Senyum Mama

cerpen ini sebelumnya disiarkan di Majalah Goodhousekeeping, Desember 2011



“Kenapa kamu ingin menulis novel tentang kasus mamaku?” tanyaku pada Francenda hampir setahun lalu. Sore redup sekali waktu itu. Gerimis mulai turun membasahi daun-daun jambu di halaman rumah. Namun tak mungkin menyejukkan perasaanku yang mendadak resah. Muka Mama tak terlihat murung seperti biasanya. Dia duduk di sampingku, menghadapi Francenda.

Francenda terdiam menatapku. Aku tahu dia telah siap dengan seribu alasan. Tapi ragu-ragu mengutarakannya. Bukan pada alasan yang dia miliki, melainkan khawatir melukai perasaan kami. Tampaknya Francenda sadar betul keinginannya mewawancarai Mama perihal perkawinan siri yang dilakukannya dengan seorang pejabat di masa lalu, akan mengungkit luka lama yang ingin kami pendam selamanya.

Sedari awal ketika melalui telepon dia mengaku sebagai penggemar lagu-lagu Mama, lantas mengatakan keinginannya datang ke rumah bertemu Mama, aku sudah curiga. Belakangan terbukti Francenda bukan hanya wartawan, tapi juga seorang penulis novel dan biografi orang-orang terkenal. Aku bahkan pernah membaca salah satu bukunya.

Bagiku kasus yang menimpa Mama merupakan aib tak tersembuhkan. Cukup sudah kami menanggung derita dan malu akibat dari kebodohan Mama di masa lalu. Jangan ditambah lagi dengan cibir dan olok-olokan orang. Namun, Francenda tak menyerah. Berkali-kali dia menghubungi dan datang ke rumah.

“Luka ibu, adalah luka perempuan,” kata Francenda, sambil menggenggam telapak tangan Mama. “Mereka harus tahu, supaya jangan sampai jatuh pada lubang yang sama,” kata Francenda memberi ceramah dengan suara rendah.                                                                **

Apakah dia tahu aku menunggunya di kafe ini? Hampir tiga jam tapi Francenda belum juga muncul batang hidungnya. Padahal biasanya sebelum pukul tiga dia sudah duduk di meja paling pojok, menatap layar monitor di hadapannya seakan seluruh kesadarannya terhisap ke sana. Mungkin aku perlu bersabar. Memang hanya itu yang dapat aku lakukan. Aku tak pernah berhasil melacak tempat tinggalnya. Tiga kali aku membuntutinya, tiga kali pula aku kehilangan jejak. Seakan dia tahu seseorang menguntitnya. Petugas apartemen tempat tinggalnya dulu bilang, Francenda pindah sejak dua bulan lalu. Tentu saja dia tidak tahu alamat barunya. Baru kusadari dia telah menipu kami.

Aku menyesap lemon tea gelas ketiga dengan perasaan sedikit geram. Kurogoh lagi novel di dalam tasku. Meraba-raba nama pengarangnya yang dicetak timbul: Francenda. Novel bercover warna dasar ungu muda itu kutarik lagi keluar. Kubaca ucapan terima kasih di halaman lima. Ucapan yang ditujukan untukku dan Mama.

“Nama saya Francenda,” Aku ingat suara seraknya, saat pertama datang bertamu ke rumah. Dia menjulurkan tangan memperkenalkan diri begitu aku membuka pintu. Kupandangi sosoknya dari ujung rambut ke ujung kaki. Dia mengenakan celana jins yang pas di tubuh, dipadu kaus warna putih susu lengan panjang dilapisi rompi warna kelabu. Gincu warna merah jambu samar-samar terpoles di bibirnya yang pipih. Telapak tangannya empuk namun terasa mantap dalam genggamanku.

Dia memilih duduk di teras ketika aku mempersilakan masuk ke dalam. Kulihat rambut sebahunya jatuh menutupi sebagian wajahnya saat membungkuk menarik kursi rotan. Lantas dia meletakkan buku kecil dan pulpen yang merangkap recorder digital di atas meja, merapikan kaca mata persegi tembus pandangnya yang bertangkai lebar pipih. Penampilannya sungguh jauh dari yang kubayangkan. Tampak terpelajar, bukan hanya dari tatapan matanya tapi juga pembawaannya. Kutaksir umurnya tiga tahun lebih tua dariku.

Semula aku menolak keras ketika Francenda secara terus terang mengutarakan tujuan sebenarnya. Aku peringatkan dia supaya lekas angkat kaki dan jangan coba-coba membujuk kami.

“Percayalah, saya tidak bermaksud mengungkit luka lama yang kalian alami. Juga bukan sekadar demi kedalaman novel saya,” kilah Francenda.

“Demi apa pun kami tak mau menyayat kembali luka lama kami. Apalagi untuk dikomersilkan!” kataku sengit.

Wajah Francenda terlihat memerah, seperti mau menangis, “Percayalah, ini lebih penting dari sekadar ketenaran maupun uang,” sahutnya, cepat.

“Demi karir Anda?” kejarku dengan nada sedikit tinggi. Kulit muka Francenda yang halus makin tampak memerah. Aku puas melihat kesokpintarannya runtuh. Namun sejurus kemudian membuatku iba. Untuk beberapa lama suasana tegang menelikung kami. Sesudahnya, tak secara disangka-sangka Mama bersedia memenuhi permintaan Francenda tanpa dapat kucegah. Mama yang sedari awal tak mau menemui Francenda, tiba-tiba keluar dari kamar. Seperti sudah lama mengenal Francenda, Mama mengajaknya di ruang tengah. Sempat kulihat kemenangan di pada sorot mata Francenda.

“Apa yang ingin kamu dengar dari saya, Francenda?” kata Mama tenang. Aku tak habis pikir bagaimana mungkin Mama berubah seperti ini. Diam-diam aku mengagumi kegigihan Francenda, juga sikap simpatiknya dan keanggunannya yang mempesona. Mama bersedia dengan beberapa syarat, yaitu mengganti semua nama tokohnya. Francenda berjanji memenuhi semua syarat yang Mama ajukan.

Dengan serius Francenda menyimak Mama menuturkan masa lalunya. Dimulai dengan perkenalannya dengan si pejabat, pernikahan secara siri, kepergian begitu saja lelaki itu, sampai kegagalannya menggugat si pejabat untuk mengakui aku sebagai anak hasil pernikahan siri mereka. Semua Mama dituturkan. Francenda tekun mendengarkan sambil mencatat, sesekali menyela dengan pertanyaan.

“Bukan hanya nama tokoh-tokohnya, setting waktu dan tempatnya pun akan saya ubah supaya lebih dramatis. Cerita dibuka ketika kamu baru mau masuk sekolah dasar,” katanya, mengubah ‘Anda’ menjadi ‘kamu’. Sikap simpatiknya memang membuat kami mulai akrab. Aku lupa itu pertemuan kami yang ke berapa. Tentu saja kami tak mengiyakan atau menolak. Perihal bagaimana meramu cerita itu adalah urusannya.

Ketika aku mau sekolah dasar, itulah saat-saat terberat yang Mama hadapi. Bukan soal biaya, melainkan harus membuat akte kelahiranku untuk melengkapi persyaratan administratif. Sejak sekolah dasar itu pula aku mulai menanggung beban sebagai anak hasil perkawinan siri. Sampai sekarang masih sering terngiang ejekan kawan-kawan.

“Apa yang Ibu inginkan dari lelaki itu sekarang? Ibu masih mencintainya?” Francenda tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan terakhir yang keterlaluan ini. Mama bungkam. Lalu mengalihkan pembicaraan. Setelah itu Francenda seperti lenyap ditelan bumi, tak pernah lagi datang dan menghubungi kami.
                                                                                      **
 Beberapa bulan kemudian Francenda menyapaku lewat jejaring dunia maya. “Novelnya hampir kelar saya tulis, tinggal dua bab terakhir,” dia bilang,. Lantas dia memintaku menemuinya. Dia menyebutkan nama sebuah kafe di bilangan Blok M. “Saban hari saya menulis di sana dari jam tiga sore sampai jam sepuluh malam,” jelasnya tanpa kutanya. “Kalau sempet datanglah ke sana,” harapnya.

Aku enggan memenuhi permintaannya. Aku pikir tak punya kepentingan apa pun dengan novel tersebut. Namun entah mengapa tiba-tiba aku merasa kangen ingin melihatnya. Maka secara diam-diam sepulang kantor aku datang ke kafe yang dia sebutkan tanpa pernah menemuinya. Aku mengintipnya dari jarak beberapa meter.

Kemudian bergegas pulang dengan perasaan berkecamuk, membayangkan kemungkinan paling buruk yang bakal kami alami akibat novel yang ditulisnya itu. Sempat terlintas untuk merobek-robek atau membakar novel itu di hadapan Francenda jika nanti ketemu dia. Tetapi ini jelas ide konyol yang tidak akan mempermudah keadaan. Aku segera mengenyahkan pikiran tolol itu dari benakku.

Aku tak habis pikir mengapa Francenda mengingkari janjinya. Apa sulitnya mengganti nama-nama tokoh dalam novel yang ditulisnya? Apakah nama-nama tokoh dapat mempengaruhi bagus tidaknya sebuah novel? Ataukah dia memang sengaja menipu dan memancing kemarahanku? Tetapi, apa kesalahan kami? Apa pun alasannya, demi Tuhan, Mama jangan sampai tahu. Masalahnya justru Mama yang kepingin bertemu Francenda. Mama hanya bilang ada yang ingin dia sampaikan. Ataukah Mama sudah membaca novel itu?

Sampai berhari-hari aku uring-uringan. Novel tersebut memang belum secara resmi diluncurkan, tapi sudah dipajang toko buku. Sebentar lagi aib itu bakal kembali jadi perhatian orang. Francenda harus bertanggung jawab. Perlahan-lahan kubuka lagi novel yang diberi judul “Siri” tersebut, menelusuri kalimat-kalimat di setiap halamannya.

Francenda menulis kisah kami segamblang-gamblangnya. Bahkan nama tempat, rincian waktu, persis dengan yang kami tuturkan. Aku seperti membaca perjalanan hidup Mama yang disalin ke dalam lembar-lemar halaman novel. Begitu dramatis. Jujur saja, aku kagum pada cara Francenda menggambarkan kehidupan Mama sebagai penyanyi ke dalam novel setebal 450 halaman itu. Nada kalimat-kalimatnya memang penuh simpatik pada nasib si tokoh utama. Tapi itu sungguh tidak membuat kemarahanku berkurang.

Suatu malam, ketika aku hampir terlelap, tak disangka Francenda menelpon. Dadaku mendadak berdebar kencang. Aku langsung memuntahkan kekesalanku. Tapi kudengar suaranya tenang dan santai di ujung telepon. Francenda meminta maaf, dia berjanji akan menjelaskan semuanya dalam acara peluncuran minggu depan. Dia menyebutkan tempat dan waktunya. Sambungan terputus ketika berusaha mendesak untuk bertemu saat itu juga.

Dua jam sebelum acara itu dimulai aku telah lebih dulu datang. Tempat itu masih lengang, hanya beberapa petugas terlihat sibuk menyiapkan kursi-kursi dan dekorasi panggung. Aku bertanya ke sana kemari mencari Francenda. Tak ada yang tahu. Kuputuskan menunggu sambil minum lemon tea di kafe seberang toko buku yang dijadikan tempat acara peluncuran.

Sampai kemudian terdengar emsi membuka acara dan memanggil Francenda untuk menempati kursi di panggung. Aku terpaksa memilih tetap di duduk di kafe sambil mengikuti acara tersebut dengan dada berdebar-debar.

Aku terperanjat ketika mendengar Francenda menyebut nama Mama dan memintanya untuk turut menemaninya duduk di muka panggung. Kulihat Mama muncul dari belakang backdrop, duduk di samping Francenda dengan raut wajah semringah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Mama tampak begitu cantik, mengenakan gaun merah jambu berenda yang juga tak pernah kulihat sebelum ini.

Aku masih belum bisa berpikir apa yang sesungguhnya terjadi manakala kudengar Francenda kembali memanggil sebuah nama. Nama lelaki yang pernah menjadi suami siri mama. Tak lama kemudian lelaki itu muncul di panggung, lantas bersimpuh di kaki mama...

Cirebon, Agustus-September 2011

Comments

Simboknya Aria said…
hi mas... sudah hadir nih di sini.... hehehe....
Catatan biasa said…
Iya Mba. Thanks ya sudah berkunjung. Wah, Mba Dian ngeblog sejak 2004. Keren