Alam Sutra

pernah disiarkan Tribun Jabar, Minggu 7 Februari 2010
Saya tercangkul di halte itu. Memandang lalu lintas yang berjalan tersendat dicegat kemacetan yang tentunya sangat menjengkelkan di bawah cahaya redup matahari sore. Dari balik jendela saya melihat wajah-wajah yang putus asa. Apakah kiranya yang mereka pikirkan? Lalu lintas yang semrawut? Merindukan segera tiba di rumah bertemu keluarga? Adakah mereka membayangkan sebuah kota yang bebas dari segala kemacetan? Di kota ini tak ada orang yang bisa terbebas dari kemacetan. Memang malang bagi kami yang tinggal dan menjadi bagian dari kota ini. Ah kenapa saya tiba-tiba berada di halte ini, dan berpikir tentang kota yang bebas dari kutuk kemacetan? Seingat saya sejam lalu saya masih berada di kamar bersama pacar saya, bercakap-cakap mengenai beberapa kemungkinan penyebab Feri, teman saya, bunuh diri.

“Mungkin dia putus asa saban hari kena macet.” kata pacar saya, asal-asalan. Tapi mungkin saja benar. Bukankah situasi yang serba macet kerap bikin orang menanggalkan akal sehat? Saya tidak tahu. Yang saya ingat, baru beberapa jam lalu. Tapi kenapa saya merasa sudah bertahun-tahun yang lalu? Duhai ingatan, terbuat dari apakah gerangan? Pada menit berikutnya saya sudah berada di dalam sebuah taksi. Sungguh saya kerepotan melacak ingatan sebelum mendadak duduk di dalam taksi, beberapa menit setelah saya berpikir tentang kemacetan.

“Ke mana Mas?” saya dengar sopir taksi bertanya. Dan begitu saja saya menyahut: “Antarkan saya ke Alam Sutra, pak.” seraya menangkap raut misterius sopir taksi melalui kaca spion.

”Alam Sutra? Wow, apakah Anda warga Alam Sutra?” tanya sopir itu dengan nada yang tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ini tentu agak mengejutkan saya. Sepertinya Alam Sutra itu kota yang benar-benar aneh. Atau, jangan-jangan sopir ini menyangka Alam Sutra yang saya maksud adalah kompleks perumahan mewah. Saya jelaskan bahwa Alam Sutra yang saya maksud bukan kompleks perumahan mewah. Melainkan sebuah kota yang…

“Ya, ya, saya tahu.” katanya, memotong kalimat saya, “tenang saja. Tidak terlalu jauh, kira-kira satu jam perjalanan,” ucapnya menenteramkan saya. Sebelumnya saya belum pernah tahu kota yang bahkan namanya baru saya kenal beberapa malam lalu dalam tidur. Feri, teman saya yang mati bunuh diri itu, datang dalam mimpi saya. Dia bilang Tuhan tidak menerima arwahnya sehingga dia tinggal di kota itu. Kota tempat nyangkutnya arwah-arwah penasaran dari orang-orang yang mati secara tidak wajar.

“Alam Sutra. Ya, kini saya tinggal di Alam Sutra. Datanglah sesekali. Asyik kok, ada water boom-nya, ada pub juga dengan aneka minuman. Dan semua gratis ” kata Feri dalam mimpi tersebut. Saya berpikir barangkali Alam Sutra semacam tempat transit. Saya tak sempat berpikir apakah untuk menuju ke sana saya harus bunuh diri dulu. Yang terpikir cuma kota tersebut sangat menarik buat saya. Bayangkan ada water boom dan pub gratis! Dalam mimpi berikutnya Feri memberi tahu rute jalan menuju ke kota itu. Dari kota tempat tinggal saya, saya cukup naik angkot ke terminal; lalu disambung taksi berwarna perak. Taksi ini sangat jarang dan datang pada saat-saat tertentu saja. Hanya taksi ini yang bisa mengantarkan ke kota itu. Saya tak sempat bertanya lebih lanjut. Feri telah lenyap seperti asap yang ditiup angin.

“Bukankah taksi ini khusus melayani ke kota itu?” tanya saya.

“Anda benar. Tapi apakah Anda warga Alam Sutra?”

“Bukan,”

“Jadi apa tujuan Anda ke sana? Anda masih muda, kalau boleh saya sarankan Anda tidak usah ke sana.” Sopit taksi itu tampak penasaran dan cemas. Brengsek! Cerewet juga sopir taksi satu ini. Saya membentak sopir taksi ini supaya tidak banyak bicara lagi. Saya tidak tahu dari mana keberanian itu tiba-tiba muncul. Taksi melesat membelah jalanan yang makin temaram. Dari jendela saya lihat lampu-lampu menyala redup.

Lantas pikiran saya melesat membayangkan Alam Sutra. Membayangkan Feri yang sudah mati, tapi kini nyangkut di kota itu. Agaknya ini memang menakjubkan. Saya dan Feri berteman sejak kecil. Tapi saya tidak tahu kenapa Feri memilih mati dengan cara menjatuhkan diri dari lantai 13 di sebah mal. Padahal hidupnya tidak seberapa sengasara. Bapaknya pengusaha traveling yang telah menyiapkan rumah untuk Feri menikah. Soal karir, Feri tinggal memilih. Ke mana-mana sopir pribadi siap mengantar. Berapa pun uang yang dia butuhkan selalu dipenuhi. Pendeknya, dia tidak punya alasan untuk buru-buru meninggalkan dunia yang nikmat ini.

Pikiran saya buyar oleh bunyi rem yang diinjak mendadak. Taksi berhenti di depan perempuan yang melambaikan tangan. Pintu taksi terbuka secara otomatis, lalu perempuan itu tiba-tiba duduk di sebelah saya. Taksi kembali melesat. Saya mau protes kenapa perempuan sialan ini diperkenankan naik.

“Saya satu tujuan dengan Anda,” ucap perempuan itu. Perempuan yang tidak terlalu cantik. Namun menyimpan keteduhan yang membuat setiap orang ingin berlabuh dalam pelukannya. Matanya yang sayu dan bibirnya yang tebal menyiratkan hasrat seks yang dahsyat.

“Anda mau ke Alam Sutra?”

“Ya.”

“Bagaimana Anda tahu kota itu?”

“Teman saya. Dia warga kota itu, mengundang saya. Anda sendiri?”

“Saya baru saja bunuh diri. Arwah saya nyangkut di kota itu,” kata perempuan ini. Saya tidak tahu kenapa tidak merinding mendengar penjelasan yang cukup menyeramkan tersebut. Padahal setahu saya, saya ini penakut bukan main.

“Kenapa Anda bunuh diri?”

“Iseng-iseng.” Suaranya terdengar pelan namun mantap dan penuh keyakinan yang rasa-rasanya ganjil sekali. Barangkali hidup ini berawal dari keisengan, jadi boleh juga orang mengakhirinya dengan cara iseng pula. Pikiran iseng ini membuat saya agak tenang menghadapi pengalaman ini.

“Anda betah nyangkut di Alam Sutra?”

“Sebetulmya tidak terlalu menyenangkan. Namun dibanding di kotaku yang lama Alam Sutra jauh lebih baik. Di sana tidak ada korupsi. Harga-harga sembako serba murah, gratis malah. Tidak ada kenaikan tarif telepon, listrik, BBM malah turun melulu. Biaya pendidikan murah. Para politisi di sana tidak pernah bertengkar dan sok pahlawan untuk sepotong kekuasaan atas nama demokrasi dengan dalih untuk kepentingan rakyat. Fasilitas untuk umum tersedia di mana-mana dan gratis pula. Di kotaku dulu tidak ada yang gratis. Kencing saja bayar seribu perak, belakangan bahkan jadi dua ribu perak…” cerocos perempuan ini sebelum tiba-tiba terkulai di pangkuanku, mendesiskan kesepian.

 “Eeh..eh…kenapa ini?” ujar saya gugup. Dari kaca spion saya lihat sopir taksi itu malah cengengesan kurang ajar.

“Gak usah panik. Barangkali dia ngantuk. Biasa perempuan yang mau ke sana memang begitu ulahnya,” penjelasan sopir ini tidak menyurutkan kecemasan saya. Tampaknya dia memang membiarkan saya dalam kecemasan. Taksi makin melesat kencang. Kegelapan begitu pekat di luar membuat taksi bagai jalan di tempat.

“Berapa lama lagi sampai?”

”Enam puluh menit.” Saya merasa sudah berjam-jam dalam taksi, tapi sopir bilang masih 60 menit. Jangan-jangan dia sedang mempermainkan saya. Jangan-jangan dia telah menyesatkan saya. “Kita sudah berjam-jam dalam perjalanan, kau bilang masih tiga 60 menit lagi, hah! Bentak saya mulai tak dapat mengendalikan emosi.

“Kita baru 60 menit menempuh perjalanan,” ujar sopir datar, bikin saya gusar.

“Jangan main-main!” saya meloncat ke jok depan, merenggut kerah bajunya. “Kita memang baru 60 menit. Lihat jam itu..” Jam digital dalam taksi itu menunjukkan pukul 00.30. Ketika saya masuki taksi ini memang pukul 23.30. “Waktu di Alam Sutra memang tidak sama dengan di kota Anda.” Saya terhenyak mendengar penjelasan sopir sialan ini. “Jadi berapa lama lagi kita sampai di sana…”

"Tujuh belas menit, atau sekitar tiga perempat hari lagi waktu kota Anda.”

“Shit!”

“Tidurlah.”

Saya memang tertidur akhirnya. Saya berharap Feri datang dalam tidur saya. Saya ingin bertanya apakah Alam Sura semacam akhirat yang memiliki perbedaan waktu dengan dunia? Dan dapatkah saya kembali dari sana jika kelak merasa bosan? Pertanyaan terakhir ini yang baru saya sadari. Seandainya tidak dapat kembali, tentu ini hal yang mengerikan. Saya masih muda, belum mau mati. Saya belum pernah kawin dan punya keturunan. Walaupun bumi sudah sesak oleh manusia, toh saya masih punya hak memiliki keturunan. Aduh. Seandainya tata kehidupan di kota itu serupa dengan di kota saya, tak jadi masalah. Tapi apa itu mungkin. Bukankah itu kota tempatnya para arwah penasaran dari orang yang mati secara tidak wajar?

Penuh kepanikan dan cemas saya berpikir untuk membatalkan perjalanan ini.

“Tidak bisa,” kata sopir seperti tahu maksud saya. Mimik sopir itu terlihat sedingin salju. Rasa takut yang mencekam menggerayangi perasaan. Saya memijit-mijit nomor ponsel, mencoba menghubungi orang rumah. Tak ada jawaban.

“Bung, apakah nanti saya bisa kembali ke kota saya?” tanya saya di tengah kepanikan yang tak dapat saya kuasai. Saya lihat sopir itu tersenyum sinis. Tampak betul dia menikmati kepanikan saya.

Sopir itu tidak menjawab. Bibirnya makin menguraikan senyum yang sangat menyebalkan sekaligus menyeramkan. Deru taksi tak terdengar lagi bahkan angin pun tak bersuara, semuanya bagai lesap ditekan gelap. Suasana benar-benar sunyi. Lantas lamat-lamat tercium aroma setanggi. Saya berpikir barangkali inilah Alam Sutra.

Comments