Sumirah

pernah disiarkan Suara Pembaruan, Minggu 22 Januari 2006
deviantart.com

Sumirah memasukkan beberapa potong pakaian yang dianggapnya masih bagus ke dalam tas, bersama lipstik, sisir, jepit rambut, cermin kecil, handbody dan sebuah tetris yang ia beli untuk adiknya. Kalung emas pemberian Tuan dan uang gaji tiga bulan ia simpan dalam dompet yang diselipkan di kantong celana. Ia merasa tak perlu membawa serta jam weker mungil berbentuk gajah berwarna merah jambu yang dibelikan Nyonya. Jam weker yang setiap subuh berdering membangunkanya. Sumirah sebetulnya menyukai bentuknya yang lucu. Tapi benci jika ingat bunyinya yang sangat nyaring membuat jantungnya berdebar keras seperti mau pecah. Sumirah pernah hampir membantingnya seandainya tak ingat Nyonya yang menyetelnya demikian. Nyonya memang keterlaluan. Padahal tanpa dibunyikan pun Sumirah bisa bangun tepat waktu. Sejenak ia meraba perutnya, ia merasakan ada yang bergerak-gerak di sana.

Lampu ruang tengah sudah dipadamkan, begitu pun lampu dapur dan ruang tamu. Tinggal lampu teras dan lampu taman yang dibiarkan menyala. Kamar Tuan dan Nyonya  tampak remang. Tak terdengar lagi percakapan mereka. Mereka tentu sudah pulas, pikir Sumirah. Sementara kamar Den Riko gelap sejak kemarin. Dua malam ini ia memang tak pulang. Katanya ke puncak bersama kawan-kawannya. Sumirah melihat jarum jam mencolok angka satu. Sumirah berjingkat pelan-pelan, ia menjinjing sandalnya supaya kakinya tidak menimbulkan suara. Sangat hati-hati Sumirah memasukkan dan memutar anak kunci. Namun terdengar juga suara derik yang membuatnya sedikit panik. Sumirah teringat lagi omongan Tuan, “Kamu gugurkan saja Sumirah.” Sumirah tak berani menatap muka Tuan, ia hanya mengusap perutnya. Nyonya yang ada di situ ikut bicara, “Kandunganmu bisa bikin masalah. Besok biar saya antar cari bidan.” Sumirah merasakan dadanya serasa dihantam lonjoran besi.
“Tak ada jalan lain. Masih baik kami tak mengusirmu.” sambung Nyonya seraya keluar dari kamar Sumirah yang sempit dekat dapur.

Pedih sekali Sumirah mendengar itu semua. Ingin rasanya ia menampar mulut Tuan dan Nyonya, kalau perlu merobeknya sekalian. Tapi yang terjadi hanya lelehan air mata yang melunturkan bedak tipis di wajahnya.

“Apa kata orang nanti. Bisa-bisa Tuan yang dituduh menghamilimu.” Kalimat Nyonya yang terakhir ini membuat tubuhnya seperti didorong dan terempas ke sungai berarus deras. Sumirah merasakan tubuhnya bergetar hebat menahan kebencian. Sumirah tak ingin menggugurkan kandungannya. Sumirah merasa begitu menyayangi calon bayi yang kini meringkuk dalam rahimnya meski ia memang tidak bisa memastikan berasal dari benih siapa ia berasal: Tuan atau Den Riko. Tapi Sumirah tak berani mengatakan pada Nyonya. Sebab Sumirah yakin Nyonya sebenarnya tahu belaka. Mereka semua memang terkutuk.

Sepintas ia melirik wajah Tuan yang tampak dingin dengan rahang yang kukuh dan cambang dan kumis yang jarang dipotong. Sumirah teringat betapa wajah itu pada suatu malam yang sunyi mengendus-endus di atas tubuhnya kala Sumirah tengah lelap sehingga ia tergeragap dan menjerit. Namun suaranya segera lenyap dibekap tangan Tuan yang hitam dan kekar. Selebihnya Sumirah menyerahkan tubuhnya seraya menangis. Tuan membisikkan rayuan sekaligus ancaman. Malam itu hanyalah awal dari malam-malam berikutnya yang menyedihkan. Itulah malam ke lima belas Sumirah bekerja di rumah Tuan dan Nyonya. Sumirah tak menduga nasibnya akan sedemikian buruk

“Tuan, saya takut Nyonya…”

“Kamu jangan khawatir, Sumirah, Nyonya tidak akan pernah peduli.”

“Bagaimana kalau nanti saya…”

“Nanti kita kawin. Saya belikan rumah,”

Bukan hanya Tuan memang yang sering mendatanginya malam-malam, Den Riko pernah pula tiba-tiba mendekapnya dengan mulut bau minuman. Bahkan dua orang kawan kuliahnya mendapat pula giliran. Peristiwa yang sulit dihapus dari ingatan Sumirah. Malam itu Den Riko pulang bersama dua orang kawannya dalam keadaan kelaparan setelah hampir seminggu kemping di gunung. Mereka minta Sumirah menyiapkan makan, membuatkan kopi. Sumirah tersuruk-suruk memberesi ransel besar berisi pakaian kotor yang dilempar begitu saja ke tengah ruangan begitu ia membukakan pintu. Dengan tangkas Sumirah mengerjakan semua perintah. Tapi Den Riko menahannya manakala Sumirah berbalik hendak masuk kamar. “Sumirah, jangan masuk kamar dulu. Duduklah di situ temani kita nonton, ada film bagus. Aku bawa durian. Kamu suka kan?” Sumirah tak kuasa menolak.

Malam itu Tuan dan Nyonya memang sudah dua hari ke luar kota. Tanpa semangat Sumirah membelah durian. Kulitnya yang tajam melukai telapak tangan Sumirah yang licin berkeringat, tapi ia telan saja rasa perih itu. Sumirah memakan durian tanpa nafsu bersama mereka sambil nonton tivi. Tapi kemudian tivi dimatikan dan diganti memutar vcd. Sumirah terkejut dan jijik melihat film yang diputar. Belum pernah Sumirah melihat film yang membuat tubuhnya bergetar. Ia hendak beranjak, tapi pundaknya direnggut Den Riko.  Sumirah tak kuasa meronta, bahkan juga menangis! Terbayang wajah Emak dan Bapak dan adiknya. Menyesal ia kenapa nekat pergi dari rumah. Meskipun Bapak dan Emak hanya buruh di pabrik tempe, namun mereka tidak pernah mengizinkan apalagi menyuruhnya bekerja jadi pembantu.

“Kamu sekolah saja, Sumirah. Kami siap kerja keras asal kamu mau sungguh-sunguh belajar.” kata Bapak ketika Sumirah mengutarakan niatnya pergi ke kota. “kerja apa dengan Ijazah SMP, paling jadi pembantu.”

Kedua orang tua Sumirah menginginkan Sumirah terus sekolah setinggi-tingginya supaya jadi orang pintar. Jadi dokter, atau jadi pengacara biar cepat kaya. Bapak Sumirah meskipun cuma buruh pabrik tempe, ia suka membaca koran dan nonton berita sehingga pikirannya sedikit maju dibanding kawan-kawannya yang tahunya cuma bikin tempe. Paling banter mereka hanya kenal David Beckham dan Inul Daratista. Bapak Sumirah memang beda. Ia sangat mengagumi para pengacara. Mereka sangat pandai bicara tak peduli salah dan penuh dusta, pikir Bapak Sumirah, dengan itulah mereka bisa jadi kaya raya.

Tapi Sumirah ngotot, “Kalau bapak bisa membelikan motor, Sumirah mau sekolah. Teman-teman ke sekolah pada pake motor semua. Mana bisa beli motor kalau Bapak kerjanya cuma nggiles-nggiles* kedelai. Sudahlah kalau Emak tidak mau bekerja ke Saudi, biar Sumirah saja yang bekerja,” Tekad Sumirah waktu itu ingin mengumpulkan uang untuk ongkos ke Saudi. Jadi pembantu di Saudi kata orang-orang gajinya besar bisa untuk beli motor bahkan sawah dan rumah. Bisa beli lipstik dan pergi ke salon seperti di sinetron-sinetron yang rajin ditontonnya.

“Sumirah, Sumirah, kamu ini gimana sih, disuruh sekolah malah mau jadi pembantu. Kamu pikir dengan naik motor ke sekolah bisa menggaet anak direktur bank naksir sama kamu? Dasar anak tak tahu diurus. Ya sudah, terserah kamu.  Semoga kamu tak menyesal.”

Malam terus merambat. Ia bersyukur suara derik anak kunci itu tak menimbulkan suara terlalu berisik. Pelan-pelan Sumirah menekan tangkai pintu, mendorongnya hati-hati, lantas melangkah keluar. Pintu ditutupkan kembali. Lampu teras yang redup memantulkan bayangan tubuh Sumirah memanjang di lantai. Sekarang Sumirah tinggal membuka pintu pagar. Sumirah tidak ingin membuang-buang waktu, ia harus segera keluar dari rumah Tuan.

Meski gajinya selama tiga bulan terakhir belum ia terima. Sumirah bertekat memilih menyelamatkan kandungannya. Sumirah berketetapan hati untuk melahirkan dan merawat bayi yang terus tumbuh dalam perutnya. Meski tidak tahu hendak pergi ke mana. Rasanya tidak mungkin pulang ke Emak dan Bapak dengan perut bengkak tanpa suami seperti ini. Sumirah tak bisa membayangkan bagaimana nanti perasaan mereka. Orang tua mana yang tidak sedih mendapati anaknya diperlakukan seperti itu. Sumirah masih mematung di teras, omongan Bapak dan Emak terngiang lagi, “Kalau kamu mau mengubah nasib, kamu harus pintar, harus sekolah. Bukan jadi babu.”

Sumirah berpikir barangkali ia akan menemui Sukron, penjual rokok di perempatan dekat pasar. Sukron sering menggodanya jika Sumirah belanja. Tapi apa mau laki-laki itu menerima dirinya dalam keadaan hamil seperti ini. Apalagi selama ini Sumirah tak pernah meladeni sapaannya dan sok jual mahal belaga seperti Nyonya.           

Terdengar suara mobil berhenti di depan pintu pagar. Sumirah tercekat, jangan-jangan Den Riko bersama kawan-kawannya pulang. Bisa-bisa bukan saja niatnya gagal, tapi bakal mereka perkosa lagi. Sumirah memepetkan tubuhnya ke tembok seraya menahan perasaannya. Syukurlah ternyata bukan, taksi itu melesat kembali setelah menurunkan penumpang yang rupanya tetangga sebelah yang baru pulang dari klub. Sumirah merasa lega. Ia menunggu tetangga itu masuk ke rumahnya dan mentup pintu pagar. Setelah dirasa aman, buru-buru Sumirah memanjat pintu pagar. Sayang, barangkali karena Sumirah terlalu terburu dan baru sekali itu memanjat pagar, mungkin juga karena pagarnya licin oleh embun sehingga kakinya terpeleset; sementara kedua tangannya juga tak mampu menahan beban tubuhnya, maka berdebamlah Sumirah jatuh…

Balai Budaya Tangerang Desember 2005 

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka