Psikopat Warisan Kolonial


Waktu pertama menyakskan trailer film ini di Q Fim Festival, saya segera terjerat dan mencatatkan “Perfect House” ke daftar film yang harus saya tonton bersama film “Sang Penari”. Bukan lantaran garapan Affandi Abdul Rachman ini telah kelayapan di festival film festival film internasional. Puji Tuhan, pilihan saya tidak meleset.

Dibuka dengan adegan seseorang memanggul dan menguburkan mayat, “Perfect House” langsung menebarkan ketegangan yang tidak biasa dan tidak pernah kita jumpai di film-film horor nasional. Baiklah, sebaiknya saya menuliskan review secara sedikit genah.

Ini rumah berarsitektur masa kolonial yang suram. Letaknya ngungun sendiri di lereng bukit yang berkabut. Para penghuninya: Madan Rita (Bella Esperance), Januar (Endy Arfian) dan Yadi (Mike Lukock), langsung menebarkan kerumunan misteri dan ketegangan lewat gerak gerik, tekanan suara, dan cara mereka menatap.
Tapi demi sebuah tugas dan pekerjaan, Julie (Cathy Saron), guru privat untuk Januar, tak gentar. Perilaku Januar yang aneh, Madam Rita yang congkak dan serba sempurna, serta Yadi yang bisu, justru membuat Julie tertantang.

Kehadiran Julie di rumah itu untuk menggantikan Lulu, rekannya, yang hilang tanpa kabar di rumah itu. Kehadiran Lulu lewat mimpi buruk, kedatangan seorang perempuan yang mencari anaknya yang hilang, klipingan-klipingan koran yang secara tak sengaja ia temukan di laci kamar Madam Rita, mulai mempertebal kecurigaan di benak Julie tentang ketidakberesan para penghuni rumah.

Suatu hari, Julie membuntuti Madam Rita yang berjalan tergesa masuk ke rimbunan semak belukar. Mengintipnya tengah entah berdoa entah apa di depan makam. Esoknya melalui mulut Januar yang mengidap kepribadian ganda, Julie menemukan fakta yang mengerikan: mayat perempuan yang dikubur sembarangan di balik semak belukar.

Semua rangkaian adegan beserta dialog-dialog yang minim dan tepat guna, kita digiring untuk menerka-nerka ada apa di balik rumah yang tampak sempurna itu. Film ini sebenarnya menyajikan cerita biasa saja, tentang penderita psikopat, split personality. Alurnya pun sebenarnya tidak rumit rumit banget. Namun semuanya digarap dengan teliti dan cermat. Ketegangan menyusup cepat dan membuat kita sesak, lantaran tak diberi kesempatan menarik napas. Bahkan ketika kita menduga cerita telah selesai dan berakhir dengan gembira. Kita dikejutkan kehadiran Marci, sosok ganas dalam tubuh Januar yang ringkih dan traumatik, menyabet leher Julie. Balutan warna-warna vintage makin memperkuat suasana mencekam.

Bagi saya, tingkat ketercekaman dan ketegangan menonton film ini, hanya bisa ditandingi oleh “Pintu Terlarang” Joko Anwar. Hanya, jika “Pintu Terlarang” masih bermain-main dengan simbol dan bumbu drama, “Perfect House” menyajikan thriller secara penuh. Akting Bella meski kadang terlihat terlalu dingin, telah mempersembahkan kemampuannya yang gemilang setelah film “Bibir Mer” garapan Arifin C Noor. Demikian halnya dengan Mike Lukock, kebisuannya sangat berbicara. Cathy Sharon justru yang tampak kekenesannya.

Menurut saya, film akan membekas agak lama jika kita diberi penjelasan tentang bagaimana Januar mengidap split persoanlity, bagaimana Madam Rita jadi psikopat. Penjelasan ini penting, bukan hanya untuk memperkuat rangkaian cerita, tapi juga memupus kesan sutradara ingin menyajikan ketegangan belaka.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka