Pilihan Kedua

pernah ditayangkan Majalah Noor, Juli 2009
Majalah Noor, Juli 2009
 
Belum genap setahun Jamal meninggal, tapi sudah ada dua laki-laki yang datang menyatakan maksudnya meminang Rani. Pertama Hamid, kawan akrab Jamal sejak remaja. Kedua Marwan, adik sepupu Jamal.
Kedatangan pinangan kedua lelaki yang sama-sama orang dekat almarhum suaminya itu membuat malam-malam Rani dipenuhi kegelisahan, kurang tidur, terlambat masuk kantor, dan konsentrasinya melakukan pekerjaan terganggu. Rani bukan hanya bingung harus memilih satu di antara mereka, melainkan dia tak habis mengerti mengapa harus secepat ini. Masa idahnya memang sudah lama berlalu. Dan setahun memang bukan waktu yang sebentar untuk perempuan yang ditinggal mati suami. Tetapi duka Rani belum lagi kering atas kematian Jamal yang terjadi secara mendadak dan tragis. Rasa kehilangan itu mungkin tak akan pernah benar-benar pupus untuk selamanya di benak Rani.  
Rani heran, mengapa kedua laki-laki itu tidak bisa memahami perasaan perempuan. Apa lelaki memang begitu? Ah, memang tak ada lelaki sepengertian Jamal, keluh Rani. Dia ingin mengatakan pada mereka bahwa perasaannya masih berduka, dan belum siap menerima lelaki mana pun untuk mengisi rongga yang ditinggalkan Jamal di benaknya. Belum sanggup Rani melupakan segala kenangan indah yang pernah dicecapnya bersama Jamal selama sepuluh tahun pernikahan mereka yang tiba-tiba direnggut secara paksa oleh kecelakaan lalu lintas yang mengantar Jamal pergi untuk seterusnya. Kadang Rani tak percaya cobaan berat ini datang padanya begitu lekas, ketika dia dan Jamal tengah semangat-semangatnya bekerja membangun masa depan.
Bahkan sampai sekarang Rani kadang merasa Jamal masih hidup, menjaga, dan mengawasinya dari detik ke detik. Bukan hanya mengawasi gerak fisiknya tapi juga gerak hatinya. Rani akan merasa sangat bersalah dan mengkhianati Jamal jika dia menerima lamaran lelaki lain.
Tetapi, begitulah. Rani heran sendiri mengapa dia tidak bisa mengucapkannya. Rani hanya bungkam ketika sore itu Hamid bertandang ke rumah. Menebar simpati.
“Dulu itu kami seperti tak terpisahkan. Ke mana-mana bersama. Sampai-sampai banyak yang meledek kami seperti orang pacaran,” kata Hamid, “Pulang dan berangkat sekolah selalu bersama. Makan bareng, tidur bareng, sebatang rokok kami hisap bergantian. Hanya satu yang membedakan kami, nasib Jamal lebih bagus, dia mendapatkan istri idamannya,” tutur Hamid dengan mata menerawang. Cerita tentang keakraban persahabatan mereka memang Rani dengar juga dari almarhum suaminya.
Setelah bicara berputar-putar kesana kemari tentang persahabatannya dengan sang almarhum, secara halus dan malu-malu Hamid mengatakan maksudnya mengganti posisi yang ditinggalkan Jamal di sisi Rani, menjadi ayah baru bagi Hanan dan Yasa, dua orang anak yang kini menjadi yatim.
“Aku akan menyayangi kamu serta Hanan dan Yasa, seperti Jamal menyayangi kalian,” kata Hamid, “Kamu boleh menerimaku seperti kamu menerima dan mencintai Jamal,” bujuk Jamal dengan nada bersungguh-sungguh. Namun Rani tetap bungkam.
Bibir Rani makin terkunci rapat manakala Hamid mengatakan bahwa keinginannya meminang dirinya bukan sekadar karena ingin segera mengakhiri kesendiriannya, tapi sekaligus untuk memenuhi amanah sang almarhum. “Jamal berpesan supaya aku menjagamu, Ran,” suara Hamid terdengar bagai memohon. Bahkan menatap mata Hamid pun Rani seakan tak kuasa. Dia melempar pandangannya pada bunga-bunga di halaman rumah. Rani tak pernah kuasa melihat tatapan lelaki yang menghiba.
“Aku tahu, Ran, kamu masih berduka, butuh waktu beberapa lama lagi untuk meredakan kesedihanmu. Aku juga mengerti, aku tidak meminta kamu menjawab sekarang.” ujar Hamid, lirih, lembut, tapi ada ketegasan di sana. Ketegasan yang seolah-olah menyatakan bahwa Rani harus menerima maksud Hamid.  Tapi bibir Rani tetap rapat terkatup sampai Hamid minta diri karena hari mulai redup menjelang maghrib. Dia hanya mengangguk membalas salam lelaki itu.
Begitu juga ketika Marwan datang beberapa hari kemudian setelah Hamid.  Rani tak mengeluarkan sepatah kata pun. Berbeda dengan Hamid yang berputar-putar sebelum menyatakan maksud yang sebenarnya, Marwan secara lugas mengatakan maksudnya melamar Rani. “Aku datang untuk melamar kamu, Ran. Sebelum meninggal almarhum Mas Jamal bilang, supaya aku menggantikannya menjaga kamu,” ujar Marwan. Meskipun diucapkan dengan nada yang tegas, namun seperti juga Hamid, Rani dapat merasakan dengan jelas ada nada menghiba di sana. Ah, kepergian Jamal bukan saja membuat benak Rani kosong, tapi juga membuatnya harus menghadapi persoalan begitu pelik yang tak pernah terduga bakal dialaminya. “Bang Jamal, apa yang mesti aku lakukan?” keluhnya, malam-malam.
**
Malam ini Rani ingat lagi cerita Jamal tentang persahabatannya dengan Hamid. Sejak remaja keduanya memiliki kegemaran nonton bioskop, panjat gunung, dan melakukan perjalanan ke kota-kota yang jauh dengan cara numpang di truk. “Waktu Abang remaja dulu, Ran, Abang tak punya teman yang lebih dekat selain Hamid,” kata Jamal. Rani melihat mata Jamal selalu berbinar bila bercerita tentang persahabatannya dengan Hamid. “Persahabatan kami di masa remaja dulu betul-betul penuh kesan yang sulit dilupakan begitu saja,” Suara Jamal bagai baru saja diucapkan Jamal kemarin. 
 Hamid kemudian menjadi sahabat juga bagi Rani. Lelaki itu sering datang bertamu ke rumah Rani dan Jamal. Hubungan mereka dengan Hamid sudah seperti saudara. Hanya saja Jamal tidak pernah cerita kenapa sampai sekarang Hamid belum menikah kecuali bahwa Hamid belum menemukan perempuan yang cocok. Rani jadi ingat, dulu, sebelum Jamal berhasil menyuntingnya, dia pernah lebih dulu menaruh hati pada Hamid. Tapi karena Jamal lebih ulet melakukan pendekatan, dia jatuh ke lelaki itu.
            Sedangkan tentang Marwan, Jamal sering pula bercerita, dari sekian banyak sepupunya Marwan yang paling dekat, bahkan lebih dekat dari saudara-saudara sekandung sekalipun. “Usia kami memang terpaut empat tahun, tapi dengan dia Abang bisa membicarakan apa saja,“ kata Jamal.
“Marwan orang yang baik dan bisa dipercaya. Marwan banyak membantu memperlancar bisnis Abang bertani ikan air tawar,” kata Jamal suatu malam. “Sayang nasib rumah tangganya kurang bagus. Istrinya tidak bisa memegang amanah, berselingkuh dengan teman masa kuliahnya. Kasihan ya, Ran, orang sebaik Marwan dapat istri seperti itu,” kata Jamal.
Bagi Rani, kedua lelaki itu mungkin sama baik dan tampan. Dan sekarang Rani mulai bingung memikirkan harus memilih yang mana. Rani bimbang. Keduanya mengaku dititipi amanah oleh almarhum suaminya untuk menikahinya. Siapakah yang tidak berdusta di antara keduanya? Ini perkara yang begitu rumit.
“Aku belum bisa menerima lelaki lain untuk mengganti posisi Bang Jamal, maafkan aku.” kata Rani akhirnya ketika untuk kali kedua Marwan dan Hamid kembali datang secara bergantian. “Kuharap kau memahami perasaanku,” bibir Rani bergetar ketika mengucapkan kalimat itu. Di ambang pintu Rani memandang punggung mereka yang pulang dengan muka tertunduk kecewa. Ada perasaan lega sekaligus penyesalan melepas mereka dengan jawaban seperti itu. Kedua laki-laki itu mengucapkan kalimat yang nyaris sama, “Aku akan menanti sampai kamu bisa menerima lelaki lain menggantikan Jamal.”
Berbeda dengan pada kedatangan pertama mereka menyatakan maksudnya, kali ini Rani berani menatap mata Hamid maupun Marwan. Mencoba mencari jejak dusta di sana. Tetapi Rani tak berhasil menemukannya. Sepasang mata kedua lelaki itu sama jernih memancarkan kejujuran. Tidak mungkin Bang Jamal meninggalkan pesan kepada keduanya supaya menikahiku, pikir Rani.
“Ibu menyerahkan semua pilihan padamu, Ran,” kata ibunya saat Rani meminta pendapat ibunya. “Tapi jangan terlalu lama berpikir. Tak bagus lama-lama hidup tanpa suami,”
“Tapi sulit sekali, bu, sulit sekali menentukan siapa di antara keduanya yang benar-benar dititipi pesan oleh Bang Jamal untuk menikahiku,”
“Tanyakan pada hatimu siapa yang menjadi pilihanmu,”
Jujur, Rani lebih berat pada Hamid, cinta pertamanya. Marwan, selain umurnya hampir sebaya dengan dirinya, sudah lama Rani menganggapnya sebagai adik. Tapi Rani takut membuat Marwan terluka jika dia menolak dia dan memilih Hamid.
“Aku tak bisa memilih satu di antara keduanya karena tak mau melukai salah satu dari mereka,” gumam Rani.
“Kamu harus menentukan pilihan,” kata ibunya.
“Inilah yang tak bisa aku lakukan, bu, sebelum benar-benar tahu kepada siapa sesungguhnya Bang Jamal menitipkan pesan untuk menikahiku,”
“Pertemukan saja Marwan dan Hamid. Kau tanyakan langsung pada mereka. Inilah jalan yang bisa kamu lakukan, Ran.”
“Tapi, bu. Aku takut membuat hubungan keduanya nanti malah rusak,” ujar Rani seraya melepaskan kerudungnya.
“Tak ada pilihan lain. Kalau mereka dewasa tidak perlu ribut. Ini justru menjadi ukuran sejauh mana keduanya memiliki kedewasaan,” tutur ibunya.
**
Rani tak menemukan cara lain sehingga dia akhirnya benar-benar menjalankan saran ibunya. Dia mengundang Hamid dan Marwan. Betapa tegang menghadapi kedua laki-laki itu datang secara bersamaan. Suaranya terdengar goyah manakala mengutarakan maksudnya mengundang mereka.
Ternyata keduanya tetap kukuh. Masing-masing mengaku dititipi pesan oleh Jamal untuk menikahi Rani.
“Demi Allah, Bang Jamal berkata padaku supaya aku menjagamu,” kata Hamid.
“Saya berani bersumpah atas nama Allah, Bang Jamal menitipkan pesan padaku agar aku menjagamu,”
“Menjaga, bukan menikahi,” ujar ibu yang hadir untuk menengahi.
“Bagaimana aku bisa menjagamu tanpa menikahimu,” ujar Hamid dan Marwan hampir serentak.
“Tidak mungkin aku menjadi istri dari dua orang laki-laki. Tidak mungkin. Kalian salah mengerti menafsirkan pesan Bang jamal,” pekik Rani putus asa. Dia berlari ke kamar, memeluk Hanan dan Yasa. Ibunya tak tahu apa yang harus dilakukan selain duduk memandangi Hamid dan Marwan yang tetap bersikukuh dengan pendapatnya sendiri-sendiri. Ibunya heran seakan tak ada perempuan lain secantik Rani.
Rani tak keluar-keluar lagi sampai kedua lelaki itu akhirnya minta diri pada ibunya tanpa mengucapkan kata-kata. Sampai beberapa hari kemudian Rani tak bisa memutuskan akan memilih siapa. Salat istikharah yang dilakukannya belum juga memberi isyarat harus memilih yang mana.
Ketika pada kali ketiga Hamid kembali datang, disusul Marwan pada hari berikutnya Rani belum juga menentukan sikap. Dia tetap mengatakan kalimat yang sama,”Belum siap menerima lelaki lain,”
“Datanglah tiga tahun lagi,” kata Rani. Dalam hati Rani bertekad siapapun yang datang lebih dulu pada tiga tahun yang akan datang, dialah yang akan Rani pilih sebagai pengganti Jamal.

Pondok Pinang Januari 2009 

Comments