Tentang Buku yang Mengandung Pornografi yang Ditarik dari Perpustakaan SMP/SMA Pacitan

Kabid SMP/SMA Dindik Pacitan Rudy Haryanto menunjukkan buku "Lagu Cinta untuk Tuhan" yang ditarik dari perpustakaan SMP/SMA Pacitan. Gambar diambil dari radarmadiun.com

Kabar itu datang tengah hari, saat saya baru beberapa menit duduk dalam kubikel. Sepupu dari Pacitan, Jawa Timur,  yang menghembuskannya melalui short message service (SMS) setelah panggilannya terabaikan lantaran profile dering silent.  Begini bunyi sms-nya: aris, wis baca radar madiun? Bukumu lagu cinta untuk tuhan dadi kasus neng SMP Pacitan wis krungu?

Beberapa menit pertama saya agak tersentak. Lantas, secara otomatis imajinasi saya bermain, mungkin buku saya telah jadi penyebab sejumlah pelajar SMP di Pacitan melakukan bunuh diri, atau pesta orgi di ruang kelas. Sehingga guru-guru mereka menarik buku saya dari rak perpustakaan sekolah, dan bersiap mengejar lantas menangkap saya untuk bertanggung jawab. Jadi, saya harus bersiap-siap pula menyewa pengacara.

Beberapa menit berikutnya saya tertawa, sepertinya merasa gembira, lantaran menemukan fakta betapa buku saya yang terbit 7 tahun lalu itu ternyata masih dibaca dan dianggap membahayakan. Bukankah ini luar biasa? Yang saya heran, kenapa baru sekarang  ketahuan? Buku itu terbit pertengahan 2005 oleh penerbit Logung Pustaka Yogyakarta yang telah gulung tikar. Ini sungguh kasus yang menarik.

Saya yang dikejar penasaran, secara gesit segera meminta penjelasan sepupu saya tentang kasus macam apa yang ditimbulkan buku itu. Sayangnya, sepupu saya yang memang seorang guru SMA di kabupaten tempat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berasal tersebut, hanya mengirim link Radar Madiun yang memuat berita yang konon menggegerkan itu. Tapi saya rasa itu sudah lebih dari cukup. Nah, di bawah ini saya turunkan secara lengkap kliping berita bertanggal 31 Juli 2012 di koran tersebut.

Sekolah Dianggap Ceroboh
KOTA --Inilah buku berjudul “Lagu Cinta untuk Tuhan” yang dinilai belum pantas menjadi bacaan siswa SMP itu. Pun, setelah menahun mengisi koleksi perpustakakaan SMPN 1 Pringkuku Pacitan baru diketahui ada kalimat yang mengarah ke pornografi hingga terpaksa ditarik dari peredaran. Tak pelak, Rudi Handoko anggota Komisi B DPRD setempat langsung menuding pihak sekolah ceroboh. “Jelas tidak dilakukan seleksi hingga telanjur meracuni,” tegasnya, kemarin (30/7).

Buku sumbangan alumni itu sudah menghiasi lemari perpustakaan SMPN 1 Pringkuku sejak 2003 silam. Rudi mengaku tidak dapat membayangkan berapa jumlah siswa yang sudah membacanya selama sembilan tahun. Apalagi, buku setebal 187 tersebut selama ini menempati rating tinggi yang dipinjam siswa dari perpustakaan.”Tidak ada upaya antisipasi dini. Ini berbahaya dan tidak mendidik siswa,” tegas legislator berbasis PNI Marhaenisme itu.

Dia mendesak dinas pendidikan dan jajarannya lebih intensif menjalankan pengawasan ke sekolah-sekolah terhadap sesuatu yang berbau pornografi. Sebab, pornografi dan pornoaksi merangsang keingintahuan remaja.”Dewan juga akan berperan melakukan pengawasan. Komisi B rencananya segera melakukan sidak,”terang Rudi.

Sementara itu, Kabid SMP/SM Dindik Pacitan Rudy Haryanto mengaku ikut terpukul dengan temuan buku berjudul “Lagu Cinta Untuk Tuhan” yang menjadi koleksi SMPN 1 Pringkuku. Pihaknya meminta proses seleksi buku perpustakaan sekolah lebih diperketat. “Baik pengadaan dengan menggunakan dana BOS (bantuan operasional sekolah), bantuan pemkab, maupun sumbangan dari alumni,” jelasnya ditemui terpisah.

Dindik yang kebakaran jenggot akhirnya menginstruksikan seluruh sekolah merazia handphone siswanya. Sabtu (28/7) lalu, sejumlah sekolah langsung melakukan razia serentak namun belum diketahui hasilnya. “Kami ingin menghindari penyebaran film atau gambar porno yang menyebar melalui HP pelajar,”pungkasnya. (fik/hw) (yogama)

Tentu saja ada yang tidak akurat dari berita tersebut. Disebutkan: “Buku sumbangan alumni itu sudah menghiasi lemari perpustakaan SMPN 1 Pringkuku sejak 2003 silam.” Yang benar buku tersebut menghiasi lemari perpustakaan sejak 2005 atau sesudahnya. Masalah akurasi data ini memang menjadi salah satu penyakit akut jurnalis kita.

Tujuh tahun memang bukan waktu yang panjang, tapi ini membuat saya harus bekerja keras untuk mengingat-ingat kembali cerita apa saja yang termuat di sana dan dianggap mengandung unsur pornografi. Maklum saja, saya tidak akan sempat (:malas) membongkar rak buku saya untuk menemukan dan membacai kembali buku itu. Lamat-lamat saya ingat, ada memang tema perselingkuhan, pembunuhan, kekerasan seksual semacam sadomasokis dan pedofilia.
  
Apakah cerita yang mengangkat tema yang saya sebut di atas harus selalu porno? Tentu saja akan mengundang perdebatan yang tidak akan pernah selesai. Persoalannya mungkin ada pada masalah usia pembaca. Namun, benarkah tema serupa itu terlalu porno bagi anak usia SMP/SMA, dan mampu mendorong mereka bertindak asusila? Ini pun bisa jadi perdebatan yang sama ruwetnya.

Bagaimana pun, kasus kecil ini bagi saya tetap menarik. Tapi saya tidak tertarik untuk menanggapinya secara berlebihan, apalagi melakukan pembelaan. Sebuah karya, apa pun itu, ketika dilempar ke publik, telah menjadi milik publik. Publik memiliki hak untuk menafsirkan apa saja. Jadi, bagi saya, menuliskannya lewat blog, sudah lebih dari cukup.

Comments