Pohon dan Buku


Rencana mengunjungi seorang kawan yang menjabat kepala desa pada kepulangan saya ke dusun pekan lalu, tidak terlaksana. Saya sibuk memandangi daun-daun mangga yang terus bersemi. Sekarang tingginya lebih dari 1,5 meter. Saya menanamnya hampir tiga bulan lalu, saat tingginya tak lebih dari 40 sentimeter. Saya mendapatkannya dari seorang kawan.

Saya membayangkan kelak duduk di bawah rimbun daunnya, menulis puisi atau sekadar duduk bersama istri saya yang akan saya minta mencari kutu di kepala saya. Selain dua batang pohon mangga, di halaman samping rumah itu saya menanam jeruk, belimbing. Pohon jeruk pun makin meninggi, hampir 2 meter tingginya. Sementara pohon belimbing mengalami nasib sebaliknya. Mungkin karena daunnya yang gurih dan manis sehingga saban trubus sekawaan ayam tetangga segera menghabisinya.

Saya ingat, pohon belimbing ini saya dapatkan dari Jakarta Convention Center. Pertamina menggelar pameran bertema go green di sana dan membagikan bibit bermacam pohon kepada pengunjung. Saya kebagian bibit pohon belimbing. Waktu saya membawanya pulang menggunakan kereta, saya meletakkannya di toilet. Cabangnya yang cukup panjang agak mengganggu penumpang lain jika diletakkan dekat tempat duduk. Semoga masih ada harapan untuk pohon belimbing saya kembali trubus dan tumbuh. Musim hujan yang mulai tiba semoga membantu mengabulkan harapan saya. Termasuk menyuburkan beberapa batang pohon jati yang ditanam di petak kebun yang saya beli dari seorang kawan yang kini menjabat kepala desa. Di kebun itu saya berencana menanam pula beberapa batang pohon mahoni. Kata temanku, selain banyak menyimpan air tanah, menanam pohon mahoni seperti investasi. Hmm....

Selesai dengan pohon-pohon saya, kesibukan lain yang menyita waktu adalah membongkar koleksi buku dan majalah. Saya bermaksud membersihkannya dari lumuran debu, bubuk kayu, dan kecoa. Lantas menyusun ulang secara lebih rapi dengan mengurut tahun penerbitannya. Kau tahu kegiatan ini makan waktu banyak, bukan lantaran jumlah koleksi buku saya (koleksi buku saya tidak sampai ratusan!) melainkan setiap buku lama bagi saya selalu menghadirkan kenangan. Buku tak ubahnya jejak waktu. Dalam hal ini saya memang kerap jadi sentimentil dan melankolis. Maksudnya berlama-lama membuka buku seraya mengenang mengapa dulu saya membeli buku atau majalah tersebut. Membayangkan peristiwa apa saja yang terjadi saat saya membelinya.

Beberapa majalah yang sempat kusimpan adalah beberapa nomor Majalah Sastra Horison, Berkala Budaya Kolong, Jurnal Kalam, Majalah Kebudayaan Basis, dan Ulumul Qur’an, Suara Muhammadiyah, dan majalah rohani Katolik Menjemaat. Jujur saja kadang saya ragu buat apa saya menyimpan mereka. Apa yang dapat saya lakukan dengan mengoleksi mereka semua?

"Mau dibuang?" kata istri saya. Tentu saja bukan sekali ini istri saya melontarkan pertanyaan itu. Sebenarnya saya ingin menjawab bahwa benda-benda ini penting sebagai bahan sekaligus dokumentasi sejarah. Namun urung, lantaran saya sendiri tidak terlalu yakin.

Kadang saja saya menggumam, siapa tahu kelak ada kolektor yang butuh benda-benda ini dan ingin membelinya dengan harga mahal.

Pohon dan buku, kelak keduanya mungkin akan mengantarkan ingatan anak-anak saya kepada orang tuanya. Tapi apa gunanya? Saya selalu percaya tak pernah ada yang percuma.

Comments