Jangkrik

pernah disiarkan Pikiran Rakyat, Minggu 9 Agustus 2008
-->
Akhirnya datang mimpi buruk itu: jangkrik kesayangannya meregang nyawa. Kaki-kakinya yang mirip akar tunggang bergerigi tajam itu tertekuk kaku. Tubuhnya menjelepak dengan mulut koyak ternganga. Sebelahnya sayap bagian dalamnya putus. Sebenarnya kematian jangkrik kesayangannya ini sudah bisa ia duga sehari sebelumnya. Tapi ia betul-betul shock manakala hal itu terjadi.

Kesedihan menggerayangi perasaannya. Tak ada lagi jagoan yang bisa diandalkannya. Tidak ada yang bisa dibanggakan lagi. Dalam pertarungan kemarin ia melihat Girgo, begitu ia memberi nama jangkrik kesayanganya, memang sudah tampak lelah. Kedua belalainya yang berfungsi untuk mendeteksi benda-benda di sekelilingnya, tampak tidak lurus lagi. Hari itu Girgo sudah melakukan lebih dari 10 kali pertarungan. Jadi wajar saja apabila dia kelelahan. Tapi ia tidak peduli walaupun ia melihat Girgo tampak lelah, dan mulutnya sedikit koyak. Hatinya telanjur panas mendengar jumlah taruhan yang disebutkan Darlim, penantangnya dari desa sebelah.

“Kalau bisa kalahkan jangkrikku, kau dapat sepuluh ribu.” kata Darlim, pongah, seraya mengipas-ngipas lembaran sepuluh ribu, “ tapi kau tak perlu membayar seratus rupiah pun apabila jangkrikmu kalah.” sambung Darlim makin pongah dan makin membuat ia tergiur sekaligus tertantang.

Sesuai aba-aba ia memasukkan si Girgo ke dalam arena pertarungan yang ia tahu betul sangat beresiko buat Girgo. Tapi ia sudah gelap mata. Arena pertarungan jangkrik adalah di  liang kira-kira sedalam jari kelingking, dan panjang hampir sepuluh senti. Begitulah, dengan tatapan nanar ia menyaksikan pertarungan itu. Ia yang biasanya selalu percaya diri, kali ini merasa begitu tegang seakan ia sendiri yang melakukan pertarungan. Si Girgo bergerak pelan. Mulutnya yang menyerupai capit itu sudah koyak oleh pertarungan sebelumnya. Ia melihat si Girgo begitu menderita. Tapi seolah demi harga diri tuannya yang harus dibela Girgo tetap bergerak perlahan-lahan menghadapi sang musuh yang tampak segar bugar. Semula ia cukup gembira karena meski sudah letih si Girgo tetap mampu melakukan perlawanan.

Tetapi seperti yang sudah dicemaskannya, perlawanan Girgo tidak berlangsung lama. Mulutnya tidak bisa lagi gunakan untuk mencapit dan menikam. Sia-sia ia menepuk-nepuk tanah memberi semangat. Girgo lebih banyak bertahan, ketimbang melawan, dan lalu terdesak tanpa ampun. Jangkrik milik Darlim sesungguhnya tidak lebih tangguh dari si Girgo. Lihat saja, warna coklatnya lebih terang dan kaki-kakinya tidak sekokoh Girgo. Kondisi Girgo saja yang sudah letih lantaran hari itu telah melakukan lebih dari 10 kali pertarungan.  Jadi dia menghadapi lawannya dengan sisa-sisa tenaga. Maka jangkrik milik Darlim yang masih segar karena belum melakukan sekalipun pertarungan dengan mudah mendesak Girgo.  Girgo terdesak hebat, tubuhnya terus surut hingga mencapai garis batas.

“Jangkrikmu kalah Yasa. Kau gagal mendapatkan sepuluh ribu hahaha,” suara tawa Darlim terdengar meledek.

Hari itu ia betul-betul dipermalukan. Tetapi untuk membela harga dirinya ia melempar uang sepuluh ribu ke muka Darlim sebelum berlalu membawa si Girgo dengan benak dipenuhi dendam dan berbisik, tunggulah, aku pasti mendapatkan pengganti si Girgo dan akan mengalahkan jangkrikmu.

Ia teringat pertama kali mendapatkan si Girgo. Bersama Wahdino, Ronda, dan beberapa kawan lainnya ia memburu jangkrik sampai ke lapangan di tenggara desa yang jaraknya  tiga kilo meter dari rumahnya. Sepulang sekolah ia ke sana sering sampai jauh malam. Di sanalah ia mendapatkan beberapa ekor jangkrik termasuk si Girgo.  Selain untuk dipelihara dan dijadikan aduan, ia dan anak-anak kampung mencari jangkrik untuk dijual pada peternak jangkrik. Seekor dihargai seribu rupiah. Apabila sehari ia berhasil mendapatkan lima ekor saja, ia sudah bisa mengantongi uang sebanyak lima ribu. Jumlah yang masih tersisa lima ratus rupiah bila dibelikan es krim. Ia amat menyukai es krim yang dijual di minimarket yang baru dibuka di desa sebelah. Neneknya yang makin tua dan sakit-sakitan tak sanggup memberinya uang empat ribu lima ratus buat beli es krim. Ia hanya mendapat jatah lima ratus rupiah sehari dari neneknya. Sementara bapaknya mustahil memberi ia uang. Ibunya meninggal saat ia berumur lima tahun.

Si Girgo ia dapatkan sebulan lalu. Ia tahu jangkrik jantan yang kuat dan bagus yang bisa dijadikan petarung. Warna coklat tubuh Girgo lebih tua dibanding beberapa ekor kawannya. Kaki-kakinyanya pun lebih kekar. Pendeknya si Girgo memiliki syarat menjadi petarung tangguh  sehingga tidak seperti beberapa ekor  kawannya yang lain, si Girgo tidak dijual pada peternak jangkrik. Ia pun merawatnya secara lebih istimewa. Si Girgo dikandangkan terpisah, di kotak yang terbuat dari anyaman bambu. Ia memberikan rumput yang paling segar, yakni jenis kangkung. Benar, selama sebulan si Girgo selalu memenangi pertarungan sehingga ia mendapat beribu-ribu rupiah dari si Girgo. Ia tidak perlu lagi mencari jangkrik sampai jauh malam.     

Dengan lesu dipandanginya bangkai si Girgo. Sekarang ia harus mengurus bangkai jagoannya itu baik-baik sebagai tanda penghormatan terakhir. Dirobeknya baju seragam sekolahnya yang sudah tidak terpakai untuk dijadikan kain kafan bagi si Girgo.  Ia mandikan baik-baik si Girgo sebelum membungkusnya dengan kafan. Ia telah membuat lubang di dekat pohon jambu belakang rumahnya. Di sanalah si Girgo dikuburkan.

Sudah berapa tahunkah itu berlalu? Ia menatap halaman belakang rumahnya yang kini telah dibeton. Bangkai si Girgo tentu sudah jadi tanah bertahun-tahun lalu. Pohon jambu di sebelahnya pun sudah tidak ada.  Sudah bertahun-tahun pula ia baru menginjak lagi kampung halamannya. Ia baru datang dari kota kemarin untuk ikut mencalonkan diri jadi kepala desa.

Hampir lima belas tahun lalu ia meninggalkan kampung halamannya, merantau ke Jakarta jadi kuli bangunan. Ketekunan dan kerja kerasnya membuat ia dipercaya jadi mandor. Tentu saja ia dapat makan es krim kapan saja ia mau tanpa harus lebih dulu memburu dan menjual jangkrik. Ia sudah mencecap bermacam jenis es krim di mal-mal paling mahal. Bahkan beberapa tahun kemudian kalau mau ia bisa membuat pabrik es krim. Karirnya melesat, ia tidak lagi jadi mandor, tapi punya perusahaan kontraktor.

Saat sudah tak tersedia lagi jenis es krim yang bisa dicoba, ia ingin mencecap kepuasan lain, tampil di panggung masyarakat. Maka ia pun mengincar jabatan kepala desa di kampungnya. Yasa pun getol hilir mudik antara Jakarta dan kampungnya. Dengan istri dan anak-anaknya yang kemudian boyongan ke kampungnya, ia mendatangi para warga membagi-bagi senyum dan keramahan seraya menebar uang. Mendatangi kawan-kawan masa kecilnya dan mengumpulkan mereka di rumahnya besar. Ada dua mobil keluaran terbaru nongkong di garasi rumahnya.

Meraih jabatan kepala desa bagi ia bukan cuma untuk mencecap kepuasan lain, tapi juga untuk melunaskan dendam lama pada Darlim. “Aku tak mau kalah dua kali, Dadang!” ujarnya pada orang kepercayaannya, setiap rapat pada malam hari. “Aku malu sama si Girgo kalau harus kalah lagi.” sambung ia dalam benak.

Kemarin ia melihat wajah Darlim di poster yang dipasang di hampir seluruh penjuru desa. Meski hitam putih poster itu memperlihatkan senyum Darlim dengan jelas, seolah mengejek dirinya. Seolah terdengar dia berbisik, “Kau akan kalah lagi, Yasa. Gunakan saja uangmu untuk beli es krim.”

Maka ia membuat poster dirinya lebih bagus, dicetak berwarna di atas kertas yang mengkilap. Foto dirinya pun diatur sedemikian rupa dengan menggunakan jasa fotograper dan penata gaya profesional yang semuanya didatangkan dari Jakarta. Ia tampak tersenyum ramah dengan baju putih. Sebuah peci hitam bertengger di kepalanya. Poster itu ditempel di seluruh penjuru pojok desa berdampingan dengan poster Darlim.  

Kecongkakan di wajah Darlim tak pernah berubah. Dia selalu memberi warga jumlah uang lebih dari yang diberikan Yasa pada mereka. Apabila Yasa memberi warga masing-masing 10 ribu, maka Darlim memberi warga masing-amsing 20 ribu. Apabila Yasa membagi-bagikan beras masing-masing 2 kilogram, Darlim membalasnya dengan masing-masing 3 kilogram.    

“Kita tunggu, berapa kilo dia akan memberi warga gula,” kata Yasa mengatur strategi.
“Darlim akan membuka balai pengobatan gratis!” ujar Dadang melaporkan.
“Aku akan membuka minimarket gratis!” tukas Yasa tak mau kalah.

Pondok Pinang, 28 Juni 2009.
 

Comments