Mati di Kota Tua


pernah disiarkan Riau Pos, Minggu  1 November 2009




ilustrasi dari deviantart.co
Kekasihnya mati di kota tua ini oleh sebutir peluru yang melesat dari moncong senapan berperedam yang diletuskan penembak misterius dari balik jendela kaca nako sebuah gedung tua sebelah utara jalan utama. Adalah novel yang ditulis kekasihnnya yang dianggap telah menodai kesucian agama yang memicu kemarahan sekelompok orang. Salah seorang dari mereka diduga telah menghabisi kekasihnya.
Dia tak habis pikir, kenapa perempuan itu tetap ngotot menuliskan tema sensitif itu, menerbitkan dan memublikasikannya secara luas, meski sudah berkali-kali dia mengingatkan bahwa nyawanya bisa terancam oleh sekelompok orang yang marah. Dia sungguh tidak tahu harus membenci atau mengagumi sikap kekasihnya yang selalu tidak peduli dengan berbagai kejengkelan, kemarahan, dan bahkan ancaman orang-orang gara-gara tulisannya yang penuh nada provokasi mengajak orang-orang mengejek Tuhan.
“Kenapa kamu tidak menulis tema lain? Tentang koruptor atau pelacur yang bertobat? Tentang jaksa yang memeras tersangka korupsi? Tentang ketua partai yang mengoleksi sekian artis untuk dikencani? Kenapa kamu justru menulis perlunya menggugat kekuasaan Tuhan?” teriaknya dalam kekosongan hatinya yang menganga.
Dia terus berjalan menyusuri trotoar kota tua itu. Matanya menyapu sudut-sudut jalan, gang, dan gedung-gedung tua yang dilaluinya. Kota yang indah dan memberi ingatan akan masa silam yang gemilang. Jalan dan gang-gang yang bersih dan tertata rapi. Tak ada puntung rokok ataupun kaleng bekas minuman ringan yang bisa iseng ditendang untuk mengurangi kebosanan.  Penduduk kota ini merawat dengan baik bangunan-bangunan kuno peninggalan masa pemerintahan kolonial. Di kota inilah, segala macam pertunjukan kesenian digelar setiap akhir pekan. Di gedung-gedung tua yang disulap menjadi arena pertunjukan, di taman dan alun-alun kota, di gang-gangnya yang eksotis dan ramai, atau di sepanjang kanal yang riuh oleh perahu-perahu berlampu terang di kala malam. Dia selalu berharap akan bertemu dengan penembak misterius itu atau paling tidak mendengar informasi tentang pembunuh kekasihnya itu. Betapa dia ingin menetak ubun-ubun pembunuh kekasihnya dengan palu mungil yang selalu dikantonginya ke mana-mana. 
Sejujurnya dia akui, bukan kesalahan pembunuh itu semata yang membuat kekasihnya mati mengenaskan di kota ini. Melainkan kenapa perempuan itu datang ke kota ini seperti sengaja menyerahkan nyawa kepada mereka yang sangat membenci tema-tema tulisan yang dibikinnya. Dia sendiri memang belum mendengar atau membaca langsung tentang adanya sekelompok orang yang marah dan berencana membunuh kekasihnya gara-gara tulisan-tulisannya. Semua hanya kabar yang beredar dari mulut ke mulut kawan-kawannya sesama pengarang yang suka nongkrong di sudut-sudut kota tua ini. Mereka begitu ramai memuji-muji, mendebatkan novel-novel dan artikel-artikel yang ditulis kekasihnya.
Tetapi, begitulah, dia sangat yakin akan kebenaran kabar itu. Apalagi, dia mendengar kabar tentang seorang wali kota sebuah kota yang tak jauh dari ibu kota mengeluarkan undang-undang yang melarang peredaran atau bahkan membakar buku-buku yang dianggap menghujat agama atau yang mengungkap kekejaman pemerintah kota di masa silam.   
“Kenapa kamu tidak pernah mempercayai ucapanku, Hafsah? Kenapa kamu selalu menganggap mereka tidak akan mengenalimu dan ingin membunuhmu? Kenapa kamu selalu menganggapku berlebihan bila kukatakan bahwa tulisan-tulisanmu sangat berbahaya? Andai saja waktu itu aku sempat mengetahui kamu bermaksud menyelinap ke kota ini, tentu, aku akan mencegahmu sekuat dayaku,” bisiknya.
“Mereka tidak mungkin membunuhku gara-gara tulisanku,” ujar kekasihnya itu, dua tahun lalu sebelum peristiwa nahas yang merenggut nyawanya. “Bukankah mereka kaum demokrat?”
“Itu hanya slogan, Hafsah!” tukasnya. “Mereka tak lebih dari para culas yang rela melakukan apa saja demi kepentingan kelompok mereka sendiri!”
Masih terekam jelas di kepalanya, malam itu, kekasihnya meminta dia meninggalkannya sendirian. “Aku mau menulis. Aku tak pernah bisa menulis sambil berdebat, apalagi bercinta,” kata kekasihnya dengan mimik serius.
Dia begitu sakit hati. Tetapi, dia tak juga beranjak. Malam itu dia sangat merindukan tubuh kekasihnya. “Please, aku ingin bersamamu malam ini,” dia mengiba.
Kekasihnya tidak pernah bisa menolak apabila menghadapi urusan yang satu ini. Tetapi, kali ini, kekasihnya benar-benar menolaknya.
“Aku sedang tidak ada mood bercinta, Sayang. Please, maafkan aku.”
“Baiklah. Tapi, berjanjilah untuk tidak menulis tema itu, Hafsah! Berjanjilah.”
“Berhentilah memintaku berhenti menulis tema apa pun yang kuinginkan!”
“Ini demi kebaikanmu, Sayang! Aku tak mau kehilangan kamu hanya gara-gara kamu menulis tema itu. Bukankah masih banyak tema lain yang bisa kau tulis?”
“Biarlah orang lain yang menulis tema lain. Aku bosan, aku harus menulis tema ini,” tukas kekasihnya mulai kesal.
Dia menyesal telah mengajari kekasihnya bagaimana merangsang pikiran dan imajinasi mengundang dan menuliskan tema-tema baru dan berbahaya yang selama ini tidak berani ditulis orang. “Kamu tidak akan ke mana-mana kalau menulis tema itu-itu juga, yang sudah berulang ditulis orang,” katanya dulu mengagitasi kekasihnya yang waktu itu belum menjadi kekasihnya. Perempuan itu baru datang dari kota kecil untuk mencari pekerjaan di ibu kota.
“Kamu tidak perlu bekerja. Belajar menulis saja. Kamu bisa mendapat uang lebih banyak apabila  bisa menulis dengan bagus,” ucapnya waktu pertama kali bertemu di kedai kopi. Saat itu, pasar novel memang sedang booming. Dia kemudian membawa perempuan itu ke kamar yang disewanya di pojok kota. Mengangkat perempuan itu menjadi kekasihnya.     
Dia tidak salah. Kekasihnya sangat berbakat. Hanya perlu waktu setahun mengajarinya menulis dengan baik. Tahun berikutnya, tulisan-tulisannya tersebar di semua koran dan majalah. Bahkan, nama kekasihnya telah menjajari popularitas nama dia.
 “Jangan pernah puas. Kamu hanya akan menjadi penulis kebanyakan bila hanya mengutamakan kuantitas. Kamu harus menulis yang lain. Tema yang belum digarap orang supaya kamu berbeda! Baru kamu akan dilihat orang!”
Dari sanalah, bencana itu berawal. Kekasihnya begitu terpacu menulis tema-tema yang selalu menyerempet bahaya. Yakni, tema-tema yang menghujat agama, mengritisi lembaga pernikahan, menolak keberadaan Tuhan, menggugat sejarah kelam negeri ini: kekejaman penguasa di masa silam membunuhi ribuan rakyatnya demi kekuasaan. Namanya dengan cepat melesat, mencereng di jagat penulisan. Seiring dengan itu, hujatan dan ancaman dialamatkan kepadanya. Meski, dia belum pernah mendengar langsung hujatan dan ancaman yang dialamatkan kepada kekasihnya.
“Kamu keterlaluan, Hafsah! Kamu harus membatalkan menulis tema ini,” ujarnya keras saat membaca sinopsis terbaru novel yang akan ditulis kekasihnya itu. Sejatinya, dia kagum terhadap keliaran imajinasi kekasihnya itu. Tetapi, bagi dia, ini sungguh berbahaya. Sangat berbahaya.
“Kumohon, tulislah yang lain. Kumohon, Hafsah!”
“Kau boleh melarangku apa saja, tapi tidak untuk yang satu ini,” pekik kekasihnya.
“Nyawamu jadi taruhannya kalau kamu tetap nekat menuliskannya,”
“Apa pun resikonya kutanggung sendiri!” tegas kekasihnya dengan wajah yang tiba-tba membuat dia sebal dan terancam. Dia mengendus senyuman sinis yang menyepelekan di wajah itu.
Tak pelak, malam itu pertengkaran tidak bisa dibelokkan ke arah mana pun. Dia kehilangan seleranya bercinta. Dengan geram, dia membanting pintu, lalu pergi meninggalkan kekasihnya di kamar sewanya sendirian. Itulah malam terakhir pertemuan mereka. Berbulan-bulan, dia menghabiskan malam di kedai-kedai: mabuk, menceracau tak keruan.
Esoknya, dia dibuat linglung oleh berita pembunuhan di koran-koran dan televisi. Kekuatan tubuhnya lungsur demi mengetahui kekasihnya yang menjadi korban. Mimpi buruknya benar-benar terjadi!
Dia sama sekali tak punya kekuatan untuk melihat wajah kekasihnya terakhir kali. Tangannya gemetar menyibak kain yang menutup wajah kekasihnya. Hanya sekilas, dia melihat kekasihnya, tapi tak akan pupus selamanya. Tepat di antara kedua mata kekasihnya, dia melihat lubang bekas peluru yang menganga. Hitam dan kelam. Wajah yang tampak pucat dan dingin. Urat-urat di balik kulitnya yang dulu tampak hijau kini biru menghitam. 
Dia masih berjalan. Kali ini menyusuri tepian kanal. Sebagian rambutnya yang keriting kriwil-kriwil jatuh menutupi wajahnya yang menunduk. Kedua tangannya terbenam jauh di saku mantelnya. Tangan yang kanan tak pernah lepas menggenggam gagang palu. Sampai di perempatan, ujung jalan utama, dia belok ke kanan. Melewati kios-kios buah dan tempat penyewaan buku-buku. Menyelinap ke sebuah kedai minum yang sepi. Memesan wedang ronde.
“Di sini tidak ada wedang ronde, Tuan. Minuman jenis apa itu?”
“Ya sudah, bikinkan aku wedang bandrek!”
“Ini juga tidak ada, Tuan. Anda salah masuk.”
Dengan kesal, dia keluar lagi. Mencari kedai minum yang menyediakan kedua jenis minuman tradisional itu. Sejak dua bulan ini, dia tidak lagi minum bir. Ususnya mengalami peradangan. Akhirnya, dia menemukan kedai yang menjual bandrek, singkong rebus, kacang rebus, bentul rebus, dan semua jenis makanan yang direbus, bukan digoreng. Begitulah, dia harus menghindari makanan yang mengandung kolesterol.
Dia duduk di sana sambil mengenang lagi hari-hari indah yang pernah dilaluinya bersama kekasihnya yang telah mati kota ini. Tak pernah sebelumnya dia bisa begitu mencintai seorang perempuan secara begitu rupa seperti kepada kekasihnya ini. Sebab, dia bisa dengan mudah memikat dan mengajak tidur perempuan-perempuan muda yang berambisi menjadi pengarang atau sekadar mengagumi ketampanannya. Dia sempat heran mendapati dirinya begitu termehek-mehek kepada peremuan kampung yang sempat jadi pelayan kafe itu. 
Sebelum perdebatan-perdebatan soal tema novel yang akan ditulis kekasihnya itu, dia tahu kebahagiaanya telah berakhir. Kekasihnya mulai sukar diatur dan liar gara-gara makin menyadari hak-haknya sebagai perempuan yang sejajar dengan laki-laki seperti yang dia ajarkan. Kekasihnya menolak secara terang-terangan ketika dia mengajaknya meresmikan hubungannya di lembaga pernikahan.
“Bukankah kamu sendiri yang mengajariku menolak lembaga pernikahan, Fred? Ada apa denganmu tiba-tiba berubah serupa ini?”
“Supaya kamu tidak mudah kencan dengan sembarang lelaki!” teriak dia waktu itu, getir.
Sungguh, dia tidak kuasa marah kepada kekasihnya yang telah mengkhianatinya. Dia takut kekasihnya meninggalkan dirinya, sementara dia merasa tidak bisa hidup tanpa perempuan itu. Dia sangat mencintai kekasihnya. Sangat mencintai.
Makanya dia begitu terluka manakala mendengar kabar perselingkuhan kekasihnya dengan lelaki lain di kota tua ini pada siang hari. Begitulah, siang itu dia pergi menemui kawannya, meminjam senapan berperedam. Lalu, menunggu seharian di lantai dua salah satu gedung di kota tua sebelah utara jalan utama. Berdiri di balik kaca nako, mengincar sasaran tepat di antara kedua mata kekasihnya yang tengah duduk berpelukan dengan seorang lelaki di bawah sana….    
 

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka