Tukang Ramal


pernah disiarkan Seputar Indonesia, 15 Februari 2009 
gambar diambil dari deviantart.com

Tukang ramal itu berjalan melintasi gang demi gang di permukiman padat. Dia melangkah tersaruk-saruk di gang yang kotor oleh debu dan sampah plastik bekas bungkus jajan anak-anak. Sepanjang gang memang ramai oleh anak-anak yang berlarian ke sana kemari sambil menjerti-jerit riuh seperti suara petasan. Beberapa kali tubuhnya terhuyung hampir jatuh terlanda anak-anak itu. Untunglah dia membawa tongkat sehingga bisa bertahan dan terus menyeret kakinya. Dia tidak mau jatuh tersungkur seperti kemarin kemarin dan menjadi bahan tertawaan anak-anak sialan itu. Sesekali disekanya peluh yang meleleh di dahinya. Sekali waktu dia mengangakat wajahnya, melihat gang di depannya yang masih panjang yang harus dilaluinya. Dia menarik napas berat. Jarak sama yang ditempuhnya kali ini terasa begitu jauh. Dia merasakan sendi-sendi tubuhnya mulai panas. Demikian juga tungkai kaki dan pinggangnya terasa nyeri.   

Hari mulai redup. Kini gang yang dia lalui tidak seramai tadi. Dia berharap melihat sebuah teras atau gardu yang sepi untuk sekadar istirahat sejenak.  Namun sampai tungkai kakinya gemetar, teras maupun gardu yang diharapkannya tak juga tampak. Kalaupun ada ia sudah dipenuhi oleh orang-orang yang nongkrong main catur sambil ngobrol ngalor ngidul. Dia tidak sedang ingin meramal siapapun. Dia hanya ingin istirahat sejenak, memijit betisnya tanpa ada yang mengganggu. Ah, siapa pula yang minta diramal hari ini? Sudah lama orang-orang tak lagi membutuhkan tukang ramal untuk meramal nasib mereka. Sebab masa depan mereka sudah jelas: kelam tanpa harapan.

Dia hampir sampai di ujung gang. Dari sana dia akan berbelok ke kanan. Masih ada beberapa gang lagi yang harus dia lalui. Di belokan itu dia melihat sebuah gardu yang sepi. Dia akan istirahat sebentar di sana. Menghabiskan sisa air minum dalam botol plastik yang dibawanya. Tapi tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang membuntuti langkahnya. Seorang lelaki berbaju lusuh, bermata keruh.

“Kau membuntutiku, anak muda?”
“Apakah kau tukang ramal itu?” sahut lelaki itu balik bertanya seraya menatapnya tajam.
“Saya tidak sedang ingin meramal. Pergilah…” tukasnya.
“Tapi saya sedang butuh diramal. Tolonglah…”  lelaki itu menghiba.

Dia tahu tidak semestinya menolak orang yang ingin dia ramal. Karena bukan saja menolak rejeki tapi berarti juga tidak menghargai kepercayaan yang diberikan orang padanya, pada keahliannya meramal. Bukankah ini yang carinya untuk mendapatkan upah? Pekerjaan yang tidak saja menghidupinya tapi juga membuatnya bangga, namun telah hilang bersama masa lalu yang menjauh.

“Kisanak, saat ini saya sedang letih sehabis bepergian jauh. Saya tidak bisa meramal dalam keadaan seperti ini,” ujarnya mencoba menjelaskan.

“Tolonglah, kau pasti bisa melakukannya. Ayolah sebentar saja,” lelaki yang dia taksir berusia 35 tahun itu terus menghiba. Wajahnya memelas membuat dia terenyuh.
“Nanti ramalanku meleset,”
“Tidak. Ramalanmu tidak akan pernah meleset. Banyak orang yang sudah membuktikannya. Ayolah ramal masa depanku…” pinta lelaki itu terus menghiba membuat dia merasa begitu terharu. Betapa sudah lama dia merindukan orang yang menghargai keahliannya meramal. Adakah masa lalunya akan kembali?

Maka dibawanya lelaki itu duduk di gardu yang sepi. Dimintanya telapak tangan lelaki itu. Sebelum dia konsentrasi membaca garis-garis di telapak tangan lelaki itu, dia menatap wajah kuyu dan berdebu lelaki itu. Wajah yang mengisyaratkan kemiskinan dan penderitaan berlarut-larut.

“Kenapa kamu ingin diramal anak muda? Dari mana kamu tahu saya bisa meramal dengan tepat?”
“Dari majikanku,”
“Siapa dia?”  

Laki-laki itu lantas bercerita tentang majikannya. “Marwan. Dulu dia seorang pemulung yang datang dari kampung yang jauh. Dia begitu papa dan hina sehingga makan pun dari sisa-sisa orang yang dia pungut dari tong sampah.  Menurutnya suatu hari dia datang padamu minta diramal tentang masa depannya. Kau bilang dia bakal jadi saudagar. Ramalanmu benar-benar terbukti.  Sekarang  dia menjadi saudagar rongsokan kaya raya.”

Dia manggut-manggut seraya berusaha mengingat-ingat orang yang dimaksud oleh lelaki di depannya ini, tapi tak berhasil. Terlalu banyak orang yang datang padanya minta diramal. Dan hampir semua orang yang pernah diramal olehnya membuktikan keampuhan ramalannya. Itu yang membuat namanya kondang sebagai peramal. Bukan hanya rakyat jelata yang datang minta diramal, tapi juga artis sinetron, biduan dangdut, dan kyai.  Tapi yang paling banyak adalah para pejabat dan pengusaha, atau pejabat sekaligus pengusaha. Dia tidak hanya mampu meramal masa depan yang jauh. Tapi juga masa yang tidak terlalu jauh. Misalnya dua atau tiga tahun di depan. Bahkan dua bulan menjelang.  Banyak pejabat yang minta diramal tentang karirnya dua tahun yang akan datang. Para pengusaha minta diramal apakah bulan depan menang tender, apakah ia segera dapat istri baru. Biduan dangdut dan pemain sinetron minta diramal apakah albumnya bakal meledak  dan kontraknya akan diperpanjang, dan lain-lain. Rumahnya selalu penuh oleh orang-orang yang ngantri minta diramal.

Mereka yang membuktikan kebenaran ramalannya akan datang lagi pada dia sambil membawa buah tangan supaya mereka kembali diramal tentang masa depannya yang bagus-bagus. Karena kebanyakan mereka merasa puas dengan ramalannya, namanya terus melejit. Maka makin berbondong-bondonglah orang yang datang padanya minta diramal. Dan limpahan uang dan oleh-oleh dari mereka yang diramal membanjiri rumahnya. Tapi itu dulu, dulu sekali. Semua sudah berlalu. Sekarang sekalipun dia menjajakan diri menawarkan jasanya meramal dari pintu ke pintu, orang tak lagi tertarik mendengar ramalannya.   
“Kisanak, maukah kamu saya ramal. Tolonglah, saya sungguh-sungguh butuh meramal supaya saya bisa makan.” Orang-orang hanya melengos atau menatapnya dengan iba.

 “Kalau kau mau, ini kami punya sisa makanan, terimalah. Tapi kami tak perlu ramalanmu,” kata orang-orang yang dia datangi rumahnya.
“Kami sudah tahu masa depan kami yang suram dan tanpa harapan. Meski berkali-kali pemimpin berganti. Partai-partai tumbuh bagai cendawan di musim hujan. Tapi kami tahu masa depan kami akan tetap seperti hari ini,”

Tidak pernah terbayang olehnya bahwa dia akan mengalami penolakan yang menyakitkan serupa itu. Hidup terlunta-lunta. Dia tidak punya kepintaran selain meramal. Sehingga meski berat dia terpaksa menadahkan tangan meminta belas kasihan untuk mempertahankan sisa hidupnya.

“Bukannya kami tidak ingin diramal, tapi sebagus apa pun kau ramal masa depan kami tetap saja masa depan kami seperti sekarang, atau bahkan lebih kelam. Jadi pergilah, ini sekadar buat bekal perjalananmu, wahai nenek peramal.”

Harta bendanya di gudang satu persatu dia jual sampai habis ludas sebelum rumahnya yang besar ditukar dengan bahan-bahan makanan yang kini telah habis pula. Dia kini terpuruk di kamar kontrakan yang gentingnya bocor dan bolong-bolong dindingnya. Setelah letih tersuruk-suruk menjajakan diri menawar-nawarkan jasa meramal, di sanalah dia berbaring seorang diri, di antara primbon-primbon dan kitab ramalan yang mulai lapuk dan rusak kena cipratan hujan.  Menggulung tubuh ringkihnya dengan selimut yang sekaligus berfungsi menjadi alas tidur.  Merenungi nasibnya yang begitu buruk yang sama sekali tak pernah teramal olehnya di masa lalu. Sebenarnya bukan tak teramal, melainkan dari dulu dia memang tidak pernah berani meramalkan nasibnya sendiri. Sebab sekali waktu dia melakukan hal itu, dia melihat suaminya pergi dengan perempuan lain meninggalkannya. Beberapa waktu kemudian ramalan itu benar-benar terjadi. Sejak itu dia takut meramal masa depannya sendiri. Seandainya dulu dia mau meramal masa depannya sendiri tentulah nasibnya tidak akan seburuk ini. Setidaknya dia bisa sedikit menabung, tidak menghambur-hamburkan uangnya.

“Bagaimana, Nek? Bagaimana nasib saya di masa depan?”

Dia tergeragap dari lamunannya.

“Ramallah masa depan saya yang cerah, menjadi saudagar kaya raya, memiliki supermarket dan rumah di mana-mana. Ayolah Nek, tolong jangan bilang masa depan saya suram. Bukankah kata mereka kau tidak pernah meramal buruk masa depan orang? Bukankah pada setiap orang yang datang minta diramal kau selalu mengatakan bahwa mereka memiliki masa depan yang indah dan bahagia?  Ayolah, Nek, saya sudah capek hidup kere. Akan saya berikan seluruh tabungan yang saya kumpulkan bertahun-tahun bila kau ramalkan nasib saya cerah di masa depan” laki-laki itu terus nerocos.

“Sabarlah anak muda, saya baru akan mulai,”

Lelaki itu tertegun dengan dada berdebar-debar,  tampak tak sabar menunggu. Dia berharap akan keluar dari mulut nenek peramal itu tentang masa depannya yang cerah. Menjadi pengusaha sukses, punya pabrik dan apartemen. Tapi harapannya kandas.

“Saya tidak bisa membaca garis tanganmu, anak muda. Maaafkan saya,”
“Kenapa tidak bisa, Nek? Kau harus bisa meramal masa depanku yang cemerlang. Ayolah, Nek, kau katakan saja bahwa masa depanku memang benar-benar cerah penuh harapan. Percayalah kalau saya kaya raya akan saya beri apa pun yang kau minta. Kau bisa segera meninggalkan kamar kontrakanmu yang bocor dan bau apak, kau tidak perlu lagi terlunta-lunta menawar-nawarkankan jasa meramal masa depan orang….” Lelaki itu terus mendesak seperti kesetanan.

“Maaf anak muda. Garis tanganmu sungguh-sungguh tak terbaca,” ujarnya, mulai ketakutan melihat lelaki itu yang tampaknya mulai marah, “oh tuhan selamatkan saya,” ujarnya dalam hati. Mulutnya komat kamit berdoa.

“Kenapa kau tega tak mau meramal masa depanku, hai nenek peramal,” Lelaki itu terus merangsek, mencengkram dan mengguncang-guncang tubuh nenek peramal. Dia mau meraih tongkat dan ingin segera pergi, tapi lelaki itu tak membiarkannya. Dia merasakan lelaki itu mencekik lehernya. Susah payah dia meronta.

Ketika malam tiba, orang-orang menemukan mayat perempuan tua itu telungkup di gardu ronda seperti mendekap masa lalunya.

Pondok Pinang, Oktober 2008

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka