Manekin



Ia menarik napas dalam-dalam. Ini malam suasananya sungguh indah, gumamnya. Dibukanya jendela kamar yang menghadap jalan. Sepi dan gelap. Tak ada seorang pun lalu. Ditengoknya langit, kegelapan tampak lebih gawat lagi. Tidak ada bintang atau bulan yang konon ampuh menyodorkan ilham kepada para pengarang. Di atas sana melulu berisi gumpalan awan hitam yang mencemaskan. Dan angin sesekali terdengar menderu merontokkan daun-daun pohon mangga di halaman.

Tapi ini malam benar-benar indah, gumamnya lagi, seperti kurang yakin. Ia merasakan hatinya begitu penuh dan gembira. Ini memang hari libur. Ternyata benar, pikirnya, betapa istimewa hari libur bagi seorang pekerja. Ia bangun pukul sebelas siang. Usai makan dengan menu hasil racikan sendiri, ia membaca novel, untuk kemudian kembali tidur. Dan baru terbangun pukul empat sore tadi. Alangkah nikmat....

Ia merasa jantungnya berdegup dengan baik, memompa sirkulasi darahnya mengalir lancar. Paru-parunya mengembang, menyerap oksigen secara optimal. Seluruh syaraf dan organ tubuhnya bekerja sebagaimana mestinya. Membuat ia merasa betul-betul hidup secara utuh dan berancang-ancang menangkap kerumunan gagasan yang melintas di kepala untuk segera diwujudkan menjadi sajak cinta untuk kekasih. Sejak dulu ia percaya bahwa suasana alam tidak mempengaruhi kondisi hati. Pengalaman berkali-kali membuktikan.

Kini ia duduk di depan laptop, menghadap jendela. Ia telah menyiram pot-pot bunga kesayangannya di teras. Ia juga telah mencuci lantai dan menyemprotkan wewangian ruangan, serta menghabiskan segelas besar susu segar. Semua telah kulakukan dengan sempurna dan memuaskan, desahnya. Ia merasa rileks dan bugar. Keadaan yang amat ditunggu-tunggu untuk keperluan menulis sajak cinta. Situasi yang tidak mungkin ia dapatkan pada hari-hari kerja.

Pada hari-hari kerja waktu dua puluh empat jam seakan tak pernah cukup. Ia selalu mendapati tubuhnya tinggal ampas pada pukul sebelas malam saat tiba di rumah. Ia membayangkan otaknya mirip karet yang tidak dapat digunakan untuk berpikir apa pun. Sehingga tak ada yang mampu dilakukannya selain mandi air hangat, nonton tivi, lantas terjungkal tidur tanpa sempat lebih dulu menekan tombol off pada remote control.

Penat yang mengeram di sekujur tubuhnya masih menggelayut saat harus terbangun pukul tujuh. Dengan kantuk yang belum lunas ia terhuyung ke kamar mandi. Sambil mengguyur tubuh, kepalanya sudah dipenuhi jadwal pekerjaan kantor yang harus diselesaikan. Tiba di kantor dalam keadaan ruwet tak keruan lantaran digasak kemacetan yang berlarat-larat sepanjang perjalanan. Lebih buruk dari nasib sebuah manekin, bisiknya. Ia kerap ingin keluar dari pekerjaannya, untuk menjadi penyair sepenuhnya.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka