Pada Sebuah Hotel


pernah disiarkan Majalah Esquire, Februari 2010

Usai memungut kunci dari tangan resepsionis hotel, Rosana melenggang santai menuju kafe. Jemari tangannya sibuk mengetik pesan di blackberry-nya. Helai-helai rambutnya yang selembut sutra jatuh menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang bulat besar tampak berbinar riang membaca pesan balasan. Bibirnya menyunggingkan senyuman penuh makna. Ia tetap sibuk dengan perangkat komunikasi yang tengah populer tersebut manakala pramusaji kafe menghampirinya, mengulurkan daftar menu.

Sambil terus sibuk dengan Blackberry-nya, Rosana menunjuk beberapa nama menu yang tertera di daftar menu dengan ujung jari telunjuknya yang lentik, dengan kuku bercutek ungu muda. Sang pramusaji mencatatnya baik-baik. Rosana menyalakan sebatang rokok mentol, menyedotnya pelan-pelan dan mengembuskan asapnya dengan puas. Diresapinya rasa semriwing yang memenuhi rongga mulut dan tenggorokannya seraya membayangkan diri berada di tengah hutan pinus. Namun buru-buru memadamkan rokoknya sebelum seorang petugas menghampiri dan menjelaskan bahwa tempat untuk merokok disediakan sendiri ruangannya. Dia tersenyum menyambut menu yang diantarkan pramusaji. Secangkir caramel macchiato dan setangkup blackforest. Aroma caramel memekarkan gairahnya.

Thanks,” ucapnya terdengar manja yang agak dibuat-buat, seraya membenahi tali tank top— juga ungu muda—yang membungkus tubuhnya yang padat berisi. Dia menyeruput sedikit Caramel Macchiato. Lidahnya dengan lincah menjilat-jilat bibirnya yang ranum. Ia memandang sekeliling. Kafe tidak terlalu ramai. Ini jam sepuluh siang. Jam breakfast sebentar lagi berlalu, dan jam makan siang belum lagi tiba. Hanya tampak beberapa pasangan yang tengah berbincang sambil menikmati sisa sarapannya. Rosana mendesah lega. Ia memilih posisi meja yang tepat, yaitu di sudut dekat pintu masuk. Sebuah pot besar dengan bunga plastik menyembunyikannya dari pandangan mata pengunjung yang datang dari arah pintu masuk. Sementara Rosana bisa dengan leluasa mengamati mereka. Di luar gerimis penghujung Desember mendesis. Sayup-sayup terdengar suara terompet.

Rosana mengambil majalah dari rongga tasnya, lalu membolak-balik halamannya satu persatu seperti membuka halaman-halaman hidupnya yang penuh warna. Dia datang dari keluarga film. Ayah dan ibunya orang film di masa perfilman Indonesia berjaya. Hampir semua saudara-saudaranya berkecimpung di dunia film—meski tidak ada satu pun yang betul-betul populer. Dunia yang memberi berkah sekaligus malapetaka. Kedua orang tuanya bercerai saat Rosana kanak-kanak. Tiga orang kakaknya ikut ayah. Rosana sendiri memilih turut dengan ibunya. Rosana telah membintangi sejumlah film. Tapi semuanya jeblok di pasaran. Dua kali bercerai. Menulis dua novel porno yang berakibat dirinya dicaci maki. Menjadi presenter acara orang dewasa di televisi. Terakhir menjajal peruntungan menjadi penyanyi dangdut. Ah, sudahlah. Dia tak ingin mengenang masa lalu. Hanya mengurangi kenikmatan menghirup caramel macchiato.

Entah pada halaman ke berapa tampak foto Sugandi—lelaki yang dinantinya— yang tengah dikerubuti wartawan. Juru bicara presiden itu sibuk menjawab pertanyaan wartawan perihal pidato presiden tentang dalang peledakan bom di sebuah hotel. Wartawan itu di mana-mana memang menjengkelkan, gumam Rosana. Sugandi pernah berpesan supaya hati-hati bertemu wartawan. Refleks Rosana mengangkat wajahnya, menoleh kanan kiri, khawatir tiba-tiba ada sekawanan wartawan memperhatikan dan menyerbunya. Tapi ini Singapura, wartawan-wartawan sialan itu tak akan sampai kemari, batin Rosana. Dia memang punya pengalaman buruk dengan wartawan.

Entah berapa tahun lalu—dia lupa—sempat terlibat pertikaian dengan wartawan gosip. Gara-garanya pertanyaan wartawan yang nyinyirnya kelewat-lewat. Wartawan itu menyorongkan pertanyaan siapa ayah dari anak yang dilahirkannya. Rosana mencoba bersabar dengan meminta maaf tak mau menjawab pertanyaan. Tapi wartawan itu begitu ceriwis. Rosana tak dapat mengendalikan emosi. Dilemparnya asbak ke muka si wartawan. Lemparan itu meleset karena sasaran secara refleks menangkis dengan lengannya hingga terluka. Tapi tak urung insiden ini membawa Rosana ke pengadilan, dijerat pasal penganiayaan. Dia kalah dan hampir saja masuk sel. Untunglah si wartawan akhirnya mau disuap dengan sejumlah uang supaya menarik pengaduannya. Sejak itu Rosana makin benci pada mahluk bernama wartawan. Sekaligus makin hati-hati menghadapi para pemburu berita ini. Tidak hanya lantaran dia artis terkenal maka selalu jadi incaran wartawan gosip, tapi juga karena penampilannya yang selalu seksi dan gaya hidupnya yang penuh sensasi. Sejujurnya Rosana sendiri tidak yakin benar ayah bocah laki-laki yang sekarang berusia 3 tahun itu adalah seorang altet sepakbola dari Belgia seperti yang ditulis wartawan gosip. Maklum saja ada sekian pria bule yang pernah kencan dengannya.

“Memangnya kenapa sih kalau aku melahirkan anak tanpa suami?” Begitu Rosana sering curhat pada adiknya yang juga artis yang sering jadi bulan-bulanan wartawan gosip. “Urusan gue dong!”

“Memangnya kenapa sih kalau aku pake baju seksi?” katanya seraya menenggak wine. “mau tahu aja urusan orang!”

“Mereka memang brengsek!” timpal adiknya memberi dukungan.

Rosana melanjutkan membuka-buka majalah sambil menikmati blackforest. Tapi berita-berita politik itu tak ada yang menarik minatnya. Rosana sama sekali tidak mengerti urusan politik. Dia membeli majalah itu hanya karena ada foto Sugandi. Dia memang tampan sekali, bisik Rosana sambil menatap foto Sugandi yang mengenakan stelan jas warna gelap. Kumisnya, hm, ini yang paling Rosana sukai dari lelaki itu, selain tentu saja kecerdasan dan karir politiknya yang melejit cepat sekali. Karena ketampanannya seorang produser pernah menawari politisi itu main sinetron. Tapi Sugandi menanggapi tawaran itu dengan ketawa. Entah tawa melecehkan atau tawa bangga betapa banyak orang mengagumi ketampanannya. Rosana tak peduli. Yang jelas tawa itu di mata dia kelihatan manis, seksi, dan menggoda sekali.

Puas melihat gambar Sugandi, dimasukkannya majalah politik itu ke dalam tas merah muda. Lantas ditariknya majalah fashion dari sana. Tas dengan warna kesayangannya ini dibelinya di Singapura seharga sepuluh juta usai kencan dengan seorang pengusaha media. Hari ini sebetulnya pengusaha media itu mengajaknya kencan lagi. Rosana secara halus menolak demi Sugandi.

Ini kali ketiga Rosana kencan dengan Sugandi. Dan untuk kali pertama kencan di luar Jakarta untuk menghindari segala kemungkinan buruk. Semisal dipergoki wartawan seperti yang terjadi pada kencan kedua mereka sebulan lalu. Repot harus menyumpal mulut wartawan yang gemar memata-matai politisi seperti Sugandi supaya mereka bisa memeras. Mereka memang bajingan, sungut Rosana.

Rosana tahu lelaki itu tampaknya ketagihan kencan dengannya. Dan agaknya mulai masuk perangkap. Rosana ingat waktu pertama menerima telepon dari Sugandi, Rosana agak gugup. Maklum Sugandi memang telah lama jadi incarannya. Rosana terpesona setiap melihat lelaki ini di televisi. Tanpa disangka-sangka dia menelpon sendiri dan mengajaknya kencan. Memang bukan sekali ini Rosana kencan dengan politisi. Tapi menghadapi Sugandi membuat dadanya berdebar. Semula Rosana mengira Sugandi tipe lelaki yang setia pada keluarga mengingat penampilannya yang terlihat santun dan selalu terjaga. Nyatanya…

Rosana mengangkat blackberry-nya yang berkedip-kedip menerima panggilan.

“Halo, Sayang..di mana?”

“Kafe, kanan lobi.”

“Maaf, nunggu lama. Ketemu di kamar aja ya,”

“Okey,” sahut Rosana, manja.

Begitulah memang kebiasaan Sugandi. Maunya lekas-lekas ke kamar. Rosana menutup majalah dan mengemblaikannya ke dalam tas. Lantas melambaikan tanganya pada pramusaji, minta membungkuskan blackforest kegemarannya.

**
Rosana sudah membayangkan Sugandi yang tengah mandi. Rosana perhatikan lelaki itu suka sekali mandi bahkan di tengah hawa dingin. Dia selalu mandi sebelum dan sesudah kencan dengannya. Ah, seperti sudah tercium aroma tubuhnya yang segar wangi. Rosana suka melihat butir-butir air menggelinding di dada bidang Sugandi.  Rosana mempercepat langkah kakinya yang mendadak tak sabar ingin segera mencapai kamar, melihat senyum lelaki itu. Sungguh Rosana merasa sangat beruntung berhasil memikat Sugandi. Dia tidak hanya tampan dan pintar, tapi juga royal. Suka membayar melebihi tarif. Hanya, dia terlalu lekas menyudahi permainannya. Apakah begitu cara bercinta orang pintar?

“Kenapa sih suka sekali mandi?”

“Supaya lebih segar.”
“Untuk menghilangkan jejak istrimu ya?”  Sugandi terkekeh.

“Ayolah mandi bersama.”

Akhirnya mereka memang mandi bersama. Berlama-lama. Tentu saja tidak sekadar mandi, melainkan bercinta.

Rosana selalu teringat kencan pertamanya dengan Sugandi. Jawaban Sugandi saat Rosa bertanya kenapa lelaki itu ingin mengencaninya mengiang terus di pendengarannya. Jawaban yang membuat perasaan Rosana melambung ke langit ketujuh. Sugandi bilang dia fans beratnya. Sejak mahasiswa dia sudah menggemari film-film yang dibintangi Rosana.

“Setiap melihat kamu di tivi, aku pusing memikirkan bagaimana caranya kencan sama kamu.” Rosana tahu ini ucapan gombal setiap laki-laki. Tapi entahlah, rayuan segombal apa pun selalu saja membuat Rosana melayang-layang. Terlebih rayuan gombal itu keluar dari mulut Sugandi.   

“Kenapa kamu ketawa waktu ditawari main sinetron?”




“Aku tak bisa akting, Ros.”

Alah, akting sinetron itu gampang sekali. Sama dengan jadi politikus.” tukas Rosana, sambil memasang senyum terbaiknya, lantas menuang anggur buat Sugandi.

Sugandi tertawa lagi. Tapi kali ini terdengar agak aneh. Rosana tidak pernah sempat memperhatikan perbedaan dan jenis-jenis tawa. Apalagi jenis-jenis tawa seorang politikus ulung macam Sugandi. Waktu itu sebenarnya dia ingin juga bertanya tentang berapa gaji seorang juru bicara presiden? Dia mengurungkan niat tersebut karena khawatir akan merusak suasana. Akhirnya Rosana bertanya seputar apa saja tugas-tugas seorang juru bicara presiden seperti Sugandi, sampai hobi dan merek baju yang disukai, termasuk menu favorit.

“Menu favoritku kamu.” ujar Sugandi. Sialan, pintar sekali dia merayu, pikir Rosana. Tapi tak urung bikin dia melambung.

Kencan pertama itu memang berlangsung cukup lama dan mengesankan bagi keduanya. Sejak lepas maghrib sampai menjelang subuh. Sebelum meninggalkan hotel Sugandi memberinya cek senilai 50 juta rupiah.

Kali ini Rosana akan meminta cek senilai 1 milyar pada Sugandi. Rosana juga akan merayu Sugandi untuk memberi dukungan pada pencalonan kakaknya menjadi gubernur. Rosana. telah menyimpan semua rekaman kencannya selama ini. Ini yang akan dia jadikan kartu truf untuk memeras Sugandi. Tapi Rosana berharap Sugandi rela mengeluarkan cek sejumlah itu tanpa perlu melalui ancaman. Apalah artinya uang satu milliar buat seorang politisi korup macam Sugandi. 

Tapi sayang dua-duanya tidak pernah terjadi. Semuanya betul-betul di luar perkiraan Rosana.  Sugandi tak pernah datang pada kencan ketiga itu.  Ketika Rosana membuka pintu kamar tampak olehnya tiga pria tak dikenal. Rosana tak sempat berteriak. Mereka langsung membekap mulut Rosana, merampas semua rekaman kencannya dengan Sugandi yang dia bawa di tasnya.

“Jangan pikir kamu bisa mengelabui lelaki! ” ujar salah satu dari tiga lelaki berbadan atletis dan tegap itu seraya mencubit pipi Rosana. Sebelum pergi mereka mengikat tangan Rosana dan menyumpal mulut Rosana dengan celana dalamnya.

Rosana  tahu sekarang, seorang politikus setingkat lebih licin dari pemain sinetron. Sekarang dia tidak hanya batal mendapatkan uang 1 milyar, tapi dia juga harus membayar tagihan hotel. Betul-betul akhir tahun sialan.

Pondok Pinang Musim Hujan, Desember 2009

Sekadar catatan: cerpen ini terinspirasi dari obrolan dengan Edy A Effendi.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka