Romansa Kebun Tebu


pernah disiarkan Republika, Desember 2008 dan Sinar Harapan Januari 2009
ilustrasi diambil dari http://www.themahoganyblog.com

Dua malam lagi aku akan meninggalkan kota ini. Beberapa menit setelah tiang listrik dipukul orang tiga kali, dan penjual nasi goreng mendorong gerobaknya pulang meninggalkan kawanan tukang becak yang terkapar di dalam becak mereka setelah lelah berjudi. Saat-saat seperti itulah aku bisa keluar dari kamar kontrakan dengan perasaan lapang. Mengunci pintu pelahan-lahan, kemudian meletakkannya bersama sebuah surat di bawah keset untuk ibu kontrakan.  

Dua malam lagi kamar kontrakan yang bertahun-tahun menghidupiku dengan kesunyian hanya akan kubawa dalam ingatan. Meninggalkan tumpukan baju kotor yang menggelantung di balik pintu. Meninggalkan percakapan anak-anak mahasiswa yang selalu diselingi cekakak tawa. Meninggalkan gadis kecil yang dua minggu ini setiap menjelang maghrib melintas di jalan itu. Gadis kecil berambut kemerahan yang selalu berjalan dengan langkah-langkah kecil dan tergesa. Dua tangan mungilnya mendekap sebuah buku di dadanya. Gadis kecil yang telah membatalkan niatku pulang.

Mestinya sejak dua minggu lalu aku meninggalkan kota ini. Tetapi niatku yang sudah bulat mendadak menguap begitu saja ketika memandang gadis kecil itu. Gadis kecil berbaju biru yang segera menghilang di tikungan begitu kukejar. Sehingga aku harus menunggunya menjelang maghrib pada keesokan harinya. Tetapi sampai berkali-kali aku mengejarnya, dia selalu lebih cekatan menghilang. Seakan menghindari bahaya yang siap menerkam.

Aku pernah mencoba menghadangnya untuk dapat menatap wajahnya dengan jelas. Aku berdiri di balik pintu pagar menatap ke arah di mana biasanya dia muncul. Beberapa lama menunggu, kulihat dia akhirnya muncul dengan langkah-langkah kecil dan tergesa menapaki jalanan berkerikil, dengan gerak tubuh yang tiba-tiba sangat kuhapal. Terutama dua tangan mungilnya yang mendekap sebuah buku di dadanya. Rambutnya keriting dan sedikit dikacaukan angin tampak makin kemerahan oleh matahari menjelang maghrib. Pandangannya lurus, kadang tertunduk, melihat buku di dadanya yang tampak begitu dikhawatirkannya lepas terjatuh. Dia makin mendekat. Hanya beberapa langkah lagi dia akan melintas di depanku, aku akan menyapa dan menghentikan langkahnya, memegang pundaknya, memberinya senyum seraya menatap wajahnya. Namun ketika selangkah lagi dia melintas di depanku, tiba-tiba terdengar bunyi benturan amat keras yang mengalihkan perhatianku ke seberang jalan. Dan manakala terkejutku hilang, gadis itu sudah jauh berada di ujung jalan dan segera lenyap ditelan tikungan. Peristiwa ini kuingat terjadi lebih dari satu kali. Ketika beberapa waktu kemudian berhasil mencegat langkahnya, dia hanya membisu, menatapku beberapa lama, menepis tanganku, dan lekas-lekas berlalu. Wajah gadis itu mirip Laila yang tengah kucari di kota ini. 

Laila, gadis yang telah kuhancurkan masa depannya. Mungkin aku akan menanggung rasa bersalah sepanjang umurku. Apa boleh buat, tak ada lagi yang bisa kulakukan. Laila, maafkan aku.

Kukemasi sejumlah barang dan pakaianku yang tak seberapa. Mengemasi baju-baju ke dalam tas seperti mengemasi perjalanan hidupku yang belum selesai. Ini sungguh pekerjaan yang tidak mudah. Dan yang lebih berat lagi, aku harus mengemas perasaanku yang rawan. Bagaimanakah mengemas perasaan bersalah pada Laila yang gagal kutemukan di kota ini.

“Katanya takkan pulang sebelum Laila kamu temukan.” Terngiang ucapan ibu kontrakan siang tadi. Aku menggeleng seraya tersenyum getir.

***

Lima tahun lalu, sekembali dari kuliah di kota ini, ayah-ibuku menyambut dengan gembira. Aku berhasil lulus dengan predikat cum laud. Ini prestasi yang membanggakan orang tuaku. Selain jodoh, telah disiapkan pekerjaan buatku di pabrik gula yang ada di kota kecamatan. Ayahku adalah salah seorang pembesar di perusahaan yang telah banyak menghidupi warga desa tersebut. Namun sayang, keduanya gagal kuperoleh. Bukan hanya karena aku tidak tertarik pada kedua pilihan tersebut, melainkan karena aku bertemu dengan Laila. Gadis kecil anak seorang kuli tebu. Matanya yang indah dan pipinya yang penuh membuat hatiku tak dapat mengelak mencintainya. Tak peduli Laila seorang gadis kecil 13 tahun, dan aku insinyur 27 tahun. Aku sering secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumahnya di tepi kebun tebu. Biasanya menjelang maghrib.

Aku tahu Laila merasa senang setiap aku datang, bukan cuma karena aku membawakan majalah-majalah remaja yang disukainya dan mengajarinya menggunakan handphone. Laila senang, karena dirinya bisa bercerita pada orang lain tentang dirinya. Maklum, tak ada teman sebaya di sekitar rumahnya. Ia baru lulus sekolah dasar, dan tak mungkin melanjutkan ke SMP. Tidak dengan ibu bapaknya yang tampak cemas. Aku mengerti, tentu mereka khawatir aku hanya mempermainkan anaknya. Tapi mereka tak mungkin mengatakannya.

Kuajak Laila berjalan menemaniku menyusuri pematang, melompati parit. Duduk di atas pematang, memandang langit merah berangsur gelap. Kami menerobos kebun tebu. Kupetik bunga tebu untuk Laila, dan kucium bibirnya dengan gairah yang meletup tak terkendali. Masih sempat kudengar Laila merintih dan memekik. Suaranya hilang timbul di antara gemuruh nafasku dan suara angin yang terengah menggetarkan daun-daun tebu, menerbangkan serat-serat kembang tebu. Entah berapa kali batang-batang tebu merekam peristiwa indah itu. Sampai tibalah suatu hari aku menangis di pangkuan ibunya karena aku telah membuatnya hamil. 

Kubuktikan tanggung jawabku sebagai laki-laki, aku meminang Laila. Tapi ayah ibuku tak menerima Laila menjadi menantunya. Tentu perbedaan usia yang terpaut jauh hanya alasan mereka menolak Laila. Alasan yang sesungguhnya adalah karena Laila hanya anak seorang buruh tani yang hanya lulus SD.  Aku dipaksa menikah dengan perempuan yang telah disiapkan orang tuaku. Sementara Laila harus menanggung penderitaan seorang diri. Kudengar Laila kemudian diungsikan ke kota.

Beberapa lama setelah mendengar kabar tersebut, aku pergi meninggalkan rumah, menyusul Laila ke kota ini. Menyewa kamar kontrakan, tempat aku menitipkan baju-bajuku, meletakkan tubuh lelahku setelah melakukan pencarian. Kuingat hampir lima tahun aku melakukannya. Lima tahun, berarti lima kali masa tanam dan potong tebu di kampungku. Dan selama lima tahun seluruh sudut kota ini telah kususuri sepanjang siang sepanjang malam, bertanya pada hampir semua orang. 
“Berambut lurus, ada tahi lalat di bawah dagu.” kataku seraya menyodorkan selembar foto kusam. Dan selalu gelengan kepala yang kudapatkan, atau kalimat “Nggak ada,” dengan nada yang seringkali amat ketus.

Memang kadang ada pula yang lembut dan penuh perhatian dan keinginan membantu,
“Adik atau istri sampeyan?”
“Istri saya, namanya Laila”
“O, tapi dia bukan Laila. Tapi Lilis namanya,” ujar ibu penjaga warung rokok.
“Mungkin saja dia ganti nama. Antarkan saya pada Lilis,” kataku mengharap.
“Walah, saya nggak tahu rumahnya. Kemarin sih dia datang. Besok saja datang lagi kemari. Siapa tahu dia ke sini,”

Esoknya dan esoknya, dan esoknya lagi aku datang. Tapi Lilis tak juga muncul. Ibu penjaga warung itu memberi kabar, “Kata si Nur, dia sudah pulang kampung,”
“Nur, siapa dia? Temannya? Bisa saya ketemu dengan dia,”
“Tunggu saja di sini. Malam ini pasti dia datang,”

Sampai hampir subuh Nur tidak pernah tampak. Bahkan sampai beberapa malam aku tunggu. Kini kesabaranku sudah sampai pada batasnya. Aku tak mungkin membiarkan umurku habis untuk mencari Laila di kota ini. Menghabiskan malam-malamku menyusuri tikungan jalan, membebat tubuhku dengan jaket atau sweater, menyelinap ke pintu pub, bar, dan warung remang-remang sepanjang kota ini.

Dua malam lagi, waktu yang akhirnya kupilih untuk menghentikan pencarian dan kembali pulang menemui rumah dan ayah ibu. Mungkin aku akan menemui ibu dan bapak Laila, untuk ke sekian aku akan meminta maaf. Memaafkan aku, Laila. Maafkan aku…

Pondok Pinang, 2008

Comments

Edi Winarno said…
Nice story, bos.
Catatan biasa said…
Thanks apresiasinya, Mas.

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka