Hujan Berderai Tengah Malam

pernah tayang di Tabloid Nova, minggu kedua Juli 2007
ilustrasi diambil dari deviantart.com


Hujan berderai tengah malam. Suaranya yang lembut membuat Listra terbangun. Inilah saat-saat yang ditunggunya. Laki-laki itu akan datang pada tengah malam berhujan begini. Sudah lama Listra menanti saat-saat seperti ini. Bermalam-malam dia terbangun tapi hujan tak turun padahal di langit mendung bergumpal-gumpal menyembunyikan bulan dan gemintang. Sebaliknya tengah malam ketika hujan turun Listra tertidur kelelahan. Listra tidak bisa protes ketika laki-laki itu mengatakan hanya akan datang pada tengah malam berhujan. Saat-saat hening yang sebenarnya tidak ia sukai karena membuat ia makin menyadari beban kesedihannya yang menggelisahkan.

Listra beranjak dari tempat tidur. Dia berjalan ke jendela. Ditatapnya derai hujan, kerlip lampu di jauhan. Disingkapnya gorden transparan, lantas perlahan-lahan dikuaknya daun jendela. Udara dingin dan percikan air segera menerpa wajahnya. Sayup-sayup diingatnya wajah lelaki itu. Suaranya yang lembut seperti derai hujan malam ini.

“Bukan malam terang bulan, tapi tengah malam berderai hujan,” ujar laki-laki itu tanpa sempat menjelaskan alasannya. Kemudian berlalu meninggalkan Listra yang terpaku di muka pintu. Kantong plastik yang dibawanya jatuh, menumpahkan buah, sayur-sayuran, daging, dan roti yang dibelinya dari supermarket. Listra tertegun menatap punggung laki-laki itu menjauh, menghilang tertelan gerumbul pagar tanaman. Mulutnya hanya ternganga tak sempat mengeluarkan suara. Sebelah tanganya yang terangkat di udara pelahan turun dengan hampa. Hangat mentari pagi mengelus pipinya yang ranum.

Listra tidak tahu dari mana laki-laki itu muncul. Begitu saja berdiri menghadang, lalu mengucapkan kalimat itu, dan berlalu seperti berlari. Tetapi agaknya dia seorang pelukis. Rambutnya gondrong. Beberapa percik cat tampak mengotori rambut dan kaus yang dikenakannya. Begitulah, yang ia tahu pelukis selalu berambut gondrong dan tubuhnya penuh percikan cat. Benarkah tengah malam berhujan begini ia bakal datang?

Dari jendela kamarnya Listra melihat hujan membasahi jalanan, tiang listrik, lampu dan genting-genting rumah. Suasana sendu sekali. Di salah satu rumah petak itu, yang paling pojok Listra pertama kali melihat laki-laki yang berjanji akan datang pada tengah malam hujan begini. Seperti sering dilihatnya malam ini pintu rumah itu rapat terkatup.

Mengapa harus tengah malam berhujan, pikir Listra seperti baru tersadar. Seperti tidak ada waktu lain saja. Jangan-jangan laki-laki itu berbohong, hendak mempermainkan dirinya. Bukankah laki-laki berambut gondrong memang gemar berbohong? Tetapi Listra tetap saja berdiri di sana, di ambang jendela dengan mata ditebar keluar yang dipenuhi keremangan. Listra bertekat untuk mencoba menunggunya sampai menjelang subuh. Jika tidak ada tanda-tanda kedatangannya Listra akan melupakannya, dan mengerjakan kegiatan rutinnya seperti biasa. Ia tak akan lagi berharap bahwa laki-laki itu akan menjadi tempat untuk membagi kesedihannya. Tetapi mampukah? Bukankah hanya dengan memelihara harapan yang paling mustahil sekalipun yang membuat ia bertahan?

***

Belum lama Listra tinggal di rumah ini. Bekerja mengurusi Tuan Danu yang sepanjang hari hanya duduk di kursi roda. Istrinya, Nyonya Darti yang jauh lebih muda, selalu bepergian. Kalau pulang paling lama hanya menginap semalam. Pagi-pagi sudah bergegas berangkat lagi. Bekerja jauh di luar kota . Kepulangannya hanya untuk menjenguk keadaan suaminya, memberikan uang belanja dan kebutuhan lainnya pada Listra. Listra tak pernah melihat mereka ngobrol. Laki-laki itu tak pernah menyahut jika Nyonya Darti menanyakan keadaannya.

“Kamu baik-baik saja, Sayang? Listra mengurusmu dengan baik, kan ? Aku sudah menyuruh dia mengurus semua keperluanmu. Jika ada yang kurang bilang saja. Tetapi kurasa dia anak yang rajin,” ujar Nyonya Darti seraya memijat pundak Tuan Danu. Gerakannya terlihat kaku.

“Keadaanku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir,” sambung Nyonya Darti, pagi-pagi ketika menjelang berangkat lagi. Selalu seperti itu kalimat yang diucapkan Nyonya Darti. Tampak raut muka Nyonya Darti seperti merasa bersalah. Untuk menetralkan perasaannya biasanya ia memanggil Listra.

“Listra, tolong kamu jaga Tuan Danu baik-baik. Kalau ada apa-apa telpon saya.” kata perempuan berperawakan tinggi, cantik dan tak pernah melepaskan kaca matanya ini. Namun pada matanya yang indah Listra sering melihat kegelisahan yang berkecamuk di sana . Seperti lautan penuh badai. 

“Aduh, Listra, ini lantai pesing sekali. Belum kamu pel, ya,” Nyonya Darti tampak berdiri mematut-matut diri di depan cermin. Nyonya Darti memang bukan orang jahat seperti majikan-majikan lain yang sering ia dengar dari kawan-kawannya. Tetapi buat Listra perempuan itu sungguh sulit dimengerti. Seperti menyimpan banyak sekali rahasia. Listra tak pernah berani bertanya ke mana saja ia pergi sehingga hanya pulang sekali sepekan. Pekerjaan apakah yang menyebabkanya hanya sempat pulang sekali sepekan?

“Listra, kamu sudah dewasa, kamu pasti mengerti kebutuhan perempuan dewasa seperti saya. Jadi tolong kamu jangan pernah cerita kepada siapa pun tentang teman laki-laki yang suka menjemput dan mengantar saya. Tuan Danu juga sudah mengerti, jadi kami sudah saling mengerti. Keluarga kami baik-baik saja,” ujar Nyonya Darti suatu pagi seraya menyodorkan uang belanja harian. Listra hanya mengangguk seraya mencoba menafsirkan maksud ucapan Nyonya Darti.

Baru enam bulan lalu Listra lulus dari SMA. Ketika kawan-kawannya sibuk memilih perguruan tinggi untuk melanjutkan sekolah, Listra sibuk mencari lowongan pekerjaan melalui iklan di koran-koran. Ia tak menyangka akan mendapat pekerjaan seperti yang sekarang dijalaninya. Waktu ia datang ke kantor Nyonya Darti, ia sempat terkejut mendengar penjelasan tentang pekerjaan yang ditawarkan.

“Gajimu sama besarnya dengan gaji yang diterima pegawaiku di kantor ini yang lulusan ITB,” terang Nyonya Darti. Para sarjana pun banyak yang menganggur, mengapa harus menolak mendapat pekerjaan ini? Pikir Listra. Apalagi ia bosan di rumah melihat ayah ibunya yang sering bertengkar gara-gara uang yang diperoleh ayah makin sedikit untuk memenuhi kebutuhan yang makin banyak.

Setiap pagi dengan sigap Listra mengantarkan sepiring bubur dan teh hangat tawar, memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci, lalu mengepel lantai yang kadang penuh ceceran air kencing Tuan Danu. Selebihnya Listra menonton tivi di ruang tengah. Sepanjang hari Listra menonton tivi, sambil mengunyah makanan yang tinggal ia ambil di kulkas. Menjelang sore kadang ia mendorong Tuan Danu dengan kursi rodanya ke halaman. Menemani Tuan Danu yang hanya menatap kosong, tanpa semangat. Nyala lilin yang hampir padam. Namun sisa-sisa ketampanan di wajahnya masih tampak. Laki-laki ini belum terlalu tua sebenarnya, baru enam puluh tahun. Namun keadaanya yang tidak berdaya membuatnya tampak lebih tua. Listra tidak tahu sejak kapan dan apa yang menyebabkan kakinya tak bisa digunakan untuk berjalan.

“Ke sana , Tuan?” tanya Listra menunjuk ke arah area perkuburan di seberang sungai yang kalau sore ramai oleh anak-anak yang bermain di sana. Area perkuburan yang teduh dan rapi dengan jajaran pohon kamboja tumbuh di sana . Tak jauh dari sana terdapat tanah kosong tempat bermain anak-anak dan lapangan voli. Listra menatap wajah Tuan Danu yang sunyi, tanpa ekspresi. Tanpa menunggu persetujuannya, Listra mendorong kursi rodanya ke sana . Mereka melintasi deretan rumah petak, barbershop, dan jembatan yang menghubungkan kompleks perumahan dan area perkuburan. Saat Listra melintasi rumah petak itu, ia kadang melihat laki-laki pelukis itu tengah berdiri di muka pintu, tersenyum melihatnya. Dengan gugup Listra membalas senyum laki-laki itu. Debaran di dadanya tiba-tiba mengeras.   

Ketika maghrib hampir raib, Listra mendorong Tuan Danu pulang. Iia menoleh ke rumah petak itu, laki-laki itu sudah tak ada. Pintunya rapat terkatup. Bahkan tak tampak ada nyala lampu di dalam. Listra bergegas mendorong kursi roda dengan perasaan bergemuruh. Roda kursi berputar dengan lekas. Terdengar suara kerikil terlindas roda. Beberapa daun bambu terbang melayang terseret angin semilir. Di atas kursi roda Tuan Danu terguncang-guncang laksana patung bernafas. Kadang Listra berpikir apa yang ada di kepala tuannya ini. Selalu membisu sepanjang waktu

“Listra, aku tahu kamu merasa bosan. Kamu perlu teman ngobrol.” ujar laki-laki pelukis itu suatu hari, tatkala Listra habis berbelanja dari supermarket tak jauh dari kompleks perumahan itu. Listra hanya melirik sekilas, lantas berlalu. Namun sambil berlari ia merasakan dadanya yang bergemuruh.
***
Listra masih berdiri di ambang jendela dan berpikir laki-laki itu akan membuktikan ucapannya. Derai hujan masih terdengar lembut. Lalu suara angin dan lolong anjing. Perlahan benaknya digerayangi gelisah. Di mana kamu, lelaki? Gumam Listra. Ucapanmu membuat malam-malamku tak tenteram. Ia benar, betapa Listra memang merasa bosan dan membutuhkan teman yang tidak hanya duduk dengan tatapan mata selengang kuburan dan kencing berceceran. Listra melenguh, tiba-tiba ia merasa nasibnya begitu sedih dan merana, kosong. Jemarinya gemetar mencengkram bingkai jendela yang basah. Matanya mengerjap-ngerjap resah. Lelah ia menjulur-julurkan lehernya ke luar, melihat jalanan yang makin sunyi.

Perlahan Listra menarik daun jendela dengan harapan yang hampir pupus. Matanya mulai digayuti kantuk. Namun ketika daun jendela itu hampir mengatup, tiba-tba tertahan menyentuh bingkainya. Sepasang tangan menyeruak dari kegelapan. Lalu muncullah wajah laki-laki yang dinantikannya. Namun wajah itu tidak seramah dan selembut hari-hari yang lalu. Matanya menyorot tajam, dingin dan menakutkan. Listra mundur dan terjerembab ke kasur. Listra belum sepenuhnya sadar apa yang sedang terjadi ketika laki-laki itu tiba-tiba menghajar tengkuknya. Selebihnya Listra tak ingat apa-apa lagi. Listra hanya ingat ketika besoknya tersadar ia mendapati seisi rumah berantakan. Televisi, telepon, dan seluruh perabotan serta uang yang ia simpan di laci lemari amblas dirampok. Di kamarnya, Tuan Danu masih duduk teronggok dengan ekspresi yang tak berubah: kosong dan sunyi.***
 
Radio Dalam, Juni 2007

Comments