Fragmen Menjengkelkan Awal Ramadhan

Masjid Cut Mutia

Hanya ada tiga orang jamaah ketika saya masuk ke dalammasjid. Waktu Subuh belum lagi datang, bahkan waktu imsak masih beberapa menitlagi. Saya memutuskan masuk ke dalam masjid usai makan sahur di warung pojokStasiun Gondangdia pada hari pertama Ramadhan itu. Selama lebih dari setengahtahun menyewa kamar di daerah itu, untuk pertama kalinya saya masuk Masjid Cut Meutia sebelumsubuh.
Saya bermaksud semadi sambil menunggu waktu subuh denganpikiran berloncatan kesana kemari. Beberapa menit duduk usai sembahyang sunat,saya melihat laki-laki itu mondar mandir area mihrab, celingukan meraba-rabamicrophone. Penampilan laki-laki itu agak mengusik saya. Ia tampak kumal dengankaus lengan panjang dan rambut keriting yang juga panjang. Ada rantai kecil yangmenggantung di antara kantung celana dan ikat pinggangnya yang lusuh. Saya pikir, mungkin ia pengurus masjid yangtengah mempersiapkan sembahyang subuh berjamaah. Maka saya tak perlu mengindahkannyalebih lanjut.
Tapi saya kembali terusik manakal dua orang jamaahmempersoalkannya. Rupanya laki-laki kumal itu tidur di ruangan tempat perempuansembahyang. Seorang jamaah meminta si kumal bangun dan pindah dari sana. Namun,karena membandel, ia meminta kawannya memanggil satpam untuk mengusir si kumal.
Dengan bersungut-sungut si kumal bangun dan beranjak darisana, tapi ia tetap tak mau keluar dari masjid. Sambil entah nggerundel apa diaakhirnya pindah ke belakang. Pemandanganini bagi saya seperti merusak kesahduan awal Ramadhan. Kesahduan itu telah tercabik bahkan ketikasaya baru sampai teras masjid. Seorang jamaah yang baru datang tiba-tibaterdengar bicara dengan suara nyaring sambil menuding seseorang yang tidur diemper rumah makan samping mesjid.
“Jangan terkecoh dengan fisiknya yang cacat itu,” cetusnya,mengagetkan saya yang tengah mendaki tangga masjid. Orang yang dimaksud sayalihat kakinya memang buntung sebelah. Ia tampak tidur lelap sekali. “Sukamencuri sendal dia itu. Kemaren dompet saya dicolong. Kalau malam mabuk dibawah rel sana. Jangan dikasih uang kalau dia minta.,” katanya. Saya yang tidakmerasa tertarik dengan pembicaraan itu segera beranjak masuk ke dalam masjid.
Selama sembahyang subuh pikiran saya makin tidak tenang, makin liarberloncatan. Lantas memikirkan duakejadian yang membuat saya jengkel sendiri itu. Entah jengkel pada si kumal dan si buntungatau pada jamaah yang mengsusir dan menghasut itu. Tapi saya tak tahu ke manamesti menumpahkan kejengkalan. Saya lekas beranjak pulang ketika ustad masihmemberikan khotbah subuhnya yang, apa boleh buat, menjemukan.
Masa kanak saya di desa dulu, fragmen-fragmen mengiris macamini tak pernah terpikir terjadi. Orangtidur di mesjid itu lumrah. Tidak ada acara usir mengusir. Bahkan kalau merekatetap tidur saat jamaah lain sembahyang. Kami hanya membangunkan seadanya.Terus tidur atau bangun dan menunaikan sembahyang, itu pilihan pribadi.Termasuk mau mabuk menenggak arak atau mau zikir di mesjid sampai pagi berakhir.Semua keputusan ditentukan masing-masing.

Comments