Hujan Pagi, Sebuah Kafe

Cerpen ini awalnya disiarkan Majalah Femina, 17-23 Oktober 2009

Pagi berhujan. Dari balik jendela apartemen, pemandangan tampak mengabur. Jalan sepi dari lalu lalang kendaraan. Ini memang hari libur. Orang-orang tentu lebih memilih bermalas-malasan di rumah.

Clara terbangun dengan ingatan pada wajah Joel. Laki-laki itu bilang, suasana seperti ini amat disukainya. “Aku akan keluar dari rumah, mencari ojek atau taksi, lalu berkeliling kota, asyik sekali rasanya melihat curah air hujan. Seperti kembali ke masa kecil,” ujar Joel.

“Kamu norak, Joel!”

“Tidak ada yang norak, Clara!”

“Apa seorang seniman harus selalu norak!”

“Kenapa kamu berpikir ini norak? Kupikir, kamu yang norak jika berpikir kegemaranku ini norak!”

“Memilih kegemaran jangan yang membuat kita sakit, dong, Joel!”

“Heh, lebih sakit mana dengan kegemaran merokok?”

Perdebatan itu terjadi beberapa pekan lalu saat mereka duduk berdua di sebuah kafe pinggiran kota. Joel mengritik kegemaran Clara merokok. Joel, Joel, kamu tidak tahu, aku merokok untuk melupakan persoalan yang kuhadapi. Kalau kamu menginginkan aku tidak merokok, tentu, akan aku lakukan, Joel. Asal kamu juga menuruti kemauanku untuk menjadi milikku.

Kala itu, mereka belum lama bertemu dan saling kenal. Tapi, keduanya begitu cepat merasa cocok satu sama lain. Memang, Clara sudah lama mengenal nama dan gaya bercerita Joel dari novel-novel karyanya atau pun cerita-cerita Joel yang dimuat majalah. Tapi, Clara tidak mengira jika Joel benar-benar mengasyikkan sebagaimana cerita-cerita fiksi yang ditulisnya.

Maklum saja, bukan sekali ini Clara bertemu langsung dengan pengarang. Kebanyakan mereka bertolak belakang dengan karya yang mereka tulis. Beberapa kali, Clara terkecoh. Jim, pengarang yang dalam tulisannya banyak menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan, antitembakau, pecinta pohon, melalui tokoh-tokoh rekaannya yang ceria, kocak, dan penyayang, ternyata, seorang perokok berat dan tidak peduli lingkungan. Enak saja dan tanpa rasa bersalah sama sekali, Jim merokok klepas-klepus di tempat umum. Ada lagi Ted, pengarang novel-novel romantis dengan tokoh utamanya yang selalu lembut, ramah, penuh pengertian, ternyata, orangnya sangat dingin, kaku, dan menyebalkan.

Clara beranjak ke meja, menyeduh cokelat dengan air hangat. Lantas berjalan ke jendela. Sedang apa sekarang kamu, Joel? bisik Clara. Mungkinkah dia tengah berkeliling kota naik ojek sepagi ini? Mungkin saja, Joel masih ngorok di tempat tidurnya. Ah, kalau pun Joel berkeliling naik ojek, dia tak mungkin sampai kemari, melintasi gang kecil di depan apartemen ini. Dan, seandainya pun Joel memang sampai di gang kecil di bawah sana, Clara tak mungkin menemuinya.

Chris masih terlelap di tempat tidur. Clara meliriknya sekilas. Dia heran, belakangan, perasaannya makin hambar terhadap laki-laki ini. Clara tak tahu sebabnya. Padahal, kalau dipikir-pikir, apa sih yang kurang dari Chris? Muda, tampan, punya karier yang bagus, dan yang terpenting, Chris sangat mencintai Clara.

