Mella Jaarsma

Esquire, Juli 2008

Cerita ini sebelumnya disiarkan Esquire, Juli 2008


Pertama kali Mella bertemu Iwan Gunadi, yang kini jadi suaminya, saat laki-laki itu tengah mengunyah stampot di kantin universitas. Wajah Iwan Gunadi yang bulat dengan sepasang mata yang agak sempit tampak lucu saat mengunyah stampot membuat Mella Jaarsma tersenyum. Terutama melihat cara makannya yang tak lazim. Waktu itu ia berpikir laki-laki itu dari China, atau Thailand karena kulitnya yang kuning. Mella tahu bahwa Iwan Gunadi dari Indonesia setelah mereka berkenalan dan ngobrol. Laki-laki itu datang ke Belanda karena mendapat beasiswa untuk sekolah di negeri itu. Mella Jaarsma melipat koran dan meletakannya kembali ke meja. Ia menghela napas berat.
Matahari makin tinggi. Udara yang semula hangat sekarang membuat gerah. Butiran keringat merembas dari balik gaun tidur yang masih dikenakannya. Di luar terdengar penjual bakso memanggil-manggil. Makanan yang juga mulai disukainya. Tapi entah kenapa hari ini Mella Jaarsma tak punya selera memesannya. Ia justru teringat sneltrain, kereta yang selalu siap mengantarnya dari Den Haag ke Delft, dari Delft ke Rotterdam, dari Roterdam Ke Amsterdam. Jalanan yang tertib dan lengang. Susah sekali menemukan jalanan serupa itu di sini. Selalu semrawut dan macet. Gang-gangnya pun kotor, becek, dan berdebu jika kemarau.
Dulu Mela Jaarsma menganggap hal itu sebagai sesuatu yang eksotis. “Aku akan tinggal di Indonesia. Akan akan menyusuri gang-gang sempit dan becek, mengajari anak-anak jalanan membaca,” ujarnya pada Iwan Gunadi. Laki-laki itu sering berkunjung di apartemennya sejak pertemuan mereka di kantin universitas. Demikian pula sebaliknya. Mella Jaarsma sering berlama-lama berada dalam kamar Iwan Gunadi di asrama mahasiswa, tak jauh dari tempat mereka kuliah. Bahkan kadang menginap di sana.    
Iwan Gunadi tidak hanya bercerita mengenai keadaan negerinya yang semrawut sehingga berimbas pada buruknya pelayanan pemerintah kepada publik. Tapi laki-laki itu juga bercerita tentang keluarganya yang tinggal di perkampungan nelayan yang miskin. Di perkampungan itu hanya aku yang sekolah sampai SMA, kata Iwan Gunadi waktu itu. Dari waktu ke waktu hubungan mereka terus berkembang dari sekadar sahabat menjadi kekasih. Padahal saat itu Mella Jaarsma sedang menjalin hubungan dengan Pim Van Hoeve.
Hampir tengah hari. Mella Jaarsma melenguh kecil. Ia tahu anak-anak itu tentu sudah bubar karena dirinya tak datang. Mereka sangat dekat dengan dirinya. Mereka bersemangat hanya jika ia yang mengajarinya membaca, menggambar, menghitung dan menyanyi. Pikiran ini membuat Mella Jaarsma makin gelisah. Om Edy Kiceng galak sama anak-anak, kata mereka.
Mella Jaarsma sangat menyayangi anak-anak itu. Anak-anak yang ditekan orang tua mereka untuk bekerja menjadi pengamen, semir sepatu, mengemis di jalanan. Bersama beberapa rekannya di sebuah LSM, Mella Jaarsma mengumpulkan mereka, memberi mereka permen, makanan, kadang uang. Mereka diajari menggambar, membaca, dan menghitung, juga menyanyi. Mella Jaarsma tak pernah putus asa menghadapi sebagian orang tua mereka yang melarang anak-anaknya ikut belajar. Dituduh mempengaruhi anak-anak mereka malas bekerja. Tidak hanya itu, Mella bahkan harus berhadapan dengan preman-preman yang mengorganisir anak-anak mengemis. Berkali-kali ia mendapat ancaman dari mereka. Ia tahu preman-preman itu tidak hanya memeras fisik anak-anak secara semena-mena, tapi juga kadang melampiaskan hasrat bejat mereka pada tubuh tubuh kecil dan dekil  itu.
Malna, salah seorang anak muridnya pernah mengadu padanya tentang rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. Mella melihat celana bagian belakang laki-laki tujuh tahun itu merembeskan darah. Suhu badannya tinggi sekali. Ia dengan telaten merawat Malna. Sampai laki-laki kecil itu pulih dari trauma.
Suara kipas di ruangan itu berdengung lembut. Seekor kupu-kupu tersungkur di karpet terhantam baling-baling kipas. Mella Jaarsma melihat jam dinding. Pukul satu siang. Kasihan mereka, pikirnya. Jangan sentimentil, katanya pada diri sendiri. Lantas bergegas bangkit membuka gaunnya, meraih handuk, masuk kamar mandi. Tetapi begitu membenamkan tubuhnya dalam bath cuyp, kegelisahannya muncul lagi, kerinduannya pada butiran salju, bunga-bunga tulip. Mella Jaarsma mencoba menstabilkan emosinya dengan merendam seluruh tubuhnya. Hanya menyisakan sebagian wajahnya menyembul di atas permukaan air.
“Kamu tidak mungkin ke Belanda sendirian,” ujar Iwan Gunadi saat ia mengungkapkan kerinduannya pada tanah kelahiran. “Setahun ini aku tak mungkin meninggalkan pekerjaanku,” laki-laki itu menatap dengan mata sempit yang membuatnya terpesona saat kali pertama bertemu.
Tapi bukan hanya pesona mata sempit itu yang membuat Mella Jaarsma dulu memutuskan tinggal di Indonesia dan menjadi istri laki-laki itu, tapi juga eksotisme negeri tropis, matahari yang benderang sepanjang musim, pantai yang permai dan hangat. Dan segenap keragaman seni budaya Indonesia yang sering ia baca melalui literatur di perpustakaan.
“Tapi di Indonesia banyak penduduk miskin,” kata Iwan Gunadi. Seperti baru kemarin Mella mendengar kalimat itu. Beberapa bulan menjelang masa belajar laki-laki itu habis.
“Justru aku ingin menjadi relawan di negerimu,” ujar Mella Jaarsma, serius. Tentang kemiskinan negeri berkembang sudah sering ia dengar. Surat kabar dan televisi di negerinya sering menayangkan berita-berita kelaparan di negeri-negeri berkembang. Kehidupan Mella Jaarsma yang makmur dan tidak mengenal kemiskinan membuatnya penasaran. Mella membayangkan dirinya bisa membantu masyarakat miskin di negara berkembang. Mungkin akan lebih banyak berguna kehadiranku di sana, pikirnya.
Mella Jaarsma merasakan tubuhnya segar. Meski pikirannya belum sepenuhnya terbebas dari rusuh. “Aku kangen Papa, Gun, tentu dia makin tua. Harus kuurus asuransi kesehatannya, kan? Kau tahu selain aku tak ada lagi putrinya” kilahnya, “Hanya sebentar, Gun, aku segera kembali selesai mengurusi status keanggotaanku di Organisasi Lingkungan di sana,” ujarnya lagi, merajuk.
“Kamu telepon saja dulu, Sayang.” saran Iwan Gunadi, “aku janji tahun depan kita menjenguk negeri Belanda. Mengajak Papa jalan-jalan ke pasar membeli barang-barang antik di Den Haag dan Delft. Mengantarmu mengurus status keanggotan di organsasi itu,” rayu Gunadi seraya memeluk istrinya, mengecupnya dengan hangat, membawanya ke pembaringan. Perlakuan romantis dan lembut serupa itulah yang membuat Mella Jaarsma luluh.
Kemarin Mella Jaarsma menerima lagi email yang dikirim Pim Van Hoeve. Surat yang berisi kegusaran laki-laki itu. Laki-laki yang dikenalnya sejak di sekolah menengah di kota kecil Delft. Mella Jaarsma tidak merasa berpacaran dengan Pim. Tapi keduanya sering bepergian bersama. Dan ia selalu merasa gembira jika bepergian dengan laki-laki itu. Pim sendiri tidak pernah menyatakan diri menjadi kekasih Mella Jaarsma. Tetapi dengan laki-laki itulah pada umur 13 tahun Mella Jaarsma melepas kegadisannya.
Iwan Gunadi mengetahui Pim Van Hoeve sebagai teman Mella Jaarsma. Ia pernah mengenalkan Pim Van Hoeve pada Iwan Gunadi ketika suatu hari mengunjungi kampusnya di Leiden. Mella Jaarsma senang kedua laki-laki begitu cepat menjadi akrab. Bahkan ketiganya kemudian melakukan perjalanan bersama. Menyinggahi tempat-tempat wisata. Danau Ijsselmeer yang indah, menyusuri kanal-kanal yang ramai. Menebar serpihan roti pada merpati di pelataran gedung-gedung pusat wisata. Hanya sekali itulah kedua laki-laki itu bertemu.
Sudah berkali-kali ia menerima kiriman email dari Pim Van Hoeve. Kedatangan email-email itu selalu menyelipkan kerinduan di benak Mella Jaarsma pada rambut pirang dan mata biru laki-laki itu. Selama ini Mella Jaarsma selalu membalas email-emailnya dengan sebisa mungkin menghindari kalimat-kalmat sentimentil. Dalam surat-suratnya ia selalu menekankan bahwa dirinya sudah menetapkan hati untuk menjadi relawan di Indonesia, dan menjadi istri yang setia.
Tetapi dua email yang dikirim Pim Van Hoeve kemarin, membuat Mella Jaarsma tiba-tiba jadi sentimentil. Mungkin karena Iwan Gunadi yang mulai memiliki sedikit waktu memperhatikannya. Pekerjaannya di pertambangan minyak membuat laki-laki itu makin jarang pulang. Meski sikap romantisnya tidak pernah berkurang. Mungkin pula ia mulai jenuh menjalani rutinitasnya sebagai relawan.  Di tengah situasi seperti itu email Pim Van Hoeve jadi menghibur.
“Maafkan aku, lama sekali tak mengunjungimu,” ujar Pim Van Hove ketika Mella Jaarsma menemuinya seminggu menjelang keberangkatannya ke Indonesia. Waktu itu ia tak memberi tahu Pim bahwa ia  akan menatap lama di Indonesia. Mereka menghabiskan malam di apartemen Pim Van Hoeve di kota kecil Friesland, Belanda Utara.
Mella Jaarsma telah mengenakan pakaian lengkap. Jins, dan kaus tanpa lengan, sepatu kets. Tas besar sudah siap di meja. Sejenak ia menatap wajahnya di cermin. Diperhatikan wajah yang tak lagi seputih dulu. Matahari tropis telah memolesnya menjadi merah kecoklatan. Mella Jaarsma menyukai perubahan warna pada kulit wajahnya tersebut. Ia mengikat rambutnya. Belum terlambat, ia harus segera menemui anak-anak itu. Hari ini ia akan mengajar anak-anak menulis cerita. Setelah itu ia akan pamit pada anak-anak untuk pulang sementara ke Belanda. Mella Jaarsma sudah memutuskan besok akan menemui Iwan Gunadi di pertambangan minyak untuk memberi tahu bahwa ia tak dapat lagi menunda niatnya ke Belanda untuk mengurusi asuransi kesehatan Papa dan beberapa asuransi keuangan. Mella Jaarsma sudah menyusun alasan yang cukup kuat tentang keberangkatannya. Ia juga sudah menyiapkan hatinya menghadapi rayuan suaminya supaya menunggu sampai tahun depan. Mella Jaarsma juga sudah menguatkan tekadnya untuk tidak akan pernah menemui Pim Van Hove setiba di Belanda nanti. Ia tidak ingin melanggar sumpahnya untuk menjadi istri yang baik bagi Iwan Gunadi.
Jakarta, April 2007
Stampot *makanan khas belanda berupa kentang rebus diaduk-aduk hingga hancur dan dicampur dengan sayuran dan sosis*.

Comments

Elzam said…
Masih belum meraba alasan sepenuhnya Mella pulang. Benarkah soal ayah dan keanggotaannya di sebuah organisasi?
Catatan biasa said…
Iya benar. Alasan kepulangan yang kurang kuat.

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka