Pagar

Majalah Femina, edisi 15-21 Oktober 2011
-->
Cerpen ini awalnya disiarkan di Majalah Femina, Oktober 2011.


Ia sampai di depan pintu pagar rumah kekasihnya. Sekuntum bunga kering melayang jatuh tepat di ujung sepatunya. Sunyi mengisi jalanan. Cahaya lampu memendar redup, tak mampu menyentuh keirikil di permukaan jalan.  Gerumbul dedaun pohon mangga dari rumah sebelah menelan bayangan tubuhnya yang canggung mencoba menepis ragu.  Dia meraba ponsel yang mendekam damai di kantung celana jins ketatnya. Merogohnya pelahan. Menyusuri nama-nama di daftar teman yang tersimpan dalam ponselnya. Ada lebih dari lima ratus nama. Nama kekasihnya yang berhuruf depan M ada di urutan ke seratus.

Ketika nama itu muncul, ia hanya memandangi rangkaian huruf-huruf yang membentuk nama kekasihnya seraya menyunggingkan senyum, tapi ragu untuk menekannya. Mendesah pelan, ia mengambil sebatang rokok dari kantung jaketnya. Sambil menghembuskan asap rokok dari rongga mulutnya ia mendesah lirih, inikah saatnya...

Sudah lama sekali ia memendam gelora hasratnya. Kadang merasa harus meraung-raung demi meredam gejolak dalam tubuhnya yang ia tahu persis tak mungkin tidak dimuntahkan. Ia kerap terbangun tengah malam. Keluar dari kamar lantaran takut melihat pantulan wajahnya di cermin, wajah yang pasti terlihat kusut masai bagai kertas diremat-remat. Duduk di kursi goyang kesayangannya di ruang tengah, menekan-nekan nomor telepon sekenannya. Sekali dua kali ada yang mengangkat, lantas didengarnya orang menggerutu, bahkan maki-maki.

Usianya telah menginjak 35. Tapi seperti baru terlahir 12 tahun lalu dalam urusan asmara, sehingga  harus bertanya pada Joe, keponakannya, yang baru kelas satu SMA. Sialnya Joe malah meledeknya kalau ia tak memberinya uang.

“Om pacaran saja sama Tante Jum,” kata Joe, “dia penggemar tanaman juga kaya Om.” Kalau sudah begitu ia jadi langsung ilfil pada keponakannya itu. Tante Jum, tetangganya, perempuan lajang seusianya yang pernah menetak kepala seekor kucing sampai pecah hanya lantaran si kucing mematahkan ranting tanaman piaraannya. Pacaran dengan wanita itu? Membayangkannya saja ia bergidik.  

Sejurus matanya yang letih menyorot pintu rumah itu, seperti ingin menembus. Tapi mendadak gugup melandanya lagi. Apa kira-kira yang bakal dilakukannya kalau nanti bertemu.

“Pertama-tama tentu Om harus memberikan senyum paling manis buat dia,” Ia ingat saran keponakannya.

Ia telah melintasi sejumlah propinsi, menyeberangi Selat Sunda, untuk sampai di depan pintu pagar rumah kekasihnya. Ia menyeka wajahnya dengan tisu basah. Tapi itu tak membuatnya cukup merasa segar. Karena keringat yang mengucur dari pori kulitnya sejak di bandar udara Soekarno Hatta yang belum dibasuh meninggalkan lengket dan rasa tak nyaman di sekujur badan.

Sepenggal bulan menggantung di ujung langit yang bersih. Angin merayap perlahan-lahan meraba tengkuknya. Suara kendaraan dari jalan besar terdengar sayup-sayup. Tadi ia menyuruh sopir taksi menurunkannya di ujung jalan kompleks perumahan ini. Ia memilih meneruskan dengan berjalan kaki. Ia khawatir suara kendaraan itu mengganggu rencananya membuat kejutan. Tidak terlalu sulit mencari rumah kekasihnya di kota kecil ini. Apalagi kekasihnya telah menuliskan alamat secara sangat rinci. Terbukti, hanya butuh 15 menit ia telah berdiri di depan alamat yang dituju.

Disapukan pandanganya ke rumah kekasihnya yang tampak tengah menunggu seseorang datang mengetuk pintu. Rumah itu persis dengan yang dideskripsikan kekasihnya. Rumah model jaman dulu yang memiliki dinding bagian depan tinggi berbentuk huruf V terbalik, dihiasi ornamen yang membentuk huruf M. Temboknya bercat ungu, di teras yang membentuk huruf L dengan atapnya disangga tiang tiang besi kecil dan ramping, terdapat sepasang kursi rotan. Tembok setinggi satu meter memisahkan teras dengan halaman. Pohon belimbing dan jeruk Bali, masing-masing berdiri di pojok halaman sebelah kanan dan kiri, digelantungi pot-pot gerabah berisi aneka bunga-bungaan yang menjuntai ke bawah. Keset sabut kelapa bergambar hati di depan pintu masuk. Dan tentu saja nomor 69 di pagar teralis warna perak yang berjarak beberapa senti dari tempat ia sekarang berdiri. 

Kekasihnya acap menjelaskan, di kursi rotan itu dia duduk menghabiskan waktu senja seraya memandangi tanaman yang dirawatnya sepenuh cinta. Tak heran bila mereka pun tumbuh subur dan selalu siap memberi keteduhan yang diperlukan penghuni rumah. “Duduk di situ sampai gelap turun dan menyalakan lampu-lampu,” ujar kekasihnya.

Sangat mudah baginya menekan bel yang terdapat di pojok dekat tiang lampu. Namun, ia merasa bukan sekarang saat yang tepat memberi kejutan. Dari balik jendela berbentuk persegi panjang ia melihat lampu di ruang tengah masih menyala. Ia juga menangkap pendar sinar dari pesawat televisi. Mungkin kekasihnya tengah menonton televisi. Acara apa yang ditonton dini hari begini?
  
“Dipeluk olehmu pasti sedap rasanya di malam berhujan begini,” begitu kekasihnya kerap berbisik, dikirimkan gelombang elektromagnetik ke telinganya, malam-malam. Ia hanya tertawa ngakak. Ia sendiri ragu apa makna tawa seperti itu. Gembira, heran, cemas, atau takut. Atau mungkin seluruh perasaan itu berbaur sempruna menciptakan sensasi yang aneh dalam benaknya.

Ia teringat muasal hubungannya dengan kekasihnya. Lalu ia akan merasa terheran-heran bagaimana sebuah kejadian salah sambung dapat berlanjut menjadi sebuah hubungan kekasih. Sementara dengan orang yang saban hari bertemu, di bawah satu atap dan lantai yang sama, begitu asing dan jauh. Ia tengah gelisah, bersiap tidur setelah bosan menonton teve yang acaranya begitu-begitu saja. Menjengkelkan dan tidak kreatif.

“Fred,” ujar telepon salah sambung itu, dengan intonasi yang menyentak.

“Fred? Anda siapa? Salah sambung!” sahutnya.  Ia hampir saja menutup percakapan yang menjengkelkan itu ketika mendadak ia seperti pernah akrab dengan suara itu.

“Oh maaf, jadi saya salah sambung ya?”

“Ya Anda salah sambung, saya bukan Fred.”

“Tapi di ponsel saya benar lho ini nomor Fred. Ya sudahlah mungkin operatornya lagi ruwet. Maaf, kalau begitu saya bicara dengan siapa?”

”Saya Sam di Jakarta,”

“Hah, Jakarta. Ya ampun jauh sekali ya,”

“Anda di mana?”

“Pekanbaru,”

“Oh,”

“Kenapa oh? Anda pernah ke Pekabaru?”

“Belum pernah ke sana. Oya, Fred siapa?”   ia bertanya setelah merasa tanggung.

“Untuk apa Anda tahu? Kita tidak saling kenal kan?”

“Baiklah, maaf. Saya tutup telepon ini karena saya telah bicara dengan orang yang tak saya kenal,”

“Loh kok marah sih?

Ia tertawa.

“Kok tertawa?”

Percakapan terhenti sampai di situ. Tampaknya gangguan sinyal. Esoknya ia menerima telepon lagi dari orang yang sama.

“Benar Anda mau tahu tentang Fred?”

“Bukankah saya orang yang tidak Anda kenal?”

“Sekarang saya sudah kenal. Bukankah kemarin Anda sudah menyebutkan nama?”

Ia tertawa.

“Mau tahu tidak?”

“Apakah itu penting buat saya?”

“Baiklah. Saya tutup telepon ini. Terima kasih,”

Ia tengah menghadapi banyak persoalan di kantor. Ia merasa tertekan lantaran beberapa bulan ini selalu gagal memenuhi target. Terlalu banyak intrik. Rekan-rekannya di kantor selalu memandangnya sebagai pesaing yang siap melemparkan mereka keluar. Dia sungguh butuh teman untuk mengobrol. Ia merasa telepon salah sambung itu menjadi teman ngobrol yang sedikit menolongnya dari suntuk. Maka, setelah tiga hari menahan diri, akhirnya ia menghubungi nomor si salah sambung.

“Fred kekasihmu?”

“Bukan lagi. Dia pengkhianat.”

“Terus untuk apa kamu mau menghubungi dia?” Tanpa sadar ia mengganti ‘Anda’ dengan ‘kamu’.

“Apakah itu penting buatmu? Kalau memang penting buatmu, baiklah saya ceritakan.”

Lantas ia mendengar si salah sambung menuturkan perihal untuk apa menelpon si pengkhianat. Cerita yang sangat klise dan tentu saja membosankan. Tapi dia terus menyimak lantaran merasa mendapat peluang, semacam harapan yang selama ini tak pernah menghampirinya. Kenyataannya ia tidak salah duga. Sesudahnya saban malam mereka bertelepon dan berikrar saling setia.

“Suatu saat aku akan menjemputmu ke Pekanbaru. Aku akan membuat kejutan.”

DIA berkemas seraya membayangkan hidung mancung kekasihnya, bibir tipis, rambut ikal, tubuh padat dan kulit kecoklatan. “Apa yang akan kamu lakukan jika aku datang?” begitu ia kerap bertanya pada kekasihnya.

“Memeluk dan mengecupmu, membelaimu...” kekasihnya menyahut dengan suara begitu sahdu dan menggemaskan. Lantas disambung dengan kata-kata yang mengekspresikan kekaguman yang memabukkan, memuji bentuk dahinya yang tinggi, bibirnya yang seksi, serta daun telinganya yang lebar. Ia sempat terheran-heran bagaimana bisa dia memuji seperti itu hanya berdasarkan penuturan.

“Daun telinga yang lebar pertanda pintar,” kata kekasihnya. Seperti biasa, ia lalu berjingkat menghampiri cermin. Menatap tampangnya, dan tersenyum-senyum sendiri. Benarkah aku tampan, bisiknya. Hari-harinya yang suntuk dengan tugas menyusun paket proposal penawaran iklan, bertemu dan merayu client demi mengejar target, berubah jadi penuh gairah. Bisikan-bisikan sahdu penuh bujuk rayu kekasihnya tak ubahnya darah segar yang menjalar di urat nadinya. Memberinya tenaga untuk meninggalkan kebiasaan nongkrong berlama-lama di kedai kopi sekadar untuk membuang sepi dengan mencuri-curi pandang pada pasangan-pasangan yang berseliweran keluar dan masuk mal. Sebuah kegiatan yang pada kenyataannya justru membuat ia makin dilanda sepi.

“Akulah tulang rusukmu.” Kata-kata itu membuatnya tersenyum lagi, sedikit geli. Sejujurnya ia bukanlah seseorang yang menyukai hal-hal yang romantis. Hal itu dianggapnya terlalu bertele-tele. Ia lebih mempercayai yang praktis-praktis. Rekan-rekan kantornya menyebutnya si pragmatis. Tapi, kini ia mulai berpikir untuk tak ada salahnya sesekali menjadi sedikit romantis.  

Ia melihat jam digital di layar ponselnya. Pukul 02.55. Dicarinya lagi nama kekasihnya di daftar nama. Tapi lagi-lagi ia ragu. Ia ingin membuat kejutan. Tapi kejutan apa lagi? Ia ragu ada orang lain di rumah kekasihnya meski sudah dijelaskan berulangkali bahwa kekasihnya tinggal seorang diri. Siapa pun dia pasti akan mengganggu pertemuan pertama yang mendebarkan.

Ia berpikir untuk berbalik keluar ke jalan besar untuk mencari penginapan. Mungkin akan lebih mengesankan jika pertemuan berlangsung di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai di pinggiran kota. Mungkin ia akan bangkit berdiri menyambut kedatangan kekasihnya dengan kedua tangan direntangkan. Memeluknya, memesankan minum,  dan menumpahkan perasaannya sesuai rencana. 

Ah, ini sungguh bertele-tele, ia menyergah gagasannya sendiri. Diambilnya ponsel, mencari nomor kekasihnya, lantas menekannya. Beberapa menit kekasihnya tak mengangkat panggilannya. Diulangi sampai beberapa kali, tetap sama. Tentu saja ini di luar kebiasaan. Kekasihnya biasanya selalu siap sedia menerima telepon darinya. Ia memutuskan untuk memijit bel di sudut pagar di dekat tiang.
**
Di dalam taksi yang baru keluar dari Bandara Soekarno Hatta, seorang perempuan tampak memucat wajahnya. Ia meminta sopir menghentikan taksinya.

“Pak tolong antarkan saya ke alamat ini. Tapi saya hanya punya jam tangan ini. Dompet dan semua uang saya hilang di bandara tadi!”  katanya dengan suara logat Melayu Pekanbaru.

Relung Malam Pondok Pinang,  08 Juli 2011.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka