Braile

pernah disiarkan Tribun Jabar, Oktober 2010
Pulang kerja Halimah tak mendapati suaminya di rumah. Kursi bambu tempat biasa suaminya berbaring, terlihat kosong. Kecemasan seketika berkeliaran dalam benaknya. Ah, kemana Bang Sarta, batinnya, hampir serupa keluh. Lekas dia bergerak ke ruang tengah. Sebenarnya tak layak disebut ruang tengah. Rumahnya ini tidak terdiri dari ruang-ruang yang mempunyai fungsi masing-masing. Ruang tengah, ruang tamu, bahkan juga dapur menyatu belaka. Hanya disekat tirai dari kain kusam. Cukup menggunakan pendengarannya Halimah bisa memastikan ada orang atau tidak di rumahnya.

“Abang di mana?” panggilnya hampir berteriak. Jelas suaminya tak ada di rumah. Pergi ke mana Bang Sarta? Batinnya makin dicakar kekhawatiran. Bagaimana tidak khawatir. Penglihatan suaminya rabun parah. Siang hari saja dia tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas, sampai nabrak-nabrak. Apalagi di cuaca remang menjelang maghrib begini. Berbagai bayangan buruk berkelebatan di kepala Halimah.

Begitu saja Halimah meletakkan kantung kresek berisi nasi bungkus serta sebuah benda terbungkus kertas koran yang akan berikannya pada Bang Sarta sebagai kejutan, di meja. Lantas ditunaikannya salat maghrib secara tergesa, sebelum melompat keluar mencari suaminya. Abang, Abang, ke mana sih kamu? Keluhnya. Aku kan sudah pesan jangan keluar rumah tanpa ada yang menuntun. Ditengoknya rumah tetangga kiri kanan. Sepi.

“Bang Sani, lihat Bang Sarta?”

“Wah, gak tahu po! Memang kemana Bang Sarta, po?” Sani, tetangga depan rumah, sambil mengalihkan kesibukannya sejenak malah balik bertanya. Sani, Sani, kalau aku tahu kemana Bang Sarta pergi, tak bakal aku kelimpungan mencari.

Sejak hampir tiga bulan lalu Bang Sarta tak keluar rumah jika tak ada yang menuntun. Yakni sejak rabunnya makin parah. Entah apa sebabnya. Padahal umurnya masih muda. Baru 50 tahun. Mungkin gara-gara suka membaca dengan cahaya yang minim, sambil tiduran pula. Meski tukang ojek Bang Sarta memang gemar membaca. Apa saja dibaca. Koran, majalah, buku. Tapi menyalahkan kebiasaan itu jelas tidak ada gunanya. Malah bikin tambah masalah dan sama dengan mengurangi keikhlasan. Sejak itu otomatis dia tidak lagi bisa ngojek. Tanggung jawab mencari nafkah kemudian berpindah ke punggung Halimah.

“Mungkin gara-gara suka makan putih telur mentah po,” kata tetangga, ketika Halimah berkeluh kesah, “Sudah preksa ke dokter belon po?” Kalau pertanyaan yang sudah diduga ini muncul, Halimah bingung harus ngomong apa. Boro-boro buat ke dokter, beli beras saja susahnya setengah mati.

“Banyak makan wortel deh, po,” tetangga yang lain memberi saran. Kalau ini sih sudah dilakukan sejak Bang Sarta mulai mengeluh matanya perih dan pandangannya sering buram. Sebenarnya tujuan utama Halimah berkesah kepada mereka, bukan untuk minta saran tentang cara pengobatan mata rabun Bang Sarta, apalagi minta belas kasihan. Melainkan mencari informasi tentang pekerjaan yang mungkin bisa didapatkannya guna bertahan hidup. Halimah tak mau menyusahkan anak-anaknya. Lagi pula mereka sendiri Halimah tahu kehidupanya susah. Jadi buruh cuci sudah tak lagi mencukupi. Makin jarang orang menggunakan jasa tukang cuci. Bukan hanya lantaran orang-orang sudah banyak punya mesin cuci, tapi juga banyak jasa laundry. Mahasiswa-mahasiswa yang dulu jadi pelanggannya sekarang beralih ke jasa laundry.

Terpaksalah akhirnya Halimah menerima tawaran menjadi kondektur metro mini. Awalnya, sungguh-sungguh kikuk. Selain karena ia bukan orang yang sering bepergian, pekerjaan ini sering dianggap sebagai pekerjaan kaum lelaki. Perempuan tidak pantas bekerja jadi kondektur. Menyalahi kodrat.

“Po, boleh tetap pake kerudung kok.” kata Bang Melvi, sopir metro mini asal Padang itu. Tanpa diberi tahu tentu saja Halimah akan tetap mengenakan kerudung. Masa cuma gara-gara jadi kondektur metro mini harus lepas kerudung? Yang bener aja. Lha wong jadi bintang sinetron saja boleh tetap pakai kerudung.

Waktu Halimah cerita mengenai niatnya kerja menjadi kondektur Metro Mini, Bang Sarta sebenarnya tidak mengizinkan. “Apa nggak ada kerjaan lain, Mi?”

“Mungkin ada, bang. Tapi Umi belum nemu. Sementara ini saja Umi terima.” kata Halimah hati-hati. Dia mengerti betul keberatan suaminya.

“Maafkan Abang, ya Mi,” suara Bang Sarta terdengar sedikit bergetar. Halimah buru-buru melengos. Dia tak mau Bang sarta melihat matanya berkaca-kaca. Halimah bersedih bukan karena harus bekerja jadi kondektur metro mini. Melainkan trenyuh melihat takdir yang menimpa laki-laki yang demikian dicintainya itu. Dia tahu sejak muda dulu Bang Sarta orangnya pendiam, kurang bergaul, pemalu, sangat jarang tertawa. Apalagi berteriak-teriak melihat kesebelasan favoritnya meraih kemenangan telak. Sepulang ngojek, tak ada lagi yang dikerjakannya selain membaca. Itulah satu-satunya kegemaran yang dimilikinya. Halimah bisa membayangkan betapa sepinya dunia suaminya itu kini ketika membaca pun tidak bisa lagi dilakukannya.

“Sudahlah, Bang. Yang penting halal. Umi baik-baik saja kok.”

Apa boleh buat, Bang Sarta akhirnya mengizinkan dengan berat hati. Kini tanpa terasa sudah tiga bulan Halimah menjalani pekerjaan sebagai kondektur metro mini. Saban hari berangkat usai subuh pulang menjelang maghrib. Dia sudah tidak canggung lagi berteriak-teriak memanggil penumpang jurusan Senen Rawamangun, bergelantungan di pintu kalau bis lagi penuh penumpang, berpeluh-peluh di bawah terik matahari yang mencakari kulitnya yang mulai keriput, dan tentu saja percikan air hujan. Kata Bang Melvi, Halimah tak kalah gesit dengan kondektur laki-laki. Dan, alhamdulilah selalu banyak penumpang. Mungkin karena semua Halimah lakoni dengan ikhlas. Ia tahu ini pastilah merupakan kehendak Allah. Ia selalu berdoa, yang penting sehat dan diberi ketabahan.

Bang Sartalah justru yang terlihat sering murung, makin pendiam, agak mudah tersinggung. Yang paling membuat Halimah sedih, Bang sarta seperti kehilangan gairah hidup.

“Abang jadi merepotkan Umi ya. Abang tak berguna.”

“Abang jangan bicara begitu. Tidak bersyukur namanya.”

“Umi pasti capek ya. Abang pijit ya,”

Halimah sebenarnya tak mau Bang Sarta memijit sekalipun memang tubuhnya pegal-pegal kalau malam sepulang kerja. Halimah tak mau jadi istri durhaka, memanfaatkan ketakberdayaan suami. Tapi di satu sisi dia takut melukai perasaan suaminya jika menolak dipijit. Ya sudahlah. Pada saat dipijit itu Halimah selalu menceritakan pengalamannya seharian tadi. Seminggu lalu ada penumpang metro mini, anak muda, membayar ongkos dengan uang pecahan sepuluh ribu. Ketika Halimah memberikan uang kembalian, anak muda itu menolak. ‘buat ibu,’ dia bilang.

“Umi sebenarnya gak suka dikasihani, Bang. Umi agak tersinggung. Tapi Umi khawatir dibilang menolak kebaikan. Ya sudahlah Umi terima. Dibagi dua sama Bang Melvi. Benar kata Abang, akan selalu ada orang baik, yang peduli. Mereka yang datang sebagai penyeimbang demi kehidupan tetap berputar.”

**
Halimah berlari ke warung Haji Emus di ujung gang. Siapa tahu Bang Sarta ke sana untuk mengusir rasa bosan dan sepi. Tapi, seperti sudah diduganya, Bang Sarta tak dijumpainya di warung yang biasa jadi tempat orang-orang nongkrong.

“Mungkin ke masjid, Halimah.” ujar istri Haji Emus. Ke Masjid? Mana mungkin. Dari dulu Bang Sarta tak mengerjakan salat. Inilah satu-satunya kekurangan lelaki itu di mata Halimah. “Gak salat gak merugikan orang lain kan Mi?” begitu kilah Bang Sarta. “Tapi merugikan diri Abang sendiri,” demikian Halimah suka mendebat suaminya. Ah, siapa tahu dia memang ke masjid? Bukankah Bang Sarta pernah berjanji suatu ketika mau mulai salat? Maka dengan napas ngos-ngosan berlarilah Halimah ke masjid dekat perempatan depan sana.

Baru setengah perjalanan Halimah melihat Bang Sarta berjalan pulang dituntun seseorang entah siapa. Dari pakaiannya tampaknya mereka baru keluar dari masjid.

“Abang?”

“Umi…”

“Abang dari masjid?”
**
Sesampai di rumah Halimah menggenggamkan sebuah buku pada telapak tangan Bang Sarta. “Apa ini Umi?”

“Buku, Bang.”

“Buku?” Bang Sarta masih tak mengerti.

“Ya, Bang. Ini buku yang bisa dibaca oleh Abang.”

Tangan Bang Sarta segera meraba-raba buku dalam genggamannya. Jari-jemarinya menelurusi huruf-huruf braille di sampul buku.

“Umi dapat dari siapa?”

Halimah tak mampu menjawab. Batinnya terbuncah oleh keharuan campur kegembiraan melihat Bang Sarta mendapatkan kembali kegemarannya membaca. Halimah tak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih pada anak muda penumpang metro mini yang memberi dia buku yang bisa dibaca para penyandang tunanetra.

Comments