Laki-laki ini akan siap melakukan apa pun jika hal itu memang dapat membuat Clara bahagia. Dengan sabar, Chris menemani Clara tersuruk-suruk di lapak buku bekas yang panas dan sumpek di kawasan Senen untuk mencari novel klasik. Chris juga bisa setia menunggui Clara antri minta tanda tangan pengarang pada acara jumpa pengarang di sebuah mal seperti yang Chris lakukan beberapa jam lalu. Padahal, Chris baru saja tiba dari luar kota karena tugas kantor. Itulah yang membuat Chris tidur kelelahan seperti sekarang. Pendek kata, semua baik-baik saja.

“Tapi, kenapa ya, Chris. Aku tetap sulit mencintai kamu,” bisik Clara merasa bersalah. Bagaimana tak bersalah? Pesta pernikahannya yang digelar di sebuah gedung megah berlangsung begitu meriah, belum tiga bulan berlalu. Siapa pun yang datang ke pesta itu pasti merasa iri melihat Clara dan Chris, sepasang pengantin yang begitu serasi. Yang perempuan cantik, yang pria tampan duduk di pelaminan. Sekarang ini mestinya mereka masih masa bulan madu.

Tapi, sejak pertemuan dengan Joel, pengarang favoritnya, Clara makin tak berselera ngobrol dengan Chris. Chris sering tergagap-gagap dan tak nyambung menanggapi obrolannya. Apa saja sih yang dibaca laki-laki ini sampai tidak tahu novel yang tengah digemari dan akan difilmkan?

Clara tahu, karena tak mau mengecewakan dirinya, Chris lantas berusaha mencari tahu tentang novel-novel terbaru, profil pengarangnya. Hanya, Chris jadi terlihat memaksakan diri. Clara tidak suka ini. Karena, semua jadi berlangsung secara tidak alamiah.

Sejak lama, Clara penggemar karya fiksi. Setiap ada novel terbitan baru, hampir dipastikan, Clara membelinya. Uang saku sekolahnya hampir semuanya dia habiskan buat membeli novel. Begitu diterima kerja, gaji pertamanya dihabiskan semua untuk membeli novel. Kegemarannya ini terus berlangsung sampai sekarang. Menikah dan bersuami hampir tidak mengurangi kegemaran yang satu ini.

Dulu, mamanya sering uring-uringan melihat kegilaan Clara membaca novel. Dia memang acap lupa waktu jika sudah membaca novel. Kalau hari libur, bisa seharian Clara menghabiskan waktunya di kamar untuk membaca novel. Mama harus berkali-kali mengingatkannya supaya makan dulu.

Mama khawatir, gara-gara kegemarannya ini, Clara jadi kuper. Dia memang hampir tidak pernah bergaul dan keluar rumah bersama teman sebayanya. Kalaupun keluar rumah, pasti ke toko buku atau ke lapak-lapak buku bekas memburu novel. Jika tidak, ke acara peluncuran novel dan jumpa pengarang. Mungkin, tak ada yang membuat Clara lebih bersemangat selain untuk acara seperti ini. Lalu, mengejar-ngejar pengarang kesayangannya sekadar untuk ngobrol dan minta tanda tangan. Kalau berhasil mendapat tanda tangan pengarang novel yang digemarinya, dengan bangga, Clara memamerkannya kepada mama dan seluruh orang rumah. Biasanya, Vivian, kakaknya, yang paling sinis menanggapinya. Kalau dikumpulkan novel-novel yang dibelinya sejak SMP, barangkali, sudah memenuhi kamarnya. Mamalah yang meminta Clara memilah novel yang paling digemarinya, sisanya Mama menyuruh Mbak Jani menaruhnya di gudang. Sebagian di antaranya bahkan mama berikan kepada Mbak Jani untuk dibawa pembantu setianya itu pulang kampung.

“Bisa-bisa nanti kamarmu berubah jadi gudang novel,” sungut mama ketika Clara berusaha menahan novel-novelnya tetap ditaruh di kamar.

Mama dan Clara pernah berdebat keras gara-gara ketika diminta memilih antara gaun Natal dan novel, Clara dengan mantap memilih membeli novel. Padahal, Clara sudah tak punya gaun baru. Jika ada arisan di rumah atau harus bepergian ke acara ulang tahun dan acara lain yang mengharuskan dia tampil dengan gaun yang bagus, Clara justru rela dan santai saja mengenakan gaun milik Vivian atau bahkan gaun mama. Ini yang bikin mama repot. Risih rasanya melihat putrinya yang cantik jadi terlihat berbeda di antara kawan-kawannya. Memang, tanpa gaun bagus, Clara tetap saja terlihat cantik. Hanya, tentu akan makin cantik jika sedikit berdandan dan mengenakan gaun baru.

Kalau ada acara liburan keluarga, keluar kota atau ke rumah oma di kampung, misalnya, Clara tak pernah mau ikut jika mama tak memaksanya. Dia lebih suka tinggal di rumah membaca novel bersama Mbak Jani.

“Clara jaga rumah saja sama Mbak Jani,” kata Clara enteng saja.

“Clara, Clara, bisa-bisa sampai tua kamu tak ke mana-mana,” ucap mama kesal.

“Siapa bilang, Clara justru bisa melanglang buana bersama novel-novel ini.”

“Clara, kamu nggak tidur, Sayang?” Suara Chris membangunkan Clara dari lamunan.

“Nggak ngantuk, Chris!”

“Apa yang kamu lakukan di situ, Clara? Kemarilah, aku ingin memelukmu. Dingin banget neh!” rajuk Chris manja.

“Aku sedang menikmati hujan, Chris. Kamu tidur saja.”

Pertemuan Clara dengan Joel terakhir empat hari lalu di kafe yang sama, tidak jauh dari apartemen yang ditinggalinya sekarang. Sepulang kerja sambil menunggu Chris menelepon, Clara memang biasa menghabiskan waktu di kafe itu, sekadar minum kopi dan tentu saja membaca novel. Kemarin, dia yang mengundang Joel. Tak disangka, Joel ternyata memenuhi undangannya.

“Kirain kamu sibuk!” kata Clara saat Joel muncul.

“Untuk kamu akan selalu ada waktu, Clara!” ujar Joel. Dari jam lima sore sampai dengan hampir jam sepuluh, mereka asyik ngobrol di kafe itu. Ketika Chris menelepon, Clara minta tidak usah dijemput.

Clara membayangkan dirinya sebagai Helena, gadis yang diburu banyak pengarang beken lantaran mampu memberi inspirasi yang tak pernah kering pada setiap pengarang. Jacob, salah seorang pengarang, nekad menculik dan menyekapnya di sebuah vila puncak bukit. Segala gerak gerik dan ucapan Helena selalu memberi inspirasi bagi si pengarang. Sejak itu, Jacob menulis puluhan novel yang hampir seluruhnya masuk jajaran best seller.

“Dari mana kamu dapat inspirasi menulis novel itu, Joel?” tanya Clara.

“Seorang perempuan yang sampai sekarang masih kukejar. Mungkin, kamu orangnya, hahaha…”

Joel memang pintar merayu. Tapi, Clara diam-diam berharap, dialah Helena. Clara tersenyum sendiri. Diliriknya Chris yang masih terlelap. Hujan masih tercurah. Di bawah, jalan terlihat mulai ramai. Tampak sebuah taksi berhenti di sana. Dan, Clara terkejut ketika melihat sosok yang keluar dari taksi. Meski Clara berada di lantai empat, tapi dia tak mungkin keliru: Joel. Mau apa Joel ke apartemen ini? Tanpa dapat ditahan, Clara bergegas keluar, lalu turun ke lobi.

“Aku cari koran sebentar, Chris!”

Dari lobi, dia bergerak ke kafe. Dan, di sana, di sudut kafe itu, dilihatnya Joel tengah duduk mesra sekai dengan seorang perempuan. Helenakah? Siapa pun dia membuat Clara seperti terhempas. Bergegas, dia naik kembali ke apartemennya. Menubruk Chris yang masih terlelap di kasur. Menangis dalam pelukan Chris.

“Kamu kenapa, Clara?”

“Aku cinta kamu, Chris.”

Relung malam Pondok Pinang, 2009

Comments