Hutan Paman Santala

pernah diumumkan Tribun Jabar, Minggu Juni 2011


Akhirnya aku sampai di hutan kecil ini. Hutan yang sunyi. Tanah yang kupijak bagai tubuh yang pasrah. Tak terdengar suara-suara bising kendaraan ataupun percakapan orang-orang. Hanya kersik daun-daun yang bergesekan tertiup angin. Cahaya matahari sore begitu remang, menerpa ranting dan dedaunan yang bayangannya jatuh pada wajahku. Tercium bau segar tumbuhan mengembang di mana-mana.

Aku melangkah pelan, membuka pagar bambu yang memisahkan hutan ini dengan jalan kecil di sampingnya yang berbatasan dengan kampung kecil yang juga sunyi. Aku memasukinya setapak demi setapak. Ilalang liar yang runcing menusuk telapak kaki. Kurasakan angin bergetar di sekelilingku. Tanganku menyenggol sebuah kendi yang diletakkan bersama makanan sesajen lain di atas tunggul pohon bekas ditebang. Kendi itu terguling. Mungkin aku harus meletakkan seperti keadaan semula. Kupandang berkeliling, sunyi sekali. Tak ada tanda-tanda orang di sekitar sini. Hutan kecil ini sepertinya telah ditinggalkan penghuninya puluhan tahun lalu. Perasaan lengang menyusup ke dalam benakku, menjadi kesedihan yang tak bisa kusembunyikan. Apakah aku telah terlambat? Di tengah hutan ini terdapat rumah mungil yang pasti makin sunyi dan gelap karena tak dihuni. Papannya-papannya tentu makin lapuk dan rapuh. Tak ada apa-apa di dalamnya selain kursi panjang, bale-bale dan sebuah rak tempat menaruh buku-buku.

Di kursi panjang itulah aku biasanya duduk membaca buku, menyelesaikan PR dari sekolah, sementara laki-laki itu membuat teh, merebus kacang. Kututup buku yang tengah kubaca ketika laki-laki itu datang menghidangkan secangkir teh panas mengepul dan semangkuk kacang rebus yang aromanya sangat menggoda. Kami menyantap kacang tanpa percakapan kecuali suara kulit kacang yang pecah diujung jari-jari kami. Semuanya berlangsung dalam diam yang hangat. Gerak mata dan tubuh kamilah yang bicara. Menyantap semangkuk kacang dan meminum secangkir teh manis membuatku ngantuk dan tak kuasa meneruskan membaca buku. Maka aku membaringkan badan di bale-bale itu. Sayup-sayup mataku melihat cahaya lampu sebelum terlelap.

Langkahku terhenti. Aku tak meneruskan langkah menuju rumah mungil itu. Mungkin rumah itu kini telah benar-benar hilang. Angin puting beliung yang beberapa waktu lalu melanda desa ini telah menerbangkan papan-papannya. Mungkin juga menerbangkan laki-laki itu. Biarlah dia terbang, terbang sejauh-jauhnya supaya kesendirian tidak lagi menyiksanya. Biarlah tak dapat lagi kunikmati mata teduhnya. Getar bibirnya saat menjawab pertanyaanku.

“Paman tinggal sendirian saja di sini?”

“Ya,”

“Kenapa paman tak punya istri?”

“Tidak ada yang mau dengan paman.”

Aku baru memasuki masa remaja ketika itu sehingga aku tak percaya ucapannya. Laki-laki itu berwajah tampan. Tubuhnya pun tegap. Tak mungkin tak ada perempuan yang mau menjadi istrinya. Tapi memang ia tinggal sendiri saja di rumah mungil di tengah hutan kecil ini. Aku tak pernah melihat ada perempuan di rumah ini selain diriku yang datang sendirian membawa gula dan teh.

Setiap masuk hutan kecil itu dan datang ke rumahnya aku harus sembunyi-sembunyi. Sebab orang-orang kampung melarang siapa pun datang ke rumahnya. Mereka mengucilkan laki-laki ini dengan alasan yang aku sendiri tak paham. Kata ibuku, laki-laki ini anak seorang pengkhianat desa kami. Konon bapak laki-laki itu anggota gerombolan pemberontak pemerintah. Gerombolan DI/TII, ya begitulah yang kudengar dari mulut ibuku. Aku tak mengerti gerombolan apa itu. Gara-gara dialah seisi kampung diobrak-abrik tentara.

Ibuku pun melarang aku datang ke rumah laki-laki itu. Tapi bukan karena ia percaya dengan cerita orang-orang, tapi semata karena ibu takut orang-orang akan ikut mengucilkan kami. Sepertiku ibu juga merasa simpati pada laki-laki ini.

Aku suka melihatnya bekerja membelah kayu. Keringatnya bagai kristal berucucuran di tubuhnya yang tak berbaju. Ia menghentikan pekerjaannya demi melihatku datang.

“Fauzan, kau tidak takut orang-orang memarahi kamu?”

“Mereka tidak melihatku datang ke sini.”

“Apa yang kamu bawa, Fauzan?”

“Teh dan gula untuk paman.”

“Dari mana kau dapatkan?”

“Ibu yang menyuruhku membawa ini untuk paman.”

“Kalian orang-orang berhati mulia.”

Buru-buru dia masuk ke dalam rumah mungilnya. Punggungnya tampak kukuh berotot. Tak lama kemudian ia muncul membawa secangkir teh dan kacang rebus. “Untukmu,” katanya. Dia menatapku dengan mata teduhnya. Sorot mata yang membuatku terlindungi. Mungkin aku selalu membayangkan sosok ayah setiap melihat laki-laki ini. Kurasakan tangannya yang kukuh membelai kepalaku. Dadaku berdebar.

Debaran serupa itu pula yang kurasakan saat menatap mata teduhnya. Diam-diam karena sensasi debaran itu yang membuatku sering datang ke hutan ini. Sepulang sekolah aku melalui jalan yang melintasi hutan itu. Menengokkan kepala ke arah hutan kecil itu, berharap melihat laki-laki itu melambaikan tangan padaku. Tapi yang sering kulihat hanya kelengangan hutan dan suara dengung serangga. Barangkali laki-laki itu berada dalam rumah mungilnya. Membaca buku atau mungkin rebahan melepas lelah setelah berjalan kaki memanggul kayu untuk dijual di pasar. Kadang tanpa mengganti baju seragam aku langsung masuk ke hutan kecil itu. Aku mengintip laki-laki itu duduk membaca buku. Tapi dia selalu mengetahui kehadiranku.

“Masuklah Fauzan. Tidak baik mengintip.”

Dengan tubuh bergetar menahan malu aku masuk, mengambil buku dari rak dan membaca, sambil sesekali melirik laki-laki itu yang tampak tekun membaca. Sebentar bangkit menyeduh untukku. Kadang sampai menjelang maghrib baru aku pulang. Bahkan pernah sampai gelap benar-benar menyergap hutan.

“Fauzan, pulanglah nanti ibumu mencarimu.”

“Ibu tahu aku di sini.”

“Nanti orang-orang kampung mencarimu.”

Kekhawatiran laki-laki itu suatu hari terbukti. Orang-orang kampung suruhan Kepala Kampung mengetahui aku datang ke hutan menemui laki-laki itu. Mereka mendatangi ibuku, mengingatkan supaya menjaga anaknya.

“Atau kalian akan kami asingkan bersama Santala.”

Ibuku menggigil di balik pintu memelukku. Air matanya bercucuran. Dan mereka makin menikmati ketakutan ibuku. Mereka terus saja meneriakkan kata-kata peringatan dengan kata-kata tak sopan. Di kampung itu perempuan yang tak bersuami seakan sah untuk tidak perlu dihargai.

“Ibu, lebih baik kita diasingkan bersama Paman Santala.”

“Tidak anakku, terlalu besar resikonya.”

Larangan bertemu dengan laki-laki itu menjadi kesedihan yang begitu besar bagiku. Belaian tangannya yang hangat dan lembut pada kepalaku. Getar suaranya yang merdu. Sungguh telah menumbuhkan rindu.

“Paman Santala, aku ingin ke sana.” kataku pada ibu malam-malam.

“Lebih baik kau tunggu besok di perempatan jalan pasar,” kata ibu memahami kerinduanku pada laki-laki itu.

Namun sampai menjelang maghrib laki-laki itu tak juga lewat. Kusorong-sorongkan tubuhku ke tengah badan jalan sambil menjulur-julurkan kepalaku ke arah kaki gunung, namun yang muncul selalu angkot dengan penumpang bergelayutan dipintu dan di atap mobil. Begitu terus sampai tiga hari. Pada hari ke empat baru dia muncul. Tubuhnya makin tampak kekar memanggul dua ikat kayu. Dari jauh tampak serupa keledai yang mengangkut beban yang terlalu berat.

“Paman, paman Santala.”

“Fauzan, apa yang kamu lakukan di sini.”

“Menunggu paman,”

“Paman ke pasar dulu, menjual kayu-kayu ini. Kamu tidak ke sekolah?”

“Ya, aku mau berangkat sekolah. Tapi aku mau memberikan teh dan gula ini pada paman.”

“Terima kasih, Fauzan.”

“Aku ingin ke hutan kecil, ke rumah mungil.”

“Tunggu paman di perempatan ini, menjelang maghrib.”

Menjelang maghrib laki-laki itu datang memenuhi janjinya. Aku diajaknya ke hutan kecil itu. Betapa senangnya malam itu aku dapat kembali bertemu laki-laki itu, berada di rumah mungilnya yang sunyi, meski tak ada cahaya kecuali lampu teplok yang remang. Dan itulah malam terakhir perjumpaanku dengan laki-laki itu. Karena esoknya laki-laki itu lenyap entah ke mana.
*
Bau segar tumbuhan terendus makin kuat menggerus lambungku. Aku terus melangkah dengan perasaan rawan. Ransel di pundakku terasa begitu berat. Padahal hanya terisi dua buah buku catatan, kamera, dan recorder. Aku baru saja ngobrol dengan kepala kampung ini untuk bahan tulisanku. Pak Komar, kepala kampung itu ternyata masih mengenaliku. Aku bersyukur lumayan berhasil menggali data yang kuperlukan. Untuk melengkapi kisah Paman Santala yang tak lain saudara haram Pak Komar. Paman Santala adalah anak seorang perempuan cantik, yang mengidap keterbelakagan mental, yang diperkosa Ayah Pak Komar yang dulu juga jadi Kepala Kampung.

Aku menghentikan langkah. Cahaya matahari telah benar-benar habis. Angin kurasakan makin bergetar mengusap kulitku. Aku ingat persis di sinilah rumah mungil itu mestinya berdiri. Pohon jati itu masih di sana . Dan gerumbul pohon cemara itu, dulu aku yang ikut membantu menanamnya.***

Relung Malam Pondok Pinang, April 2011

Comments