Lelaki Pub


pernah disiarkan Jawa Pos, Minggu 10 Agustus 2008
ilustrasi diambil dari deviantart.com
Malam ini, pub tidak seramai kemarin. Kami duduk di meja agak depan, beberapa jengkal dari meja kasir. Sebenarnya, aku ingin memilih meja paling belakang supaya leluasa melihat pengunjung lain. Dan, tentu saja, memperhatikan Tita, pelayan pub bermata sendu itu. Tetapi, aku tidak mungkin memaksakan keinginanku. Boleh dibilang, aku tidak punya pilihan.
Semua ditentukan Juan Esteban. Termasuk, di pub mana dia ingin minum bir. Laki-laki tua di depanku ini memang meminta pendapatku saat memilih meja, tapi itu basa-basi belaka. Sebab, setiap aku memberi usul, Juan selalu bilang, “Pilihanmu kurang tepat anak muda!” Kalimat tersebut masih akan bertambah panjang dengan “Anak muda sekarang sering membuat keputusan yang kurang tepat.”  
Malam ini, Juan Esteban mengenakan pakaian ala koboy: baju corak kotak-kotak dengan garis-garis merah marun dan hitam dipadu rompi kulit, celana jeans belel, dan tak ketinggalan topi laken yang menyembunyikan rambut tipisnya. Hanya, tak ada pistol di pinggangnya. Mungkin, dia ingin mengenang saat menjadi gembala domba pada masa muda dulu.
“Minum apa, anak muda?” tanya Juan Esteban.
“Bir saja, sama denganmu, Juan.” ujarku.
Tak lama setelah itu, pelayan datang mengantarkan pesanan. Dia tersenyum manis kepada Jaun. Bahkan, matanya mengerling nakal. Padaku, dia hanya tersenyum alakadarnya. Juan langsung menenggak bir di depannya seperti orang kehausan. Padahal, di panti tadi, dia baru saja menghabiskan sebotol bir. Cairan kuning yang berkilauan disentuh pendar lampu itu mengalir deras ke tenggorokannya. Segelas besar bir tandas dalam sekali tenggak. Ujung lidahnya menyapu ceceran bir di sudut bibir. Lantas, dia menyulut cerutu. Aroma cerutu segera mengapung memenuhi ruangan pub yang remang-remang bercampur dengan aroma ganja dan parfum para pengunjung.
Walaupun jaraknya lumayan jauh dari panti, pub inilah yang paling sering dikunjungi Juan Esteban untuk minum bir. Dibanding dengan yang lain, pub ini suasananya memang lebih nyaman dan menyenangkan. Mungkin karena atmosfer gothic yang dihadirkannya. Letaknya tersembunyi di antara deretan toko pakaian dan rumah makan. Pelayannya rata-rata berusia belasan tahun. Mereka adalah mahasiswa yang bekerja paruh waktu.
“Minumlah, anak muda. Jangan murung seperti itu. Aku tidak suka melihatnya,” ujar Juan Esteban. Tidak bisa tidak, aku pun meraih gelas bir, menenggaknya perlahan-lahan. Rasa sepat memenuhi rongga mulutku, tapi aku berusaha menikmati. Juan Esteban tampak senang melihatku. Dia tersenyum, lantas menyorongkan cerutu. Matanya berpendar gembira. Dia tampak tampan, meski gurat-gurat usia tua terpahat jelas di raut wajahnya. Sesunguhnya, dia orang yang cukup menyenangkan. Dia juga sangat royal apabila puas dan terhibur dengan kehadiranku. Dia memberi tips yang cukup buat beli satu setel pakaian dan sepatu. Tentu saja, itu di luar tunjangan dan upah yang diberikan Javier, anak sulungnya, kepadaku tiap bulan.
Hanya, sikap menyebalkan Juan Esteban muncul saat mulai mabuk. Sebelumnya, dia akan berbicara kian kemari tentang apa saja. Paling sering, dia bicara tentang masa mudanya. Meski sebal, aku mesti menyimaknya. Sebab, kalau tidak, dia akan marah dan mengancam melaporkanku kepada Javier supaya memecatku. Dia tidak hanya menuntutku menyimak pembicaraannya, tapi juga mengomentarinya. Sebalnya, dia akan menunjukkan sikap tak suka apabila aku memberi komentar negatif. Kalau dia sedang bercerita, jangan harap aku punya kesempatan memperhatikan gerakan Tita yang tangkas meladeni pengunjung. Melihat tubuhnya yang ramping namun padat berseliweran dari  meja ke meja. Sedikit mataku beralih darinya, Juan Esteban akan menggebrak meja.
Juan Esteban kadang menanyakan kabarku, meminta aku bercerita tentang keluargaku, pacarku, kegemaranku, buku-buku yang kubaca, tempat-tempat yang pernah aku kunjungi, atau apa saja yang sekonyong melintas di kepalanya. Maka, aku akan bercerita. Tapi, tentu, aku mengarang-ngarang saja. Toh, dengan seenaknya, dia bisa memotong ceritaku, memberi nasihat-nasihat dan saran yang membosankan, bagaimana mestinya aku bersikap menghadapi setiap persoalan. Selebihnya, dia akan berpanjang lebar membanding-bandingkan dengan kisah hidupnya yang terdengar sangat heroik. 
Tengah malam sudah lama lewat. Juan Esteban masih tampak segar. Belum ada tanda-tanda akan mabuk. Pub makin ramai dengan sajian live music. Lagu “Manuela milik Julio Iglesias melantun dari mulut penyanyi di panggung. Mata Juan Esteban mengerjap-ngerjap gembira. Kepalanya tampak bergerak ke depan dan ke belakang  mengikuti irama musik.  “Ini lagu kesukaanku. Inilah lagu yang menandai kisah cintaku dengan Martina,” ujarnya.

Manuela, Manuela
Manuela, Manuela
Como a noite
Como un sonho
Sao os olhos 
Negros meu amor, Manuela
Como a flor na primavera
Como a lue chea e assim, Manuela

Dia turut melengkingkan syair lagu dengan suarnya yang terdengar serak. Nama Manuela dalam lirik lagu tersebut dia ganti menjadi Martina. Sementara, gerakan kepalanya makin bersemangat meniru gerakan penyanyi di panggung.  Dia memintaku ikut bangkit menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama. Entah berapa lama, kami menari mengentak-ngentakkan sepatu ke lantai. Yang pasti, Juan Esteban makin segar dan bersemangat. Wajahnya berkilau karena keringat. Kurasakan bajuku yang basah lengket pada tubuhku.
Aku ingat, Juan Esteban pernah bercerita, dia dulu pernah punya pacar gelap bernama Martina, gadis desa yang bekerja sebagai pramuniaga di toko retail miliknya. Setelah Martina hamil, Juan membayar seorang anak muda pengangguran untuk menikahi dan membawa pergi Martina entah ke mana. Dia tidak tahu rahasia ini sudah diketahui Javier dan dua anaknya yang lain.    
Alunan lagu yang membangkitkan kenangannya pada Martina mereda. Kali ini berganti dengan alunan musik yang lebih santai. Tapi, rupanya, penderitaanku belum berakhir. Juan Esteban mulai bercerita tentang kisah cintanya dengan Martina sambil berkali-kali bilang, jangan menceritakan ini kepada Javier. 
Kurasakan kepalaku pusing. Bukan karena harus menemani dia menari ataupun menyimak ceritanya, melainkan karena ingatan akan Pedro dan Caras. Panas tubuh dua putraku itu naik lagi saat kutinggalkan. “Apa tidak bisa libur semalam ini, Mario?” kata Selena, istriku. Wajahnya tampak cemas memandangi Pedro dan Caras. “Tidak ada dalam kesepakatan,” ujarku lirih. Aku tak kuasa menatap matanya yang berkaca-kaca.
“Kalau menyalahi kesepakatan, kita tidak hanya akan kehilangan upah bulanan. Javier juga akan meminta kembali upah yang sudah habis kita makan,” kataku dengan suara rendah. Aku bergegas pergi setelah berjanji akan segera kembali apabila tugasku selesai.
Ketika aku sampai di panti, Juan Esteban masih bermalas-malasan di kamarnya.
“Halo, Juan,” sapaku sebisa mungkin memasang wajah riang gembira.
“Mario, kau sudah datang, rupanya. Hampir saja aku menelpon Javier,” ujarnya.
“Apakah aku terlambat?” aku bertanya cemas.
“Tentu saja, tidak. Aku hanya ingin meminta pendapatmu tentang pakaian apa yang akan kukenakan malam ini,” tukasnya.
Aku menarik napas lega.
“Dengan pakaian apa pun, kau tetap tampan, Juan,” kataku bermaksud menghiburnya.
Lebih dari satu jam, aku harus menunggu Juan Esteban mandi dan berpakaian. Sebenarnya, aku sebal dengan pekerjaan ini. Pekerjaan yang membuatku tampak seperti badut bodoh. Tapi, aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ini. Tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang sebenarnya sangat ringan ini. Aku mendapatkan info pekerjaan ini dari iklan di sebuah koran lokal. Javier dikirimi surat lamaran dari orang-orang yang ingin memperoleh pekerjaan ini. Entah pertimbangan apa yang membuat Javier akhirnya memilihku. Barangkali karena nasib baikku saja yang membuat Javier menyisihkan puluhan pelamar lain.  
Tugasku hanya menjemput Juan Esteban dari panti pukul enam sore, membawanya ke sebuah pub, menemaninya minum bir sampai puas, lantas mengantarkan dia kembali ke panti. Selama menemani Juan Esteban, aku tidak diperkenankan mengaktifkan ponsel. Tugas ini kulakukan hampir setiap malam. Hari liburku bergantung padanya. Kalau dia sedang malas ke pub, artinya, aku libur. Tapi, aku harus selalu siap sedia apabila dia meneleponku untuk menemaninya minur bir di panti. Untuk pekerjaan ini, aku mendapat upah 200 peseta per jam. Di luar itu, Javier memberi tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya, dan tunjangan perumahan. Aku dikontrak selama setahun. Apabila Juan Esteban puas dengan pekerjaanku, Javier akan memperpanjang kontrak.
“Bila Anda memutus kontrak di luar waktu yang sudah ditentukan, maka Anda tidak hanya harus membayar denda, tapi upah yang sudah Anda terima pun harus dikembalikan separuhnya,” papar Javier. Sebaliknya, apabila Juan Esteban sudah tidak berkenan denganku, aku tetap menerima upah dan tunjangan sampai kontrakku habis.
“Saya harap, Anda bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik,” ujar Javier.  “Anda akan mendapat hadiah di luar upah dan tunjangan apabila Juan merasa sangat puas,” imbuh Javier.
Sebelum aku, Javier pernah memperkerjakan dua orang sekaligus untuk tugas ini: pensiunan dokter dan mantan tentara. Mereka berbagi tugas menemani Juan Esteban minum bir. Tapi, sebelum kontrak habis, Juan Esteban memecat mereka. Yang tentara terlalu banyak cerita mengenai pengalamannya perang di Irak dan menganggap enteng komentar Juan Esteban. Sementara, yang pensiunan dokter selalu menasihatinya tentang bahaya terlalu banyak begadang dan minum bir. 
“Ayahku juga tidak menyukai cara mereka menatap matanya,” ujar Javier. “Jadi, tataplah mata ayahku dengan pandangan takjub. Dan, selalulah memasang wajah gembira di depannya. Anda harus menjadi teman diskusi yang menarik, bukan hanya pendengar setia. Bila kamu bisa melakukan ini, ayahku akan suka sekali,” saran Javier. 
Tanpa berpikir terlalu lama, aku menanda-tangani kontrak kerja yang disodorkan Javier. Besoknya, aku langsung menyuruh Selena berhenti dari pekerjaannya sebagai pramuniaga di sebuah toko retail. “Kamu di rumah saja mengurus Pedro dan Caras.”
***
Hari mendekati pukul tiga dini hari. Tapi, Juan Esteban belum tampak letih sedikit pun. Kali ini, dia sudah tidak bicara lagi. Dia membuka topi lakennya. Rambutnya yang tipis lekat menempel di kulit kepalanya. Separuh pengunjung telah surut. Juan Esteban meletakkan telapak tangannya pada dagu. Matanya menyapu seisi pub. Entah apa yang dipikirkannya.
Dia pernah bilang bahwa sebenarnya dia tidak menyukai cara Javier dan dua anaknya yang lain memperlakukannya. Dia sebenarnya tidak ingin tinggal di panti. Dia ingin tinggal bersama Javier dan melihat perkembangan cucunya. Tapi, begitulah, anak-anaknya mengirim Juan Esteban ke panti jompo tak lama setelah usianya menginjak 70. Juan Esteban tidak bisa menolak karena ini sudah dianggap seperti kemestian adat. Dia tidak menikah lagi setelah Glebova, istrinya, meninggal karena penyakit liver, sepuluh tahun lalu. Waktu itu, bisnis retail-nya yang dirintisnya sejak muda sedang maju pesat. Javier telah menikah dan mengelola sebagian usahanya.
Setelah Javier, dua anaknya yang lain, Ramos dan Arroyo, satu per satu menikah, mengambil alih bisnisnya dan meninggalkan Juan Esteban dengan cuma ditemani seorang pembantu di rumah. Mereka secara halus menolak ketika Juan Esteban mengutarakan keinginannya tinggal di salah satu rumah mereka. Karena merasa kesepian, dia akhirnya meminta Javier mengirimnya ke panti.
Juan Esteban menenggak lagi birnya. Aku lupa menghitung sudah berapa botol bir yang meluncur ke lambungnya, sudah berapa kali pula dia ke toilet. Dia menggumamkan sebuah lagu yang tak kukenal. Matanya mengawasi beberapa pelayan yang masih sibuk bekerja melayani pengunjung dan membersihkan meja yang telah kosong. Sesekali, ekor matanya melirikku.
Rasa bosan yang menyerangku sejak tadi tak dapat lagi kutahan. Aku bangkit, minta izin kepada Juan Esteban pura-pura ke toilet. Saat aku kembali, kudapati Juan Esteban masih menopangkan dagu, memperhatikan seorang pelayan.
“Apa yang kau pikirkan, Juan?” tanyaku memberanikan diri.
“Kau lihat pelayan itu, Mario? Yang rambutnya dicat hijau,” ujarnya.
Kulihat mata Juan Esteban berkabut.
“Ya, kenapa Juan? Kau tertarik? Bukankah kau masih kuat?”
Juan Esteban terkekeh sebentar. Suaranya terdengar hambar. Sejurus kemudian, mimiknya berubah serius. “Dia mirip Martina,” ujarnya dengan suara rendah.
Aku kembali teringat Martina.
“Mungkinkah dia anakmu, Juan?” ujarku. Laki-laki gaek ini hanya melirikku sebentar, lalu meneruskan amatannya pada pelayan itu. “Perlu kupanggil pelayan itu kemari?” usulku. Tanpa menunggu persetujuannya, aku memanggil pelayan itu.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” kata pelayan itu ramah, bergantian menatapku dan Juan Esteban. “Bisa tambah birnya, Nona,” ujarnya setelah agak lama terbengong memandang wajah pelayan yang jadi sedikit salah tingkah ditatap serupa itu. Kurasa, pelayan itu juga heran dengan permintaan Juan Esteban karena di meja kami masih ada dua teko besar berisi bir penuh.
Setelah pelayan itu beranjak mengantarkan pesanan, Juan Esteban tidak lagi meneruskan pembicaraan mengenai Martina ataupun pelayan yang mengingatkannya pada bekas pacar gelapnya tersebut. Juan Esteban mengalihkan pembicaraan tentang pub yang besok akan dikunjunginya untuk minum bir. Setahuku, hampir seluruh pub yang ada di kota kecil ini sudah dikunjunginya. “Aku bosan dengan suasana pub yang begini-begini saja, Mario. Aku ingin mencari pub yang beda.” ujarnya. “Masih ada satu pub yang belum kukunjungi di kota ini,” sambung Juan. Aku mencoba berpikir pub mana yang dimaksud Juan Esteban.
“Pub Gommora, Mario,” cetus Juan Esteban menyebut nama sebuah pub yang khusus untuk kalangan gay.
“Tidak salah, Juan?” kataku.
“Kamu keberatan, Mario?” tanyanya. Aku tak menyahut. Kurasakan ponselku bergetar lagi. Pastilah dari Selena.

Comments