Ada Hantu di Mata Ayah

pernah disiarkan Tribun Jabar, Minggu 15 Maret 2009
--> -->
Ayah pulang telat lagi malam ini. Wajahnya pasti tampak pucat dan letih sekali. Ayah berdiri mematung di depan pintu seperti ragu-ragu mengetuk atau menekan bel. Aku sedang berbaring telentang di ruang tengah nonton televisi. Pura-pura tidak tahu. Kulihat bayangannya yang gugup memanjang menyentuh kursi. Aku bertahan tak menghiraukannya, pura-pura sibuk memindah-mindah chanel melalui remote control. Baju ayah pasti basah oleh keringat berdesakan di bus tadi. Kakinya tentu pegal-pegal karena tidak mendapat tempat duduk dan terpaksa harus berdiri lama sepanjang perjalanan karena macet. Biarlah dia berdiri di luar sampai pagi. Aku tidak mau lagi mendengar rayuannya supaya aku mau menerima tante Maira sebagai pengganti Bunda.

Aku benci tante Maira, dan aku ingin menunjukkan kebencianku pada setiap orang. Supaya mereka tahu aku tidak butuh seorang pun untuk menggantikan bunda. Walaupun dia sering membawakan es  krim, ayam goreng, majalah dan kaset lagu kesukaanku. Kata Roy, tante Maira jahat. Dia suka memukul Roy dan teman-teman di kelas cuma gara-gara mereka tidak mengerjakan PR. “Coba kamu lihat matanya.  Mata perempuan perayu. Tempat bersarangnya hantu.”  

Barangkali ayah memang sudah kena rayu hantu yang bersarang di mata perempuan itu. Itulah sebabnya ayah selalu telat pulang, membiarkan aku sendirian dan lupa membelikan aku buku cerita. Itulah salah satu saja alasan kenapa aku yakin ada hantu yang menghuni mata tante Maira.   

“Kalau kamu tidak mau ditinggal sendirian, biarkan tante Maira menjadi istri ayah.” kata ayah merayuku. Aku melempar buku, lalu membanting pintu masuk kamar merutuki tante Maira supaya dipecat dari pekerjaannya dan pergi sejauh-jauhnya, atau kalau perlu  lekas mati sehingga tak ada lagi yang merayu ayah. Aku menutup kedua telingaku dengan bantal supaya tak mendengar suara ayah yang terus merayu dari balik pintu. Aku diam saja dan tak mau keluar sampai pagi. Aku benci dirayu serupa itu. Walaupun ayah merayuku sampai pagi, aku tidak mau punya bunda tante Maira. Suara ayah yang terdengar lembut dan menghiba menerobos bantal dan masuk telingaku.

Aku tak peduli. Dan baru mau keluar karena harus salat subuh. Itupun kulakukan dengan menggerutu dan tetap membisu. Kucium tangan ayah tanpa kata-kata. Aku tak berani menatap wajah ayah yang bening dan bermata sayu menenteramkan. Aku takut wajah bening itu merayuku lagi sehingga aku harus membencinya.  Kubayangkan mata sayu itu digerayangi hantu dari mata tante Maira sehingga tidak teduh lagi. Aku takut dan sering gelisah. Sehingga aku kadang merasa malas harus pulang ke rumah dan bertatapan dengan mata sayu ayah. Benakku ditumbuhi rasa benci sekaligus salah. Perasaan ini menderas melanda dan menggerogoti kenyamanan perasaanku.  

Kegelisahan  yang kurasakan makin menjadi-jadi sejak entah kenapa nenek yang biasanya selalu menjadi benteng pertahananku belakangan tiba-tiba ikut membujukku. Pasti nenek sudah   kena pengaruh hantu dari mata tante Maira.  “Alma, Ayah memerlukan tante Maira untuk mengurus  rumah. Membuatkan teh dan menyetrika baju ayah. Kau tahu nenek sudah tua, tidak bisa bolak-balik tiap hari.”         

Aku bagai dikepung oleh mata Tante Maira yang mengerikan bagai mata elang yang siap mencaplok mata mungilku. Tapi aku tidak boleh takut. Kata Roy, aku harus melawannya. Roy benar, aku harus menentang matanya. Kalau perlu meludahinya. 

“Ya, kau ludahi saja mata tante Maira yang mengandung hantu itu, bundamu pasti setuju.” 

Betulkah bunda setuju?

“Tante Maira ‘kan yang membuat ayah meninggalkan bunda?”

Nenek bilang bundalah yang meninggalkan ayah.  Aku tidak tahu bunda tinggal di mana dan kenapa ayah tidak mencarinya. Aku tak dapat mengenang wajah bunda kecuali sayup-sayup.  Wajah yang mirip tante Kesya, mama Roy. Katanya mereka memang bersaudara. Pantas tante Kesya baik padaku; sering mengajakku berenang di pantai, jalan-jalan ke kebun binatang dan makan bakso di mall. Tapi aku tahu ayah tidak selalu senang tante Kesya mengajakku pergi, entah kenapa. Aku tidak pernah melihat mereka ngobrol seperti ayah ngobrol dengan tante Maira.  Pernah kulihat ayah menampar tante Kesya. Jangan mau lagi pergi dengan tante Kesya, kata Ayah. Tapi aku tak menurutinya. Aku diam-diam tetap sering pergi bersama tante Kesya. Apalagi sejak ayah sering pulang telat dan membawa tante Maira ke rumah. Kadang tante Kesya yang menjemputku dari sekolah, lebih sering aku yang datang ke rumahnya bersama Roy. Tante Kesya tidak pernah bercerita tentang bunda. Aku sendiri tidak mempedulikan. Waktuku habis untuk buku-buku cerita. Aku bisa memiliki bunda atau apa saja sesuai keinginanku. 

Nenek tak pernah bercerita ada apa pada hari yang mendung itu. Aku merasakan seperti ada kejadian besar yang ditutup-tutupi. Banyak orang berkerumun di depan rumahku. Mang Darman membopong dan menurunkan aku dari becaknya.  Aku ingat itu adalah hari terakhir aku sekolah karena Seninnya liburan selama seminggu setelah ulangan caturwulan. Tak ada yang menyambutku di  depan pintu. Orang-orang memandangku dengan ekspresi tak kumengerti. Aku langsung menghambur masuk rumah. Tapi ada seseorang yang menarik tanganku dan menghalangiku masuk. Orang itu membawaku ke nenek. Kudapati wajah Nenek merah padam, dan bunda diarak orang-orang itu entah ke mana bersama seorang lelaki yang bukan ayah. Nenek tak memperkenankan aku bertemu bunda.  Ayah tentu saja di tempat kerja. Nenek memeluk dan membawaku ke rumahnya yang berjarak sepuluh menit dari rumahku. Aku menangis tapi kemudian kakek mengajakku belanja ke mal dan aku tertawa-tawa naik komidi putar.  Tetapi itulah kukira, hari yang penting dalam hidupku, karena sejak itu aku sulit bertemu bunda.

Waktu awal-awal mendapati keadaan ini kadang aku menangis, dan bertanya ke mana bunda. Nenek berkata bunda sedang pergi ke rumah Omah. “Besok bunda pulang. Alma bersama nenek di sini.” Tapi sampai bertahun-tahun bunda tak pernah datang lagi. Dan aku kemudian  bisa melupakannya. Aku tidak bersedih hidup tanpa bunda, tapi tidak pula bahagia. Aku tidak tahu, aku tidak pernah berfikir harus bahagia atau bersedih. Teman-temanku yang selalu dijemput ibu mereka saat pulang sekolah tidak membuatku melamun memikirkan bunda. Aku merasa hidupku baik-baik saja. Tak ada yang pantas disesali. Aku sibuk bermain dan mengaji, itu membuatku menikmati hari-hariku. Kesedihan hidup tanpa bunda seperti yang sering didramatisir orang-orang tak mempan buatku. 

Kesedihan itu justru muncul sejak kehadiran tante Maira. Dia seperti tukang sihir yang mengubah pandanganku tentang bunda.  

Pagi itu tante Maira datang lagi. Kepalanya yang selalu tertutup kerudung lebar melambai-lambai muncul dari pintu pagar. Kudengar langkahnya pelan menginjak kerikil. Aku bangkit dan menghadangnya di depan pintu. Seperti biasa di tangannya ada kantung plastik putih. Ia meletakannya di meja lalu menghambur hendak memelukku. “Alma,  sendirian? Lihat, tante bawakan es krim kesukaanmu.”

Kutatap matanya penuh kebencian. Aku ingin menantang hantu yang bersarang di sana. Biar tak ada lagi yang membujuk ayah,  biar ayah tak lagi pulang telat, biar ayah tidak pernah lagi bertanya, kenapa kamu benci tante Maira, Alma? Aku menunggu hantu itu muncul dari mata tante Maira. Akan aku tantang berkelahi.

“Alma, kenapa? Nenek tidak kemari ya, ayahmu mungkin telat lagi. Tapi tidak usah kesal. Biar tante temani kamu sampai ayah pulang. Mandilah dulu Alma. Kamu harus pergi mengaji, bukan? Nanti Tante antar ya.”

Tante Maira mengangsurkan handuk. Aku mencampakkannya.

“Alma, mandilah,” Tante Maira memungut handuk dan menyampirkannya di bahuku. Dari balik jendela kulihat Kiki, Aisyah, Mita berlarian dengan juz ama di pelukan mereka. Lalu tampak tante Kesya menyeret Roy yang meronta-ronta. Aku tahu Roy enggan mengaji. Dia lebih suka main di rumah koh Supono yang menyewakan play station.

“Mandilah, Alma.” Suara tante Maira terdengar lagi.

Aku tak menghiraukannya. Tapi kulihat tante Maira tak mempedulikan sikapku; dia terus merapikan handuk dan baju-bajuku. Kata Roy aku harus terus menatap matanya. Tapi sampai aku lelah sendiri hantu itu tidak juga nampak. Hantu itu tak muncul-muncul dari Mata tante Maira yang bening dan teduh.   Pantas hantu kerasan tinggal di sana, pikirku. Tetapi hantu itu tak pernah kulihat. Barangkali dia sudah meninggalkan tante Maira.

“Tidak mungkin. Hantu itu tidak akan pernah meninggalkan mata tante Maira,” kata Roy dan tante Kesya, “kamu harus meludahinya, Alma. Kasihan nanti ayah kena pengaruhnya bisa berbahaya.” timpal tante Kesya.

Malam hari aku suka membayangkan hantu itu keluar dari mata Tante Maira dalam wujudnya yang paling mengerikan. Aku sudah menyiapkan pedang yang kugantung sebagai pajangan di dinding. Apakah ini berlebihan? Kurasa tidak. Walau aku remaja, tapi buku-buku cerita yang kubaca lebih banyak dari teman-teman seusiaku.
                                                                           ***
“Apa yang kamu baca, Alma” tanya bunda. “lekaslah tidur, ayahmu tak pulang malam ini.”

Kudengar Bunda mendengus kesal, matanya bunda sembab. Aku tahu mereka bertengkar semalam. Itulah sebabnya, kenapa aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan membaca buku cerita. Aku tak mau terseret dalam pertengkaran mereka. Kata nenek pertengkaran adalah bumbu dalam kehidupan rumah tangga. Aku tak perlu sedih. Toh aku bisa membuat cerita tentang mereka menjadi lain sama sekali. Seperti yang barusan kutulis di atas; agak ngawur, mengada-ada dan terkesan kurang waras. Untuk yang satu ini bunda selalu memujiku, “Pintar sekali kamu ngarang!” Tentu saja yang dimaksud pintar ngarang adalah pintar ngelantur! Tapi meyakinkan, bukan?* 

Desember 2008 

Comments