Malam Terakhir Darti

cerpen ini sebelumnya disiarkan Majalah D'SARI, edisi Maret 2010
Majalah D'SARI Edisi Maret 2010




Darti memutuskan ini malam terakhir dia bertemu lelaki itu. Hubungan mereka harus diakhiri sebelum semuanya terlambat. Ini memang berat, tapi mau tidak mau harus dilakukannya. Bukan hanya untuk kebaikan dia, tapi juga keselamatan lelaki itu. Setelah malam ini Darti akan mengganti nomor telepon. Darti siap menghadapi resiko apa pun atas keputusan yang diambilnya. Dia akan menanggung kesepian. Ponselnya tidak akan lagi bergetar menjelang jam makan siang yang selalu ditunggu-tunggunya. Tak akan dia dengar lagi suara lembut yang berbisik di telinganya. Suara yang membuatnya bersemangat menghadapi pekerjaan yang selalu numpuk sepanjang pekan. Dan yang paling berat, tidak akan ada lagi seseorang yang selalu menanyakan kesehatannya, mengomentari busana yang dikenakannya, warna lipstik, potongan rambut, mendengarkan kata-katanya seraya menatap matanya dengan mesra dan penuh perhatian.

Harus malam ini, bisik Darti. Dia tidak boleh menunda-nunda lagi. Sepekan terakhir dia memang sudah memberi isyarat pada lelaki itu bahwa setiap episode pasti ada akhirnya. Tetapi dia tidak yakin lelaki itu menangkap isyarat tersebut. Terbukti sepekan terakhir lelaki itu makin sering mengirim sms mesra dan memabukkan, menelpon, mengajak bertemu. Tidak bisa dipungkiri Darti makin merasa senang diperlakukan seperti itu, menjadi perempuan yang dirindukan.

“Darti, aku selalu memikirkan kamu. Aku selalu teringat wajahmu. Jakarta makin terasa sumpek tanpa memandang matamu yang seteduh telaga di puncak gunung. Ayolah Darti, malam nanti kita bertemu di Kafe Mawar Biru.”

Darti tidak pernah bisa menolak. Sejujurnya, bagi Darti bertemu dengan lelaki itu memberikan kebahagiaan yang tidak didapatnya selama 10 tahun terakhir perkawinannya dengan Danu.

Maka setiap ajakan pertemuan itu datang, Darti menyambutnya dengan semangat. Dadanya mengembang lebih lapang. Apa saja yang dilihatnya tampak menyenangkan. Sambil menyelesaikan pekerjaannya sudah terbayang wajah tampan lelaki itu, yang selalu memuji kepintarannya memadu padankan warna dan corak pakaian yang dia kenakan. Cara lelaki itu memuji terdengar sangat wajar dan sama sekali jauh dari kesan berlebihan atau sekadar menyenang-nyenangkan hati, membuat Darti sangat tersanjung.

Dapat dipastikan, seusai pertemuan dengan lelaki itu Darti mendapatkan kesegaran yang dia butuhkan untuk pulang ke rumah menghadapi kesumpekan melihat suaminya yang hanya bisa duduk di kursi roda mirip patung kayu.  Memang suaminya sangat jarang bertanya kenapa dia pulang terlalu larut. Tapi melihat kerut wajah dan sorot mata suaminya yang kosong, membuat Darti merasa tertekan. Mungkin oleh semacam perasaan bersalah, atau kecemasan perbuatannya akan terbongkar atau entahlah, Darti tidak bisa merumuskan dengan jelas. Yang pasti Darti tahu persis, meski kondisinya tidak berdaya suaminya bisa melakukan apa saja dengan uang yang dimilikinya terhadap lelaki itu.

Dari jendela kantornya di lantai 13, Darti melihat matahari mulai memerah saga. Sebentar lagi jam pulang kantor tiba. Sebentar lagi dia bertemu lelaki itu, menggenggam jemari tangannya yang hangat, duduk dengan sangat rapat di pojok sebuah kafe. Lelaki itu memesan kopi, sementara dia memilih jus alpukat. Mengobrolkan apa saja yang sekonyong melintas di kepala mereka, sesekali saling menatap begitu lama sambil mendengar alunan musik yang makin memperkental suasana romantis. Laki-laki itu akan menyeka sisa jus di ujung bibirnya dengan tisu. Biasanya inilah waktu yang ditunggu-tunggunya. Tetapi kali ini benak Darti disusupi cemas yang makin lama mengeras. Dia khawatir gagal lagi mengatakan pada lelaki itu bahwa hubungan mereka harus segera diakhiri.     

Darti tak habis pikir bagaimana dirinya bisa terjebak dalam situasi serba membingungkan seperti ini. Kenapa dia lahir dari keluarga miskin sehingga harus bekerja jadi penata bola di sebuah arena bilyar ketika teman-teman sebayanya sibuk belajar dan pacaran di kampus, sehingga dia bertemu dengan Danu, lantas menjadi istri laki-laki kaya tapi tak ‘berdaya’ itu demi mendapatkan uangnya supaya adik-adiknya bisa sekolah sampai SMA, dan bapaknya yang sudah tua dan terserang rematik tidak perlu lagi narik angkot.

Tiba-tiba Darti juga menyesal kenapa sore itu dia mau saja diajak bertemu oleh lelaki yang hanya dikenalnya lewat chatting. Ah, sebenarnya bukan diajak, melainkan saling mengajak. Bukan hanya dengan lelaki itu Darti chatting. Bahkan dia kerap dirayu belasan lelaki kawan chatting-nya. Tapi tak ada yang ditanggapinya secara serius apalagi sampai penasaran seperti terhadap lelaki itu.  Hanya pada lelaki itu Darti dapat bercerita secara jujur, tentang kesepiannya, tentang perkawinannya yang tidak mungkin bahagia lantaran semua dilakukan secara terpaksa. Sampai kemudian pada suatu sore mereka melakukan kopi darat.

“Benarkah suamimu tidak mungkin sembuh lagi, Darti?”

“Dokter mengatakan begitu,”

“Kamu tahu kenapa sebabnya?”

“Aku tidak tahu. Tapi dia bisa membayar orang untuk mencelakaimu. Apakah kamu tidak takut?”

“Bukankah kamu merahasiakan hubungan kita.”

“Tapi kenalan dia banyak!”

“Bibir kamu bagus sekali, Darti.”

Lelaki itu sekalipun tidak setampan foto yang dilihatnya melalu dunia maya. Tetapi toh sikap dan pembawaannya yang hangat, dan terutama kata-kata yang meluncur dari bibir lelaki itu membuat Darti merasa cocok dan nyaman. Sehingga Darti ketagihan untuk bertemu dan bertemu lagi. Dia jadi gelisah apabila sehari saja tidak membuat janji bertemu. Biasanya setiap jam makan siang. Mereka bertemu untuk makan siang bersama di kafe pinggiran kota. Kantor Darti di tengah kota. Dia mengalah memilih kafe di pinggiran kota yang lebih dekat ke kantor lelaki itu.

Kadang pertemuan mereka disambung seusai jam pulang kantor, untuk sekadar ke toko buku, ke galeri lukisan, nonton pertunjukan teater di gedung kesenian, atau memburu barang-barang antik di Jalan Surabaya. Darti yang sebelumnya tidak pernah bisa menyukai lukisan dan menikmati pertunjukan drama, jadi suka berlama-lama melihat-lihat lukisan, membaca jadwal pertunjukan di gedung kesenian melalui internet.    

Darti menjaga hubungan ini secara sangat rapi supaya tidak diketahui siapa pun. Suaminya pernah bertanya apakah dia sedang menjalin hubungan khusus dengan laki-laki. Ketika Darti tidak menjawab, suaminya berkata bahwa dia boleh saja mengikuti kursus bahasa Mandarin sambil bekerja agar tidak terlalu jemu di rumah. Dia juga boleh menjalin hubungan khusus dengan laki-laki lain asalkan jujur mengatakannya.

“Aku mengerti kamu perempuan dewasa, Darti,” kata suaminya dengan nada rendah, “asal aku tahu siapa laki-laki itu.”

