Menyangkal Patriarkal



Judul : La Rangku
Penulis : Niduparas Erlang
Penerbit : Yayasan Seni Surabaya
Cetakan : I November 2011
Tebal : 128 halaman

Bagaimanakah kekisruhan keluarga dituliskan menjadi cerpen? Di sana ada anak yang gamang ingin bunuh diri dan membunuh orang tuanya, ada ibu yang selingkuh, dan tentu saja ada suami yang meninggalkan istri dan anaknya. Tidak semua kekisruhan keluarga dalam cerpen-cerpen ini dipicu oleh pola relasi yang ganjil antar anggotanya. Ada juga kekisruhan itu seperti terjadi begitu saja tanpa landasan yang kuat.

Tengoklah cerpen “Sesuatu Retak di Senja Itu”. Mengisahkan seorang pengarang novel yang meninggalkan keluarganya lantaran lebih gemar mengurung diri di kamar untuk menulis atau kelayapan malam-malam, berselingkuh, larut dalam angan-angan. Mungkin pengarang ini gagal dan tak mampu mendapatkan uang untuk menghidupi rumah tangga. Tapi sepanjang cerita tak ada informasi ini, selain ungkapan “Akh zaman sudah seperti ini masih bicara cinta.”

Pada kekisruhan yang dipicu pola relasi yang ganjil, antar anggota keluarga menjalani hubungan sebagai—dalam bahasa penyidikan kepolisian—korban dan pelaku. Korban tidak selalu anggota yang lebih lemah semisal anak atau istri; demikian pula pelaku, bukan selalu ayah atau suami. Pola relasi korban dan pelaku antar anggota keluarga tersebut berubah-ubah. Inilah yang menarik dari buku kumpulan cerpen terbaik sayembara manuskirp kumpulan cerpen yang diadakan Festival Seni Surabaya 2011 ini.

Pada kultur patriarkal, ayah adalah penguasa, pihak yang mendominasi dan pengambil keputusan. Sementara istri dan anak adalah yang dikuasai, didominasi. Lazimnya penguasa, maka ayah jadi si penentu bagi pihak yang dikuasai. Aturan-aturan dibuat dan dilembagakan untuk makin memperkuat dominasi si ayah. Namun, pola relasi yang ganjil—atau justru lazim? Dalam cerpen-cerpen ini, meski tidak terlalu kentara, seperti hendak menyangkal kultur patriarkal.

Cerpen “Tarawengkal” misalnya. Suamilah yang jadi korban pengkhianatan istrinya.
Tapi pada saat bersamaan si istri juga merupakan korban suami. Pasalnya, perselingkuhan dipicu oleh ketidak mampuan suami memenuhi kebutuhan biologis istrinya. Durahim, tokoh suami dalam cerpen tersebut, mengidap anyang-anyangen, suatu gejala penyumbatan pada saluran kemih. Mendapati istrinya berselingkuh dengan lelaki lain saat warga desa melayat menyiapkan pemakaman tetangga, Durahim hanya melampiaskan kemarahannya dengan melempar genting rumah dengan batu. Laku hanya melempar genting seakan sebuah pemakluman. Inilah yang ganjil sekaligus menarik.

Ganjil lantaran sikap pemakluman Durahim seperti hendak menyangkal betapa istri yang berselingkuh dalam kultur patriarkal adalah sebuah kesalahan besar yang pantas dihukum seberat-beratnya, bahkan kalau perlu dibunuh sekalian mengingat telah menampar harga diri laki-laki.

Cerpen “Gaco” memperlihatkan pola relasi yang ganjil antara ibu dan anak. Aip, tokoh anak di cerpen ini, lebih betah ngangon kebo dan main gaco—jenis mainan tradisional masyarakat Banten— ketimbang pulang ke rumah lantaran enggan menonton ibunya, yang naga-naganya janda, “main gaco” dengan seorang jawara kampung yang tak lain ayah kawan sepermainannya. Pada cerpen “La Rangku”, saya mendapati seorang anak yang terobsesi menjadi tokoh dalam mitologi masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara, yang dikorbankan ayahnya demi keluarga dan masyarakat suku.

Demikian pula cerpen “Pernikahan Itu” dan “Re, Sayap Malaikat Ini Untukmu”. Aku si penutur pada kedua cerpen ini adalah korban dari keluarga yang pecah. Korban ego lelaki dan perempuan yang menjadi muasal kehadiran aku. Situasi keluarga yang berantakan menyeret aku pada kondisi kejiawaan yang rawan. Aku menyimpan kehancuran semata dalam angan-angannya. Tapi benarkah hanya aku yang menjadi korban? Lihatlah, sesungguhnya aku tidak hanya korban tapi juga pelaku. Situasi yang mengecewakan memicu aku terdorong mengorbankan ayah dan ibunya sebagai pihak yang pantas dibunuh sekalipun semata dalam angan-angannya.

Pola relasi serupa ini tidakkah menyorongkan hasrat untuk mempertanyakan kembali seperti apa sebenarnya pola relasi yang ideal antara suami dan istri, antara anak dan ayah, antara ibu dan anak. Dengan mengambil latar lokal Serang, Banten, serta gaya penuturan tidak yang dikejar-kejar target menyampaikan gagasan benar atau salah, saya kira cerpen telah berhasil meneguhkan dirinya sebagai karya sastra.

Comments