Lebaran dan Sampah di Linggarjati


Si tengah dan si bungsu


Hari keempat lebaran, tepatnya Rabu (22/8) saya bersama si tengah dan si bungsu serta ibu mereka berangkat ke tempat wisata Linggarjati, Kuningan, Jawa Barat. Perjalanan wisata ini bagi saya sangat bersejarah mengingat inilah pengalaman pertama saya mengendarai sepeda motor dengan jarak lebih dari 30 kilometer dan membonceng tiga nyawa. Ini memang perjalanan nekat.
Kami berangkat dari rumah tepat tengah hari, di saat matahari tengah garang-garangnya membakar bumi. Saya menyelubungi seluruh kepala saya dengan helm dan slayer untuk melindungi dari debu dan sengat matahari. Tentu saja saya tidak mengambil jalur pantai laut utara (Pantura), melainkan jalur selatan yang tidak terlalu sibuk dan agak rindang, terutama saat memasuki daerah Cipeujeuh, Beber, Cilimus. Pemandangan sepanjang jalan juga memberi sensasi lain. Hijau rimbun pepohonan dan kondisi jalan yang kadang menanjak kadang menurun membuat kami merasa memasuki petualangan yang cukup menantang dan mendebarkan.
Perjalanan yang memakan waktu kurang dari dua jam itu dipenuhi percakapan melantur ke sana kemari. Seperti biasa, si sulung maupun si tengah sibuk bertanya apa saja yang mereka lihat dan melintas di kepala. Timpal menimpal. Saya dan ibu mereka acap kewalahan meladeni. Ketika lelah kami mampir istrirahat, menghapus dahaga dan lapar, serta sekalian sembahyang di masjid sisi jalan. Ketika akhirnya sampai di lokasi, saya terkejut sendiri. Bisa-bisanya saya menempuh perjalanan senekat ini. Bayangkan, saya tak punya surat ijin mengemudi (SIM), dan hanya saya yang mengenakan helm. “Masih lebaran, bebas, polisi gak bakal menilang,” ujar kawan yang menginspirasi saya melakukan perjalanan nekat ini.
Ternyata benar, saat kami masuk jalur Cirebon-Kuningan, hampir di setiap perempatan terlihat polisi mengatur lalulintas. Tapi mereka membiarkan kami. Meski demikian, saya ingatkan Anda untuk tidak perlu meniru perjalanan nekat kami. 
Kami berempat dikenai biaya Rp18 ribu hanya untuk masuk ke lokasi wisata. Raut wajah si bungsu dan si tengah langsung terlihat berseri-seri, si bungsu bahkan bersorak sorak mengekspresikan rasa girangnya. Terakhir kali saya berkunjung ke Linggarjati hampir 20 tahun lalu, saat itu saya kelas dua tsanawiyah. Seusia itu, perjalanan wisata ke Linggajati tentulah sesuatu yang membanggakan yang akan selalu diceritakan dalam obrolan dengan kawan-kawan masa itu.
Sambil berjalanan menuntun si bungsu, saya mencoba membanding-bandingkan kondisi saat sekarang dengan 20 tahun silam. Kemudian secara cepat saya menyimpulkan: hampir tak ada perubahan penting. Kecuali kesemrawutan serta jumlah pohon-pohonnya yang tidak sesemarak dulu. Ramainya pengunjung libur lebaran serta kemarau yang lumayan panjang mungkin menjadi salah faktor penyebabnya.       
Saya kebingungan mencari di mana lokasi situs sejarah Konferensi Meja Bundar, serta tempat peristirahatan Bung Karno. Seingat saya dulu lokasinya agak di ketinggian dengan jalan setapak yang lengang untuk mencapainya. Saya lekas melupakannya demi melihat si bungsu dan si tengah secara kompak menarik saya ke kolam pemandian. Namun, perut yang lapar harus diisi dulu. Maka kami masuk ke kedai bakso. Di situ rasa miris saya makin mengiris perasaan. Bukan karena penjual bakso yang menggetok kami dengan harga tinggi, melainkan sampah plastik yang berserakan di mana-mana, merusak tanah, menyumpal kanal-kanal berair jernih dan dingin. Dengan enak tanpa rasa dosa sama sekali orang-orang membuang sampah sembarangan. Di satu sisi pengelola lokasi wisata memang hanya menyediakan tempat sampah yang terlalu kecil dan terkesan basa-basi.
Tentang sampah ini, hampir di semua lokasi wisata rakyat di mana pun di negeri ini selalu semarak dengan sampah plastik. Pemerintah terlihat tak pernah punya konsep apa pun untuk mengelola sampah, melindungi lingkungan, menanam pohon. Seperti juga mereka tidak punya konsep untuk menekan jumlah korban kecelakaan lalulinats selama arus mudik dan balik yang dari tahun ke tahun terus melejit. Tahun ini, sebagaimana dilansir Harian Seputar Indonesia (28/8), jumlah korban tewas kecelakaan lalu lintas selama pelaksanaan operasi ketupat 2012 mencapai 908 orang.  Angka ini setara dengan jumlah tentara Amerika yang tewas selama tiga tahun berperang di Irak. Duh, murahnya nyawa rakyat Indonesia.
Usai menyantap bakso, kami tak jadi ke kolam pemandian. Selain karena terlalu padat, kami tak membawa pakaian ganti. Si bungsu yang tak mau tahu, tentu saja terus merengek, bahkan meronta. Untunglah di dataran yang lebih tinggi di bagian selatan, banyak terdapat wahana permainan layaknya di pasar malam. Ada trampolin, pemutaran film empat dimensi, komidi putar, kereta gantung, persewaan kuda tunggangan, sampai pertunjukan rumah hantu. Semua permainan bertarif hampir sama Rp10 ribu per anak.
Si bungsu dan si tengah selain menikmati sensasi ketegangan naik kereta gantung, mereka mengecap pengalaman asyiknya naik kuda. Walau hanya duapuluh menit, ini pengalaman baru bagi mereka. Sampai kembali di rumah hampir isya, lantaran kami mampir di rumah kawan yang tak pernah kami temui selama belasan tahun. 

Comments