Bugil

pernah disiarkan Tribun Jabar, Minggu 25 September 2011
ilustrasi diambil dari glogster.com

Dia tiba di Terminal Lebak Bulus tepat tengah hari. Dia begitu lelah sehingga tertidur lelap sekali sepanjang perjalanan. Seorang kondektur membangunkannya dengan cara mengguncang-guncang tubuhnya, lantaran bis harus segera dikosongkan untuk dicuci sebelum kembali menaikkan penumpang. Dia terjaga dan langsung terperanjat. Kondektur yang mengguncang-guncang tubuhnya secara kasar itu sama sekali tidak berpakaian. Sehingga kelaminnya yang panjang, hitam, dan menjuntai, terlihat terayun-ayun. Dia berpikir dia masih tertidur, dan yang terjadi di depannya sebuah mimpi belaka. Tapi dia menolak dugaannya, lantaran semua tampak begitu nyata, dan memang benar-benar bukan mimpi. Dia kemudian berpikir, mungkin kondektur bis ini orang tidak waras, atau mungkin mengidap eksebisionis akut.

Tanpa pikir panjang didorongnya si kondektur itu hingga terpelanting, lantas dia segera mencelat, berlari keluar dari bis. Namun, begitu sampai di bawah, dia lebih terperanjat lagi. Dia mendapati semua orang yang berada di terminal tak mengenakan pakaian. Laki-laki, perempuan, tua, muda, besar, kecil, semuanya telanjang. Meskipun tubuh mereka tanpa penutup sama sekali, mereka terlihat tenang seperti berpakaian saja layaknya. Sopir, kondektur, para penumpang, pedagang asongan, pengamen, tukang sapu, penjual jasa uang receh, petugas terminal, tukang jaga WC, penjual tiket, semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing sebagaimana mestinya saat berada di terminal. Sempat terpikir olehnya untuk merekam fenomena ini dengan kamera pocket yang selalu dibawa ke mana pun menemani perjalanannya. Tentu akan menarik sekali jika nanti dipamerkan galeri.  Terbersit pula untuk menelepon kenalannya di kota lain utuk mengabari tentang fenomena yang mungkin bakal menggemparkan ini. Tetapi...

Dia melangkah terhuyung-huyung. Sambil terus mengucak-ngucak mata dia mencari sandaran pada badan bis, karena tiba-tiba kepalanya pusing sekali. Kerongkongannya terasa kering dan haus bukan main. Maka ia mencari gerobak penjual minuman. Begitu sampai di gerobak penjual minuman, dia baru tersadar betapa dirinya pun tak mengenakan apa-apa. Kulit tubuhnya yang putih tampak jelas di bawah terik matahari. Dia celingukan kebingungan, siapa yang telah melepas pakaiannya? Astaga, bagaimana dia dapat membeli minuman dan melanjutkan perjalanan sedangkan semua uang, bersama kartu ATM dan surat-surat penting lainnya dia taruh di dompet yang dia selipkan di kantung celana yang kini hilang entah ke mana.   

“Kenapa, mas? Mau minuman yang mana?” kata si penjual minuman.

“Uang saya, uang saya,” ucapnya, cemas campur bingung. Kedua tangannya berupaya menutupi kelaminnya yang menggelantung tenang di sela pahanya.

“Kalau haus ambil saja, tinggal pilih. Tidak usah bayar,” kata penjual minuman sambil tersenyum ramah sekali.

Dia mencomot sebotol minuman dingin bersoda, membuka tutupnya, lantas langsung menenggaknya dengan lahap. Air soda mengguyur kerongkongannya. Kini pusingnya sedikit berkurang dan dia merasa lebih segar. Dia ingin bertanya pada si penjual minuman, sejak kapan orang-orang di terminal ini telanjang dan minuman dibagikan secara gratis.

“Kalo masih kurang, ambil lagi minumnya, mas,” kata penjual minuman bertubuh ceking dengan tulang iga terlihat jelas bertonjolan. Dia menggeleng seraya mengucapkan terima kasih, kemudian ngeloyor mencari pintu keluar dari terminal. Dia mencium gelagat pertanyaannya dapat mengundang ketidak senangan orang-orang yang tampak sudah terbiasa dan merasa wajar-wajar saja dengan ketelanjangan mereka.

“Seperti dalam dongeng Caligula saja,” pikirnya. Dia menghampiri kerumunan orang-orang di sekitar loket penjualan tiket. Dia jadi teringat anak-anak kecil di kampungnya yang tengah menunggu giliran terjun berenang di sungai.

Seperti penjual minuman tadi, penjual tiket membagikan tiketnya secara cuma-cuma kepada orang-orang yang berdiri mengantri dengan tertib. Gila! Ini benar-benar gila, desisnya. Dia berkeliling mencari petugas yang mungkin bisa jadi tempat bertanya. Tapi tentu saja dia kebingungan, bagaimana tahu yang mana petugas yang mana bukan jika semua orang tak mengenakan pakaian. 

Dia mulai membuat analisa. Barangkali orang-orang ingin mengamalkan kejujuran dan keterbukaan yang dimulai dari tubuh mereka. Pakaian telah menyayat-nyayat manusia ke dalam kelas-kelas, begitulah dia pernah membaca tulisan seseorang entah siapa. Pakaian telah meringkus manusia dalam keterasingan pada tubuh sendiri, sekaligus menebar  kecurigaan satu sama lain.

Pakaian adalah simbol aturan yang menyebabkan manusia terjerat oleh norma-norma yang mereka buat sendiri. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya entah ditujukan ke mana. Dia merasa  tak mampu lagi memeras otak guna mencari gagasan apa yang akan dilakukannya. Semuanya seakan buntu. Dia melihat kulitnya mulai memerah lantaran paparan sinar matahari secara langsung. Akhirnya dia memutuskan mencari tempat berteduh sekalian istirahat setelah lelah berkeliling tak menemukan ide apa pun. Dia masih merasa risih dengan keadaan ini. Sehingga dia terus menerus sibuk melindungi bagian bawah tubuhnya, walaupun orang-orang tidak ada yang mempedulikan ketelanjangannya.

Inikah pulau nudis? Pikirnya sambil duduk melepas lelah di kursi tunggu dalam peron. Dia teringat betapa dia pernah membaca sebuah feature  tentang pulau nudis, di mana semua penghuninya menanggalkan pakaian dan melakukan seluruh kegiatan tanpa baju di tubuh mereka. Betapa enaknya hidup di tengah-tengah  mereka. Tanpa sekat, menyatu dengan alam. Seperti yang dia lihat dalam gambar-gambar di sebuah majalah, dalam ketelanjangan, wajah mereka semuanya terlihat gembira. Tak terlihat ada nafsu terhadap tubuh sesamanya. Ketertarikan pada kenikmatan tubuh seakan menguap bersama tanggalnya pakaian dari tubuh mereka. 

Lamunannya mendadak terputus oleh kedatangan sekawanan remaja tanggung yang memasuki peron. Melihat wajah mereka yang tulus, harapannya untuk mendapat jawaban tentang fenomena ini, tumbuh lagi.  Didekatinya salah seorang remaja yang duduk paling dekat dengannya.

“Kalian mau ke mana?”

“Kami mau liburan keluar kota. Apakah Anda juga?”

“Tidak. Saya baru datang dari luar kota.”

“Oh. Anda mau liburan ke kota ini?”

Dia mengangguk.

“Maukah kamu menjawab pertanyaan saya?”

“Apakah Anda kehilangan alamat tempat-tempat untuk berlibur di kota ini?”

“Bukan. Saya ingin kamu menjelaskan sejak kapan orang-orang di kota ini telanjang seperti bayi baru terahir ke bumi?”

Si remaja terlihat sedikit terperanjat. Menatapnya beberapa lama, tengok kanan kiri, kemudian berkata dengan cara berbisik-bisik seakan khawatir ada yang mendengar.

“Kenapa Anda menanyakan perkara ini?”  

“Maaf, apakah saya tidak boleh bertanya perkara ini?”

“Pertanyaan Anda sangat membosankan dan tidak penting. Tak ada gunanya. Saya tak berminat menjawabnya. Bertanyalah tentang hal yang lain,” kata si remaja seraya menjauh. Tatapannya jelas menunjukkan ketidaksenangan.

“Tolonglah beri tahu saya sedikit saja. percayalah saya akan merahasiakannya,” dia mencoba membujuk si remaja. Tapi si remaja  bersama kawan-kawannya segera bangkit, dan beranjak ke arah bis yang siap berangkat mengangkut mereka berlibur ke luar kota.

Dia kembali sendirian menimang rasa penasarannya. Kemudian dia meneruskan berjalan berkeliling, memasuki jajaran WC umum,  dengan harapan bertemu seseorang yang senasib dengannya: merasa asing dan kebingungan mendapati fenomena ketelanjangan. Harapannya ternyata tidak sia-sia. Di sebuah WC umum yang terletak di nun paling ujung, dia melihat seseorang yang tampak terus menerus menutupi kelaminnya dengan kedua telapak tangannya. Maka dihampirinya orang tersebut.

“Apa yang Anda lakukan? Anda orang baru di sini?”

Orang yang ditanya celingukan.

“Saya bertanya pada Anda,”

“Saya..., saya sunggguh tidak mengerti bagaimana semua ini terjadi,” jawab orang itu, wajahnya tampak kebingungan dan putus asa.

Mereka kemudian berkeliling mencari orang-orang senasib. Ternyata mereka menemukan tapi  jumlahnya tidak seberapa. “Mungkin ini padang mahsyar,” celetuk orang tersebut, mulai linglung.

“Itu sungguh pikiran konyol,” dia menyanggah celetukan kawan senasibnya. “Ini jelas Terminal Lebak Bulus seperti yang kita kenal. Lihatlah tulisan di plang depan sana,” ujarnya yang terdengar lebih untuk meyakinkan diri sendiri.

“Lantas apa yang terjadi sehingga mereka semua telanjang?”

“Ah, lupakan saja. Lama-lama kita akan terbiasa,” sahutnya.

Dan lama kelamaan, seiring beranjaknya waktu, tak ada lagi yang berniat untuk memahami segala fenomena di terminal ini. Bis-bis terus datang dan berangkat. Menurunkan dan menaikkan para penumpang. Wajah mereka semua terlihat gembira-gembira saja. ...

Relung Malam Tangerang, 13 September 2011.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka