Tukang Patri

pernah disiarkan Tabloid Nova, Juli 2009
ilustrasi diambil dari djawatempodoeloe.multiply.com

Tukang patri itu tak kunjung lewat. Dinggi duduk gelisah di depan pintu menunggunya. Apakah dia sakit? Pikir Dinggi. Dia membayangkan tukang patri itu terseok-seok mengayuh sepeda ontelnya di bawah terik matahari, menyusuri jalanan perkampungan yang sunyi. Permukaan jalan yang buruk dan berbatu membuat sebuah kotak kecil seukuran kaleng kerupuk di boncengannya berguncang-guncang dan menimbulkan bunyi gemelotak. Biasanya pukul dua siang tukang patri itu sampai di kampung ini, melintas di jalan depan rumah Dinggi. 
Tetapi hari ini sudah hampir tiga jam Dinggi menunggunya. Tukang patri itu tak juga muncul. Benar kata ayah, pikir Dinggi, sesuatu kalau ditunggu-tunggu malah lama. Seolah sengaja membuat kita kesal. Sombong, merasa dibutuhkan. Coba kalau tidak ditunggu, seakan menyodor-nyodorkan diri di depan mata.
Tukang patri, tukang patri. Apakah kamu sengaja tak muncul supaya aku merasa kesal? Keluh Dinggi dalam hati. Matanya menyorot lagi ke utara, arah biasa tukang patri itu muncul dengan teriakan yang khas, “Patriii…”. Dinggi menjulur-julurkan kepalanya ke jalan. Sepi. Apakah karena belakangan tak ada orang yang menambal panci? Beberapa hari ini Dinggi memang melihat tukang patri itu hanya lewat, dan duduk beristirahat di bawah pohon arbasia sebelah warung bik Marsih dekat pertigaan, minum teh manis, merokok, seraya mengipas-ngipaskan topi pandan yang telah jebol-jebol pinggirnya, menunggu orang menambalkan panci yang tak pernah datang.
Tak mungkin tukang patri itu sengaja membuatku kesal, sergah Dinggi. Dia baik, tak pernah melarang anak-anak menonton dia bekerja. Sekalipun kadang kehadiran anak-anak itu membuat konsentrasinya bekerja terganggu. Tukang patri itu suka menatap mata Dinggi dengan sorot mata penuh sayang. Dinggi suka sekali memperhatikan tukang patri itu bekerja.
Mula-mula tukang patri itu menurunkan kotak kecil dari boncengan. Diambilnya dingklik dari dalam kotak. Dia duduk di dingklik, di sebelah kotak yang berisi alat-alat kerjanya. Dikeluarkannya tungku yang terbuat dari kaleng yang dibentuk menyerupai toa dari dalam kotak. Tungku ini unik sekali. Ada roda pemutar baling-baling di dalamnya untuk mengipasi potongan arang yang menyala memenuhi mulut tungku. Bila arang di dalam tungku itu berubah menjadi bara, dimasukkanlah batang besi ke dalam tungku untuk dipanaskan. Batang besi itu disambung dengan kayu sebagai pegangan. Bila ujung besi tampak memerah, batang besi diangkat dan digunakan untuk melumerkan timah. Lumeran timah itu yang dipakai untuk menambal panci, ceret, dandang, rantang, atau apa saja alat-alat dapur yang terbuat dari logam, seng, atau alumunium yang bolong dengan cara mengoleskannya sehingga rapat dan bisa dipergunakan kembali.
Memakan waktu cukup lama bara di dalam tungku memanaskan batang besi. Tukang patri itu harus memutar tuas di roda pemutar baling-baling agar api di dalam tungku itu tetap menyala sehingga batang besi lekas panas dan tampak merah. Kalau belum memerah batang besi tidak akan mampu melumerkan timah. Ketika tuas diputar, besi diangkat, dan melumerkan timah, inilah saat yang paling menarik perhatian Dinggi. Bersama kawan-kawannya Dinggi jongkok merubung tukang patri yang sibuk bekerja. Kedua mata tukang patri itu seakan sudah kebal percikan bara dan abu dari mulut tungku. Sesekali dia menyeka butir keringat yang tampak meleleh di pelipisnya. Paras wajahnya tak pernah tampak lelah meski banyak sekali barang-barang bolong yang harus ditambal.
Timah yang keras itu luluh mencair seperti embun saat disentuh batang besi yang membara.  Lumeran timah dioleskan ke bagian panci atau ceret atau rantang yang bolong. Sebelum ditambal, sekitar bagian yang bolong terlebih dulu diamplas hingga halus supaya lumeran timah menyatu dengan panci. Selain menambal alat-alat dapur yang terbuat dari logam, piring porselen yang retak pun bisa diservis tukang patri hingga rekat kembali. Maka kedatangan tukang patri selalu ditunggu ibu-ibu yang memiliki alat-alat dapur mereka yang bolong.
Dinggi ingin sekali memanggil tukang patri ke rumahnya. Tapi panci dan alat-alat masak di dapurnya tidak ada yang bolong.  “Bu, kenapa kita tidak punya panci yang bolong?” keluh Dinggi pada ibunya.
“Tentu saja, Dinggi. Karena panci-panci itu baru ibu beli. Panci dan ceret yang bolong kemarin sudah ibu berikan ke pemulung.”
            “Kenapa diberikan ke pemulung?” protes Dinggi, “Aku bisa tambalkan ke tukang patri.”
“Kenapa ditambal, kalau kita bisa beli yang baru,” kata ibunya.   
Begitulah, tak ada panci, ceret, dandang, rantang, dan peralatan dapur lainnya yang bolong di rumah Dinggi. Jadi Dinggi hanya bisa menonton tukang patri itu bekerja dari belakang. Yang di depan adalah anak yang ibunya menambalkan panci. Hampir semua ibu teman-temannya pernah menambalkan alat-alat dapur mereka yang bolong ke tukang patri.
Berhari-hari Dinggi membongkar-bongkar gudang belakang rumah. Dia menemukan rak besi yang salah satu rangka kakinya keropos. “Ini bisa diservis tukang patri, bu,” kata Dinggi.
“Rak itu tidak dipakai lagi, Dinggi, sudah karatan. Kita sudah beli gantinya kan, rak aluminium itu,” sahut ibunya. Di dapur rumahnya yang luas, berlantai keramik tampak rak aluminium antikarat. Berdiri anggun di antara kulkas dan meja makan dari kayu jati berukir. Ibu baru membelinya pekan lalu.
Dinggi mendesah kecewa. Tapi dia belum menyerah, terus sibuk mencari alat-alat dapur yang bolong. Dia periksai semua wajan, panci, dandang, nampan, piring-piring kaleng. Ibunya sampai heran melihat ulah anaknya yang cuma satu ini. Gudang yang sudah dirapikan jadi berantakan. Bukannya belajar atau nonton televisi, malah senangnya melihat tukang patri. Apa sih menariknya lihat orang matri?
Setelah cukup lama mencari sampai baju dan mukanya kotor kena debu, akhirnya Dinggi  menemukan rantang yang bolong di rak paling bawah. Rantang terbuat dari kaleng itu bolong di bagian lekukan sisi bawahnya. Wajah Dinggi berseri-seri. Penuh semangat dibawanya temuan itu kepada ibunya,
“Akan kutambal rantang ini ke tukang patri,”
“Buat apa ditambal, Nggi. Yang baru saja jarang dipake,” tukas ibunya.
“Akan kupakai untuk wadah pakan ayam, bu,”
“Wadah plastik itu nggak cukup?” 
“Pokoknya, akan aku tambal ke tukang patri. Cuma seribu. Biar pake uangku,”
Ibunya tak menyahut lagi. Perempuan itu tampak menahan sesuatu di dadanya. Serupa desir yang merayap pelan-pelan. Tapi dia tahu Dinggi tak bisa dicegah. Anak itu keras kepala seperti bapaknya. Dia cuma berpesan, tidak perlu mendatangi tukang patri di pertigaan, tunggu saja sampai lewat di depan rumah.
“Ibu mau ke rumah wak Liman, kamu tunggu rumah baik-baik. Kecuali kalau ayah pulang lebih cepat.” kata ibunya. Sekalipun sedikit kesal, Dinggi merasa agak lega.
Hampir pukul tiga sore. Tukang patri itu belum juga muncul. Mungkin banyak ibu-ibu yang menambal panci di pertigaan warung bik Marsih, pikir Dinggi, gusar. Dinggi  ingin lekas ke sana saja rasanya membawa rantang yang bolong. Tapi ayah belum juga pulang. Sampai pukul empat ayah tak juga pulang. Akhirnya Dinggi mengabaikan pesan ibunya, dia nekat menguci pintu dari luar dan melangkah setengah berlari ke pertigaan menenteng rantang yang siap ditambal. Rambut ikalnya yang kuncir bagai ekor kuda bergerak-gerak jenaka. 
Benar, tukang patri itu tengah sibuk bekerja. Rupanya banyak sekali ibu-ibu yang menambal alat-alat dapurnya yang bolong. Dandang, panci, ceret, rantang, wajan, piring seng, mug kaleng, berderet mengelilingi tukang patri. Ibu-ibu itu menunggu giliran sambil duduk-duduk dan makan gorengan di warung bik Marsih. Sementara anak-anak mereka jongkok merubung tukang patri. Dinggi terpaksa harus ngantri paling belakang. Dia tidak bisa melihat lebih dekat ke tukang patri.  
“Mau nambal apa, Dinggi?” tanya seorang ibu.
“Rantang,” sahut Dinggi cepat.
“Bukankah rantang di dapurmu bagus-bagus?”
“Ini untuk wadah pakan ayam,”
“Ibumu yang menyuruh?”
Dinggi mengangguk ragu-ragu. Dinggi agak heran sekaligus kesal, kenapa sih orang-orang seperti merasa aneh melihat dia menambal rantang. Seolah-olah dia tidak boleh ikut-ikutan menambal rantang yang bolong. Seakan hanya mereka yang boleh punya panci bocor. Lalu lamat-lamat didengarnya mereka menyebut-nyebut nama ayah dan ibu, tukang patri, mata duitan. Di antara ketidak mengertiannya Dinggi pernah mendengar cerita orang, dulu, sebelum menikah dengan ayah, ibu punya hubungan dengan tukang patri.
Dinggi ingat kata ayah tentang orang-orang sulit yang dimengerti, tentang para tetangga yang sukanya iri hati. Dengan mata berbinar dia terus mengamati tukang patri bekerja. Dari jarak dua meter Dinggi tidak bisa melihat dengan jelas saat timah itu meleleh disentuh besi yang membara. Ah, jika saja punya tungku semacam itu, pikir Dinggi.
Sampai menjelang magrib antrian baru menyurut. Tapi sayang, rantangnya tak bisa ditambal. Tukang patri bilang, timah buat nambalnya habis.
“Besok saya kemari lagi,” kata tukang patri seraya mengemasi alat-alat kerjanya.
“Besok bisakah datang ke rumah saya, pak?” kata Dinggi, “di ujung dekat jembatan sana, warna merah jambu.” Tukang patri mengangguk.
**
Sampai pukul tiga tukang patri tidak juga muncul. Ibu melarang Dinggi menemuinya ke pertigaan gara-gara kemarin Dinggi telat pulang dengan tangan hampa. Dengan nada sedikit tinggi ibunya juga bilang tidak perlu menambal rantang.
Pukul setengah empat tukang patri itu muncul, dia menuntun sepedanya. Dinggi bangkit, menyambutnya girang. Ketika itulah ibunya muncul dari dalam rumah. Beberapa detik ibunya saling tatap dengan tukang patri itu. Seperti ada rahasia di antara mereka. Sejurus kemudian tukang patri itu urung menambatkan sepedanya. Dia tampak bergegas menaiki sepeda ontelnya, dan berlalu meninggalkan Dinggi yang berteriak-teriak memanggilnya…

Cirebon, Januari 2009

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka