Gadis Distro

juga disiarkan Lampung Post, Minggu 9 September 2012
-->
Aku menunggunya di depan pintu plaza dekat perempatan yang menghubungkan Jalan Sudirman dan Jalan Gatot Soebroto. Dia akan keluar pukul sembilan malam. Aku membayangkan dia berdiri seharian, tersenyum manis pada setiap pengunjung yang masuk ke dalam distro, menawarkan koleksi baju-baju baru yang dipajang dalam etalase kaca. Membayangkan wajahnya yang kecewa manakala pengunjung berlalu begitu saja. Wajahnya akan berubah ceria ketika pengunjung lain menunjuk sebuah baju dan meminta dia membungkus lantas membawanya ke kasir. Kemudian dia akan kembali berdiri, memasang senyum yang itu itu juga namun tak pernah membosankan kepada pengunjung. Senyum dari sepasang bibir pipih dengan polesan gincu yang samar. Saat ini mungkin polesan gincu itu telah pudar, sehingga tampaklah warna aslinya yang agak pucat. Aku membayangkan matanya yang lelah dan mengantuk, telapak tangannya yang halus dengan jari jemarinya yang lentik berkali-kali harus menutup mulutnya yang menguap. Kadang dia ngobrol dengan temannya sesama penjaga distro untuk sekadar menjinakkan kantuk yang tampaknya menyerang dengan ganas.

Membayangkan sepasang bibirnya, tiba-tiba aku jadi terganggu oleh pikiran tentang bibir siapakah yang pernah menyentuhnya. Adakah sepasang matanya memejam saat bibirnya disentuh oleh bibir entah milik siapa. Ada berapa pasang bibirkah yang pernah singgah di bibirnya, mencecap lidahnya. Betapa lembut bibir itu, dengan garis-garis kerutannya yang halus.

Waktu terasa bergerak sangat lambat. Orang-orang terus keluar masuk di pintu plaza itu. Lelah mataku mengamati mereka satu persatu dan berharap dia keluar lebih cepat dari biasa. Jalanan terlihat begitu padat. Bermacam kendaraan terus mengalir dari arah Thamrin. Aku tahu, meskipun dia masuk shift satu, dia kadang tetap akan keluar jam sembilan malam. Dia tak mau berdiri berdesak-desakan dalam metromini dihadang kemacetan yang makin panjang. Dia lebih memilih duduk di bangku kafe, atau duduk membaca di toko buku di lantai tiga, menunggu metromini ke jurusan alamatnya pulang sepi penumpang supaya dia mendapat tempat duduk dan kemacetan sedikit terurai. Aku mengerti, setelah seharian berdiri tentu akan sangat menyiksa jika harus berdiri pula di dalam metromini. Tapi mungkin juga dia menunggu seseorang yang akan menjemputnya.

Karena begitu rindunya aku pernah terpaksa masuk ke distro untuk melihat wajahnya, senyum manisnya. Pura-pura melihat-lihat koleksi baju yang dipajang, bertanya tentang merek terbaru, model yang sedang ngetren, jenis bahan, dan tentu saja harganya, aku mencuri-curi pandang ke arah wajahnya. Kulihat matanya berbinar gembira saat aku meminta dia membungkus dua potong kaus. “Terima kasih,” ucapnya, kalimat yang diucapkannya berulang dengan cara yang sama pada setiap pengunjung distro yang membeli baju.  

Sekarang aku tak mungkin nekat masuk ke distro dan pura-pura mau membeli baju supaya dapat melihat wajahnya. Uang yang ada di dompetku tak akan cukup untuk membeli sepotong celana dalam sekalipun pun. Aku tak ingin melihat wajahnya kecewa. Uangku hanya cukup buat ongkos untuk membuntutinya pulang nanti.   

Maharani, begitulah nama yang tertera di name tag yang tersemat di seragam kerjanya. Aku catat baik-baik nama itu. Nama yang kupikir selaras dengan sosok penyandangnya. Nama dan sosok yang entah berapa pekan terakhir ini begitu menyita perhatianku. Menarik langkah-langkah kakiku, menggerakkan tarikan napasku, memengaruhi setiap keinginan dan mimpi-mimpiku.

Sekali waktu pada saat jam makan siang, seperti biasa aku menitipkan konter ponsel pada Ikra, kawanku sesama pejaga konter, untuk pergi makan siang. Kami memang harus bergantian untuk pergi makan siang. Biasanya aku mencari warung makan murah yang nyempil di gang sempit antara gedung perkantoran dan mal ini. Kau tahu upah penjaga konter ponsel tak cukup untuk makan siang di restoran cepat saji yang terdapat dalam mal. Tapi siang itu, karena bosan dengan menu itu itu juga dan kebetulan habis gajian, aku pikir tak ada salahnya sesekali mencicipi makan di restoran dalam mal. Begitulah, aku masuk ke restoran khas Amerika. Itulah saat pertama kali aku melihat wajah itu. Wajah yang sendu di dalam distro yang sepi. Seketika aku merasakan debaran tak biasa dalam hatiku. Tiba-tiba aku meyakini dialah perempuan yang akan menjadi jodohku. Wajahnya memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan perempuan yang diramalkan bakal jadi istriku.

Kerling mata dan senyumnya membuat acara makan siang istimewaku tak berjalan sebagaimana yang kuharapkan. Ayam goreng dan minuman bersoda khas Amerika yang kupesan jadi terasa hambar di lidah.  Matanya yang sendu mengalihkan konsentrasiku saat menggigit ayam goreng, mereguk soft drink yang mestinya rasanya lezat sekali.

Aku buru-buru menghabiskan makan siangku yang terasa tak habis-habis—akhirnya memang tak habis, lantas bergegas keluar dari sana dan masuk distro untuk melihat lebih jelas sosoknya. Kepalaku sibuk merekam setiap ekspresi wajah dan gerak tubuhnya. Ada rasa berdesir di dadaku manakala mataku bertubrukan dengan matanya. Begitu saja sentimentalitasku muncul, bahwa akulah pangeran yang dikirim Tuhan untuknya. Ciumannya akan merubah wajahku yang buruk rupa menjadi tampan memesona. Tanpa pikir panjang aku menunjuk sepotong kemeja untuk meredakan gugupku saat dia menyilakan aku memilih koleksi baju yang terpajang.

“Boleh dicoba dulu?”

“Silakan, mas, di ruang pas,” katanya dengan suara yang terdengar merdu, suara yang berhari-hari setelahnya mengiang terus di lorong pendengaranku. Suara yang saat ini begitu kurindukan. Di kamar pas aku tak pernah mencoba kemeja yang hendak kubeli. Aku tak punya nyali melihat wajahku di cermin. Melihat wajah sendiri di cermin hanya membuatku sakit hati pada Tuhan (jika memang Tuhan terlalu iseng mengurusi wajah orang) yang telah memberiku bentuk rupa yang begini buruk. Lihatlah, mataku belo dengan bola mata yang tampak seperti mau meloncat dari rongganya, dinaungi dahi nan lebar dan menonjol ke depan; bibirku tebal dan sobek di bagian tengah tepat di bawah lubang hidung, yang membuat suaraku terdengar sengau menggelikan dan tak jelas kala bicara; hidungku seperti tak bertulang sehingga terlihat hampir rata dengan pipi; dan kulitku yang kelam ditambah beberapa bekas luka di sekitar pelipis akan menyempurnakan kebencianku pada Tuhan. Di kamar pas itu aku berdiri berdebar membelakangi cermin.

Kemarin untuk kali yang kedua aku membuntutinya begitu dia keluar dari pintu mal ini. Aku meloncat masuk dari pintu belakang metro mini yang dinaikinya. Duduk di belakang bangku yang didudukinya. Menghidu bau tubuhnya. Dia duduk dengan kepala tertunduk digayuti kantuk, memperlihatkan tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu lembut. Sebuah tengkuk yang seolah mengundang tanganku untuk membelainya. Bangku di sebelahnya kosong ditinggalkan penumpang yang turun, tapi aku tak berani pindah ke sana. Aku sibuk meredakan debur jantungku yang kian tak menentu. Seraya membayangkan tanganku membelai tengkuknya, aku menggumamkan sajak,

Aku ingin menemanimu pulang malam ini
Menaiki bis kota dan berhimpitan di dalamnya
Aku ingin menemanimu sampai halte berikutnya
Sampai kilometer selanjutnya, turun di depan kantor polisi
Menunggu metro mini. Aku ingin menemanimu bersidekap
Dalam angkutan yang pengap, melewati sejumlah lampu merah
Melewati sekian perlintasan kereta api, melewati jalan-jalan layang
Melewati terowongan-terowongan hingga terjebak kemacetan
Dekat terminal. Aku ingin menemanimu menarik napas panjang
Mengeluarkan tisu dan mengelap keringat di kening serta lehermu

Aku ingin menemanimu turun dari kendaraan rombeng itu
Berjalan menuju pangkalan ojek. Aku ingin menemanimu
Melintasi tanah-tanah berlubang, menerobos liku-liku gang
Hingga pekarangan rumah kontrakanmu yang penuh jemuran
Aku ingin menemanimu membuka pintu, memasuki kamarmu
Mencopot sepatu, melepas semua pakaian dan melemparkannya
Ke bawah dipan. Aku ingin menemanimu menghidupkan kipas angin
Lalu meneguk air mineral yang dingin. Aku ingin menemanimu
Menyalakan televisi, menonton film biru dan menghisap candu
Aku ingin menemanimu bermain-main dengan sepi di kamarmu[1]

Aku tersadar manakala bis mendadak berhenti di sebuah perempatan dan dia meloncat turun begitu cepat. Bis kembali melesat, dan aku berada di dalamnya dengan perasaan hampa yang memadat. Inilah untuk kali kedua aku gagal membuntuti sampai ke rumahnya. Hari sebelumnya aku berhasil membuntutinya sampai mulut gang. Sialnya, sebelum langkahnya berbelok masuk gang, dia mampir belanja dulu ke minimarket di sebelah gang. Aku kehilangan jejak. Dia tak keluar-keluar lagi sampai minimarket itu tutup. Belakangan aku sadar minimarket itu memiliki dua pintu keluar, di depan  dan samping.

**
Jam delapan. Berarti masih sejam lagi aku harus menunggu. Mungkin mulai ada orang-yang memperhatikanku. Aku melangkah ke deretan kafe-kafe, mencapai gerai ATM. Depan gerai ATM itu ada kios majalah. Ke sanalah aku menuju. Aku pura-pura mencari-cari majalah yang tak ada.

“Ada majalah pohon?” kataku sekenanya.

“Majalah baru ya mas? Wah gak ada tuh mas,” ujar gadis penunggu kios yang tampak jijik melihat tampangku.      
  
Akhirnya aku membeli koran supaya dapat berdiri lama di sana. Aku hanya membaca judul-judul berita koran yang kubeli, sambil sibuk mengawasi pintu plaza dan sesekali melihat jam di ponselku. Lima belas menit lagi. Saat ini mungkin dia sedang melepas baju seragamnya di kamar ganti, mencuci muka, menyisir rambut. 

Sosok yang kutunggu keluar juga. Dia melangkah sedikit gontai melewati  bangku-bangku kafe di selasar mal. Dia telah mengganti baju seragamnya dengan kaus krem yang dipadu jaket berbahan kaus. Tas mungilnya berayun pelan di samping pinggangnya yang ramping. Sebentar lagi dia lewat di depan kios majalah ini.

Aku mengikuti langkahnya dalam jarak tertentu. Melihatnya berdiri menanti bis. Kali ini aku tidak boleh gagal. Aku harus tahu rumahnya. Tahu tetangga-tetangganya. Tahu siapa saja yang singgah ke rumahnya. Tahu siapa saja yang akan kehilangan jika besok atau lusa aku merebutnya dari mereka.  

Pondok Pinang 5 Juli 2012

Cerpen ini diinspirasi dari sebuah puisi  Aku Ingin Menemanimu karya Acep Zamzam Noor.



[1] Aku Ingin Menemanimu, Sajak Acep Zamzam Noor

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka