memilih tak menggubris dan sekadar menjadi penyaksi drama busuk para penyelenggara negara, persekongkolan hakim dengan petinggi partai. Sikap tak menggubris bukan berarti menerima. Melainkan satu-satunya cara mengamankan diri. Pilihan lain yang paling tidak berisiko adalah mencelatkan imajinasi ke negara dunia pertama yang tertib dan beradab. Dengan harapan di sana dapat menghirup udara segar ketertiban hukum, kepatuhan pada aturan. Namun, bagaimana jika di negeri maju yang diimajinasikan pun orang tak terhindar dari penderitaan dalam bentuknya yang lain?

Jika Anda pengarang, perkara laten ini mungkin dapat diatasi dengan menciptakan kehidupan yang lain sebagai bentuk ekspresi sekaligus melarikan diri. Begitu seterusnya. Dalam kata lain, dunia sastra dalam kerangk…

Psikopat Warisan Kolonial

Image
Waktu pertama menyakskan trailer film ini di Q Fim Festival, saya segera terjerat dan mencatatkan “Perfect House” ke daftar film yang harus saya tonton bersama film “Sang Penari”. Bukan lantaran garapan Affandi Abdul Rachman ini telah kelayapan di festival film festival film internasional. Puji Tuhan, pilihan saya tidak meleset.

Dibuka dengan adegan seseorang memanggul dan menguburkan mayat, “Perfect House” langsung menebarkan ketegangan yang tidak biasa dan tidak pernah kita jumpai di film-film horor nasional. Baiklah, sebaiknya saya menuliskan review secara sedikit genah.

Ini rumah berarsitektur masa kolonial yang suram. Letaknya ngungun sendiri di lereng bukit yang berkabut. Para penghuninya: Madan Rita (Bella Esperance), Januar (Endy Arfian) dan Yadi (Mike Lukock), langsung menebarkan kerumunan misteri dan ketegangan lewat gerak gerik, tekanan suara, dan cara mereka menatap.
Tapi demi sebuah tugas dan pekerjaan, Julie (Cathy Saron), guru privat untuk Januar, tak gentar. Perilaku Ja…

Pohon dan Buku

Image
Rencana mengunjungi seorang kawan yang menjabat kepala desa pada kepulangan saya ke dusun pekan lalu, tidak terlaksana. Saya sibuk memandangi daun-daun mangga yang terus bersemi. Sekarang tingginya lebih dari 1,5 meter. Saya menanamnya hampir tiga bulan lalu, saat tingginya tak lebih dari 40 sentimeter. Saya mendapatkannya dari seorang kawan.

Saya membayangkan kelak duduk di bawah rimbun daunnya, menulis puisi atau sekadar duduk bersama istri saya yang akan saya minta mencari kutu di kepala saya. Selain dua batang pohon mangga, di halaman samping rumah itu saya menanam jeruk, belimbing. Pohon jeruk pun makin meninggi, hampir 2 meter tingginya. Sementara pohon belimbing mengalami nasib sebaliknya. Mungkin karena daunnya yang gurih dan manis sehingga saban trubus sekawaan ayam tetangga segera menghabisinya.

Saya ingat, pohon belimbing ini saya dapatkan dari Jakarta Convention Center. Pertamina menggelar pameran bertema go green di sana dan membagikan bibit bermacam pohon kepada pengu…