Kidung Malam Sehabis Hujan


pernah disiarkan Jurnal Nasional, Desember 2006
deviantart.
Taksi itu menabraknya sangat keras. Dalam ketersentakan, sekejap, sorot lampu taksi yang menyilaukan. Sesudahnya, ia terpelanting. Kepalanya membentur aspal dan pembatas jalan. 
Aku melihat laki-laki itu terkapar di sisi jalan. Sebelah sepatunya terlepas, telungkup tak jauh dari kakinya. Taksi yang tadi menabraknya telah melesat melarikan diri. Aku berdiri tertegun beberapa langkah dari tubuhnya. Suara benturan masih mengiang di telingaku, membuat jantungku mengerut. Darah meleleh dari kepalanya, mengalir ke aspal, berkilau tertimpa redup lampu jalan. Serta-merta rasa ngeri menyergapku, menjalar melalui lidah. Kakiku seperti amblas ke dalam aspal. Sulit kutarik untuk melangkah mendekat, menolongnya atau segera berbalik kembali masuk ke mobil dan meninggalkannya. Jalan sunyi sekali, tak ada kendaraan melintas. Kutahu, jalan ini memang jarang dilintasi kendaraan, apalagi pada malam habis hujan seperti ini. 
Masih kutangkap suara erangannya yang lirih. Kubayangkan rasa sakit yang menyerang sekujur tubuhnya bertarung sengit melawan maut yang merambat pelan dan menyakitkan melalui ujung rambut dan bulu-bulu matanya. Kalau aku segera membopong tubuhnya ke dalam mobilku dan membawanya ke rumah sakit terdekat, barangkali, maut masih bisa ditahan merenggutnya.
Aku ingat, rumah sakit terdekat berjarak sekitar dua kilometer dari sini. Tapi, harus melalui jalur memutar, sehingga jarak yang harus kutempuh bisa berlipat jauhnya. Aku tidak mungkin menerobos pagar pembatas jalan. Aku memang bisa ngebut karena jalan sudah sangat lengang. Namun, aku khawatir, maut lebih dulu menerbangkan nyawanya sebelum aku mancapai rumah sakit. Tentu, urusan bisa lebih panjang dan merepotkan. Mereka akan mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan. Belum lagi polisi yang juga bakal menginterogasiku. Salah-salah, aku jadi tertuduh. 
Meskipun remang dan wajahnya hanya tampak separuh, aku tak mungkin melupakan laki-laki itu. Ia yang saban petang duduk di kafe itu menikmati secangkir kopi. Kursi yang dipilihnya adalah paling pojok. Tatapannya lebih sering dibuang ke luar mengamati lalu-lalang kendaraan. Dari sudut yang lain, aku dapat melihat wajahnya secara leluasa. Hanya sesekali secara tak sengaja ia melihatku sekilas. Selebihnya, asyik dengan pikirannya sendiri, mengamati lampu-lampu jalan. Wajahnya yang murung tampak pucat di bawah lampu yang tidak terlalu terang. Ia duduk berlama-lama di sana, mengaduk-aduk kopi. Suara sendok menyentuh dinding dan dasar cangkir terdengar merdu. Harum kopi mengambang memenuhi ruangan bersama senandung Anggun C. Sasmi dalam “Snow on the Sahara” yang mengalun. 
Mata sayunya memberi kesan meremehkan situasi sekitarnya: tak memerlukan siapa pun untuk sekadar menemaninya mengobrol. Kesan itu tampak makin tegas manakala ia menyulut rokok dan mengembuskan asapnya lurus-lurus ke depan. Jika kopi di cangkirnya habis, ia melambai kepada pelayan minta ditambah. Pernah suatu kali, saat pelayan itu selesai menambahkan kopi di mejanya, aku memanggil pelayan itu dengan suara sedikit nyaring, berharap laki-laki itu menoleh ke arahku. Namun, ternyata, tidak. Ia sama sekali tak menoleh, asyik mengaduk kopi. Di sebelahnya tergeletak sebuah buku tipis. Buku itu sekadar diletakkan, tak pernah dibuka kecuali barangkali membaca judul sampulnya.
Aku selalu lebih dulu keluar meninggalkan kafe, berjalan melintasinya yang tetap asyik memandang ke luar. Suara ketukan sepatuku yang kubuat menghentak nyaring pun sama sekali tak mampu mengusiknya. Kadang, aku ingin menghampiri dan menyapanya. Barangkali, aku akan sekadar bertanya tinggal di mana, apa pekerjaannya. Barangkali, akan kuceritakan tentang diriku. Tentang kesendirianku. Termasuk, kebiasaan baruku menikmati secangkir kopi di kafe ini. Seandainya ia bertanya kenapa aku memilih kafe ini, akan kujelaskan, aku menyukai atmosfer Paris yang dihadirkan di kafe ini. Tapi, tak perlu kujelaskan kenapa aku menyukai Paris.
Tapi, peristiwa itu tak pernah terjadi. Jangankan ia membalas sapaanku dan bertanya serupa itu, melihat tampangnya yang tampak meremehkan membuat niat itu lekas-lekas kuurungkan. Bahkan, sikapnya tak berubah saat melihat pelayan jatuh terpeleset hingga cangkir kopi yang dibawanya jatuh berkeping-keping di lantai. Heran, apa yang menghuni kepala laki-laki itu?
Sebenarnya, sesekali, aku ingin duduk lebih lama di kafe itu, menunggunya lebih dulu keluar. Akan kujajari langkahnya dan kusenggol bahunya. Dan, ini pernah kulakukan. Namun, lagi-lagi, ia sekadar memandangku sekilas. Dan, hanya sekilas itu mata kami bertubrukan. Selebihnya, ia melambatkan langkahnya, menyilakan aku berjalan lebih dulu.
Semula, aku tidak memperhatikan laki-laki itu. Aku baru menyadari setelah hari ketiga ia duduk di kursi yang sama: membuang tatapannya ke luar. Aku semakin hapal dengan caranya duduk yang begitu tenang. Di bawah meja, kedua kakinya yang dibungkus sepatu pantofel saling mengunci. Caranya mengangkat tangkai cangkir ke bibirnya begitu hati-hati seperti mengerjakan sesuatu yang begitu berbahaya jika sedikit saja salah. Aku berpikir, ia barangkali sedang menunggu seseorang. Mereka membuat janji bertemu di kafe ini. Namun, sampai kafe mau tutup, tak juga muncul seseorang yang akan menemuinya. Ia berjalan ke luar dengan langkah sedikit gontai. Melintasiku yang diam-diam terus mengamatinya dari dalam mobil. Kubunyikan klakson keras-keras. Namun, ia hanya menoleh selintas. Tatapannya tetap kosong dan murung.
Barangkali, kebiasaan laki-laki itu duduk di kafe ini hanya iseng untuk menyiasati kejenuhan setelah bekerja seharian. Ya, mungkin, laki-laki itu kesepian tinggal sendirian di kota ini. Ia baru dimutasikan kantornya ke kota ini. Ia merasa asing dengan lingkungan kantornya yang baru. Hmm….
Aku jelas berbeda. Kebiasaan baruku duduk di kafe sama sekali bukan berawal dari keisengan. Redaktur majalah perempuan tempatku bekerja memintaku menulis profil tentang kafe. Aku melakukan janji wawancara dengan manajer kafe bergaya Paris ini. Dua kali, dia meminta maaf belum bisa bertemu denganku dengan alasan ke luar kota. Aku, yang sudah telanjur datang, duduk menikmati suasana kafe yang ternyata membuatku begitu kerasan. Maka, seusai melakukan wawancara dengan manajer kafe pada hari ketiga itu, aku duduk lebih lama sembari menyelesaikan tulisan di kafe ini. Tentulah, aku bisa melakukannya dengan santai. Karena, toh, tak ada anak-anak atau suami yang menungguku di rumah sebagaimana perempuan yang telah berumur kepala empat seperti diriku.
***
Kulihat, ia bergerak-gerak. Suara erangnya makin terdengar lirih. Kedua kakiku masih tertancap, sukar kugerakkan. Kebimbangan menggelimangi perasaanku. Ada dorongan yang amat kuat untuk menolongnya. Namun, manakala teringat sikap laki-laki ini yang begitu angkuh menjengkelkan selama di kafe, aku ingin membalaskan dendam dengan cara menyentuhkan ujung sepatuku ke wajahnya, lalu dengan angkuh pula, kutatap wajahnya yang mengiba meminta tolong.
Aku masih bergulat dengan pikiranku ketika kudengar erangannya terdengar nyaring kembali. Tangannya bergerak-gerak. Mulutnya mendesiskan rintihan meminta tolong. Tiba-tiba, keinginan menyelamatkan nyawanya lebih kuat mendorongku. Kulihat, lukanya cukup parah. Kutarik kakiku melangkah pelan mendekatinya. Tapi, jelas, aku tak mungkin sanggup membopong tubuhnya ke dalam mobil. Diseret? Salah-salah, lukanya makin parah. Kecemasan  lekas mengerayangi perasaanku. Tak seorang pun melintas di jalan untuk kumintai tolong membopong tubuhnya ke dalam mobilku. Lama, aku celingukan mencari-cari siapa tahu ada orang yang melintas dengan kecemasan yang makin deras mendera perasaanku.
Untunglah, saat hampir putus asa, aku melihat sorot lampu sepeda motor di kejauhan yang akan melewati jalan ini. Aku segera menghadangnya. Tanpa banyak bertanya, pengendara motor itu membantuku menggotong tubuhnya ke dalam mobil. Lantas, kutancap gas. Berkali-kali, aku menoleh ke jok belakang, memandang tubuhnya terguncang-guncang dan mulutnya mengerang-erang.
Kupelankan laju mobilku ketika erangannya tak terdengar lagi. Aku merinding, cemas, jangan-jangan ia sudah keburu mati. Kuhentikan mobilku, memeriksanya untuk mendapatkan keyakinan, dia sudah benar-benar mati atau sekadar pingsan. Aku meraba degup jantungnya. Sudah amat lemah. Aku seperti mendapat firasat buruk. Begitu saja, pikiranku tiba-tiba kembali bimbang. Kembali kulajukan mobil pelan mencari tanah kosong yang jauh dari perumahan penduduk. Kutemukan tanah kosong yang ditumbuhi alang-alang, kuhentikan laju mobilku dan bergegas turun, membuka pintu belakang dan pelan-pelan menyeret tubuh laki-laki itu ke luar. Aku terus menyeretnya, melemparnya ke gerumbul alang-alang setinggi lutut….

Comments