Darti berdiri mematung mendengar kalimat suaminya, memandangnya dengan tatapan iba dan rasa bersalah yang besar karena pernah berniat meninggalkan lelaki itu. Kemudian dia memeluk suaminya, menggenggam tangannya, dan di pangkuan suaminya air mata Darti tumpah. Suaminya yang usianya jauh di atas dirinya itu juga berpesan, supaya menjaga rahasia jika dia punya hubungan khusus dengan lelaki lain.

“Biar ini menjadi urusan kita saja,” kata suaminya. Kenyatannya Darti tidak pernah menjalin hubungan khusus dengan lelaki lain. Dia selalu berusaha menjadi istri yang setia bagaimana pun kondisi suaminya, sebelum akhirnya bertemu dengan lelaki itu.  Hanya saja Darti selalu menunda-nunda untuk menceritakan ini pada suaminya. Darti takut suaminya berubah pikiran, lalu melarang dia bekerja dan menjalin hubungan dengan lelaki lain. Darti tahu lekas atau lambat suaminya akan tahu.

Benar saja, suaminya mengetahui hubungan Darti dengan laki-laki itu lebih cepat dari yang dia perkirakan. Suaminya mengingatkan dia untuk segera memutuskan hubungan dengan lelaki itu.

“Atau tak kuijinkan lagi kamu bekerja,” kata suaminya dengan suara lirih tapi jelas menegaskan ancaman yang tidak bisa dianggap main-main.
***

Tinggal beberapa menit lagi jam kantor akan benar-benar berakhir. Darti menatap ponselnya. Biasanya lelaki itu menelpon lagi untuk memastikan. Atau paling tidak mengirim sms. Ah, mungkin dia ingin memberi surprise, bisik Darti menghibur diri. Tetapi sungguh ini bukan saat yang tepat untuk melakukan itu, Darti menyergah sendiri. Maka dicarinya nomor lelaki itu, menekannya. Jaringan sibuk.

Darti sudah merapikan meja kerjanya. Menata letak telepon, kotak bolpoin, tumpukan kertas di laci. Komputer setengah jam lalu dia matikan. Jam kantor sudah habis semenit lalu. Darti melangkah tergesa, menekan tombol lift, menuruni tangga. Lelaki itu tetap tidak bisa dihubungi.

Seperti biasa, jam pulang kantor begini kafe itu cukup ramai namun tetap sahdu. Nyalang mata Darti menyapu meja paling pojok yang ternyata telah terisi oleh sepasang oma opa yang tengah asyik pacaran. Perasaannya jadi hampa seketika. Akhirnya Darti mengambil meja di pojok yang lain. Dia masih berharap lelaki itu akan datang, atau paling tidak menelpon atau mengirim sms. Tak lama kemudian teleponnya memang bergetar. Tapi bukan lelaki itu yang menghubungi, melainkan suaminya. Berkali-kali. Tapi Darti mengabaikannya. Dia melirik lagi jam tangannya untuk kesekian kali. Sudah satu jam lebih dia menunggu. Mestinya saat ini Darti tengah menyusupkan kepalanya ke dada yang tidak kekar namun hangat lelaki itu, mengelus dagunya yang selalu biru, dan berkata, ‘Aku sebenarnya tidak ingin berpisah. Tapi resikonya terlalu besar bila diteruskan,’ dengan hati teriris.

Lampu-lampu jalan menyala terang, mata Darti makin tampak resah mengerjap-ngerjap. Sudah tidak ada lagi harapan, pikirnya. Merasa kepalang tanggung, Darti mencari lelaki itu di kafe lain yang pernah mereka jadikan tempat bertemu. Siapa tahu lelaki itu lupa menunggu di kafe berbeda. Darti menjelajahi sejumlah kafe yang pernah mereka singgahi. Dia akhirnya memang menemukan lelaki itu. Tetapi Darti menyesal kenapa harus menemukannya.    

Darti berlari keluar dengan air mata bercucuran. Betapa berkeping-keping hatinya seperti piring dibanting di lantai dingin. Dia mendapati lelaki itu mesra sekali berciuman dengan sesama lelaki.

Pondok Pinang, Februari 2010

Comments