Bali yang Santun, Hatten Wines yang Harum


Iwan Dharmawan (Kiri) dan Ida Bagus Rai Budarsa

Beberapa waktu lalu, ketika saya ke Bali untuk urusan pekerjaan, saya sempatkan menghadiri sebuah diskusi di Dapur Olah Kreatif, sebuah tempat seniman Bali dari beragam disiplin seni kongkow dan ngobrol. Pujangga Wayan Jengki Sunarta merupakan salah satu seniman yang kerap nongkrong di sana. Salah satu tujuan saya ke padepokan beralamat di Jalan Drupadi 54 Renon,  Denpasar itu memang untuk bertemu dengan pengarang buku ‘Perempuan yang Menikahi Keris’ itu.
Tapi yang ingin saya ceritakan kali ini bukan tentang pertemuan saya dengan Wayan. Juga bukan ‘perjuangan’ saya yang rada berbelit untuk menemukan padepokan yang merangkap kedai nasi itu.  Melainkan jalannya diskusi yang berlangsung pada malam hari itu. Menurut Wayan, di Dapur Olah Kreatif tidak hanya untuk diskusi perihal sastra, musik, seni rupa, serta bidang-bidang seni lainnya, tapi apa saja, termasuk hukum, ekonomi, dan politik. Gubernur Bali Made Mangku Pastika bahkan pernah secara mendadak bertandang dan menggelar diskusi dengan seniman seniman di sana.
Ketika saya datang ke sana malam itu, misalnya. Mereka tengah menggelar diskusi tentang Hatten Wines, sebuah merek anggur lokal Bali. Dengan suguhan anggur yang jadi topik diskusi, malam itu pendiri Hatten Wines Ida Bagus Rai Budarsa membeberkan sejarah perjalanan produk minuman, tentu termasuk strategi pemasaran dan desain kemasan. Kemudian, seperti lazimnya diskusi, masuklah sesi tanya jawab.
Inilah yang cukup unik. Novelis Iwan Dharmawan, sang moderator, tidak mempersilakan hadirin mengajukan pertanyaan atau tanggapan. Melainkan dia yang menunjuk orang-orang tertentu untuk bertanya atau memberi tanggapan atawa testimoni, dan hampir tidak memberi kesempatan kepada yang lain. Sehingga hadirin, termasuk saya, harus rela hanya jadi pendengar sambil mencicipi anggur yang ternyata lezat dan harum itu. Saya tidak tahu dan tidak sempat bertanya kepada Wayan, apa memang demikian tradisi disuksi di padepokan Dapur Olah Kreatif?    
Waktu diskusi hampir ditutup, terpaksa saya berdiri dan menunjukan tangan tinggi-tinggi supaya diberi kesempatan bertanya. Syukurlah, saya akhirnya diberi waktu. Saya pernah mendengar tentang karakter orang Bali yang santun dan pemaaf. “Long Road to Heaven”, film garapan Nia Dinata tentang Bom Bali yang pernah saya tonton menggambarkan karakter lembut orang Bali. Wayan, yang diperani Alex Komang, seorang sopir taksi melampiaskan kemarahan pada diri sendiri saat berlangsung persidangan pelaku Bom Bali.
Apakah karakter orang Bali yang santun dan pemaaf itu yang membuat diskusi malam itu terasa jadi hambar? Semoga saya punya kesempatan menanyakannya pada Wayan Jengki Sunarta.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka