Pacar-Mantan Suami


pernah tayang di Majalah D'SARI nomor perdana, Februari 2009 dengan judul Lisabona
Setelah mengungkapkan rahasia yang selama ini disimpannya rapi-rapi, Alex menghempaskan punggungnya ke sofa. Matanya mengawasi ekspresi wajah Lisabona. Dengan tegar, Alex ingin melihat bagaimana reaksi Lisabona setelah mengetahui laki-laki macam apa dirinya. Alex pasrah apa pun risiko yang bakal diterimanya setelah ini, termasuk yang paling buruk sekalipun: Lisabona memutuskan hubungan dan meninggalkannya! Betapa pun bencinya pada perpisahan, tapi Alex tahu, ini mungkin lebih baik bagi mereka berdua.
Sekian menit Alex menunggu, Lisabona tidak memperlihatkan reaksi apa pun. Kecuali, hanya duduk tercenung dengan wajah diletakkan pada kedua telapak tangannya. Seakan hendak menyembunyikan bentuk wajahnya yang oval mungil di antara lentik  jemari tangannya. Sorot  matanya menerawang, namun datar belaka. Hampir tidak menampakkan keterkejutan, apalagi reaksi berlebihan. Sebelumnya, Alex membayangkan Lisabona akan menangis karena kecewa berat dan membencinya, lantas marah besar, untuk kemudian memutuskan hubungan.  
“Aku pasrah kalau kamu mau marah dan mengakhiri hubungan denganku. Akan aku terima apa pun sebagai sebuah resiko yang harus aku tanggung, Lis,” ujar Alex, getir.
Lisabona mengerjapkan matanya. “Tidak ada perlunya marah. Aku memang kecewa, tapi hanya sedikit,” kata Lisabona dengan suara rendah. ”Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Mungkin, sikapku jadi berubah padamu setelah ini, tapi kurasa, tidak terlalu banyak. Aku tetap mencintaimu atas dasar pikiranku,” kata Lisabona dengan suara hampir tanpa beban kesedihan. “Aku justru heran kenapa kamu harus menyimpannya sekian lama? Seakan aku ini perempuan dari masa lalu yang tidak tahu dunia luar,” kata Lisabona antara kesal dan lega.
Sudah lama, Alex ingin mengatakan persoalan yang dihadapinya ini kepada Lisabona secara santai. Mungkin, sambil mengisap rokok dan menikmati secangkir kopi di beranda menjelang sore. Ketika Lisabona tampak begitu segar seusai berendam di bathtub setelah bangun dari tidur lewat tengah hari. Mereka bisa menikmati saat-saat seperti itu hanya pada hari libur.
Namun, entah sudah berapa kali, kesempatan yang ditunggu seperti itu lewat begitu saja. Alex selalu merasa waktunya kurang tepat, sehingga selalu tertunda-tunda sampai sekian lama. Berulang kali, manakala Alex merasa menemukan waktu yang tepat, ia justru dilanda ketakutan akan risiko yang bakal diterimanya. Alex takut melihat Lisabona menangis begitu mendengar pengakuannya. Bagi Alex, tak ada yang lebih membuat perasaannya teriris ketimbang melihat perempuan menangis. Terlebih perempuan itu Lisabona, orang paling dekat dalam hidupnya. Lebih teriris lagi jika Alex yang menjadi penyebab perempuan itu menangis. Sekalipun Lisabona adalah tipikal perempuan kota besar yang cerdas dengan pergaulan luas, terpelajar, aktif, tegar, mandiri, teguh dalam sikap, dan berpikiran rasional, Alex tetap saja ragu bahwa Lisabona akan sanggup mendengar kenyataan tentang dirinya.
“Aku mencintaimu bukan berdasarkan perasaanku, Alex. Melainkan pikiranku,” ujar Lisabona suatu kali setelah mereka beberapa kali bertemu. Alex mengerti maksud kalimat itu. Lantaran merasa nyaman dan cocok, tak lama setelah itu. dia memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Lisabona. Mereka sepakat memegang komitmen untuk saling setia dan menyayangi. Keduanya memilih tinggal bersama di sebuah apartemen yang disewa secara patungan.
Meski Lisabona bukan pekerja kantoran, namun kesibukannya melebihi orang kantoran yang terikat aturan jam kantor. Berangkat pukul sebelas siang dan pulang hampir selalu tengah malam, bahkan kadang menjelang subuh. Saat berada di rumah pun, tak jarang, Lisabona tetap berkutat dengan laptopnya. Kadang, dua sampai dengan tiga hari, Lisabona tak pulang dan cukup memberi kabar kepada Alex bahwa dirinya tak bisa pulang. Alex tak keberatan. Dia percaya, Lisabona memegang komitmennya baik-baik.
Pagi hari setelah sarapan sendirian, kerap kali, Alex bahkan menyiapkan pula setangkup roti dan segelas susu cokelat untuk Lisabona, mencium Lisabona yang masih lelap sebelum dia berangkat ke kantor. Selama empat tahun, semuanya berjalan baik-baik saja. Dengan kondisi seperti itu, Alex yakin, Lisabona tidak pernah mencurigai sedikit pun rahasia yang rapi-rapi Alex simpan. Namun, justru itulah masalahnya. Alex dikejar-kejar perasaan bersalah. Ia ingin mengatakan, tapi selalu tak sampai hati. Alex ingin Lisabona yang lebih dulu bertanya. Tetapi, rasanya, itu tak mungkin terjadi. Seandainya Lisabona yang bertanya, Alex akan mengatakan sejujur-jujurnya. Tapi, Lisabona tak pernah bertanya. Sepertinya, dia yang menunggu Alex mengungkapkannya.
***
Jika tahu reaksi Lisabona sebijak ini, tentu sudah sejak lama Alex mengungkapkan rahasia yang membuatnya merasa lelah karena harus berpura-pura terus dari tahun ke tahun.
“Benar kamu tidak membenciku, Lis?” Alex bertanya penuh nada heran campur lega.   
“Tentu tidak, Lex. Sedikitpun tak ada keinginan di hatiku untuk membencimu,” kata Lisabona, enteng.
“Terima kasih, Lisa. Tak salah aku memilihmu,”
“Sekarang, bolehkah aku tahu siapa yang menjerat hatimu?”
“Benarkah kamu juga tidak akan membenciku jika kukatakan,”
“Kamu masih meragukanku, Lex?” Lisabona memegang pundak Alex. Menatapnya tajam-tajam seakan ingin meyakinkan bahwa tidak ada lagi yang perlu disimpan sendirian.
Alex balas memandang Lisabona dengan pikiran terbang pada wajah Dewanto. Alex bertemu lelaki itu saat keduanya menghadiri pembukaan pameran lukisan. Pria asal Banyuwangi yang lugu itu telah menawan hatinya. Berkulit kelam dengan garis rahang yang tegas. Sangat manis kala tersenyum. Ia bercerita pernah menikah dengan perempuan. Namun, tak berapa lama.  Karena, mana ada perempuan yang tahan hidup dengan laki-laki yang tak bisa memberi kehangatan di tempat tidur. “Aku mencintainya, Lex. Tapi, heran, aku tak berdaya mencumbunya,” kata Dewanto saat mereka berdua saja di dalam kamar hotel di Bali.
Alex dan Dewanto suka menghabiskan waktu berdua menyusuri pantai, duduk berlama-lama menikmati es kelapa muda di warung tenda. Mereka sepakat merahasiakan hubungan ini.
“Kamu yakin, Lisabona tidak tahu, Lex?”
“Tentu saja.”
“Kalau kamu diminta memilih, aku atau Lisa?”
“Aku tidak mau kehilangan seorang pun dari kalian.”
“Hm.”
“Seandainya bisa, tentu, aku mau kita tinggal bersama.”
“Gila kamu, Lex! Dia jangan pernah tahu. Atau, aku akan meninggalkanmu.”
“Kalau dia bisa menerima, kenapa tidak?”
“Sampai kapan pun, jangan pernah, Lex!”
Alex sempat terkejut sebentar mendengar pengakuan Dewanto. Setelah itu, Alex berjanji memenuhi permintaan Dewanto untuk merahasiakannya dari Lisabona.   
Dan, benarkah sekarang dia mengingkari janjinya itu? Setelah Alex mengungkapkan rahasia terbesarnya kepada Lisabona, mestinya tidak ada lagi kesulitan bagi Alex menceritakan siapa lelaki yang menjerat hatinya. Ya, tentu saja seandainya laki-laki itu bukan Dewanto.    
Semula, Dewanto tak mau mengatakan kenapa harus merahasiakan dirinya dari Lisabona, sekalipun Alex telah mengungkapkan persoalan yang dihadapinya.
“Tapi, kenapa, To?”
“Dia mantan istriku!”
***
“Kamu yakin akan baik-baik saja seandainya kukatakan siapa dia, Lis?” Suara Alex terdengar lirih dan bergetar.
“Kalau kamu masih mempercayaiku, katakan saja. Jangan berbelit-belit!”
“Tapi, tidak sekarang, Lis! Akan tiba saatnya nanti.”
Lisabona tertawa sinis.
“Jangan marah, Lis. Aku butuh waktu. Tolong mengerti.”
***
Di kafe menjelang magrib, Lisabona duduk berhadapan dengan Dewanto.
“Jangan kamu rebut dia dariku,” kata Lisabona.
“Tidak, Lis. Alex kawan yang baik.”
“Jangan temui dia lagi, sebagai kawan sekalipun!”
“Aku tak akan merebutnya darimu, Lis!”
“Aku tidak mau didustai dua kali!”

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka